MAMUJU, Semangat MANAKARA

Oleh: Prof. Dr. Dinn Wahyudin 

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

NYALAKAN semangat Manakarra” yaitu semangat bumi pusaka sakti masyarakat Mamuju Sulawesi Barat untuk terus meningkatkan sumberdaya warganya.

Demikian benang merah yang tersimpul dari Simposium Pendidikan Karakter bertema “Memupuk Karakter Bangga Buatan Indonesia melalui Merdeka Belajar”, yang diselenggarakan di Kota Mamuju, 1 Agustus 2022.

Seperti disampaikan Saryadi, S.T., M.B.A. – Plt. Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri Kemdikbudristek, simposium yang diikuti oleh para pemangku pendidikan Sulawesi Barat ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan agar dapat lebih mendorong kontribusi pendidikan terhadap proses menanamkan rasa cinta terhadap produk lokal sejak dini.

Simposium pendidikan ini bertujuan mengumpulkan ide, gagasan untuk menguatkan rasa nasionalisme melalui penumbuhan cinta dan bangga terhadap produk lokal sejak dini. Hal ini dilakukan dengan mengikutsertakan satuan pendidikan khususnya di Sulawesi Barat dalam implementasi kurikulum untuk menguatkan pendidikan karakter guna menumbuhkan rasa bangga buatan Indonesia.

Mellete Diatonganan

Masyarakat Sulawesi Barat merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari masyarakat asli dan pendatang. Etnis lokal Sulawesi Barat antara lain suku Mandar, Mamasa, Pattae, dan suku Makki.

Tatanan kehidupan masyarakat tersimpul dari tradisi setempat yang dikenal dengan sebutan mellete diatonganan. Maknanya kehidupan kemasyarakat yang senantiasa dibingkai dengan semangat meniti dalam kebenaran. Tradisi leluhur ini, tak sekadar motto atau slogan, tetapi diyakini sebagai penciri etnis warga setempat dalam bermasyarakat untuk kehidupan dan kesejahteraan bersama.

Pesan leluhur inilah, walaupun secara perlahan mulai terkikis, sepatutnya menjadi ciri kehidupan sehari- hari warga setempat.

Semangat melette diatonganan juga merupakan ikon performa kinerja pemerintah daerah. Yaitu bagaimana para abdi negara senantiasa berpegang teguh dengan prinsip berjalan di atas kebenaran.

Dalam satuan pendidikan di sekolah, semangat melette diatonganan, patut terus diterapkan melalui penetapan kurikulum muatan lokal. Dengan bingkai adat istiadat setempat dan bahasa lokal yang masih digunakan sehari-hari, para siswa patut terus dididik untuk selalu mencintai budaya, tradisi, adat istiadat setempat, dan penggunaan bahasa ibu (mother tongue) selain penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Misteri Burung Maleo

Maleo merupakan burung langka endemik Sulawesi. Burung ini hidup endemik (hanya hidup secara alami di suatu kawasan) di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi. Namun keberadaan burung ini sekarang sudah sangat langka atau nyaris punah.

Badan Konservasi International atau International Union for Conservation of Nature and Natural Sources- IUCN ( 2020) menyimpulkan bahwa status konservasi burung maleo adalah EN (Endangered) atau terancam punah. Ancaman kepunahan maleo ini disebabkan oleh kerusakan habitat alami dan perburuan liar.

Burung maleo adalah misteri. Fakta unik burung ini antara lain hanya mau bertelor di daerah pantai pasir yang memiliki sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng Pasifik atau Australia (FaunaDanFlora.Com, 2021). Burung maleo memiliki nama ilmiah macrochepalon maleon yang berarti kepala besar. Fungsi tonjolan besar di atas kepala berfungsi sebagai detektor suhu panas ketika maleo betina akan menetaskan telurnya. Burung ini lazimnya bersarang di pasir terbuka di sekitar pantai gunung berapi. Ukuran telur burung maleo kira-kira 5 sampai dengan 8 kali lebih besar dari telor ayam.

Keunikan burung ini, maleo betina akan langsung pingsan seusai bertelor. Mungkin karena “kelelahan” ketika proses mengeluarkan telor dan upaya menimbunnya di pasir lembut yang hangat. Keistimewaan lain, anak burung maleo akan langsung bisa terbang beberapa saat setelah menetas.

Maleo juga merupakan tipe burung yang tak doyan gonta-ganti pasangan. Maleo tipe burung yang antipoligami. Tipe burung yang setia terhadap pasangannya. Mereka saling melindungi untuk sehidup semati, termasuk ketika menjaga telor buah hatinya, dari gangguan binatang predator yang senantiasa mengintai.

Sayang keunikan burung maleo ini hampir tak pernah ditemukan lagi. Burung maleo sangat jarang ditemukan dan hampir punah. Untuk mengurangi rasa kepenasaran para tamu yang datang ke Mamuju, pengelola Hotel terbesar di Mamuju yaitu D’Maleo Hotel, membuat Patung Raksasa Burung Maleo. Patung burung ini berdiri tegak di halaman depan Hotel dan memandang lautan luas Laut Sulawesi dan Selat Makasar.

Kuliner Ajib

Apabila teman-teman berkunjung ke Mamuju, rasakan juga ragam jenis makan setempat. Varian kuliner yang unik, khas, ajib (istimewa, mantap), dan memanjakan lidah. Mamuju sebagai kota pantai, kaya dengan jenis makanan seafood. Salah satunya hidangan berkuah seafood yang dikenal dengan bau piapi. Hidangan berkuah khas Mamuju ini merupakan kuliner tradisional, terbuat dari olahan ikan laut segar yang dimasak dengan kuah kuning kaya rempah, santan, dan racikan lokal yang bercita rasa pedas menyegarkan.

Makanan khas Mamuju lainnya yang patut dicoba yaitu jepa. Makanan tradisional ini berbentuk bulat pipih terbuat dari sagu atau singkong. Pada bagian tengah jepa bisa juga ditambahkan gula aren. Masyarakat setempat biasanya memasak jepa dengan dipanggang menggunakan wajan khusus dari tanah liat. Kuliner jepa akan lebih enak apabila dimakan ketika masih hangat dan dicoelkan pada sambal terasi pedas.

Pada bulan Juli – Agustus seperti sekarang ini, Mamuju sedang puncak panen durian. Hampir sepanjang Jalan Yos Sudarso atau jalan Trans Sulawesi, terdapat kios-kios penjual durian lokal. Durian lokal Mamuju ukurannya kecil dibanding dengan durian jumbo seperti Monthong. Namun durian mini ini memiliki cita rasa yang khas memanjakan lidah. Walau kecil mungil, cita rasanya manis legit, dengan aroma khas menggoda. Harganya pun relatif murah antara 10 ribu sampai dengan 25 ribu rupiah per buah tergantung ukurannya.

Ayo datang ke Mamuju, rasakan sensasi durian lokal dan kuliner tradisionalnya yang khas.

Kingdom of Banggae

Bila sudah berkunjung ke Mamuju, sempatkan meneruskan perjalanan ke kota tua Majene. Perjalanan darat Trans Sulawesi Mamuju – Majene, bisa ditempuh dalam 3 – 4 jam. Sepanjang jalan, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan alam yang indah. Alam tropis pesisir yang masih asri. Menelusuri pantai yang indah dengan lambaian pohon kelapa dan hutan bakau yang tumbuh lebat, merupakan pengalaman indah tiada tara. Di seberang sebelahnya, pengunjung bisa menyaksikan hamparan perbukitan kapur yang asri hijau ditumbuhi ilalang dan pepohonan lainnya.

Majene merupakan salah satu kota tua di Sulawesi Selatan. Kota tua ini dibangun Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1908. Jejak bangunan masa lampau tersebut antara lain bangunan Rumah Sakit Majene yang kini menjadi digunakan sebagai Museum Mandar saat ini.

Jejak peradaban Mandar dan Kerajaan Banggae juga bisa dilihat dari komplek makam Raja-Raja Banggae. Komplek makam Raja raja ini sangat unik. Jumlah makam yang ada di situs ini sebanyak 251 buah. Makam ini terbuat dari berbagai jenis batuan, yaitu batu cadas, batu karang, dan batu balok dengan berbagai pahatan hiasan, kaligrafi, dan motif manusia ataupun ataupun binatang dan tumbuhan.

Dulunya wilayah ini berdiri kerajaan Banggae yang berpusat di wilayah Salabose.

Kerajaan Banggae pada masa itu juga dikenal sebagai salah satu titik penyebaran agama Islam pada Abad ke 16. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan Mesjid kuno Salabase yang usianya mencapai lebih dari 400 tahun lalu. Peninggalan jejak penyebaran agama islam di sana antara lain Al Quran buah tulisan tangan Syekh Abdul Manan, seorang ulama besar asal Persia yang sempat menyebarkan agama Islam di Sulawesi Barat pada abad ke 16.

Firman Allah SWT dalam QS Ar Ruum ayat 43:

Fa aqim waj-haka liddinil qayyimi ming qabli ay ya’ tiya yaumul laa maradda lahu minallahi yauma ‘iziy yassadda’un.

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah pisah.

Semoga bermanfaat. ***

 

Belajar dari Hijrah

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

Saat Baginda Rasul Muhammad SAW meletakan dasar ukhuwah insaniyah, persatuan umat, di Madinah Munawarah, maka dari sanalah terbangun pondasi kebersamaan dan keutuhan yang menciptakan generasi unggul yang berkarakter.

Sangat menarik ketika mengkaji sejarah hijrah kaum muslimin ke Madinah. Mereka meninggalkan segala asesoris dunia yang telah diraih di Mekah, menuju satu tempat yang belum diprediksi akan mendapatkan kedudukan, pangkat, dan jabatan seperti yang telah diraih sebelumnya. Ketundukan umat terhadap perintah Tuhan menepis keraguan ini.

Hal di atas menjadi pembelajaran pertama bahwa ketaatan kepada satu aturan menjadi energi yang luar biasa dalam perjuangan hidup. Seberat apapun pengorbanan diyakini akan berbuah kebahagiaan dikemudian hari.

Berikutnya, kisah hijrah dengan mengarungi lautan gurun yang panas menyengat di siang hari dan membekukan darah di malam hari, tidak menyurutkan para penegak kebenaran. Hal ini menjadi pembelajaran berikutnya di saat lika-liku jalan perjuangan yang penuh onak duri menjadi spirit agung dalam meraih suatu cita-cita mulia. Bahwa setiap perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

Begitupun dengan pengorbanan kaum Anshor yang luar biasa saat menyambut kafilah muhajirin di Madinah. Mereka menyongsong saudara seimannya dengan penuh suka cita. Diberikannya harapan kehidupan yang layak. Dipersembahkannya segala yang terbaik demi meraih kemuliaan hidup semuanya.

Semuanya menjadi pembelajaran berharga kepada umat, bahwa hubungan kemanusiaan janganlah terputus dikarenakan perbedaan suku bangsa, warna kulit, kedudukan dan atribut keduniawian. Sehingga tampaklah satu tatanan kehidupan yang penuh dengan persaudaraan dalam bingkai persatuan dan kesatuan insan Tuhan.

Perjuangan Hijrah

Menelusuri sejarah hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Jarak sejauh lebih dari 400 km yang ditempuh penulis dan peziarah dengan kendaraan ber-AC dan jalan yang terbentang mulus, sangat berbanding terbalik dengan kejadian 14 abad silam.

Ditemani sahabat utama, sayid Abu Bakar, menempuh lautan pasir yang panasnya dapat mematangkan butiran telur, dan dinginnya malam yang dapat membekukan air. Tidak jarang kaki mulia Nabi harus melewati tajam dan terjalnya cadas bukit-bukit di sepanjang perjalanan agung ini.

Sebentar beristirahat di alam terbuka, dan tidak sedikit harus bermalam di tengah samudera pasir dengan kondisi alam yang gulita. Siang dan malam ditempuh dengan tekad dan keyakinan kuat, bahwa Allah akan memberikan kemuliaan bagi umat Islam setibanya di negeri yang Dia janjikan, Yatsrib.

Jika para tamu Allah saat ini dapat menjangkau jarak di atas sekira empat hingga lima jam perjalanan, maka perjalanan suci Nabi memakan waktu 40 hari untuk tiba di tujuan. Suatu perjuangan yang berat dalam menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi. Hal ini memberikan pelajaran sperti yang sudah diungkapkan di awal tulisan bahwa  tidak ada satu pun perjuangan tanpa diiringi dengan pengorbanan. Itulah keteladanan Nabi yang seharusnya dicontoh.

Hal di atas pun menyiratkan  bahwa perjuangan bukanlah sesuatu yang ‘instan’, yang hanya mengandalkan ‘mukjizat’ dan keajaiban Tuhan. Proses adalah sesuatu yang harus ditempuh oleh siapapun dalam meraih tujuan. Samudera pasir, tajamnya batu diperjalanan, tidak menyurutkan tekad dan semangat perjuangan.

Penulis diingatkan akan para tokoh penghias sejarah yang menjadikan hijrah sebagai suatu strategi perjuangannya. Begitulah yang dilakukan Nelson Mandela, Benazir Bhuto, Imam Khomeini, Fidel castro, hingga Bung Karno. Tokoh-tokoh dunia tersebut menjadikan ‘hijrah’ sebagai upaya merubah nasib bangsanya menjadi jauh lebih baik.

Diingatkan pula tentang strategi hijrahnya pasukan Siliwangi saat perang kemerdekaan. Maka, jika hijrah dimaknai sebagai strategi perjuangan, tentu spiritnya adalah semangat untuk memperbaiki diri dan bangsa yang dipimpinnya. Itulah yang dilakukan Nabi dalam merubah dunia menjadi jauh lebih baik dan beradab.

Refleksi Hijrah

Dalam konteks kekinian, hijrah menjadi bahan refleksi diri. Menciptakan generasi unggulan tidak seperti mudahnya membalikan tangan. Butuh perjuangan ekstra yang menguras pikiran dan tenaga. Diperlukan pula semangat perbaikan diri setiap saat. Perjuangan memang tidak selalu bertabur bunga dan berhamparkan karpet merah. Perjuangan bahkan selalu menemui tajamnya onak dan duri. Keikhlasan dan kesabaran adalah pengorbanannya.

Menarik juga untuk dikaji manakala Nabi tiba di Yatsrib yang kelak menjadi Madinah. Kegiatan pertama Baginda tidak mencari rumah untuk tempat tinggal diri dan keluarga. Tidak pula meminta fasilitas kelayakan hidup sebagai seorang pemimpin umat. Tetapi yang beliau lakukan adalah mendirikan masjid. Diyakininya bahwa masjid adalah pusat kegiatan yang dapat menjadi sentra perubahan dan perbaikan umat. Dari masjid itulah Islam memancarkan charisma kewibawaan sebagai agama ramatan lil ‘alamin.

Hal tersebut hendaknya menjadi renungan. Sebesar apapun keinginan untuk meraih dunia tidaklah harus mengalahkan kebutuhan akhirat, dan masjid adalah salah satunya. Segala riak perjuangan Islam bermula dari tempat ini. Dimulai dari merubah Yatsrib menjadi Madinah, hingga ditulisnya mitsaq al-madinah (Piagam Madinah), suatu konstitusi modern pertama di dunia yang menjadikan rujukan pola kerukunan umat.

Piagam tersebut menjadi titik temu komunitas madinah yang majemuk menjadi prototype negeri yang rukun, damai, toleran dan beradab. Satu revolusi dakwah yang dilakukan Nabi yang menekan pada perbaikan umat dalam urusan ibadah dan muamalah, spiritual dan sosial. Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib dalam menjamin kebasan beragama, keamanan, penegakan hukum, dan hak-hak individu.

Sesungguhnya hal tersebut patut diteladani hingga sekarang. Dan Inilah makna hijrah yang sebenarnya. Tidak hanya bermakna secara harfiah, migrasi atau pindah tempat, melainkan juga pindah orentasi, berubah pola pikir, yakni berpindah dari keadaan buruk menjadi baik, dari kondisi baik menjadi jauh lebih baik. Itulah perubahan. Dan baginda Rasul memberikan contoh keteladanan bahwa semua perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat secara kolektif.

Selanjutnya adalah saat Muharam dipilih sebagai awal tahun kalender Islam. Bulan ini ditetapkan setelah melalui musyawarah para sahabat sepeninggal Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Disebutkan dalam Manaqib al Anshar, bahwa para sahabat tidak menghitung dan menjadikan awal penanggalan dari masa diutusnya Nabi Muhammad saw, dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau. Suatu usulan yang rasional, mengingat bahwa Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik.

Akhirnya setelah berbagai usulan, Khalifah Umar berdasarkan persetujuan para sahabat, menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah, hijrah. Kalifah berkata: Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil. Oleh karena itu jadikanlah hijrah itu untuk menandai kalender awal tahun Hijriah.

Simpulan

Sesungguhnya, peristiwa hijriah mengandung nilai-nilai yang sangat relevan sepanjang zaman. Momen ini mengandung tekad yang bulat, semangat untuk berjuang, dan kegigihan kuat dalam beramal menuju tujuan yang jelas, yakni, terwujudnya baldatun toyyibatun warrabun ghafur. Negeri adil makmur yang senantiasa penuh rahmat dan ampunan Allah swt.

Akhirnya, spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah harus dimaknai dalam kerangka perjuangannya merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan. Selain itu sikap yang dibangun adalah semangat kemandirian, nilai-nilai kemanusiaan, integritas dan keyakinan akan nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang akan membawa kemuliaan hidup.

Hal di atas pun mengandung semangat ikhtiar, pengorbanan, kebulatan tekad, keteguhan niat, kesabaran, dan keikhlasan.

Baginda menyatakan: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. 

Semoga tahun baru Islam ini  membawa keberkahan bagi semuanya,  Aamiin.***

Dari berbagai sumber

(Tulisan ini telah diterbitkan di media yang sma dengan sejumlah koreksi) 

Biodata Penulis:
Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

email: œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

3 Dosa Besar dalam Pendidikan


Popi Siti Ichsanniaty, M.Pd
(Analis Kebijakan sub Koordinator Kesiswaan
Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat)

Mengikuti Sosialisasi pendampingan layanan khusus yang diadakan oleh pihak Kemendikbudristek di Surabaya tanggal 22 Juli 2022 menggugah pemikiran bahwa sudah tidak ada kata menunggu untuk menangani 3 dosar besar dalam pendidikan. Dosa besar tersebut adalah kekerasan, perundungan dan intoleransi.

Kenapa disebut dosa besar? Mungkin pihak kemendikbudristek hanya ingin menggugah para warga pendidikan agar bisa menggeliat melihat berbagai kasus yang terjadi. Kasus kekerasan anak dalam rumah tangga, perundungan dan penelantaran peserta didik karena harus segera ditangani demi keselamatan masa depan generasi penerus bangsa Indonesia.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melaporkan, ada 797 anak yang menjadi korban kekerasan seksual sepanjang Januari 2022. Jumlah tersebut setara dengan 9,13 persen dari total anak korban kekerasan seksual pada tahun 2021 lalu yang mencapai 8.730. KPAI pun turut membeberkan sejumlah kasus kekerasan pada anak di sejumlah daerah saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 2022 digelar. Sebanyak 12.920 kasus terdiri dari 1991 laki-laki dan 11.949 perempuan.

Melihat banyaknya kasus tersebut membuat hati miris, begitu banyak ancaman terhadap peserta didik. Ancaman lingkungan tidak hanya datang dari lingkungan sekolah, tetapi dari lingkungan terdekat yaitu keluarga dan masyarakat. Anak adalah buah hati yang tak ternilai harganya untuk sebuah keluarga, maka dari itu menjaganya untuk tumbuh baik dan berkembang sebagaimana yang diharapkan adalah merupakan kewajiban mutlak bagi kedua orang tua yaitu ayah dan ibu. Bagaimana memilih pendidikan yang baik, pergaulan yang baik, lingkungan yang mendukung sudah sepantasnya orang tua wajib mengarahkan anak.

Kemendikbudristek dan Dinas Pendidikan baik kabupaten maupun kota bersama-sama KPAI diharapkan dapat melakukan sosialisasi terkait Permendikbud No. 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah. KPAI mendorong ada sosialisasi dan edukasi bagi para pendidik untuk memahami psikologi perkembangan anak, UU no 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak dan Konvensi Hak Anak (KHA).

Kekerasan merupakan setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum (Pasal 15a UU 35/2014). Berdasarkan pengertian tersebut kekerasan terbagi ke dalam beberapa bentuk, yaitu; fisik, psikis/ emosional, seksual, penelantaran dan eksploitasi. Oleh karenanya Negara hadir dalam melindungi anak di berbagai satuan pendidikan.

Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. (Pasal 9 Ayat 1a, UU 35/2014).

Segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara berulang dikenal dengan istilah perundungan.

Perundungan dilakukan secara sadar dan sengaja karena terjadi beulang kali dan adanya kesenjangan kekuatan atau kuasa.
Dari beberapa kasus yang terjadi perundungan dapat dikategorikan ke dalam 4 kategori;
Perundungan Fisik: memukul, menendang, mendorong, meludahi, mengambil/ merusak hak milik orang lain dengan paksa.

Perundungan Verbal: mengejek, menghina, menggunakan panggilan negatif atau komentar rasis, bahasa bernada sekusal, mengancam
Perundungan Relasional: menyebakan rumor negatif mengenai orang lain; mengeluarkan, mengabaikan dan mengisolasi seseorang dalam suatu kelompok; membocorkan rahasia seseorang kepada pihak ketiga; memanipulasi hubungan dan merusak persahabatan

Cyber Bullying: mengirim atau mengunggah (posting) kata – kata maupun gambar yang intimidatif dengan menggunakan alat komunikasi digital ke berbagai aplikasi atau platform, umumnya media sosial atau pesan singkat

Jenis perundungan yaitu Vertical Bullying adalah bentuk perundungan yang dilakukan oleh senior kepada junior. Jenis bullying yang dilakukan bisa secara fisik, verbal, relasional, maupun cyberbullying. Di masyarakat nampaknya hal ini perlakuan yang biasa dilakukan dan sudah menjadi mafhum perlakuam dari senior kelasnya kepada juniornya, padahal hal inilah benih-benih praktik yang tidak baik yang dipupuk dan berkembang sampai anak tersebut tumbuh dalam kebiasaan yang dapat meresahkan pendidik, orangtua maupun masyarakat itu sendiri.

Kasus yang terbaru yang membuat merinding, kasus perundungan yang dialami anak berinisial FH berusia 11 tahun di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia tergolong berat dan kompleks lantaran korban mengalami kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis dan mengakibatkan korban meninggal dunia. Pelaku menjadikan korban sebagai obyek perlakuan seksual terhadap seekor hewan, yang sudah tidak manusiawi lagi.

Dosa besar lainnya dalam pendidikan yaitu intoleransi, salah satu kasus yang terjadi di Indonesia yaitu penyerangan terhadap rumah ibadah, timbulnya berbagai pergerakan fanatisme untuk melawan pemerintah.

Munculnya intoleransi disebabkan oleh empat faktor, pertama pandangan keagamaan sektarian, kedua populisme agama, ketiga politisi yang memanfaatkan agama dan yang terakhir yaitu pendirian rumah ibadah yang dilarang atas dasar agama, sehingga menimbulkan intoleransi. Kasus intoleransi masih sering terjadi di sejumlah sekolah di Indonesia. Padahal sejatinya, sekolah merupakan tempat disemainya pemahaman dan pemaknaan kemajemukan sebagai identitas dan kekayaan bangsa. Sepertinya para pendidik harus lebih mengenalkan kembali Ideologi Indonesia yaitu Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika., bahwa sebagai warga Negara Indonesia memegang pemahaman berbeda-beda tetapi tetap satu. Inonesia sebagai sumber keanekaragaman, baik suku, agama dan ras sehingga inilah yang harus dijadikan pondasi besar untuk menajaga keutuhan Negara.

Sungguh tugas berat bagi warga pendidik untuk dapat melindungi siswa agar terhindar dari karakter yang tidak terpuji ini. Zaman sudah mulai mengerogoti generasi muda kita dengan mudahnya semua chanel dan akses dapat diunduh secara bebas.

Peranan keluarga khususnya orangtua dalam mendampingi tumbuh kembang anak sungguh sangat berharga karena itulah keluarga merupakan pondasi pendidikan pertama dan utama, karena di keluarga lah peranan agama awal mula dikenalkan dan anak dapat memfilter sendiri hal-hal yang dianggap negative dan merusak masa depannya. Sekolah menjadi rumah kedua untuk anak haruslah dibuat senyaman mungkin, pendidikan agama dapat ditindaklanjuti di sekolah dengan melalui pendampingan layanan khusus.

SENYUM MANIS DARI FLORES

Prof. Dr. H. Dinn Wahyudin, M.A 

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Panggilan akrabnya Jois. Atau lengkapnya _Johanes Brito Liko, S.Pd._ Ia seorang guru muda yang dihormati kolega dan dicintai murid muridnya di SMPK _Immaculata_ Ruteng, Manggarai NTT.
“Komitmen kami, pengabdian terbaik dan untuk generasi muda di Ruteng NTT, agar menjadi generasi muda yang unggul, baik dalam kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, dan sosial”, demikian ditegaskan pak Jois, dalam pesan _WhatsApp_ yang dikirim.
SMPK Immaculata terletak di kota kecil Ruteng,  Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai Tengah, Nusa Tenggara Timur. Sekolah asri, bersih dan nyaman ini didirikan oleh komunitas Susteran SSpS untuk mendidik generasi muda di Ruteng dan wilayah sekitar agar mereka menjadi pribadi yang unggul untuk persiapan hidup di pertengahan Abad 21.
Seperti telah disampaikan _Sr.Veronika Meo, S.Pd._ (Mahasiswa S2 Prodi Pengembangan Kurikulum FIP UPI) yang juga Kepala SMPK _Immaculata_ Ruteng bahwa ada lima misi sekolah yang sedang diupayakan para pemangku kepentingan di sekolahnya. Yakni (i) mewujudkan peserta didik yang beriman solid dalam menghayati nilai keagamaan yang dianut; (ii) mewujudkan peserta didik agar memiliki kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial; (iii) meningkatkan waktu kedisiplinan secara efektif; (iv) meningkatkan mutu pendidikan akademik yang berkualitas diberbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta berwawasan ekologis; (v) menambah semangat persaudaraan serta ramah lingkungan dengan alam ciptaan, (v) menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, bersih, indah, nyaman dan kondusif.

Sejalan dengan misi tersebut guru di SMP ini di tuntut untuk menumbuhkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang mampu menerapkan misi tersebut.
Tekad kami para guru di SMPK Immaculata, untuk terus membimbing para siswa di Ruteng Flores, agar mereka menjadi pribadi yang beriman dan memperoleh kompetensi yang memadai.
Di tengah keterbatasan yang ada, komitmen para pimpinan sekolah dan para guru agar siswa di Ruteng Flores bisa tersenyum penuh optimistik menghadapi dinamika kehidupan Abad 21 yang penuh tantangan.

*Budaya lokal*
Salah satu budaya lokal masyarakat Ruteng Manggarai adalah ungkapan _Muku ca pu’u neka woleng curup teu ca ambo neka woleng la._ Muku berarti pisang; pu’u berarti rumpun. Sedangkan surup =pembicaraan, lako =jalan, dan ambo= ikatan serumpun. Makna dari ungkapan bahasa lokal etnis Manggarai tersebut adalah _Jangan berselisih faham. Tak boleh ada persaingan negatif dalam kehidupan bermasyarakat._ Falsafah itu lah yang dipegang teguh masyarakat setempat di Ruteng sampai saat ini. Masyarakat Ruteng atau masyarakat Manggarai terkenal sebagai masyarakat yang santun, cinta damai, dalam balutan religi Katolik yang kental.
Dalam masyarakat adat Manggarai dikenal tiga ungkapan yang menjadi penciri masyarakat lokal Ruteng. Yaitu : _Muku ca pu’u toe woleng curup_(kesatuan kata.
_Ipung ca tiwu neka woleng wintuk_(kesatuan tindakan).
_Teu ca ambong neka woleng lako_(kesatuan lsngkah). Tradisi lokal itulah yang sampai sekarang terpelihara dan diterapkan masyarakat lokal di Manggarai. Yaitu kehidupan yang menjunjung tinggi kekeluargaan, kebersamaan, dan _guyub_ untuk menjaga kelestarian lingkungan.

*Ruteng kota mungil*
Ruteng, kota kecil yang mungil di Flores. Di banding dengan daerah wisata kota _Labuan Bajo,_ nama Ruteng mungkin belum banyak dikenal. Ruteng kota kecil yang berhawa sejuk, asri, nyaman, dengan pepohonan yang rindang menghiasi setiap pojok kota. Kota kecil yang memiliki riwayat panjang di Flores, semenjak penjajahan Portugis dan Belanda lebih dari 3,5 abad lalu. Jejak peninggalan para misionaris sampai sekarang masih tampak dengan dibangunnya banyak peribadatan gereja katolik di banyak sudut kota.
Bila anda berkunjung ke Flores, mampir dan bermalam lah di kota kecil Ruteng yang elok dan ikonik. Rasakan hembusan dan semilir angin sejuk di pagi hari. Bagi para wisatawan, tersedia juga sejumlah hotel dan beberapa penginapan sederhana. Setiap tamu akan dimanjakan dengan suasana sejuk alami dan latar perbukitan hijau seolah membentengi kota Ruteng dari kemungkinan amukan badai yang menerpa. Rasakan semilir angin pagi ketika _jogging_ sepanjang jalan kota di pagi hari. Jangan lupa untuk menyeka ketingat, mampir dulu di warung kopi tradisional yang banyak tersebar di pelosok jalan.
Rasakan sensasi kue lokal khas Ruteng _Kompiang._ Kue kompiang ini penampilannya mirip onde-onde. Warga setempat menyebut roti Kompiang sebagai kue perpaduan dua budaya _(mixture cultures)._ Yaitu kue tradisional gabungan Tionghoa dan kue setempat. Bentuknya oval, campuran tepung terigu, ragi, gula, susu, bahan lokal lainnya. Adonan ini biasanya dipanggang dalam tungku tradisional. Cocok untuk penganan pagi atau sore dicelupkan pada minuman kopi panas jenis arabika khas Manggarai.
Jenis makanan lokal lainnya khas Ruteng yaitu _Jagung Catemak._ Jenis makanan ini sangat populer di Manggarai karena daerah ini terkenal sebagai penghasil pangan jagung yang sangat potensial dan berkualitas baik.
Jagung _catemak_ ini seperti bubur jagung dengan campuran parutan labu, kacang tanah, kacang hijau, dan bumbu lokal penyedap rasa. Rasakan sensasi sayur jagung _catemak_ ini. Aura rasanya sangat memanjakan lidah.

*Kingdom of Komodo*
Bila teman teman berlibur ke Labuan Bajo Flores NTT, sempatkan beberapa hari untuk berkunjung ke Pulau Komodo. Tengok dan sapa penghuni asli pulau tersebut. Komodo, binatang purba yang masih tersisa.
Perjalanan dari Labuan Batu ke pulau Komodo dengan _boat_ hanya beberapa jam saja. Atau dari Ruteng masih perlu perjalanan darat kurang lebih 90 km.
Pulau komodo dan beberapa pulau di sekitarnya merupakan habitat binatang komodo hidup. Binatang sejenis kadal raksasa sisa zaman purba yang masih hidup. Komodo sangat dilindungi, karena populasinya yang semakin menurun.
Konon kabarnya komodo masih kerabat dekat Dinosaurus yang sudah punah. Bila dinosaurus hanya bisa dilihat dari temuan tulang belulangnya, lain hal nya dengan komodo. Binatang purba ini masih bisa bertahan hidup ini dan ditemukan di beberapa pulau di Flores NTT.
Al kisah, pada tahun 1910, Letnan _Jacques Karel Henri van Styen van Hensbroek_ mendapat tugas baru ke Flores oleh pemerintah kolonial Belanda. Ketika ia bertugas di sana, ia mendapat kabar dari masyarakat setempat bahwa banyak ditemukan “buaya darat” ukuran jumbo atau “big land crocodiles”. Binatang4 melata berukuran raksasa itu yang hidup liar di pulau komodo dan pulau pulau sekitarnya. 4
The Guardian.com (2017) menulis bahwa _Komodo dragons are the last survivors of a group of huge lizards that ranged over much of Australasia._ Kemudian letnan Jacques melakukan ekspedisi dengan mengambil foto dan menyembelih kulit binatang tersebut. Hasil temuannya, ia kirimkan ke _Pieter Ouwens_ yang saat itu menjabat sebagai Direktur _Java Zoological Museum_ dan _Botanical4 Gardens Buitenzorg_ ( Kebun Raya Bogor). Hewan itu bukan “buaya darat” tetapi lebih menyerupai kadal raksasa (huge lizards). Ouwens lantas melakukan serangkaian penelitian lanjutan dan menerbitkan laporan ilmiah tentang komodo sang kadal raksasa dengan nama latin _Varanus komodoensis._ Komodo merupakan binatang purba kekayaan dunia yang masih tersisa. Semua pihak wajib menjaga kelestarian binatang purba yang langka dan satu satunya di dunia ini yang masih ada.
Itulah sebagian kecil keanekaragama budaya dan fauna di Manggarai Nusa Tenggara Timur. Tradisi turun temurun yang masih terjaga, adat istiadat yang tak lekang oleh perubahan zaman, termasuk masih “bersemayamnya” binatang purba yang masih tersisa Komodo.
Masyarakat setempat juga perlu edukasi yang berkelanjutan. Mereka perlu bimbingan pendidikan dan pelatihan, termasuk bagaimana meningkatkan kesadaran kolektif generasi muda di NTT. Mereka perlu ditingkatkan pengetahuan dan kemampuannya untuk masa depan yang lebih baik.
Seperti telah diungkap Sr.Veronika, pak Jois dan guru guru di SMPK Immaculata Ruteng NTT, mereka ingin generasi muda NTT bisa tersenyum penuh optimisme dan bangga menatap masa depannya.
Senyum manis Flores!

PENGUATAN KARAKTER DALAM ERA ‘VUCA’


Dadang A. Sapardan
(Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Dinamika kehidupan terus berlangsung, sejalan dengan sejalan dengan perkembangan zaman. Saat ini, kehidupan telah memasuki abad ke-21 yang diwarnai dengan kelahiran berbagai fenomena penyertanya. Keberadaan fenomena penyerta tersebut tentunya tidak dapat dikesampingkan atau dihindari begitu saja tetapi harus dihadapi dan disikapi dengan baik sebagai tantangan yang harus dilalui. Berbagai pihak, baik masyarakat maupun pemerintahan harus mampu menyikapi dengan berbagai strategi tepat, sehingga tantangan tersebut menjadi pemicu bagi bertumbuh dan berkembangnya masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik.

Pada kenyataannya, kehidupan abad ke-21 diwarnai dengan masuknya ranah revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 serta kehidupan milenial. Keberadaan kedua warna kehidupan tersebut diperkuat pula dengan merebaknya pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk melanda Indonesia. Ketiga fenomena kehidupan tersebut melahirkan tantangan nyata kehidupan yang membutuhkan penerapan strategi tertentu dalam menyikapinya.

Keberadaan tiga fenomena kehidupan tersebut melahirkan akronim VUCA, seperti yang diungkapkan oleh US Army War College. Era VUCA sendiri merupakan akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Keempat istilah di atas, bila dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi gejolak/anomali, ketidakpastian, kompleksitas, dan ketidakjelasan/ambigutas. Secara lebih simple, era VUCA telah melahirkan dinamika kehidupan dengan perubahan yang begitu cepat serta berbagai ketidakpastian yang tidak bisa diprediksi dengan mudah.

Era VUCA bukanlah penghambat bertumbuh dan berkembangnya kehidupan, tetapi menjadi tantangan tersendiri dalam kehidupan abad ke-21 yang harus disikapi oleh berbagai komponen masyarakat. Tantangan tersebut tentunya merambah pula pada ranah pendidikan. Seluruh pemangku kepentingan dalam ranah pendidikan harus menyadari adanya dinamika kehidupan ini, sehingga dapat secara cepat menyikapi kebijakan yang diambil dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan pendidikan. Perhatian terhadap dinamika kehidupan ini harus dicurahkan sehingga seluruh kebijakan yang diterapkan dalam menumbuhkembangkan sumber daya manusia tidak mengalami salah arah. Tentunya, implementasi kebijakan tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh satu atau dua pemangku kepentingan semata, tatapi harus dilakukan secara gotong royong oleh seluruh pemangku kepentingan.

Sebagai ranah yang bergelut dengan penyiapan sumber daya manusia masa depan, pendidikan dengan satuan pendidikan sebagai ujung tombaknya harus menjadi ranah yang masuk pada gerbong pertama dalam menyikapi era VUCA. Kemampuan penyikapan terhadap era VUCA harus mendapat perhatian serius dari ranah ini sehingga kebijakan yang diterapkan tidaklah salah kaprah dalam penyiapan sumber daya manusia. Perlunya perhatian yang dibarengi dengan penyikapannya dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa fenomena tersebut telah menstimulasi terjadinya dinamika perubahan cepat dan ketidakpastian pada berbagai tatanan kehidupan.

Pertanyaan mendasar berkaitan dengan dinamika kehidupan pada era VUCA tersebut adalah bagaimana satuan pendidikan sebagai bagian dari ranah pendidikan dapat mengambil sikap atas fenomena ini, sehingga era VUCA dapat dilalui dan disikapi dengan baik?

Penguatan Karakter sebagai Langkah Strategis
Peserta didik yang menimba ilmu pada satuan pendidikan adalah karunia Allah SWT yang tak terhingga dan tak ternilai harganya. Keberedaan mereka pada satuan pendidikan, sudah selayaknya dimanfaatkan dengan optimal melalui cara mendidik sebaik-baiknya, sehingga akan bertumbuh menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan dapat berkiprah pada kehidupan masa depan mereka. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memberi penguatan kompetensi sikap melalui penguatan karakter, selain tentunya penguatan kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Ketiga ranah tersebut harus mendapat sentuhan yang proporsional dari setiap satuan pendidikan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Penyadaran akan pentingnya perhatian optimal kepada peserta didik dari setiap satuan pendidikan perlu terus didorong. Kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap mereka yang tengah berada pada masa bertumbuh dan berkembang itu patut menjadi core dalam berbagai kebijakan yang diterapkan oleh setiap satuan pendidikan. Mereka sedang berada pada moment penting dan terbaik dalam kehidupannya, terutama dalam pembentukan pondasi kehidupannya. Melalui kekuatan dan ketangguhan fondasi yang dimilikinya, mereka diharapkan akan bertumbuh menjadi generasi harapan masa depan sehingga dapat berkiprah dan berkontribusi positif dalam membangun bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik.

Dalam visi pendidikan Indonesia tersurat bahwa proses pendidikan mengarah pada mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Visi tersebut begitu sarat dengan muatan karakter yang harus dicapai oleh setiap peserta didik sebagai outcomes satuan pendidikan.

Secara kasat mata, visi pendidikan Indonesia merupakan kolaborasi dari pelahiran keterampilan abad ke-21 serta penguatan karakter. Bila merujuk pada dinamika kehidupan saat ini yang diwarnai dengan revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, kehidupan milenial, serta pandemi Covid-19, pencapaian visi pendidikan Indonesia cukup berat. Setiap satuan pendidikan harus dapat menerapkan strategi kebijakan sistematis, terstruktur, dan masif dalam pencapaian visi tersebut di tengah era VUCA.

Pembinaan terhadap peserta didik merupakan kewajiban semua pihak, dalam hal ini kewajiban tri pusat pendidikan—satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Pembinaan sepatutnya diarahkan pula pada upaya untuk membentuk mereka sehingga akan bertumbuh dan berkembang menjadi sosok berkualitas, yaitu sosok yang sesuai dengan visi pendidikan Indonesia, yaitu tampilan sosok profil pelajar Pancasila.

Upaya yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mencapai visi tersebut tidak akan berdampak signifikan, manakala tidak terbangun kebersamaan di antara tripusat pendidikan. Kebersamaan tripusat pendidikan sangatlah dituntut, agar penguatan karakter dapat diimplementasikan secara optimal terhadap setiap peserta didik. Karena itu, sudah selayaknya, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat mensinergikan ide dan pemikiran untuk turut menumbuhkembangkan karakter agar dapat mengkristal pada setiap peserta didik.

Implementasi penguatan karakter merupakan langkah yang harus mendapat dukungan optimal dari semua pihak dalam upaya penyiapan generasi masa depan bangsa. Implementasinya harus didasari dengan pemikiran bahwa pada masa mendatang, insan berkarakter baiklah yang dapat survive dalam menghadapi dinamika kehidupan yang diwarnai dengan perubahan cepat dan ketidakpastian dalam era VUCA.

Karena itu, alangkah baiknya bila kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh setiap satuan pendidikan lebih ditekankan dan memberi penguatan terhadap penumbuhkembangan karakter yang pada akhirnya akan mengkristal pada diri setiap peserta didik. Upaya penumbuhkembangan karakter tersebut tidak akan berlangsung dengan baik—mengarah pada lahirnya profil pelajar Pancasila—bila tidak didukung dengan kebersamaan dari unsur tri pusat pendidikan. Karena itu, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter di tengah era VUCA.

Simpulan
Abad ke-21 diwarnai dengan masuknya kehidupan pada ranah revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, kehidupan milenial, serta merebaknya pandemi Covid-19. Ketiga fenomena kehidupan tersebut melahirkan tantangan nyata kehidupan yang membutuhkan penerapan strategi tertentu dalam menyikapinya. Keberadaan tiga fenomena kehidupan era VUCA, (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Keempat istilah di atas, bila dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi gejolak/anomali, ketidakpastian, kompleksitas, dan ketidakjelasan/ambigutas. Secara lebih simple, era VUCA telah melahirkan dinamika kehidupan dengan perubahan yang begitu cepat serta berbagai ketidakpastian yang tidak bisa diprediksi dengan mudah.

Setiap satuan pendidikan dituntut untuk dapat menerapkan kebijakan strategis. Kebijakan yang mungkin dilakukan, salah satunya adalah penguatan karakter peserta didik. Strategi ini dimungkinkan dilakukan dalam upaya mengkristalisasikan karakter pada diri setiap peserta didik. Upaya penumbuhkembangan karakter tersebut tidak akan berlangsung dengan baik bila tidak didukung dengan kebersamaan dari unsur tri pusat pendidikan.

Karena itu, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter di tengah era VUCA. **** DasARSS.

GURU, SPIRIT MURAKATA

Prof. Dr.  Dinn Wahyudin, MA

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Seorang sahabat, Guru SDN di Kecamatan Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan berujar bahwa di sekolah tempat ia mengajar belum melaksanakan Kurikulum Merdeka. Sekolahnya masih melaksanakan Kurikulum 2013, dengan penguatan pada tradisi lokal dan semangat kebersamaan, gotong royong seiaya sekata untuk mencerdaskan bangsa.

Semangat ikatan kebersamaan inilah, secara nyata menjadi ciri pembelajaran di sekolah kami. Di tengah keterbatasan yang ada, warga sekolah tetap berupaya keras. Secara bertahap sekolah kami bisa melengkapi standar minimal pendidikan. Guru yang ada terus berdedikasi untuk melaksanakan pembelajaran, termasuk sesekali memanfaatkan media sosial. Materi muatan lokal juga diberikan secara berkala, termasuk pembelajaran budaya dan bahasa lokal Banjar.
Bagi etnis suku Banjar yang merupakan mayoritas penduduk di Kecamatan Barabai, semangat kebersamaan dan ikatan persaudaraan dengan landasan agamis Islam merupakan ciri masyarakat yang utama. Warga setempat menyebutnya Semangat Murakata yang diambil dari bahasa Banjar. Murakata merupakan singkatan dari Mufakat, Rakat, dan Seiya-sekata.
Tradisi _Murakata_ bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, tak sekedar slogan. Tetapi lebih merupakan tradisi kolaborasi dan kekompakan masyarakat dan Pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. Murakata telah menjadi ikon masyarakat setempat.

Bumi Murakata
Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Kota Barabai merupakan ibukota kabupaten yang berjarak 165 km dari kota Banjarmasin. Bila ada berkesempatan berkunjung ke Banjarmasin, coba luangkan waktu untuk berkunjung ke kota Barabai ini. Warga setempat menyebut kabupaten ini dengan Bumi Murakata.
Sepanjang jalan aspal yang mulus, anda akan disuguhi pemandangan alami : kawasan rawa dengan pepohonan payau, dataran rendah yang subur, dan pemandangan Pegunungan Meratus yang hijau memukau dan masih rimbun. Hutan lindung yang masih asri dengan aliran dua sungai besar yaitu Sungai Batang Alai dan Sungai Barabai yang memukau.
Walaupun Barabai belum menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) Nasional, banyak potensi daerah yang bisa dikembangkan secara lebih profesional.
Wisata Puncak Gunung Halau Halau adalah destinasi idaman para pelancong pendaki gunung. Wisata alam eksotik yang menawarkan pemandangan alam bentangan pegunungan Meratus sangat memukai. Puncak Gunung Meratus yang senantiasa berbalut kabut tipis melengkapi keindahan alam Pegunungan Meratus.
Ikwal panorama Meratus yang memukai, banyak pakar Geologi yang menyatakan optimismenya bahwa suatu saat Pegunungan Meratus berpeluang besar sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) dengan keragaman geologi, biologi, dan unsur budaya yang dimilikinya.

Anggrek Raksasa
Anggrek raksasa _(Grammatophylum)_ yang tumbuh subur alami di Taman Anggrek Meratus menjadi salah satu ikon yang mendunia. Aggrek lainnya seperti anggrek hitam (Coelogyne pandurata),_anggrek Vanda (Vanda dearei), dan anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) tumbuh sumbur alami di pepohonan rimbun di wilayah Konservasi Alam Meratus Kalimantan Selatan.
LIPI (2019) mencatat Indonesia memiliki 5000an jenis anggrek alam. Beberapa jenis langka antara lain anggrek Paraphalaenopsis laycockii, Paraphalaenopsis labukensis, tumbuh subur di Pegunungan Meratus.

Kuliner Khas

Jenis kuliner andalan kota ini yaitu Apam Barabai.Kue basah yang terbuat dari tepung beras, santan, gula merah/putih dan campuran lainnya, menjadikan Apam Barabai sebagai ikon kuliner Bumi Murakata ini. Rasakan kelezatan dan hisap aroma harumnya yang menggoda.
Sensasi lain makanan khas Barabai adalah Ikan Pakasam. Olahan ikan yang diawetkan dengan cara fermentasi oleh bakteri asam laktat. Ikan yang biasa digunakan untuk membuat pakasam atau samu berupa air tawar atau sungai dan rawa khas Kalsel yaitu ikan gabus (haruan), pepuyu (betok), dan ikan sepat. Datanglah ke Restoran setempat, cicipi kelezatan ikan pakasam ini. Rasakan sensasi rasanya.

Misteri Burung Sulangking
Bila rekan rekan berkunjung ke kota Barabai, di gerbang masuk kota berdiri megah Tugu Burung Sulangking. Tugu burung ini menjadi ikonik sebagai ciri selamat datang bagi warga yang datang ke Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan. Burung Sulangking ini dinyatakan sudah punah.
Masyarakat setempat meyakini bahwa jenis burung tersebut pernah ada, namun tak seorang pun tahu bentuk fisiknya. Makna dan filosofi burung Sulangking adalah burung yang kerap bangun pada waktu dini hari. Burung itu berteriak keras membangunkan masyarakat supaya jangan malas bekerja dan beraktifitas sejak pagi. Namun, burung Sulangking tetap menjadi misteri karena tak seorangpun warga masyarakat yang melihat sosok bentuk burung ini. Dan secara ilmiah nama latin burung Sulangking ini tak ada. Berbeda dengan jenis burung Enggang dengan nama latin Buceros vigil Forster atau burung Rangkong atau julang dengan sebutan Bucerotidae.
Itulah tulisan ringan tentang Barabai Kabupaten Sungai Hulu Tengah Kalimantan Selatan. Kota unik dengan sejuta ciri dan optimisme warganya.***

CIKGU, SANG GURU BESAR

Prof  Dr  Dinn Wahyudin, MA

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Masyarakat sekitar menyebutnya Cikgu Gabrail Wan. Ia seorang yang pernah mencapai jabatan Guru Besar pada Sekolah Kebangsaan Long Loyang di sebuah kampung, daerah Miri Serawak Malaysia.

Lho, koq bisa dipanggil Guru Besar? Di Malaysia, Guru Besar adalah jabatan terhormat dan bisa jadi dambaan bagi semua guru Sekolah Rendah Kebangsaan di Malaysia. Guru Besar adalah sebutan Kepala Sekolah atau _Headmaster_ pada jenjang Sekolah Rendah di Malaysia. Demikian juga Cikgu Gabral Wan, ia salah seorang dari ribuan  Guru Besar yang pernah memimpin Sekolah Rendah Kebangsaan di Malaysia.

Dari delapan ribu sekolah rendah yang tersebar di tiga belas negara bagian di Malaysia, semua sekolah tersebut dipimpin oleh seorang Guru Besar. Sehingga seorang rekan, dosen dari salah satu perguruan tinggi di Indonesia, yang lama menuntut ilmu di salah satu universitas Malaysia, pernah berseloroh bahwa kualitas pendidikan di Malaysia bisa mencapai puncak kejayaan, karena tiap sekolah rendah dipimpin langsung oleh seorang Guru Besar. Guru Besar di Malaysia adalah jabatan struktural untuk posisi kepala sekolah. Sedangkan di Indonesia, jabatan kepala sekolah dasar disebut Kepala Sekolah.

Guru Besar atau Profesor

Di Indonesia, Guru Besar atau Profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. (UU no. 14/2005 tentang Guru dan Dosen). Guru besar atau Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi. Ia memiliki kewenangan membimbing calon Doktor. Ia juga memiliki tugas khusus menulis buku dan karya ilmiah lain serta menyebarkan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat.

Oleh karena peran Guru besar sangat diharapkan masyarakat, masing masing PT didorong untuk menghasilkan Guru Besar agar tercipta pendidikan tinggi yang lebih berkualitas. Semakin banyak Guru Besar di suatu universitas, semakin tinggi peluang PT untuk melaksanakan Tri Dharma secara lebih berkualitas.

Guru Besar adalah seorang guru, pendidik, sekaligus peneliti yang hasil penelitiannya sangat ditunggu masyarakat sebagai perwujudan dan komitmen dalam pengembang bidang akademik dan pengabdian kepada masyarakat.

Saat ini jumlah Profesor atau Guru besar di Indonesia, hanya sekitar 2% dari jumlah dosen yang ada di PTN ataupun PTS. Menurut Kemendikbudristek (2021), total Guru Besar di Indonesia saat ini sebanyak 5.479 orang dari total jumlah dosen yang berjumlah 312.890 orang. Berdasarkan jabatan akademik/fungsional dosen, jenjang tingkatan jabatan fungsional dosen di Indonesia, mulai dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor.

Sebagai pembanding tingkatan jenjang jabatan akademik universitas di beberapa negara termasuk Universitas di USA dikenal dengan nama Associate Professor atau Assistant Professor dan Professor.

Di universitas di Perancis, para profesor yang mengajar di perguruan tinggi dikenal dengan sebutan Professeur de l’universitè (PU).
Sedangkan sistem jabatan akademik di Universitas Australia dikenal dengan Level E- Professor, Level D – Associate Professor, Level C – Senior Lecturer, Level B – Lecturer; Level A- Associate Lecturer.

Ada keterkaitan jumlah dan komposisi Doktor (Ph.D) di satu negara, dengan kemajuan bangsanya.
Weforum.org (2020) melaporkan bahwa Slovenia merupakan negara urutan pertama yang jumlah Doktor warganya terbanyak di Dunia. Sekitar 4 prosen warga Slovenia telah meraih gelar Doktor. Peringkat kedua diraih Swiss dengan prosentase lebih 3 %. Amerika Serikat berada di urutan keempat.
Lebih dari 2% warga USA bergelar Doktor. OECD (2014) melaporkan bahwa negara dengan jumlah Doktor terbanyak dicapai oleh USA. yaitu mencapai lebih dari 67.449 orang warga USA telah meraih gelar Doktor. Jerman sebanyak 28.147 orang, dan Inggris mencapai 25.020 orang.

Profesor Pertama

Siapa Doktor dan Profesor pertama yang diraih warga negara Indonesia? Merdeka.com (2020) melaporkan bahwa Prof.Dr. Hoesein Djajadiningrat merupakan seorang warga pribumi Bumi Putra pertama yang meraih gelar doktor. Ia lahir di Serang Banten tahun 1886. Ia dikenal sebagai warga pribumi yang berkesempatan meraih Doktor bidang Arkeologi di Universitas Leiden pada tahun 1913. Disertasi penelitiannya berjudul Critische Beshouwing van de Sadjarah Banten: Bijdrage ter Kenschetsing van de Javaansche Geschiedschrijving.

Atas prestasi akademiknya, pihak Universitas Leiden membuat Patung Hoesein. Patungnya terpajang rapih di pojok kampus Universitas Leiden sampai saat ini. Dalam perjalanan karier akademiknya, pada tahun 1940 Dr. Hoesein Djajadiningrat diangkat sebagai Guru Besar di Rechtschoogeschool de Batavia (Sekolah Ilmu Hukum Batavia) untuk bidang ilmu agama dan sastra. Ia sebagai Doktor dan Profesor pertama di Indonesia.

Profesor Killer

Al kisah, seorang Profesor bahasa Inggris bernama Richard Brown baru saja mendapat kabar buruk. Dokter pribadinya menyebutkan ia menderita kanker paru paru pada stadium empat. Usianya diprediksi hanya berbilang bulan. Sang profesor sangat putus asa mendapat kabar itu. Dokter pribadinya mengatakan usianya bisa tertolong manakala ia melakukan kemoterapi rutin dan mengisi sisa usianya dengan berbuat kebaikan.

Richard Brown sang Profesor cerdas namun sering disebut dosen galak atau _dosen killer_ sangat terpukul. Ia berupaya dan mencoba mengganti sifatnya yang galak pada mahasiswa nya dan menjadi a smart and emphatic smiling professor. Dosen cerdas yang ramah dan sangat berempati pada semua mahasiswa mahasiswinya.

Profesor Richard Brown mengisi waktunya dengan riang gembira. Ia mengajar dengan sentuhan komunikasi yang terjaga dan cita rasa humor yang tinggi. Suatu kebiasaan mengajar yang jarang ia lakukan sebelumnya. Mahasiswanya kini sangat senang. Dan Profesor Richard pun mengisi waktunya dan bercengkrama bersama mahasiswa mahasiswinya dengan amat riang gembira. Untuk mengetahui kisah Profesor Richard Brown silahkan buka link The Professor Official Trailer (2019) Jonny Depp- Youtube.

Humor Profesor

Profesor juga sering menjadi objek humor. Suatu hari Prof Malik Fajar (alm) sebagai salah seorang tokoh Muhammadiyah bertemu dengan sahabatnya dari Nahdatul Ulama (NU) Dr.KH Hasyim Muzadi (Alm).
Suatu saat KH Hasyim Muzadi mendapati Prof. Malik Fajar sedang merokok.

“Lho, sampeyan tokoh Muhammadiyah merokok ?”, tanya KH. Hasyim Muzadi.
“Yah, aku sedang mencoba pindah ke Nahdatul Ulama (NU)”, jawab Prof Malik dengan nada enteng sambil mengepulkan asap rokok yang dihisapnya.

“Jadi, kalau merokoknya sudah selesai bagaimana?”, tanya Kyai Muzadi.
“Ya, saya pindah lagi ke Muhammadiyah”, jawab Prof. Malik Fajar dengan senyum terkekeh.
Itulah sisi lain dari tulisan ringan Cikgu, Guru Besar dan Sang Profesor.
Selamat menikmati libur akhir pekan.***

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor-CGP Angkatan 4 Kab. Bandung Barat)

Menjelang akhir kegiatan program Calon Guru Penggerak (CGP), banyak sekali pembelajaran yang dapat diambil. Mulai dari menggali potensi diri dan mengembangkan kompetensi yang melekat pada sosok guru, hingga mulai memahami pentingnya figur pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. Kesemuanya hanya dapat diperoleh saat kita menjadi bagian dari program CGP.

Begitupun dengan penulis yang merasa beruntung menjadi bagian program CGP angkatan 4 ini. Sejumlah pengalaman dan kegiatan selama berkiprah di program luar biasa ini dirangkum dalam artikel sederhana yang diharapkan dapat merefleksikan tahapan perjalanan program.

Selanjutnya, untuk Aksi Nyata pada program CGP kali ini dikemas dalam konsep 4F (facts, feeling, finding, dan future), sebuah potret perjalanan secara objektif yang mengatualisasikan perasaan, penemuan pembelajaran, dan harapan pasca kegiatan berupa penuangan ide dan gagasan  program yang dikelola oleh CGP dengan fokus utamanya adalah semua pengelolaan program tersebut dapat berdampak pada murid, sehingga hasil akhirnya adalah meningkatnya kualitas pelayanan pendidikan.

Fakta dan Latar Belakang

Seperti diketahui, Pemimpin Pembelajaran merupakan tujuan utama digelarnya program Guru Penggerak. Dari sosok inilah diharapkan mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya potensi murid yang aktif, kreatif, inovatif, dan proaktif dalam mengembangkan ekosistem sekolah, serta bisa menginternalisasikan pembelajaran yang berpihak pada murid. Termasuk menjadi sosok teladan dan agen perubahan di bidang pendidikan untuk mewujudkan generasi unggul, berkarakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang kita dambakan.

Begitupun dengan materi di Modul 3.3 program CGP yang membahas tentang pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid. Terdapat dua hal menarik yang dijelaskan dalam modul ini, yakni MELR- Monitoring, Evaluation, Learning, Reporting (monitoring, evaluasi, pembelajaran, dan pelaporan) dan manajemen resiko. Kedua materi tersebut dapat dijadikan sebagai instrumen untuk mengelola suatu pogram sekolah yang berdampak pada murid.

Sebagaimana diketahui, monitoring dan evaluasi adalah suatu aktivitas yang sangat penting untuk mendukung tercapainya suatu tujuan dari proyek atau program yang dilakukan. Hal tersebut dikemukakan oleh Kertsy Hobson, dkk (2013) dalam buku yang berjudul A Step by Step Guide to Monitor and Evaluation. Dalam buku ini dijelaskan monitoring adalah proses menghimpun informasi dan analisis internal dari sebuah proyek atau program. Evaluasi adalah sebuah penilaian retrospektif secara periodik pada satu proyek atau program yang telah selesai.  Sementara kegiatan evaluasi melibatkan penilai luar yang independen.

Selanjutnya, evaluasi merupakan penilaian program yang menyeluruh, sistematis dan berkala. Kegiatan ini umumnya dilakukan setelah program selesai dilaksanakan (meskipun dalam beberapa kasus ada evaluasi jangka menengah) untuk menentukan efektivitas suatu program secara keseluruhan. Oleh karena itu, evaluasi berbeda dengan pemantauan, karena berfokus pada pertanyaan yang lebih menyeluruh (misalnya, Apakah program yang dilaksanakan sesuai untuk memenuhi tujuan yang diharapkan? Apakah program telah meningkatkan kemampuan literasi murid?

Kemudian, setiap sekolah memiliki tujuh modal/aset yang berpotensi untuk dikembangkan dan dimaksimalkan pemanfaatannya, yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan, modal finansial, modal politik, modal agama dan budaya. Ketujuh modal aset ini dapat dioptimalisasikan dalam proses pembelajaran jika dikelola dengan efektif dan efisien.

Atas hal diatas, penulis melaksanakan proses pemetaan aset yang dimiliki sekolah, yakni potensi pendukung berupa perpustakaan yang memiliki sejumlah referensi literasi, seperti buku-buku fiksi yang dapat dimanfaatkan dalam sebuah program gerakan literasi sekolah. Maka berdasarkan hal ini penulis membuat sebuah program unggulan GLS Satu Hati yang merupakan akronim dari gerakan literasi sekolah SMPN 1 Cipongkor Hidupkan Literasi . Kegiatan tersebut diharapkan dapat mewujudkan murid dan warga sekolah yang literat.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis sebagai  bagian dari program CGP yang digagas Kemendibudristek menyelenggarakan Aksi Nyata berupa program GLS Satu Hati dengan tujuan meningkatkan kemampuan literasi murid. Selain itu, pemanfaatan aset yang ada di perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh murid, sehingga akan membantu terwujudnya warga sekolah yang literat.

Feeling dan Program yang Berdampak pada Murid

Hadirnya GLS Satu Hati menimbulkan motivasi murid untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiikinya melalui buku-buku cerita yang dibacanya.

Di sisi lain, hadirnya program gerkan literasi yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Kab.Bandung Barat sangat membantu terwujudnya GLS Satu Hati, sehingga melalui salah satu tantangan berupa TMBB (Tantangan Membaca Bandung Barat), sekolah menyelenggarakan program literasi tersebut dengan menyosialisasikannya kepada seluruh warga sekolah. Kemudian, dengan pelaksanaan yang dilakukan dua kali seminggu, setiap Senin dan Kamis, murid dan guru dapat menuntaskan program TMBB selama tiga bulan sebanyak minimal 10 buku cerita.

Selain itu, sekolah merasa terbantu mewujudkan visinya, yakni terwujudkan peserta didik yang berakhlak mulia, kritis, kreatif, dan berwawasan lingkungan dengan gerakan literasi sekolah,terutama dari aspek kritis dan kreatifnya.

Finding dan Manajemen Resiko

Tentu program di atas tidak terlepas dari sejumlah permasalahan. Mulai dari belum satu visinya kebermanfaatan kegiatan, hingga dukungan warga sekolah yang belum sepenuhnya memahami pentingnya literasi, dan dukungan finansial yang belum maksimal.

Penulis merangkum dalam sejumlah tahapan, yakni identifikasi resiko, pengukuran resiko, strategi pengendalian resiko, dan evaluasi kegiatan.

Untuk identifikasi jenis risiko di antaranya belum maksimalnya dukungan dari warga sekolah dan anggaran dana untuk memfasilitasi program. Kemudian, untuk Pengukuran Resiko, penulis memandang resiko yang dihadapi tidak terlalu besar, namun tetap harus diperhatikan dan diukur dalam pelaksanaan program sekolah.

Sementara itu, untuk Strategi Pengendalian Resiko, penulis menekankan sejumlah strategi yang dapat dilaksanakan dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Penulis, dengan mengomunikasikan program kepada pimpinan satuan pendidikan, dan melakukan perencanaan program dengan memperhatikan pendekatan kekuatan yang dimiliki sekolah. Halini sangat penting mengingat dengan mengidentifikasi kekuatan, program akan terselenggara sesuai dengan apa yang direncanakan.

Begitupun dengan resiko finansial, penulis memanafaatkan potensi sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, dan inovasi serta kreativitas guru.

Selanjutnya, untuk melaksanakan Evaluasi, penulis melibatkan warga sekolah secara berkesinambungan dan terjadwal.

Future dan Harapan

Akhirnya, program GLS Satu Hati menjadi sarana untuk menggali dan mengembangkan potensi murid. Hal ini sangat membantu dalam hal pemenuhan kebutuhan kompetensi mereka di era revolusi industri 4.0 yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikasi, dan kolaborasi, termasuk kompetensi literasi.

Program GLS Satu Hati juga merupakan upaya sekolah dalam mewujudkan murid yang memiliki kemampuan dalam menghadapi tantangan zaman, sehingga menjadi pribadi yang unggul dan berkarakter sesuai dengan profil Pelajar Pancasila.

Dokumentasi kegiatan:

GLS Satu Hati  https://www.youtube.com/watch?v=6vi-xAGA-WA

Publikasi https://www.inilahkoran.com/bandung-raya/pr-1182593846/reinkarnasi-jadi-karya-kebanggaan-tim-gls-smpn-1-cipongkor-kbb

http://disdikkbb.org/news/smpn-1-cipongkor-luncurkan-reinkarnasi/

Pendukung lainnya:

https://www.youtube.com/watch?v=wigu-E5MtpY

https://www.youtube.com/watch?v=2ctIkJcuWno

https://www.youtube.com/watch?v=wZfFlXoE4YE

https://www.youtube.com/watch?v=Li67c1sFwBE

Pemanfaatan Media Sosial ‘TIK TOK’ dalam Media Pembelajaran

Wika Karina Damayanti, S.Pd., S.H., M.Pd. 

(Analis Kebijakan Ahli Muda
Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)

Perkembangan pesat berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat ditahan, suka maupun tidak berbagai perubahan sebagai dampak dari perkembangan zaman akan selalu melekat dalam kehidupan manusia. Perubahan perlu disikapi dengan bijak, karena pada hakekatnya perubahan memiliki tujuan positif untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Buka pikiran, tingkatkan literasi, bangun komunikasi, dan kembangkan kemampuan guna mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan.

Perubahan terjadi dalam segala aspek, salah satunya dalam dunia pendidikan. Cara pembelajaran konvensional tidak tepat lagi jika diterapkan dalam era digital saat ini. Pendidikan terkini perlu menyesuaikan dengan beragam kemajuan dari  pengetahuan dan teknologi yang terjadi. Jika pola pembelajaran masih tetap dilakukan secara konvensional seperti dahulu maka anak-anak akan tetap berjalan ditempat tanpa keberdayaan mengikuti pesatnya perkembangan dunia.

Pendidikan bukanlah ilmu pasti yang bersifat stagnan, namun ilmu yang terus berkembang secara dinamis mengikuti tren perubahan yang terus terjadi. Pendidikan tidak seperti ilmu matematika dimana rumus keliling persegi tetap 4 x sisi dan 1 tambah 1 tetap 2. Dunia pendidikan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman.

Seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu Ali bin Abi Thalib pernah mengungkapkan hal yang cukup fenomenal mengenai pendidikan anak, yakni “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Ungkapan Ali bin Abi Thalib tersebut menegaskan bahwa pola pembelajaran dalam dunia pendidikan harus terus berkembang mengikuti segala perubahan yang terjadi dalam dunia ini.

Mengikuti trend revolusi industri 4.0 maka segala bentuk pendidikan dan pembelajaran harus di arahkan kedalam nuansa digital. Anak generasi Z dan generasi Alfa memerlukan stimulan dengan memanfaatkan media digital sesuai dengan zamannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas. Meskipun terdapat sisi negatif dari media digital, namun dampak positifnya jauh lebih banyak jika digunakan dengan bijak.

Menurut Aji (2017) bahwa pada saat ini internet menjadi fasilitas yang sangat diperlukan dalam kehidupan, media dalam pembelajaran dipilih untuk menyesuaikan materi yang diajarkan agar peserta didik dapat memahami materi dengan baik. Pembelajaran dengan memanfaatkan internet menjadi jawaban dari pendidikan bagi generasi saat ini. Pemanfaatan media pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Pemilihan media pembelajaran harus menarik dan juga dekat dengan anak.

Media pembelajaran di era digital harus diselaraskan dengan pengembangan teknologi. Transformasi pendidikan sangat kental dengan kekuatan internet yang semakin menarik seperti magnet. Penyelarasan penggunaan media pembelajaran yang menarik dan dekat dengan anak dapat membantu berjalannya proses pembelajaran secara efektif.

Terdapat banyak platform online yang dapat dimanfaatkan untuk media pembelajaran, salah satunya adalah media sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial sangat dekat dengan kehidupan anak, bahkan jika ditanya cita-cita, banyak anak yang ingin menjadi seorang youtuber, selebgram, creators tiktok (tiktokers), atau influencer yang erat dengan ketenaran dan pendapatan fantastis dari media sosial. Berdasarkan hal tersebut maka media sosial dapat menjadi alternatif yang efektif untuk dijadikan sebagai media pembelajaran bagi anak generasi Z dan Alfa.

Salah satu media sosial yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dan memiliki banyak pengguna adalah Tiktok. Menurut tekno.kompas.com ada sekitar 10 juta pengguna aktif aplikasi Tiktok di Indonesia. Mayoritas pengguna dari media sosial Tiktok adalah anak usia sekolah generasi Z. Aplikasi Tiktok memiliki berbagai kontroversi yang mengakibatkan pemblokiran pada tahun 2016 lalu. Namun terlepas dari kontroversi tersebut pengguna Tiktok di Indonesia menembus lebih dari 10 juta pengguna, hal tersebut menjadikan Tiktok sebagai primadona media sosial.

Tiktok tak lepas dari segala kontroversinya, stigma negatif masih melekat dalam benak masyarakat, namun disisi lain banyak manfaat yang dapat diambil dari media sosial Tiktok ini, seperti menjadi media promosi yang memiliki dampak besar bagi penjualan atau pemasaran dan media pembelajaran yang sangat menarik bagi anak usia sekolah. Penggunaan Tiktok sebagai media pembelajaran ini menghasilkan efek positif pada anak dalam meningkatkan motivasi belajar, kreativitas, dan menambah rasa percaya diri.

Menurut Bulele (2020) Tiktok memilki keunggulan yang disukai oleh peserta didik melalui berbagai konten menarik serta sebagai wadah bagi peserta didik yang mempunyai minat dalam membuat video sesuai dengan kreativitasnya. Melalui Tiktok kemampuan digital anak dapat meningkat seiring dengan peningkatan kreatifitasnya dalam membuat konten kreatif.

Hutamy et al. (2021) menyatakan bahwa Aplikasi Tiktok tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, namun dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran, khususnya dimasa pandemi. Hasil penelitian dari Hutamy et al. (2021) menunjukkan bahwa 55,36% Tiktok dapat diterapkan sebagai media pembelajaran yang menyesuaikan dengan relevansi materi ajar. Penggunaan Tiktok sebagai media pembelajaran menjadikannya sebuah trend yang unik dan baru dalam menyampaikan bahan ajar.

Menurut Ramdani et al., (2021) Tiktok memiliki daya tarik tersendiri dalam menampilkan konten video yang beragam, berdurasi singkat, dan diiringi oleh musik. Hal itulah yang membuat Tiktok menarik perhatian anak. Pemanfaatan Tiktok dalam pembelajaran dapat mempermudah anak dalam memahami suatu materi.

Berbagai manfaat baik dari penggunaan Tiktok dalam pembelajaran diantaranya adalah : materi ajar dapat tersampaikan dengan menarik, ringkas, singkat, dan mudah diterima, dapat meningkatkan kreatifitas anak, menjadi media pembelajaran yang menyenangkan serta tidak membuat bosan, meningkatkan rasa percaya diri dan keaktifan anak. Jika seorang guru dapat mengambil nilai positif dari pemanfaatan media sosial Tiktok dalam pembelajaran, maka suasana belajar yang menyenangkan akan tercipta dan berdampak sangat baik terhadap psikologis anak.

Media pembelajaran merupakan hal penting yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan juga ketertarikan anak agar lebih mudah menangkap materi yang disampaikan. Pemanfaatan media sosial sebagai bagian dari pembelajaran menjadi inovasi yang perlu diapresiasi karena media sosial dapat menjadi media pembelajaran yang menarik dan efektif jika dikemas sedemikian rupa. Wika-Kd.

Daftar Pustaka 

Aji, W. N. (2017). Implementasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Klaten. Jurnal VARIDIKA, 29(1), 1–8. 

Bulele, Y. N. (2020). Analisis Fenomena Sosial Media dan Kaum Milenial: Studi Kasus Tiktok. Conference on Business, Social Sciences and Innovation Technology, 1(1), 565–572.

Hutamy, E. T., Swartika, F., Alisyahbana, A. N. Q. A., Arisah, N., & Hasan, M. (2021). Persepsi Peserta Didik Terhadap Pemanfaatan Tiktok Sebagai Media Pembelajaran. Prosiding Penelitian Pendidikan Dan Pengabdian 2021, 1(1), 1270–1281.

Ramdani, S.N., Hadiapurwa A., Nugraha H., (2021). Potensi Pemanfaatan Media Sosial Tiktok Sebagai Media Pembelajaran Dalam Pembelajaran Daring. Jurnal Teknologi Pendidikan. Vol. 10 (2). 425-436.

Reformasi PROSES PEMBELAJARAN


Dadang A. Sapardan
(Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Mencermati fenomena yang berkembang, pendidikan Indonesia tengah mengalami tantangan masa depan yang harus disikapi dengan berbagai kebijakan oleh para stakeholder-nya. Untuk dapat manghadapi tantangan ini, diperlukan penerapan kebijakan strategis, termasuk penerapan kebijakan pendidikan. Langkah ke arah tersebut tidak dapat mengesampingkan pemeranan guru yang menjadi tumpuan utama pada setiap satuan pendidikan. Pemeranan harus dilakukan agar mereka menjadi sosok yang benar-benar diharapkan mampu melaksanakan proses pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan zaman dengan kurikulum yang berlaku sebagai target antaranya.

Tantangan yang harus dihadapi terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat itu angkanya mencapai 70%. karena itu, fenomena masa depan tersebut merupakan tantangan besar yang harus dihadapi dan diantisipasi dengan tepat. Strategi kebijakan yang harus dilakukan adalah mengupayakan agar limpahan sumber daya manusia usia produktif tersebut dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia dengan kepemilikan kompetensi dan keterampilan. Untuk mencapai hal tersebut penerapan kebijakan pendidikan dengan guru di dalamnya sangat besar perannya.

Tantangan lainnya, antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Selain itu, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi, dan transformasi bidang pendidikan tidak dapat dianggap angin lalu olah bangsa ini.

Guru menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan pendidikan dengan tugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, guru menjadi faktor pengungkit pemajuan pendidikan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan.

Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan core yang mewarnai proses pendidikan pada satuan pendidikan. Dalam keberlangsungan proses pembelajaran, guru terposisikan sebagai sosok sentralnya. Mereka harus mampu menyelenggarakan poses pembelajaran yang bermakna bagi setiap siswanya. Mereka harus mampu menyusun perencanaan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan arah kebermaknaan bagi siswa.

Pembelajaran Berpusat pada Siswa
Hasil penelitian dalam What Teacher Knowledge Matters in Effectively Developing Critical Thinkers in the 21st Century Curriculum? mengungkapkan bahwa sebagai agen utama perubahan dalam reformasi pendidikan, guru dipandang sebagai pusat untuk melakukan perubahan. Guru diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan guru dalam pembelajaran berpikir kritis harus dikembangkan secara eksplisit dan sistematis.

Upaya ke arah itu tentu tidak dapat menyandarkan diri terhadap dorongan internal dari guru sendiri tetapi harus pula mendapat dorongan eksternal melalui penerapan kebijakan dari para stakeholder pendidikan.
Hasil penelitian tersebut secara tersurat menempatkan guru sebagai tumpuan utama keberhasilan pendidikan. Guru dengan kompetensi yang baik dimungkinkan akan dapat mengantarkan setiap siswanya pada tujuan kurikuler yang telah digariskan. Karena itu, penguatan kompetensi guru mutlak diperlukan dan harus menjadi kebijakan strategis dari para stakeholder pendidikan. Kebijakan pendidikan harus mengarah pada upaya penguatan guru agar benar-benar menjadi sosok berkompetensi yang dapat melaksanakan pembelajaran kreatif dan inovatif.

Saat ini, penyelenggaraan pendidikan harus mengarah pada capaian keterampilan abad ke-21. Dalam konsep pendidikan Indonesia, Kemendikbudristek telah merilis visi pendidikan Indonesia. Visi ini secara eksplisit mengungkapkan bahwa proses pendidikan mengarah pada mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Visi tersebut harus dicapai oleh setiap satuan pendidikan sehingga melahirkan peserta didik sebagai outcomes berprofil Pancasila.

Penetapan visi pendidikan Indonesia merupakan salah satu upaya untuk membumikan Pancasila di kalangan siswa yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Sebagai kearifan bangsa yang menjadi pondasi berkehidupan, Pancasila dikolaborasi bersama tampilan tuntutan keterampilan abad ke-21. Kolaborasi tersebut mengarah pada tampilan profil pelajar Pancasila yang menjadi core visi pendidikan Indonesia.

Untuk mencapai visi tersebut, perubahan paling krusial yang harus dilakukan adalah melakukan reformasi terhadap keterlaksanaan proses pembelajaran yang diselenggarakan guru. Pencapaian profil pelajar Pancasila dalam kemasan visi pendidikan Indonesia oleh siswa dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan reformasi proses pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan jawaban untuk mencapai visi tersebut. Pola pembelajaran berpusat pada siswa dimungkinkan mengarah pada tampilan siswa yang sesuai dengan tujuan yang dipancangkan dalam visi pendidikan Indonesia. Pola pembelajaran tersebut dapat mangarahkan pada suasana kegiatan belajar mengajar bermakna, sehingga pengetahuan yang didapat siswa dapat digunakan dalam menyikapi kehidupan keseharian masa kini dan masa depannya.

Merujuk pada konsep pembelajaran kekinian yang menjadi tugas dan fungsi utamanya, guru harus berperan sebagai tutor, resource linkers, fasilitator, gate keepers, dan catalyst. Penerapan konsep tersebut dimungkinkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mengarahkan proses pembelajaran agar bermakna bagi siswa. Dalam kapasitas sebagai tutor, guru memiliki tugas sebagai pemberi bimbingan belajar terhadap seluruh siswa pada mata pelajaran yang diampunya. Sebagai seorang resource linkers, guru memosisikan diri menjadi penghubung atas sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Berkenaan dengan fasilitator, guru berada pada posisi penyedia kebutuhan pembelajaran yang dilakukan setiap siswanya. Dalam posisi gate keepers, guru menempatkan diri sebagai penyeleksi materi yang dianggap penting dan esensial untuk dipahami siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakannnya. Sedangkan sebagai catalyst, seorang guru merupakan sosok yang menjadi agen perubahan sehingga pembelajaran yang dilakukannya akan bermanfaat bagi kehidupan masa depan siswa.

Dengan tampilan guru yang mampu melakukan perubahan melalui reformasi proses pembelajaran, capaian tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam visi pendidikan Indonesia akan dapat tercapai. Upaya memosisikan guru agar mampu melakukan hal itu tidaklah semudah membalikkan tangan. Dorongan perubahan harus datang dari sisi internal dan eksternal. Guru harus memiliki keinginan kuat guna melakukan reformasi pola pembelajaran. Demikian pula dengan para stakeholder pendidikan, mereka harus dapat men-suport dengan menerapkan kebijakan strategis.

Simpulan
Guru mengemban tugas utama merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, guru menjadi tumpuan utama yang dapat mengungkit pemajuan pendidikan.

Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan core pendidikan yang mewarnai pendidikan pada satuan pendidikan. Dalam keberlangsungan proses pembelajaran, guru terposisikan sebagai sosok sentralnya. Mereka harus mampu meyusun perencanaan dan melaksanakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswanya.

Guru harus mampu melakukan perubahan melalui reformasi proses pembelajaran dengan arah pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Upaya tersebut tidaklah semudah membalikkan tangan. Dorongan perubahan harus datang dari sisi internal dan eksternal. Guru harus berkeinginan melakukan reformasi pola pembelajaran. Demikian pula dengan para stakeholder pendidikan, mereka harus dapat men-suport dengan menerapkan kebijakan strategis. ****DasARSS.