Senandung Gunung Lumbung (4): Sang Panglima Tempur

Senandung Gunung Lumbung
Penulis:
Adhyatnika Geusan Ulun
ISBN: 978-623-99576-6-7
Editor:
Dhysa Humaida Zakia
Desain sampul:
Tim Editor
Tata letak:
Ruslan Abdulgani Lubis
Penerbit:
Mandatrama Grafika
Jl. Bojong Koneng Atas No 57, Bandung
email: ruslanbuku74@gmail.com
Website: https://mandatramagrafika.com/

Sang Panglima Tempur
____________________

 “…kemuliaan harga diri untuk tidak dijajah orang asing, harus terus dijunjung tinggi…”  

 

Tidak terasa telah dua dekade masa kekuasaan Dipati Ukur. Tatar Ukur selamaitu tidak pernah ada negeri yang berani mengusiknya. Hingga, datanglah sebuah titah yang akan mengubah sejarah Tatar Ukur selamanya

Kedudukannya sebagai penguasa negeri bawahan Mataram, menjadikan Dipati Ukur harus tunduk atas titah Sultan Agung. Diperintahkannya untuk menyerang Batavia, markas VOC yang selalu merongrong keberadaan Mataram.

Saat itu, pertengahan Juli 1628 datang utusan Sultan Agung Mataram membawa surat perintah kepada Dipati Ukur. Di dalamnya juga berisikan tugas untuk memobilisasi pasukan seluruh Tatar Ukur untuk menggempur Batavia. Adapun waktunya menunggu perintah Sultan berikutnya.

Dipati Ukur segera bergerak cepat. 10 ribu pasukan dikumpulkannya. Mereka terdiri dari pasukan terlatih dari Sanga Ukur, berikut para senapatinya.

Di dalam hati Dipati Ukur terbersit keinginan untuk mewujudkan cita-cita Adipati Ukur Agung, mertuanya. Cita-cita untuk menjadikan negeri Tatar Ukur merdeka terlepas dari cengkeraman bangsa asing. Dibayangkannya bahwa momentum itu sangat tepat. Namun, Adipati sangat berhati-hati dalam bertindak. Berjaga agar tidak ada yang mengetahui niatnya.

***

Hari yang telah ditentukan pun tiba. Saat itu, Oktober 1628 Dipati Ukur bersama pasukannya siap memenuhi perintah Sultan Agung. Bergeraklah mereka diiringi doa dan tangisan rakyat. Doa agar diberikan keselamatan. Tangisan, dikarenakan entah siapa yang akan gugur di medan perang nanti.

Dengan menunggang kuda hitam Dipati Ukur mengenakan pakaian kebesarannya. Bersenjatakan sebilah kujang Culanagara dan pedang, diapit punggawa pembawa panji kebesaran Tatar Ukur dan Mataram. Suara genderang pun dibunyikan. Sorak sorai bergemuruh dari rakyat yang dilewati menyemangati pasukan Dipati Ukur yang sangat dicintai.

Di setiap perbatasan negeri, Dipati Ukur mengucapkan salam kepada rakyatnya. Dititipkannya Tatar Ukur untuk terus dijaga kemuliaannya. Tidak lupa Adipati bersedekah kepada setiap rakyat yang dilihatnya masih menderita. Tangisan perpisahan seakan tidak pernah berhenti, hingga pasukan perang Adipati hilang di balik gunung menuju hutan.

***

Dipati Ukur dan pasukan berhenti di perbatasan Kadipaten. Atas instruksi Sultan Agung, Adipati harus menunggu pasukan Adipati Bahurekso dari Kendal yang akan bergabung.  Mereka pun mendirikan tenda untuk beristirahat dan mengumpulkan kembali tenaga yang terkuras akibat menempuh jauhnya perjalanan.

Pasukan bergiliran jaga. Sebagian beristirahat. Namun, Dipati Ukur terus terjaga. Pikirannya selalu bekerja mengatur strategi untuk memenangkan peperangan. Sayangnya, para penasihat tidak mampu menahan kantuk. Adipati tetap tidak bisa tidur, hingga suara ayam jantan pun berkokok tanda fajar telah tiba.

Dipati Ukur mengimami salat. Selesai berdoa, Adipati menghadap pasukannya.

“Anak-anakku…,” ucap Adipati. Demikianlah, Dipati Ukur selalu memanggil pasukannya. Baginya, semua prajurit adalah anak-anaknya. Sehingga, semua pasukan merasa mereka selalu berada dalam perlindungan orang tua yang dicintainya.

“Ketahuilah. Pasukan yang akan kita serang adalah tentara-tentara dengan senjata yang belum pernah kita miliki. Nanti aka nada dentuman dahsyat yang kalau tidak hati-hati, kita akan hancur lebur…,” lanjut Adipati. “…nanti jika terjadi apa-apa dengan Aku, hendaknya kalian terus berjuang. Ingat! Kita di sini bukan hanya sekedar menaati perintah Kanjeng Sultan. Namun, lebih dari itu, kemuliaan harga diri untuk tidak dijajah orang asing, harus terus dijunjung tinggi…” sambung Adipati.

Semua tertegun mendengar ucapan Dipati Ukur. Mereka berfirasat bahwa peperangan nanti akan merubah kehidupan kedepan.

“Ampuni hamba paduka. Seyogyanya paduka tidak harus berucap seperti itu. Kami, hamba-hamba paduka, tidak akan gentar menghadapi sedahsyat apapun musuh nanti,” kata Senapati Bunar, pemimpin pasukan panah.

“Benar apa yang disampaikan Kakang Bunar, paduka. Kami akan selalu setia mendampingi paduka, apapun yang akan terjadi,” dukung Senapati Nagara yang diamini oleh Senapati Gedugan, Senapati Aria Wangun, Senapati Aria Celak, dan para umbul yang hadir di belakang para senapati. Para umbul adalah kepala daerah yang setia mengikuti ekspedisi Dipati Ukur. Mereka datang dari Kabupaten Batulayang, Saunggatang, Taraju, Kahuripan, Medangsasigar, Malangbong, Mananggel, Sagaraherang dan Ukur ,

“Alhamdulillah…terima kasih atas kesetiaan kalian. Aku tidak pernah menyangsikan semangat kalian dan prajurit-prajurit kita semua,” tandas Adipati.

***

Yang dinanti pun tiba. Pasukan Adipati Bahurekso datang sore hari. Mereka terlihat lelah. Perjalanan dari Kendal mereka tempuh melalui jalur laut, menyusuri pantai utara Jawa. Adipati Bahurekso memang kurang bersahabat dengan Kesultanan Cirebon. Adipati sering berseteru dengan Pangeran Raja Adipati Cirebon.

Di dalam hati Adipati Bahurekso selalu terbersit pertanyaan, kenapa Sultan Agung lebih memilih Kendal yang letaknya sangat jauh, dibandingkan dengan Cirebon yang sangat dekat dengan Batavia. Bahkan, pikiran buruknya sering berkata: Jangan-jangan Kendal akan dikorbankan agar Sultan Agung dapat leluasa menancapkan kuku kekuasaan di daerah utara Jawa.

Setelah dua hari beristirahat. Dipati Ukur dan Adipati Bahurekso berunding mengatur strategi perang. Para senapati dan umbul masing-masing pasukan turut hadir.

“Dinda Dipati Ukur, sebagai orang yang lebih tua, sudah selayaknya aku yang akan menjadi panglima besar…” buka Bahurekso. Dirinya tidak ingin kedudukannya sebagai Bupati Kendal berada di bawah komando Dipati Ukur. “…terlebih, aku adalah saudara tua Kadipaten Jambu Karang, negeri tempat orang tua dinda dahulu,” tegas Bahurekso.

“Kanda Adipati, bagiku tidak ada masalah siapa yang akan memimpin seluruh pasukan. Namun, harus dipertimbangkan, wilayah Tatar Ukur jauh lebih luas dibanding Kendal…” ujar Dipati Ukur. Dirinya merasa tidak nyaman dengan ucapan Adipati Bahurekso. “…terlebih pasukanku lebih mengetahui medan di daerah ini dibanding dengan pasukan Kanda. Oleh karena itu, seluruh pasukan harus berada di bawah komando Tatar Ukur!” tandas Dipati Ukur.

“Tidak bisa begitu Dinda…, Kendal memang tidak sebesar Tatar Ukur, tapi kita tidak lebih dari negeri bawahan Mataram. Jadi, kedudukan kita tetap sama…” sanggah Bahurekso, nada suaranya mulai bergetar.

Para senapati dan umbul merasa tidak nyaman. Namun, mereka tidak berani masuk ke dalam obrolan kedua penguasa itu. Semua terdiam menunggu putusan akhir.

“Begini saja…untuk memutuskan siapa yang akan memimpin pasukan, dan agar tidak menimbulkan dualisme kepemimpinan, aku akan mengutus orang untuk menemui Kanjeng Sultan agar beliau sendiri yang memutuskan,” saran Dipati Ukur.

Adipati Bahurekso mengernyitkan keningnya. Dia tahu benar, pasti Sultan Agung akan memilih Dipati Ukur. Hal ini dikarenakan Tatar Ukur merupakan negeri kebanggaan Sultan. Lebih dari itu, perintah Sultan Agung sangat jelas agar Kendal bergabung dan membantu Tatar Ukur. Itu mengisyaratkan bahwa yang akan menjadi pimpinan pasukan adalah Dipati Ukur. Namun, dia tidak sudi di bawah komando Dipati Ukur yang dianggapnya lebih muda dibandingkan dengan usianya. Lalu, disusunnya siasat.

“Hmmm…untuk mengutus prajurit ke Mataram butuh waktu lama,” cegah Bahurekso. “…nampaknya kita tidak akan pernah menemukan titik temu. Begini saja, di Karawang aku akan mengikuti komandomu. Namun, aku harus mengangkut senjata yang disimpan di pasisir utara Cirebon. Oleh karena itu, sekalian saja aku akan melalui jalur laut menuju Karawang. Di sana, kita akan berkumpul sesuai titah Sultan Agung untuk menyerang Batavia…” saran Bahurekso serius. Dipati Ukur setuju. Semua senapati pun lega. ***