STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN RELIGIUS DALAM KONSEP MERDEKA BELAJAR

Oleh: Nani Sulyani (Kepala SMPN 3 Saguling)

Konsep “Merdeka Belajar” menjadi viral sejak diluncurkan melalui pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2019. Dalam pidatonya, mas menteri mengungkapkan dua poin penting, yaitu perihal merdeka belajar dan guru penggerak. Merdeka belajar diartikan sebagai unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya yang diberi kebebasan untuk berinovasi. Kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Untuk mewujudkan hal ini pemerintah telah mendorong melalui berbagai bentuk bantuan, kemudahan birokrasi dan regulasi.

Dikemukakan lebih lanjut, bahwa tidak semua inovasi harus berakhir dengan sukses. Dari berbagai eksperimen yang dicobakan, pada akhirnya akan diketahui formula yang pas untuk sekolah dan lingkungan sekitarnya. Itulah esensi dari inovasi.

Meskipun pernyataan tersebut jelas memberikan kebebasan berinovasi untuk satuan pendidikan, namun pada pelaksanaannya tidaklah mudah. Contohnya adalah pro dan kontra dalam menerjemahkan RPP Merdeka Belajar. Dalam K13, RPP ditulis seca detail dengan menghabiskan berlembar-lembar kertas. Ketika ingin diringkas menjadi selembar kertas (paperless), apakah mungkin? Bagi guru yang belum pernah membuat “action plan”, tentu hal ini menimbulkan kebingungan.

Stabilitas pembelajaran di sekolah kemudian digonjang-ganjingkan oleh fenomena covid- 19 yang mengharuskan pembelajaran menggunakan moda daring. Alhasil, pemerintah makin memantapkan konsep merdeka belajar melalui  Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719 / P / 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Satuan pendidikan dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Satuan pendidikan pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat 1) tetap mengacu pada Kurikulum Nasional; 2) menggunakan kurikulum darurat; atau 3) melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Semua jenjang pendidikan pada kondisi khusus dapat memilih dari tiga opsi kurikulum tersebut. Kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus memberikan kelengkapan bagi sekolah untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswanya.

Apakah keputusan ini kemudian mengentaskan semua permasalahan? Tidak juga. Meskipun semangat berinovasi dan kemerdekaan dalam pembelajaran santer digaungkan, tetap saja memunculkan kegalauan para guru dari sisi konten, metoda, moda dan penilaian. Bahkan menjelang berakhirnya masa pembelajaran, keragu-raguan akan sistem penilaian masih menjadi topik pembicaraan.

Kegalauan atau kekhawatiran ini memang tak dipungkiri. Hal ini terjadi karena para guru terbiasa menjadi “user” ketimbang “maker”, khususnya dalam kegiatan evaluasi pembelajaran. Mereka terbiasa menggunakan soal-soal “instan” pada kegiatan PAS. Ibarat menu masakan, mereka belum terbiasa menciptakan resep masakan, akan tetapi mendapatkan makanan siap saji, tinggal menatanya di atas piring untuk disantap para siswanya.

Kegalauan berikutnya adalah apabila ada guru yang masih ‘bandel’ keukeuh ingin menuntaskan materi pembelajaran dalam K13. Niat mulianya sungguh tak terkira, sang guru berdedikasi mengemban Standar Kompetensi Lulusan. Alih-alih sukses, yang ada malah membawa kepada kondisi stress, baik guru maupun siswanya. Padahal, meskipun dalam Permendiknas No. 23/2006 pemerintah telah merumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik, melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran, namun standar ini dapat disederhanakan dan diarahkan untuk penguasaan literasi, numerasi, dan pengembangan karakter siswa.

Melengkapi permendiknas tersebut, dalam tulisan ini, saya ingin memaparkan bahwa dalam Bimbingan dan Konseling (BK) pun ada yang disebut sebagai “Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik” (SKK) yang menjadi rujukan pelayanan BK di Indonesia.

Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SSK) adalah standar ketercapaian peserta didik yang menyangkut aspek fisik, kognisi, sosial, emosi, moral, dan religius sesuai dengan usia perkembangannya. Penyusunan SSK ini dilandasi keilmuan psikologi perkembangan. Pada jenjang SMP, SSK meliputi : (1) Landasan hidup religius; (2) Landasan perilaku etis; (3) Kematangan emosi; (4) Kematangan intelektual; (5) Kesadaran tanggung jawab sosial; (6) Kesadaran gender; (7) Pengembangan diri; (8) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis); (9) Wawasan dan kesiapan karier; dan (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya.

Saya contohkan di sini SSK (1) Landasan hidup religius. Tugas perkembangan yang harus dicapai siswa adalah “Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Untuk mencapai tugas perkembangan ini tidaklah mudah. Umumnya, pada masa anak-anak, peserta didik menerima keyakinan-keyakinn agama secara dogmatis. Namun, sejalan dengan perkembangan kognitifnya, pada masa remaja (SMP) mereka sering mempersoalkan religiusitas yang sebelumnya telah diyakini dan dipegang teguh. Akibatnya, banyak remaja mempersoalkan kembali keyakinan keagamaan mereka, dan mengalami penurunan ibadah akibat keraguan atas keyakinan sebelumnya. Di sisi lain, keraguan ini pada beberapa peserta didik SMP mendorong mereka lebih giat mencari informasi dan menguji kembali kebenaran yang mereka yakini.

Pada SSK (1) aspek religius, layanan BK dimungkinkan dilaksanakan dalam tiga segmen, yaitu KEILMUAN (mengenalkan arti dan tujuan ibadah), AKOMODASI (memotivasi dan mendorong peminatan belajar), TINDAKAN (memberikan tauladan dan mendampingi pelaksanaan ibadah siswa). Pada kurikulum khusus, SSK aspek religius ini dapat berkontribusi, berkolaborasi dan berelaborasi dengan mata pelajaran lain dalam kegiatan evaluasi pembelajaran.

Sebagaimana diketahui, masa pandemi yang belum surut, telah melahirkan permasalahan baru. Kondisi pandemi mungkin telah berdampak menyebabkan keadaan kehilangan anggota keluarga, perceraian, kehilangan mata pencaharian, dan kekerasan dalam rumah tangga. Kondisi ini sangat mungkin menjadi sebuah godaan terhadap lemahnya iman. Oleh sebab itu, maka penguatan religiusitas dapat menjadi alternatif yang disisipkan dalam evaluasi pembelajaran, sekaligus sebagai penguatan pendidikan karakter menuju visi Profil Pelajar Pancasila.

Sumber bacaan
https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/mengenal-konsep-merdeka-belajar-dan-guru-penggerak
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/08/kemendikbud-terbitkan-kurikulum-darurat-pada-satuan-pendidikan-dalam-kondisi-khusus
Panduan Penyelenggaraan Operasional Bimbingan dan Konseling , Kemendikbud Dirjen GTK; 2016

WAJAH PENDIDIKAN PADA MASA PANDEMI

Oleh: WIKA KARINA DAMAYANTI,  S.Pd., SH., M.Pd. (Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat) 

Tidak terasa pandemi covid – 19 telah berjaya memporak-porandakan tatanan kehidupan dalam kurun waktu satu tahun. Pandemi ini membawa dampak yang luar biasa besar dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, sosial, sampai dengan pendidikan. Seluruh aktivitas diberhentikan secara masiv untuk mengurangi penyebaran virus. Penghentian aktivitas pembelajaran tatap muka merupakan salah satu usaha pencegahan penyebaran virus covid – 19 dalam bidang pendidikan. Meskipun gerbang sekolah tertutup untuk kegiatan pembelajaran, namun proses belajar mengajar tetap harus berjalan seperti biasa.

Kebijakan pembelajaran jarak jauh menjadi solusi di tengah pandemi ini. Pada awalnya pembelajaran jarak jauh dilakukan dengan menggunakan metode daring atau online, namun seiring berjalannya waktu ditemui banyak hambatan dalam implementasinya. Kegiatan pembelajaran daring dapat berhasil dilakukan jika guru dan siswa sama-sama memiliki akses yang menunjang seperti handphone, tablet, komputer atau laptop, kuota internet, dan kemampuan menggunakan gadget. Namun dalam praktiknya kegiatan pembelajaran daring ini tidak dapat berjalan dengan mulus.

Permasalahan datang dari berbagai aspek, seperti minimnya fasilitas untuk melaksanakan pembelajaran daring, kurangnya kemampuan guru dalam menggunakan aplikasi pembelajaran daring, kondisi ekonomi yang menyebabkan ketidakmampuan untuk membeli kuota internet yang dibutuhkan, dan juga faktor geografis yang menyebabkan sebagian wilayah di Kabupaten Bandung Barat mengalami kendala penangkapan jaringan internet yang buruk. Permasalahan ini membutuhkan solusi dari berbagai pihak agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan ditengah keterbatasan yang ada.

Kreativitas guru sangat diuji dalam menampilkan pembelajaran jarak jauh yang menarik dan guru pun harus mencari cara agar seluruh siswanya dapat berpartisipasi dalam setiap pembelajaran. Seperti yang dilakukan oleh para guru di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD), dengan niat tulus mereka datang mengunjungi rumah anak didiknya untuk mengajar dan membawa berbagai bahan ajar agar mereka dapat tetap mengikuti pembelajaran selama masa pandemi ini. Kegiatan pembelajaran daring tidak dapat diikuti oleh sebagian besar anak didiknya karena mereka tidak memiliki handphone atau komputer. Pembelajaran Jarak Jauh di jenjang PAUD dirasakan sangat sulit karena proses pembeajarannya berorientasi pada kegiatan bermain sambil belajar.

Seperti yang dilakukan oleh para guru di POS PAUD Melati XI. BU Wiwin dan Bu Nurhasanah yang merupakan guru dari lembaga PAUD yang berlokasi di Desa Jayagiri Kecamatan lembang ini mengunjungi anak didiknya secara berkelompok untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kunjungan ini dilakukan untuk memantau perkembangan dan memberikan motivasi agar anak didiknya terus semangat dalam belajar.

Para guru dan anak didik di POS PAUD Melati XI melakukan proses pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring) atau offline. Metode ini merupakan alternatif pembelajaran bagi siswa yang tidak mampu melakukan pembelajaran daring atau online. Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat telah mengeluarkan Pedoman Penyesuaian Pelaksanaan Pembelajaran Pada Masa Darurat yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor 421.2/2160/VII-BidSD/2020. Tujuan dari dikeluarkannya kebijakan ini agar dapat dijadikan sebagai rambu-rambu penyelenggaraan pendidikan bagi sekolah pada masa pandemi ini.

Proses pembelajaran yang dilakukan menggunakan pendekatan pembelajaran luar jaringan dengan metode home visit, atau belajar sambil berkunjung, yang dikenal dengan istilah ‘”JARUNJUNG”. Metode ini dilakukan dengan kujungan guru ke rumah siswanya, baik secara individu ataupun grup. Kegiatan belajar mengajar melalui “JARUNJUNG” dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran, seperti buku paket, modul, lembar kerja, alat permainan, dan media cetak lainnya.

Berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang ditawarkan merupakan usaha pemenuhan hak siswa untuk mendapatkan layanan pendidikan selama masa darurat pandemi covid – 19. Penerapan metode ‘”JARUNJUNG” memiliki banyak kelebihan, diantaranya adalah guru dapat mengetahui keadaan siswanya di rumah dan dapat mengetahui permasalahan serta hambatan yang dihadapi oleh para siswa. Interaksi dan komunikasi yang baik dengan orang tua dapat terjalin melalui penerapan metode ini.

Pandemi bukanlah alasan tidak terselenggaranya proses pendidikan. Masih banyak cara agar pendidikan tetap terlaksana dan berjalan dengan baik, meskipun hal tersebut membutuhkan usaha dan kerjasama yang lebih dari berbagai pihak. Penyelenggaraan pendidikan pada masa pandemi dapat terlaksana dengan adanya komitmen dari pihak sekolah, guru, siswa, dan juga orang tua karena pada prinsipnya proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan juga kapan saja, tanpa dibatasi oleh dinding ruang kelas.

Harapan dibukanya kembali sekolah untuk kegiatan pembelajaran semakin meningkat ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengatakan bahwa sekolah boleh melaksanakan kegiatan tatap muka pada tahun 2021 ini dengan beberapa syarat, yang pertama mendapatkan izin dari tiga pihak yang bersangkutan, yaitu: Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, dan Orang tua melalui perwakilan komite sekolah, kedua sekolah harus memenuhi daftar periksa yang berupa: ketersediaan sarana sanitasi dan kebersihan, memiliki kemampuan mengakses fasilitas Kesehatan, memiliki thermogun, wajib menggunakan masker, serta melakukan pemetaan terhadap warga sekolah terkait dengan penyebaran covid – 19, dan syarat ketiga sekolah wajib menerapkan protocol Kesehatan dengan ketat.

Saat ini sedang dilaksanakan pemberian vaksin covid – 19 bagi para guru untuk mempersiapkan pembukaan sekolah kembali. Kebijakan ini disambut sangat baik oleh masyarakat, terutama para siswa yang sangat merindukan masa-masa indah belajar dan bermain di sekolah. Semoga saja pandemi covid – 19 segera berakhir dan kehidupan dapat berjalan normal kembali. DisdikKBB-Wika.Kd.

MERDEKA BELAJAR

Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu lalu, pada media sosial sempat terjadi diskursus tentang merdeka belajar yang digulirkan oleh Mendikbud. Di antara diskursus tersebut sempat ada lontaran yang memaknai berdeka belajar sebagai kebebasan tanpa batas, tanpa koridor yang mengaturnya. Merdeka belajar dimaknai sebagai keterbebasan dari belenggu aturan/norma yang diterapkan oleh pihak lain, terutama pemerintah. Pemahaman tersebut sah-sah saja dalam ranah diskursus, tetapi merdeka belajar dalam konteks yang disampaikan oleh Mendikbud, tentu tidak mengarah pada pemaknaan demikian.

Dengan kewenangan yang dimilikinya, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggulirkan konsep merdeka belajar dalam tata Kelola pendidikan di negeri ini. Konsep ini mengarah pada kebijakan strategis yang harus dirancang dan diterapkan oleh setiap sekolah sebagai lembaga paling hilir dalam penerapan kebijakan pendidikan.
Pada awalnya tidak kurang dari empat konsep yang digulirkan oleh gerbong merdeka belajar. Pertama, mengembalikan kewenangan ujian/penilaian pada sekolah dan guru. Kedua, menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional dan menggantinya dengan Asesmen Nasional yang formulasi pelaksanaan berbeda sekali. Ke tiga, menyederhanakan RPP agar lebih berfokus pada pembelajaran dan penilaian siswa secara holistik. Keempat, menerapkan sistem zonasi pada pelaksanaan PPDB, sehingga lebih luwes dan berkeadilan.

Ke empat konsep yang digulirkan tersebut secara kasat mata memperlihatkan pembukaan kran otoritas kewenangan terhadap sekolah. Karena itu, langkah yang harus diberikan oleh sekolah dalam kaitan dengan kebijakan ini adalah menyiapkan seluruh warga sekolah untuk mampu merespons dengan baik. Langkah strategis yang harus dilakukan adalah menyiapkan diri untuk mampu menerjemahkan merdeka belajar dengan komprehensif dalam tataran implementasi. Dengan demikian, tidak terjadi malmanajemen pengelolaan sekolah yang diakibatkan oleh ketidakpahaman dan ketidakmampuan merespons serta menyikapi kebijakan merdeka belajar.

Merdeka belajar tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan atau keleluasaan tanpa batas yang bisa diambil oleh setiap penentu kebijakan, baik pengawas, kepala sekolah, guru, maupun stakeholder sekolah lainnya. Dalam implementasinya, masih terdapat pakem-pakem atau koridor yang harus diikuti oleh seluruh stakeholder sekolah saat membuat keputusan terkait dengan manajemen pengembangan sekolah, maupun manajemen pembelajaran. Sekalipun demikian, dalam konsep ini seluruh pelaksana kebijakan pendidikan harus terbebas dari rasa takut akan hukuman saat menjalankan amanat yang sesuai dengan norma, aturan, atau koridor yang berlaku.

Melalui pengguliran merdeka belajar, setiap stakeholder sekolah dituntut agar memiliki kemampuan guna mengatur dirinya dengan leluasa saat harus menafsirkan dan menjalankannya. Melalui penerapan konsep merdeka belajar, dimungkinkan setiap stakeholder sekolah dapat bekerja sama satu sama lainnya dalam mengelola dirinya (self-organized). Karena itu, merdeka belajar lebih mengarah pada upaya pentingnya menjadi diri sendiri sehingga menjadi pemicu bertumbuh dan berkembangnya sekolah.

Dengan implementasi merdeka belajar, seluruh stakeholder sekolah mendapat ruang dan waktu dengan lebih luas sehingga dapat berkreasi dan berinovasi. Lahirnya kebebasan/keleluasaan tersebut dimungkinkan akan dapat mendorong akselerasi peningkatan kualitas sekolah. Dengan kata lain, penerapan konsep merdeka belajar merupakan upaya yang dilakukan untuk memperkuat implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS) yang telah lama digulirkan Kemdikbud.
Karena itulah, seluruh stakeholder sekolah harus dapat memanfaatkan moment ini untuk dapat mengimplementasikan berbagai kreasi dan inovasi dalam upaya memajukan sekolah. ****Disdikkbb-DasARSS.

KURIKULUM

 


Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

Dalam perjalanan ke kantor, tiba-tiba telepon berdering. Setelah dilihat ternyata panggilan dari seorang teman yang bekerja di Kemendikbud. Telepon langsung diangkat. Dari seberang sana Sang teman membuka percakapan dengan bertanya kabar, karena sudah cukup sekian lama tidak bertegur sapa apalagi bersua. Di tengah percakapan, Sang teman mengungkapkan maksudnya, mengajak untuk mengkuti uji publik terkait dengan kurikulum. Ajakan itu cukup menantang karena sudah sekian lama tidak banyak menyelami lebih dalam tentang fenomena per-kurikulum-an saat ini. Dari moment ini dimungkinkan saya “dipaksa” untuk menelaah lebih dalam tentang kurikulum dalam konteks operasional.

Istilah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sampai saat ini sudah menjadi makanan keseharian banyak orang yang bergelut dengan dunia pendidikan. Bisa jadi, kata itu begitu familiar sehingga menjadi kata biasa yang rutin digunakan dalam dinamika pengelolaan pendidikan. Namun demikian, tidak semua warga sekolah memahami lebih dalam tentang kata tersebut. Itu dimungkinkan karena keterbatasan yang dimilikinya.

Dari sisi pemaknaan, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Implementasi dari pemaknaan di atas—mengacu terhadap kebijakan yang diterapkan Kemendikbud sejak beberapa tahun ke belakang—pada setiap satuan pendidikan harus terdokumentasikan satu bundel KTSP yang memuat berbagai program kurikuler. KTSP inilah yang menjadi acuan dari setiap kepala sekolah dan guru serta stakeholder sekolah lainnya dalam dalam memutar roda kurikuler atau pembelajaran.

KTSP merupakan implementasi desentralisasi pendidikan yang memberi ruang dengan begitu luas pada sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam merancang rencana pengembangan sekolah, terutama terkait dengan rencana pembelajaran. Dengan demikian, KTSP menjadi dokumen khas sekolah yang berisi tentang program kurikuler. Tentunya, program kurikuler yang diselenggarakannya harus program yang linier dengan karakteristik ekosistem sekolah masing-masing.

Menelaah pada kebijakan implementasinya, kemasan program kurikuler yang terdeskripsikan dalam KTSP memuat tiga kelompok kegiatan, yaitu: intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler. Ketiga kelompok kegiatan kurikuler itulah yang harus diramu oleh sekolah, sehingga menjadi sarana efektif dan efisien dalam penyelenggaraan pembelajaran.

Permasalahan yang sering terjadi dalam kaitan dengan penyusunan KTSP sampai saat ini adalah keengganan sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam penyusunannya. Dengan demikian, KTSP yang disusun bisa jadi merupakan copy paste dari KTSP tahun sebelumnya. Dengan kenyataan tersebut, tertutup kemungkinan berbagai program kretif dan inovatif terbaru untuk dapat terfasilitasi. Bahkan lebih parah lagi, KTSP yang tersusun merupakan copy paste dari sekolah lainnya yang jelas-jelas memiliki karakteristik berbeda.
Sejatinya, KTSP merupakan dokumen khas sekolah. Mengacu pada gagasan Ki Hajar Dewantara, pendidikan pada sekolah sudah berlangsung ketika terjadi penyatu-paduan tiga pusat pembelajaran, yaitu: dunia rumah/masyarakat, dunia pengajaran/sekolah, serta dunia anak/siswa. Ketika belum terjadi sinergitas di antara ketiga tripusat pembelajaran tersebut, maka keberlangsung pendidikan pada sekolah tersebut belum terjadi. Karena itu, langkah yang harus dilakukan adalah mensinergiskan ketiga dunia kehidupan tersebut sehingga terbentuk sebuah harmoni. Jembatan yang menjadi penghubung di antara ketiganya adalah kurikulum yang disusun oleh sekolah. Untuk itulah, KTSP harus benar-benar menjadi produk perencanaan pembelajaran yang dilandasi oleh kajian mendalam tentang karakteristik eksosistem sekolah dan ekosistem luar sekolah.

KTSP harus memainkan peran sebagai menjadi jembatan penghubung dialogis dan refleksi lintas generasi—nilai karakter masyarakat (dewasa) dengan nilai dan karakter siswa (generasi muda). ****Disdikkbb-DasARSS.

MINDSET

Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

Dalam status facebook seorang teman terungkap kegelisahannya saat harus memfasilitasi siswa dengan pembelajaran moda daring. Karena keterbatasan pola pembelajaran daring, diungkapkan bahwa materi yang dapat tersampaikan tidak seoptimal seperti halnya pembelajaran pola tatap muka langsung. Menelaah isi status dengan lebih dalam lagi tertangkap, bagaimana para siswanya dapat mendapat pengetahuan yang banyak ketika keterbatasan mendera, padahal pengetahuan yang diberikan guru merupakan modal dasar dalam mengarungi kehidupan masa depan mereka.
Sudah setahun lamanya, sebagian besar siswa melaksanakan pembelajaran dengan didominasi moda daring dan/atau luring. Dengan rentang waktu yang cukup lama ini, timbul kekhawatiran dari berbagai pihak akan nasib siswa yang terdampak oleh kebijakan penghentian pembelajaran tatap muka langsung. Banyak pihak, termasuk Kemdikbud memprediksi akan adanya loss learning ketika pembelajaran yang terdampak pandemi Covid-19 ini tidak disikapi dengan berbagai upaya strategis dari berbagai pihak, termasuk sekolah sebagai ujung tombaknya. Timbulnya loss learning akan berdampak pada tidak optimalnya perkembangan kognitif dan karakter siswa.

Fenomena lahirnya kekhawatiran akan adanya loss learning seperti yang dikhawatirkan banyak pihak tersebut bisa saja terjadi ketika stakeholder pendidikan tidak melakukan upaya yang cukup strategis. Pada kenyataannya, memang cukup berbeda pola pembelajaran jarak jauh dengan moda daring dan/atau luring saat ini dengan pola pembelajaran tatap muka yang selama beberapa tahun ke belakang mewarnai hiruk-pikuk aktivitas sekolah. Banyak sisi yang tidak tersentuh dengan pola pembelajaran jarak jauh, di antaranya keterbatasan ketersampaian materi sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan, tidak terjadinya sosialisasi masiv antarsiswa dalam pergaulan, serta tidak tersentuhnya pembentukan karakter siswa.

Terkait dengan tidak tersampaikannya materi yang seharusnya menjadi milik siswa, bisa terjadi karena keterbatasan ruang, waktu, dan kemampuan dalam melaksanakan pola pembelajaran jarak jauh. Materi sesuai tuntutan kurikulum yang seharusnya tersampaikan tidak mungkin dapat tercapai oleh seluruh siswa. Dengan demikian, lewat kabijakannya, Kemdikbud memberi tiga opsi pada setiap sekolah dalam kaitan dengan implementasi kurikulum. Opsi pertama, sekolah menggunakan kurikulum normal yang dikeluarkan oleh Kemdikbud. Opsi kedua, sekolah menggunakan kurikulum yang disesuai dengan kondisi saat ini. Opsi ketiga, sekolah menggunakan kurikulum yang disusun secara mandiri oleh sekolah masing-masing.

Sudah sangat lama disampaikan bahwa saat ini, guru tidak menjadi satu-satunya sumber belajar. Dengan keberlangsungan kemajuan kehidupan ini, siapapun dapat belajar dan menggali ilmu dari berbagai sumber. Beberapa sumber belajar yang memungkinkan di antaranya buku, alam sekitar, teman sebaya, orang tua, masyarakat lainnya, selain tentunya internet sebagai rujukannya. Berkenaan dengan itu, perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengubah mindset bahwa guru menjadi satu-satunya sumber belajar. Bila mindset ini tidak diubah, ketergantungan siswa akan sosok guru sebagai pemasok ilmu pengetahuan akan terus berlangsung, sehingga tidak menutup kemungkinan melahirkan sikap frustasi pada siswa.

Dengan fenomena pola pembelajaran yang saat ini diberlakukan, guru bersama stakeholder pendidikan lainnya harus mendorong siswa untuk mampu secara mandiri guna mengeksplorasi pengetahuan dari berbagai sumber yang memungkinkan. Dalam konteks ini, guru harus benar-benar berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi setiap siswanya.

Pekerjaan ini tidak semudah membalikkan tangan, tetapi harus terus dilakukan oleh berbagai pihak, terutama oleh para guru sebagai motor penggeraknya. Untuk sampai pada upaya tersebut, guru tidak dapat berperan sendiri, tetapi harus dibantu stakeholder pendidikan lainnya. Melalui perubahan mindset yang terjadi pada siswa, dimungkinkan akan lahir kesadaran atau dorongan dari internal siswa untuk terus-menerus mengeskplorasi pengetahuan dari berbagai sumber. Dampak positif dari lahirnya kesadaran ini adalah terbangunnya semangat siswa untuk menjadikan life a long education—jargon lama yang belum terlihat implementasinya secara nyata pada sebagian besar masyarakat—sebagai pola hidupnya.

Upaya melakukan pengubahan mindset ini harus menjadi pekerjaan rumah seluruh guru dengan dukungan stakeholder pendidikan di tengah tekanan pandemi Covid-19. ****Disdikkbb-DasARSS.

SERBA-SERBI BELAJAR PADA KONDISI PANDEMI COVID-19

Oleh: Dra.Siti Nina Hermina, M.Pd (Kepala SMPN 4 Padalarang)

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari kata “Belajar”, apapun kegiatan yang jelas ada proses yang dilakukan serta adanya perubahan yang terjadi dalam proses tersebut itulah belajar.Ada pendapat dari beberapa ahli tentang belajar ini yaitu sebagai berikut:
Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau  psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.

Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.

Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.

Pada kondisi pandemi covid-19 seperti ini yang sudah berlangsung hampir setahun, dimana proses belajar hanya bisa melalui media social, namun tidak mengurangi arti dari belajar. Untuk menghadapi belajar ini tentu harus memiliki medianya, yang mana adanya keterbatasan dalam memiliki media social sehingga ada kendala dalam proses pembelajaran. Tentu ini harus disikapi bagaimana proses belajar harus tetap berlangsung. Apalagi untuk kondisi di SMPN 4 Padalarang yang memiliki sarana media social hanya sekitar 60 %, sehingga untuk belajar pada kondisi pandemi covid 19 ini berlangsung ada 2 cara yaitu melalui “DARING’ dan “LURING’. Walaupun tetap dalam kondisi belajar daring masih ada berbagai kendala, apalagi untuk yang luring.Untuk yang belajar DARING tentunya belajar di rumah, sementara yang LURING mengambil bahan untuk belajar dari sekolah yang tentunya memperhatikan protocol covid, hanya anehnya kadang yang LURING itu sebenarnya memiliki media, dengan alasan mereka (peserta didik) ingin keluar rumah itulah hal yang lumrah mereka merasa cenuh, bagaimana dengan gurunya?

Dalam pelaksanaan daring yang dibimbing oleh orang tua ada berbagai keluhan yang disampaikan oleh orang tua mengenai membimbing apalagi yang orang tuanya bekerja yang tentu untuk membimbing harus menunggu waktu yang tepat sementara tugas yang harus dikerjakan peserta didik terbatas.
Disinilah kita sebagai pendidik harus mengambil sikap, dengan mengingat bahwa Pendidikan itu adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan lembaga itu sendiri. Kita ingat bahwa Pendidikan yang utama dan pertama adalah Pendidikan di rumah. Inilah tanggung jawab kita menyampaikan pengertian pada orang tua terlebih pada peserta didiknya sendiri. Tetap tanggung jawab kita sebagai pendidik ingat ada tiga hal yang harus diperhatikan bukan hanya mentransfer ilmu saja, terutama sesuai dengan pengertian belajar ada perubahan, apa tiga hal itu yaitu “Mendidik”, “Melatih”, dan “Mengajar”, yang paling utama yang harus tertanam pada peserta didik yaitu mendidik, agar peserta didik memahami apa arti belajar bukan sekedar mendapat ilmu pengetahuan. Serta jangan lupa tetap kita selaku pendidik tetap mengutamakan kemaampuan kita yaitu berbagai kompetensi, kompetensi Pedagogik kompetensi Profesional,Kompetensi Kepribadian, dan kompetensi social, inilah yang harus dikembangkan.

Yang paling utama pada situasi pandemic covid ini sekarang berbagai pihak harus lebih melek IT, terlebih pada seorang pendidik yang harus lebih menguasai berbagai pembelajaran melalui medsos ini. Masalahnya bagaimana kalau sudah dihadapkan pada pendidik yang belum bisa melek IT ini pun menjadi kendala, tidak kurang dari berbagai pendidik ada yang masih belum melek IT, sehingga harus ada berbagai pelatihan kearah kemampuan tersebut. Inipun menjadi PR kita semua.
Berbagai kegiatan yang mengarah pada metode pembelajaran dengan menggunakan sarana IT melalui kegiatan ZOOM, Webinar dan sebagainya. Tentu ini pun harus jadi pemikiran kita semua, karena harus menggunakan sarana dan prasarana.

Akhirnya itu semua kembalikan kepada kebijakan dan bagaimana kita menyikapinya. Yang terpenting bahwa pembelajaran pada situasi pandemic covid ini tetap harus berjalan dan menghasilkan peserta didik yang memahami arti dari belajar.
Akhir kata semoga suasana atau kondisi pandemi covid ini segera berakhir dan kita pada suasana normal Kembali..

Padalarang, Maret 2021

DINDING INSPIRASI,’YEL-YEL’, DAN INSERSI PENDIDIKAN

Oleh Wawan Kuswandi

(Kepala SMPN 3 Lembang Kab. Bandung Barat)

Menanggapi tulisan Sapardan (2020) pada rubrik Newsroom Disdik Kab. Bandung Barat bahwa implmentasi insersi mata pelajaran di sekolah bergantung pada kepiawaian pihak sekolah untuk mengeksekusinya. Kepala sekolah sebagai pimpinan dan manajer di sekolah dan guru-guru sebagai pendidik yang berhubungan langsung dengan peserta didik memiliki tanggung jawab sesuai fungsi masing-masing untuk melaksanakan berbagai kebijakan pendidikan. Salah satu kebijakan yang berkembang adalah insersi pendidikan.

Ada beberapa muatan atau insersi pendidikan yang dititipkan ke sekolah yang harus dilaksanakan, di antaranya Pendidikan Anti Korupsi, Pendidikan Siaga Kependudukan, Pendidikan Anti Narkoba, Pendidikan Mitigasi Bencana, Pendidikan Wawasan Lingkungan Hidup, Pendidikan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), Pendidikan Tertib Lalu lintas. Dari sekian insersi pendidikan tersebut, pada dasarnya adalah bagaimana peserta didik memiiliki pengetahuan, sikap mental, dan pembiasaan dalam mensikapai isu-isu berkaitan dengan setiap insersi tersbut. Tentu, kita tidak bisa menafikkan pentingnya berbagai insersi pendidikan tersebut. Semua itu penting untuk disampaikan kepada peserta didik, baik itu sebagai pembinaan sikap mental yang harus dimiliki peserta didik, pembiasaan yang harus merka lakukan, dan kesiagaan dalam menghadapi situasi tertentu.

Setiap insersi pendidikan telah memberikan SOP (Standar Pelaksanaan Operasional) atau prototipe untuk implementasi di sekolah. Dari sekian SOP yang perlu dilaksanakan di sekolah, diantaranya :

  1. Kebijakan sekolah. Sekolah dengan tanggung jawab sekolah adalah membuat kebijakan untuk melaksanakan insersi pendidikan tersebut. Kebijakan bisa berupa penugasan kepada guru mata pelajaran terkait untuk memasukkan materi atau pokok bahasan sisipan untuk masuk dalam rencana dan pelaksanaan pembelajaran. Kebiajakan juga bisa berarti membuat tim pokja disertai pembuatan SK Kepala Sekolah, seperti membentuk Tim Pokja Siaga Bencana, Tim Pengembang Sekolah Berwawasan Lingkungan Hidup. Membuat surat edarana kepada warga sekolah berkaitan dengan insersi pendidikan, membuat SOP Pelaksanaan di sekolah, dan apabila isu itu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti PHBS dan Wawasan Lingkungan hidup bisa dimasukkan ke dalam tata tertib sekolah.
  2. Pelaksanaan kegiatan intrakurikuler. Dalam kegiatan intrakurikuler insersi pendidikan menjadi bagian dari tema atau pokok bahasan yang harus termuat dalam mata pelajaran terkait yang tentu harus tarcantum dalam silabus, RPP guru mata pelajaran tersebut, dan untuk mata pelajaran lain bisa dilaksanakan sebagai pendahuluan atau penutup pembelajaran yang hanya disampaiakan untuk mengingatkan akan isu-isu terkait insersi pendidikan.
  3. Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Dalam kegiatan ekstra kurikuler dilaksanakan di luar jam pelajaran dengan pola pembinaan khusus bagi peserta didik, misalnya mengundang nara sumber dan menyampaikan kepada para peserta didik, seperti pendidikan berlalu lintas dan narkoba dengan mengundang nara sumber yang kompeten. Atau membina kelompok peserta didik yang tergabung dalam kader tertentu, misalnya dalam pengembangan sekolah berwawasan lingkungan dibentuk Kader Peduli Lingkungan atau Relawan Peduli Lingkungan, dan lain sebagainya.

Apakah sekolah kita sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut? Sudah optimalkah pelaksanaannya di sekolah kita? Untuk dapat melaksanakan insersi pendidikan di sekolah, berikut ini adalah ide atau gagasan yang bisa dilaksanakan untuk memastikan bahwa sekurang-kurangnya di sekolah kita insersi pendidikan tersebut dapat dilaksanakan :

  1. Dinding Insprirasi

Yang dimaksud dengan dinding inspirasi disini adalah memanfaatkan dinding ruang kelas sebagai sumber informasi. Selama ini mungkin dinding kelas digunakan untuk menempelkan tugas-tugas peserta didik atau lukisan-lukisan, atau foto-foto pahlawan nasional, dan sebagainya. Dinding kelas bisa digunakan untuk menempelkan informasi-informasi atau rangkuman materi yang perlu diketahui oleh peserta didik dari setiap insersi pendidikan di atas. Dengan ditempelkan di tiap ruang kelas, peserta didik akan membaca informasi-informasi tersebut. Tentu untuk menarik mereka membaca, perlu penataan yang baik dan menarik. Guru-guru terkait ditugaskan untuk membuat rangkuman materi dan membuat bahan untuk ditempelkan di tiap ruang kelas. Para peserta didik tiap kelas dengan bimbingan wali kelas bisa ditugaskan untuk menata dinding kelas, salah satu bagian dinding yang dikhususkan untuk menempel informasi-informasi tersebut.  Penamaannya tentu bisa disebut “Dinding Inspirasi” atau “Majalah Dinding Kelas” atau nama lain yang menarik. Bisa saja menggunakan semua bagian dinding belakang kelas untuk dijadikan tempat menempelkan berbagai informasi penting, termasuk tulisan-tulisan karya siswa yang inspiratif, dan rangkuman materi pelajaran tiap mata pelajaran dalam satu semester.

  1. Membuat “Yel-yel”

Salah satu ungkapan yang menarik agar peserta didik mudah mengingat dan menghafal adalah dengan membuat Yel-yel. Guru-guru dan siswa bisa membuat yel-yel yang berhubungan dengan insersi pendidikan. Misalnya sebagai berikut :

a. Guru : “Kopupsi”

Siswa (sambil menyilangkan tangan di depan) : “ Katakan tidak untuk korupsi”.

b. Guru : “NARKOBA”

Siswa : “Merusak Generasi Muda”. “Tidak Terbujuk, Tidak Menggunakan. Tidak Mengedarkan”

c. Guru : “Siaga Kependudukan”

Siswa : “ Kejar Cita-cita. Tidak Kawin Muda”.

d. Guru : “Bila terjadi gempa”

Siswa : “Berlindung di bawah meja, Jauhi kaca-kaca, Lindungi kepala”

e. Guru : “Bila Gempa reda”

Siswa : “Berkumpul di tempat Terbuka”

f. Guru : “Kebersihan”

Siswa : “Lingkungan bersih, kita sehat”

Dan seterusnnya dengan insersi pendidikan lain.

Guru-guru juga para siswa dapat membuat yel-yel yang lebih kreatif untuk meyampaikan pesan utama dari setiap insersi pendidikan. Yel-yel tersebut bisa diucapkan dengan dipandu oleh guru bisa pada saat sebelum memulai pelajaran tiap hari. Bisa juga dibagi tugas tiap mata pelajaran yang berbeda untuk mensosialisasikan yel-yel tertentu. Misalnya guru Agama dan PKn tentang anti korupsi dan Narkoba, Mata Pelajaran lain dengan yel-yel yang lain. Dengan yel-yel tersebut sekurang-kurangnya peserta didik dapat menangkap pesan utama dari insersi pendidikan yang perlu tersampaikan kepada mereka, dan mereka akan menyimpan dalam memori mereka.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi motivasi bagi rekan-rekan guru dan kepala sekolah untuk menemukan inspirasi yang lebih baik untuk melaksanakan insersi pendidikan di sekolah masing-masing.***

‘LEARNING LOSS’ DAMPAK PANDEMI COVID-19

Oleh: Euis Lesmini Djuanda
(Kepala SMPN 5 Gununghalu)

Pertengahan Maret 2021 ini, genap satu tahun, sekolah sekolah dihampir seluruh penjuru tanah air bahkan penjuru dunia belum dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara utuh akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Tak lama setelah PTM ditiadakan sementara, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, sampai tingkat satuan pendidikan, dengan segala kondisi dan keterbatasan berusaha untuk mencari solusi dan memberikan dukungan agar pelayanan pendidikan tetap dapat diterima oleh setiap peserta didik.

Dalam hitungan hari, dengan waktu yang singkat, ditambah ketidaksiapan sumber daya manusia dan sarana penunjang, akhirnya sekolah secara drastis beralih menggunakan moda daring sebagai jawaban. Pembelajaran berbasis daring dianggap menjadi satu solusi yang memungkinkan agar pembelajaran terus berjalan tanpa tatap muka. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pembelajaran moda ini mulai menunjukkan beberapa kendala yang cukup serius. Sekolah dan guru mulai mencari bentuk lain untuk meyakinkan bahwa pembelajaran harus terus berlangsung dan peserta didik tetap belajar.

Berbagai upaya yang sudah dilakukan hingga saat ini, tampaknya belum mampu menyamai keunggulan dari pembelajaran tatap muka yang sudah begitu melekat dalam kultur pendidikan kita. Tentu hal ini bukan tanpa alasan. Selain faktor sarana dan prasarana (Hand Phone, pemenuhan data/kuota, jangkauan sinyal) ternyata daring belum sepenuhnya engaging (melibatkan) siswa. Keterlibatan siswa di sekolah sekolah non-perkotaan atau daerah 3T bahkan mungkin di sekolah sekolah di kota malah cenderung menurun. Bahkan yang terjadi di pedesaan, mulai menunjukkan sinyal adanya keinginan peserta didik untuk putus sekolah (drop out). Beban yang harus dipikul oleh keluarga melalui pembelajaran daring dianggap cukup memberatkan. Belum lagi dipandang dari sisi guru. Merubah kebiasaan dan persiapan mengajar dari tatap muka ke daring bukanlah hal yang mudah. Pengemasan materi, cara penyampaian secara online, sistem penilaian, hanya dalam waktu singkat semua berubah dengan begitu cepat. Merubah kultur dan imaji bahwa KBM tercipta karena hadirnya siswa dan guru dalam kelas. Yang terjadi, ternyata tidak semua guru siap untuk itu. Beberapa karakter mata pelajaran nyatanya terlalu sulit disampaikan secara daring. Hal ini tentu merupakan tantangan sekaligus momentum dimana keprofesionalisme-an seoorang guru sedang diuji. Bersyukur, para guru dibebenjokeun bahwa selama pandemik sekolah bisa mengunakan kurikulum darurat bahkan diperbolehkan untuk menyederhanakan lagi kurikulum darurat tersebut sesuai keadaan dan kebutuhasn sekolah masing masing. Dan yang lebih menyejukkan, ketika kesehatan dan keselamatan peserta didik menjadi prioritas bukan ‘mengejar’ kurikulum.

Tidak sampai hanya disitu, pembelajaran daring ini, sayangngnya, mulai menunjukkan gejala yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya, yaitu: learning loss – hilangnya minat belajar siswa.

The Education and Development Forum (2020) mengartikan bahwa learning loss adalah situasi dimana peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan baik umum atau khusus atau kemunduran secara akademis, yang terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau ketidakberlangsungannya proses pendidikan.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh terganggunya proses pendidikan formal.
Dalam setahun ini, 75% sekolah di seluruh dunia, sempat bahkan masih belum membuka kembali pembelajaran tatap muka. Data dari berbagai penelitian, terdapat tiga masalah pokok akibat dari sekolah tidak melakukan tatap muka:

1. Penurunan Tingkat Keinginan Belajar

Dengan tidak pergi sekolah, kebanyakan peserta didik merasa seperti tidak memiliki alasan dan motivasi yang cukup kuat untuk belajar. Ketika biasanya guru memperhatikan mereka secara langsung di kelas, tingkat keinginan belajar mereka relatif lebih terjaga. Tetapi saat tidak ada guru, biasanya kesadaran belajar ini pun menurun. Tinggalah orang tua di rumah berjuang lebih keras agar mereka tetap semangat belajar disamping meyakinkan mereka ada dalam kondisi aman dan sehat.

2.Meningkatnya kesenjangan

Pembelajaran melalui moda daring atau distance learning (Pembelajaran Jarak Jauh) membuka peluang adanya disparitas atau kesenjangan belajar peserta didik. Peserta didik yang memiliki fasilitas belajar yang baik, dukungan keluarga yang utuh, hampir pasti memiliki tingkat keberhasilan dan keterlibatan yang baik dalam belajar. Tidak dipungkiri, banyak peserta didik yang minim fasilitas dan dukungan keluarga yang kurang, tetap bersemangat dalam belajar, namun tentu ini situasi yang anomali. Kurang efektifnya tes formatif, ditiadakannya berbagai evaluasi, cukup membuat peserta didik dan guru kehilangan acuan seberapa jauh pembelajaran dikatakan berhasil.

3. Kemungkinan Putus Sekolah (Drop Out)

Ketidakpastian akan kapan sekolah kembali normal berakibat pada munculnya kebosanan yang mendorong beberapa peserta didin ingin berhenti sekolah. Alasan ketiadaan fasilitas, kebingungan menghadapi tugas/PR yang dianggap terus menerus dan memberatkan, juga kebosasanan membuka jalan untuk para siswa yang hidup ditengah keterbatasan untuk memilih bekerja sehingga dapat meringkankan beban keluarga dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Tentu ini harus kita hadapi dengan penuh empati, terutama mereka yang sudah duduk di kelas/tingkat akhir masa pendidikannya. Waktu dan tenaga yang sudah mereka berikan akan terbuang percuma.

Bagaimana learning loss ini bisa kita minimalkan? Banyak ahli menyarankan beberapa strategi yang bisa ditempuh walau pun tentu saja semua perlu penyesuaian sesuai dengan kondisi sekolah masing masing. Adapan strategi tersebut antara lain:

1. Optimizing teaching and learning supports and resources during school closures. Strategi ini menjelaskan bahwa sekolah perlu mengoptimalkan segala upaya untuk mendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dan juga dukungan dalam bentuk keberagaman sumber belajar selama sekolah tidak melakukan tatap muka. Intinya, ketiadaan pembelajaran tatap muka seyogyanya tidak begitu mengurangi esensi pembelajaran termasuk di dalamnya bagaimana guru dan sekolah tetap dapat memantau sikap dan juga karakter siswa. Hal ini bisa dilakukan dengan cara misalnya: (1) merancang pembelajaran yang variatif, sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat siswa juga cukup efektif bila dilakukan secara online atau pembelajaran jarak jauh; (2) Lakukan pendekatan yang baik sehingga siswa termotivasi untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini bisa bersifat sedikit memaksa seperti cek kehadiran, atau bisa saja dngan mengusung kegiatan belajar yang berbasis PAIKEM termasuk didalamnya pendekatan sosial dan akrab misalnya tegur sapa guru dan siswa via WA atau Sosmed lainnya; (3) Gunakan pendekatan lain bila terindikasi terdapat siswa yang memiliki keterbatasan komunikasi secara online. Penggunaan pembelajaran melalui TV, modul, atau buku referensi perpustakaan bisa menjadi allternatif; (4) koordinasi dan komunikasi antara sekolah dan orang tua untuk meyakinkan bahwa siswa terlibat dalam pembelajaran, penyelesaian tugas termasuk kontrol orang tua dalam penggunaan gawai.

2. Offsetting the learning loss when schools reopen. Memperbaiki hilangnya minat belajar peserta didik saat sekolah kembali dibuka. Rentang waktu yang lama tanpa tatap muka mungkin banyak menimbulkan permasalahan baru, terutama terkait pencapaian pengetahuan dan keterampilan siswa. Sokolah dalam hal ini bisa membuat semacam jam tambahan bagi siswa yang terindikasi sangat tertinggal dalam pelajaran (dilihat dari kualitas hasil pembelajaran yang terkumpul). Hal ini, tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan atau bila semua faktor memungkinkan, peserta didik dapat menggunakan sebagian hari libur semester atau libur kenaikan kelas mereka di sekolah untuk mengejar ketertinggalan mereka yang tentu perlu dengan kordinasi yang tepat bersama para guru di sekolah.

Sumber: ttps://www.ukfiet.org/2020/the-covid-19-induced-learning-loss-what-is-it-and-how-it-can-be-mitigated/ diakses pada tanggal 25 Februari 2021

SANG ELANG

Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu lalu, pada Whats Apps Grup yang diikuti sempat terbaca sebuah metafora kehidupan yang mengungkapkan tentang burung gagak mematuk-matuk burung elang. Sekalipun sadar dengan patukan itu, elang tidak berupaya menanggapi dengan serius atau bertarung mati-matian dengan gagak agar terjatuh dari punggungnya. Elang tidak mau menghabiskan waktu dan energi dengan sia-sia, hanya untuk bertarung dengan gagak. Elang hanya cukup membuka sayapnya dan mulai terbang lebih tinggi lagi. Semakin tinggi elang terbang, semakin sulit gagak bernafas yang pada akhirnya, gagak jatuh karena kekurangan oksigen.

Membaca metafora yang disimbolkan dengan burung elang dan gagak sangatlah dalam makna kandunganya. Sebuah sikap dan tindakan yang harus ditunjukkan oleh manusia dalam menghadapi fenomena kehidupan yang tidak akan selalu lurus dan datar. Kehidupan yang dipastikan diwarnai dengan belokan dan tanjakan sebagai tantangannya.

Dalam mengarungi kehidupan ini—untuk menghindari kekecewaan—manusia tidak harus selalu dibarengi dengan ekspektasi yang mengarah pada sisi baik semata. Ketika ekspektasi bernuansa baik terus dipancangkan, yang terjadi adalah kekecewaan—saat ekspektasi tidak tercapai. Kekecewaan akan melanda saat das sollen tidak sejalan dengan das sein. Pada diri setiap manusia perlu terbangun sebuah keyakinan bahwa hidup tidak akan melaju pada jalan lurus tanpa belokan serta datar tanpa tanjakan. Adanya belokan dan tanjakan merupakan dinamika yang mewarnai kehidupan dan keberadaannya tidak dapat terhindar. Belokan dan tanjakan menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi manusia, merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan.

Berbagai tantangan kehidupan niscaya dihadapi setiap orang dengan tidak berbatas ruang dan waktu. Demikian pula dengan tantangan yang dipicu faktor eksternal sebagai penyebabnya. Tidak jarang dalam perjalanan berkehidupan ini ditemukan tantangan dari pihak ekternal—seperti yang digambarkan dalam metafora burung elang dan gagak. Dalam konteks ini, yang dibutuhkan adalah kepiawaian dalam menghadapi fenomena yang dihadapi.

Dalam mengahadapi tantangan kehidupan ini yang perlu dibangun adalah kesadaran akan lahirnya respons dari berbagai pihak atas sikap, prilaku, dan kebijakan. Dimungkinkan, respons yang terlahir akan terkelompokkan atas tiga ranah, yaitu: mendukung, abstain, dan tidak mendukung. Ketiga ranah tersebut akan selalu ada dan tidak bisa dipungkiri. Tantangan yang paling kentara dari ketiga ranah tersebut biasanya diperlihatkan oleh pihak yang berada pada ranah tidak mendukung.

Untuk menyikapi ranah tersebut, tidak menutup kemungkinan harus disikapi dengan menguras energi sangat banyak. Namun, metafora tersebut memberi gambaran bahwa tidak semua tuduhan, fitnahan, nyinyiran, atau hujatan yang menjadi refleksi dari ranah ketiga tersebut, harus dihadapi dengan bertarung yang pada akhirnya hanya akan menghabiskan energi dan waktu sangat banyak. Sebuah kesia-siaan dan ketidakbermaknaan, ketika seluruh tantangan harus dihadapi dengan pertarungan man to man, apalagi tantangan dari kelas di bawah yang tak sepadan. Meminjam ungkapan yang disampaikan Gus Baha, Kiai yang saat ini sangat digandrungi karena keluasan ilmunya, perdebatan (pertarungan) hanya memungkinkan dilakukan dengan sosok sepadan, kalau tidak sepadan jangan dilayani karena hanya akan menghabiskan energi dan waktu semata.

Pertarungan yang sangat jitu dan penuh perhitungan dengan tidak banyak mengeluarkan energi yang banyak harus menjadi strategi berkehidupan. Karena itu, langkah yang harus dilakukan adalah memilah tantangan yang dihadapi. Pemilahan—dengan dibarengi kecerdasan dalam memainkan ritme berkehidupan—dibutuhkan agar dapat mengurangi hamburan waktu dan energi dengan sia-sia atas upaya tanpa makna.
Untuk itu, tidak perlu menanggapi seluruh pertempuran secara man to man. Naikkan saja standar dan kepakkan sayap untuk terbang jauh lebih tinggi.

Alhasil, berhentilah membuang waktu yang sangat berharga dan membuang energi dengan sisa-sia hanya untuk menyikapi sesuatu yang tak bermakna. Melangkahlah terus, sebab mereka pun akan jatuh dan memudar dengan sendirinya. *****Disdikkbb-DasARSS.

RISET

Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu lalu, dalam kanal Youtube secara tidak sengaja saya simak paparan yang cukup menarik perhatian. Paparannya sekitar berbagai upaya yang dilakukan untuk memperkuat dan memperluas dogma-dogma oleh lembaga tertentu. Langkah penerapan program yang dilakukan ternyata tidaklah sembarangan dan serampangan. Untuk sampai pada implementasi program, langkah awal yang dilakukan sebelumnya adalah melaksanakan berbagai riset secara mendalam terhadap objeknya. Berdasarkan hasil riset tersebutlah, program disusun secara sistematis untuk dapat diimplementasikan.
Sekolah adalah salah satu dari sekian lembaga yang memiliki tugas utama untuk mentreatment setiap siswanya, sehingga mereka memiliki kesiapan optimal dalam menghadapi masa depan yang semakin penuh dengan tantangan. Melalui treatment yang dilakukan sekolah, para siswa dipersiapkan menjadi generasi masa depan bangsa yang tangguh. Dengan demikian, sekolah menjadi lembaga yang dipertaruhkan sebagai sarana mengantarkan siswa agar dapat survive dalam kehidupan masa depannya.

Melalui sekolah, para siswa yang pada awalnya dipandang kurang ajar harus ditreatment sehingga menjadi sosok cukup ajar dan siap untuk berkiprah guna mewarnai dan membawa kehidupan bangsa dan negara ke arah yang baik. Melalui berbagai program yang dirancang oleh sekolah, siswa diarahkan agar mampu menjadi sosok outcomes yang sesuai dengan harapan.

Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah menjadi kepanjangan tangan pemerintah yang secara sistematis dan terstruktur diamanatkan untuk mengimplementasikan berbagai program bimbingan, pengajaran, dan/atau pelatihan bagi setiap siswanya. Implementasi atas berbagai rancangan program tersebut dilakukan guna membantu seluruh siswa, sehingga mampu mengembangkan dan memberdayakan kepemilikan potensinya secara optimal. Lewat polesan yang dilakukan sekolah, mereka diharapkan memiliki kesiapan yang mumpuni dalam menghadapi kehidupan masa depannya yang semakin kompleks dan penuh tantangan.

Melihat idealisme penyelenggaraan pendidikan di sekolah, sepertinya kita tengah memandang sebuah beban berat yang harus dipikul oleh seluruh unsur penyelenggaranya, mulai dari kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, sampai dengan orang tua siswa. Beban berat tersebut tidak dapat dipandang enteng, tetapi harus disikapi dengan kepiawaian perancangan program yang efektif dan efisien oleh unsur penentu kebijakan sekolah.

Sekaitan dengan perancangan program yang dilakukan sekolah, barangkali tidaklah terlalu berlebihan bila mendorong sekolah untuk membuat rancangan berbasis riset. Kesadaran akan penerapan program berbasis riset ini sudah selayaknya digaungkan agar program-program sekolah benar-benar efektif dan efisien.

Pada kenyataannya, sekolah dihuni oleh para pendidik yang sekaligus sebagai akademisi dan praktisi pendidikan. Dengan demikian, ada modal yang dimiliki oleh penentu kebijakan sekolah. Modal dalam hal ini adalah ketersediaan potensi yang dapat dioptimalkan.
Langkah yang harus dilakukan oleh penentu kebijakan sekolah adalah mengajak para pendidik untuk mau dan mampu menjadikan hasil riset sebagai landasan dalam penerapan program. Untuk sampai ke arah ini, dalam tataran pembelajaran, yang bisa dilakukan oleh sekolah adalah mendorong setiap pendidik guna melakukan penelitain tindakan kelas (PTK), sedangkan dalam tataran kebijakan adalah mendorong keterlaksanaan penelitian tindakan sekolah (PTS) oleh kepala sekolah.
Sampai saat ini, kedua kegiatan yang bernuansa riset tersebut belumlah dapat memperlihatkan hasil yang menggembirakan.

Begitu banyak hasil PTK dari para pendidik serta PTS dari para kepala sekolah yang terlahir hanyalah sebatas menggurkan kewajiban untuk syarat kenaikan tingkat bagi mereka. PTK dan PTS yang konon merupakan hasil riset mereka belum memiliki kelayakan untuk dijadikan basis penerapan program inovatif.

Karena itu, upaya yang harus dilakukan saat ini adalah mendorong para pendidik dan para kepala sekolah agar mampu melakukan riset dan menyusun hasil riset tersebut dalam bentuk PTK atau PTS. Langkah ini dilakukan untuk melapaskan mereka dari zona nyaman yang mewarnai fenomena pendidikan saat ini. Melalui upaya terlebut dimungkinkan lahir ratusan, bahkan ribuan inovasi pembelajaran dan pengelolaan sekolah.

Bila dipandang secara kasat mata, minimal terdapat dua manfaat yang didapat dari pelaksanaan PTK, yaitu sebagai jembatan para guru untuk kenaikan pangkat serta sebagai bahan perbaikan pelaksanaan pembelajaran di kelasnya masing-masing. Begitu pula dengan PTS yang dilakukan oleh para kepala sekolah, bisa dimanfaatkan sebagai syarat kenaikan pangkat serta dasar penerapan kebijakan inovatif pengelolaan sekolah. Bila dilakukan secara serius dengan menerapkan prosedur ilmiah, PTK dan PTS yang tersusun bisa multimanfaat, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampui.

Hal yang harus disodorkan kepada unsur sekolah saat ini adalah menjadikan sekolah sebagai lembaga yang menerapkan programnya berdasarkan hasil riset. Hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, karena di sekolah cukup banyak pendidik dan kepala sekolah yang mumpuni untuk melakukan riset. Mereka adalah sosok potensial yang dalam kehidupannya, minimal telah merasakan satu atau dua kali penelitian akhir masa kuliah. Semangat ini yang harus terus didorong dan dibangkitkan oleh berbagai pihak berkepentingan. ****Disdikkbb-DasARSS.