SISWA SMPN 2 PARONGPONG BELAJAR DI RUMAH BERSAMA TVRI

[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”bacakan”]Parongpong. (Newsroom). SMPN 2 Parongpong Kabupaten Bandung Barat menyambut baik kebijakan Mendikbud Nadiem Makariem yang meluncurkan program ‘Belajar di Rumah bersama TVRI’. Hal ini memudahkan sekolah dalam mengarahkan siswanya untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Kepala SMPN 2 Parongpong, Yeti Resmiati mengungkapkan bahwa dengan dicanangkannya program di atas, membuat sekolah lebih terbantu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, sebelum hal tesebut diluncurkan sekolah menggunakan sejumlah moda, baik daring maupun luring. Tentu dengan sejumlah kelebihan dan kekurangannya.

“Banyak pengalaman menarik saat guru menggunakan moda daring, baik sisi kelebihan maupun kekurangannya. Terlebih saat siswa menyampaikan kesulitan menerima informasi kegiatan pembelajaran dikarenakan tidak memiliki sarana pendukungnya, baik smartphone maupun kuota internet,” ungkapnya kepada Newsroom (13/5/20).

Seperti diketahui sejak merebaknya kasus covid-19 di Indonesia, pembelajaran di sekolah tidak lagi dapat dilaksanakan di sekolah. Kegiatan dialihkan dengan pembelajaran jarak jauh melalui moda daring. Hal ini sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran virus tersebut.

Di sisi lain, seiring dengan kemajuan teknologi di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini, para guru diharapkan tanggap dalam zaman yang serba digital. Sehingga peran guru yang strategis, tidak hanya mengajar, tetapi mendidik, membimbing, mengarahkan, memotivasi, dan mengevaluasi.

Lebih lanjut, Yeti menyampaikan bahwa  meskipun kemajuan teknologi pembelajaran sudah berada pada tahap yang cukup menyenangkan, tetapi peran ini tidak dapat menggantikan fungsi dan peran guru dalam seluruh proses mendidik dan mengajar anak. Ditegaskannya bahwa figur yang dikagumi, dihormati, dan dicontoh, serta ditiru perilakunya, tidak bisa tergantikan sekalipun dengan media canggih.

Sementara itu, Retno Widijawati  selaku Bidang  Kurikulum  menyampaikan bahwa sebelum program di atas digulirkan, kegiatan pembelajaran menggunakan sejumlah fasilitas, seperti whatshapp, zoom, instagram, line, dan media lainnya. Namun dalam pelaksanaanya sering terkendala dengan jaringan dan kuota internet.

Retno menambahkan bahwa pihak sekolah sebenarnya mengarahkan para untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kapasitas masing-masing. Siswa tidak dituntut untuk harus menuntaskan tugas yang diberikan oleh guru. Kesalahpahaman inilah yang kemudian menjadikan siswa jenuh, bosan, dan boring serta orang tua mengeluh. Oleh karena itu pihaknya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Kemdikbud tersebut. sehingga pembelajaran dapat berlangsung relatif lebih kondusif, menarik dan menyenangkan.

“Sebenarnya siswa hanya diharuskan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kapasitas masing-masing. Mereka tidak dituntut untuk harus menuntaskan tugas yang diberikan oleh guru. Kesalahpahaman inilah yang kemudian menjadikan siswa jenuh, bosan, dan boring serta orang tua mengeluh. Maka saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Kemdikbud dengan program ‘Belajar bersama TVRI’. Pembelajaran menjadi kondusif, menarik dan menyenangkan,” tandasnya.***

Berita: Nani Sulyani (Newsroom)
Sumber Berita/Foto: Hj. Yeti Resmiati (Kepala SMPN 2 Parongpong)
Editor/Ilustrator: Adhyatnika GU
[/responsivevoice]