SEBARAN DAN PRODUKSI INFORMASI

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu yang lalu berkesempatan untuk pemateri pada webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Dalam webinar bertajuk Gerakan Literasi Digital tersebut, materi yang disampaikan terkait dengan ethic digital. Mengacu pada kebijakan Kemenkominfo, ethic digital merupakan salah satu dari empat pilar literasi digital yang sedang dikampayekan dengan masiv melalui berbagai kanal informasi. Dengan upaya ini, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman komprehensif tentang pemanfaatan ruang digital untuk berkomunikasi.

Kehidupan manusia sudah berada pada era revolusi industri 4.0 (computer/internet of things). Fenomena yang terjadi adalah semakin kerapnya intensitas pemanfaatan perangkat digital dalam berkomunikasi. Efek dari fenomena ini adalah entitas pengetahuan dan informasi bergerak secara cepat, murah, dan masiv. Era ini melahirkan pula fenomena disrupsi pada sebagian besar tata kehidupan masyarakat, terjadi lompatan pemanfatan teknologi informasi dan komunikasi secara masiv dan optimal oleh sebagian besar masyarakat. Masyarakat sudah mulai terbiasa berkomunikasi melalui berbagai kanal media sosial.

Masivnya masyarakat dalam memanfaatkan ruang digital untuk berkomunikasi melalui kanal media sosial dapat mengarah pada dua sisi yang kontradiktif. Perhubungan melalui berbagai kanal media sosial telah memberi kemudahan untuk dapat berkomunikasi dengan tidak tersekat oleh ruang dan waktu. Sejalan dengan kemudahan yang diperoleh, ternyata pemanfaatan kanal media sosial mengandung resiko masuknya anasir tidak baik bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat. Berbagai anasir tidak baik yang diusung konten negatif—ujaran kebencian, fitnah, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, informasi hoax, dan lainnya—dengan mudah dapat tersebar pada berbagai kanal media sosial—instagram, whatsapps, twitter, facebook, youtube, dan media sosial lainnya.

Berbagai konten negatif tersebut bertebaran begitu banyak dan masiv sehingga dengan sangat mudah dikonsumsi oleh masyarakat pengguna kanal media sosial. Untuk menyikapinya, salah satu langkah yang harus dilakukan adalah membanjiri ruang digital dengan berbagai konten positif sebagai penyeimbangnya. Upaya untuk melakukan penyeimbangan tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh satu atau dua elemen masyarakat, tatapi harus dilakukan oleh sebagian besar elemen masyarakat dengan berbagai pemangku kepentingan sebagai motor penggeraknya.

Langkah tersebut tentunya tidak dapat berjalan baik, tanpa upaya untuk memberi pemahaman terhadap masyarakat tentang kesantunan dalam berkomunikasi dalam ruang digital. Dalam konteks ini, sangat dibutuhkan peran para pemangku kepentingan yang memiliki kesadaran akan berbahayanya masyarakat ketika dicekoki berbagai konten negatif. Karena itu, Kemenkominfo mengeluarkan kebijakan tentang peta jalan literasi digital 2021-2024. Peta jalan tersebut memuat secara eksplisit empat pilar yang harus dibangun pada masyarakat sebagai refleksi kepemilikan kompetensi literasi digital. Keempat pilar tersebut adalah digital skill, digital ethic, digital safety, dan digital culture.

Upaya untuk mendorong lahirnya kompetensi digital pada masyarakat adalah memberi pemahaman beretika (santun) di ruang digital. Mereka harus mengedepankan kesantunan dalam berkomunikasi melalui berbagai kanal yang tersedia—instagram, whatsapps, twitter, facebook, youtube, dan media sosial lainnya. Dengan demikian, anasir kurang baik melalui sebaran berbagai konten negatif—ujaran kebencian, fitnah, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, informasi hoax, dan lainnya—dapat ditekan seminimal mungkin.

Dalam konteks ini, yang harus dipahami oleh masyarakat sebagai pemanfaat media sosial adalah kesadaran bahwa berbagai konten yang diproduksinya atau disebar melalui kanal media sosial, akan menjadi konsumsi orang banyak dengan tidak berbatas ruang dan waktu. Dalam hitungan detik, setiap orang akan segera menangkap berbagai konten yang diproduksi atau disebar. Lebih jauh lagi, berbagai informasi yang diproduksi atau disebar menjadi jejak digital yang sangat sulit dihapus.

Kesadaran akan begitu cepat dan terbukanya setiap orang untuk mengakses setiap produksi konten pada kanal media sosial, perlu terus diperkuat, sehingga menjadi pemahaman masyarakat. Sebelum menautkan informasi pada kanal media sosial, mereka memiliki kewajiban untuk melakukan kajian matang terhadap berbagai informasi yang diproduksi atau disebarnya. Dengan demikian, masyarakat tidak akan mudah dan sembarangan dalam memroduksi atau menyebar konten pada kanal media sosial yang diikutinya.

Dalam posisi sebagai pemroduksi konten, yang harus dilakukan masyarakat adalah melakukan kajian terhadap substansi informasi. Kajian terhadap substansi informasi ini sangat diperlukan dalam upaya melihat kebermanfaatannya. Ketika kajian atas substansi informasi telah terlewati, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian atas bahasa yang digunakannya. Penggunaan bahasa sebagai media penyampaian informasi harus mendapat perhatian agar tidak terjadi salah persepsi pada penerima informasi.

Dalam posisi sebagai penyebar informasi, masyarakat harus terlebih dahulu melakukan kajian atas kebenaran informasi yang diterima. Guna mengkaji keberan informasi ini, dapat dilakukan dengan mengkonfirmasi pada berbagai sumber informasi lainnya. Setelah melewati kajian atas kebenaran informasi yang diterima, langkah lanjutan yang patut dilakukan adalah mengkaji kebermanfaatan informasi. Ketika kedua hal tersebut—kebenaran dan kebermanfaatan—sudah terpenuhi, informasi memungkinkan untuk disebarkan pada kanal media sosial yang dimiliki.

Alhasil, tugas berat yang saat ini dipikul oleh para pemangku kepentingan adalah mendorong keterbangunan pemahaman masyarakat untuk memiliki kompetensi dalam berliterasi digital. Salah satu langkah yang patut dilakukan adalah memberi pemahaman tentang kesantunan dalam memroduksi dan menyebar informasi. Langkah ini patut dilakukan dalam upaya membanjiri ruang digital dengan berbagai konten positif. ****Disdikkbb-DasARSS.

 

BELAJAR DARI RITUAL KURBAN (Pendidikan Karakter Ala Rasulullah)

Adhyatnika Geusan Ulun

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (Q.S.al-Kautsar (108): 1-3).

Teladan Bapak Para nabi

Adalah Nabi Ibrahim as. sosok mulia sepanjang masa. Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah hidupnya. Mulai dari ‘pencarian’ Tuhan, hingga melahirkan generasi unggul sesudahnya.

Sesungguhnya perjalanan kisah Nabi Ibrahim telah dicatat dengan tinta emas oleh para sejarawan di muka bumi ini. Umumnya mereka sepakat memberinya gelar ‘Bapak Monoteisme’. Peletak dasar ajaran ketauhidan. Sebuah label yang sangat pantas, saat darinyalah cikal bakal para penerus risalah kenabian.

Perjuangan fenomenalnya dalam ‘pencarian’ Tuhan diabadikan di banyak riwayat. Saat akhirnya berada dalam satu kesimpulan bahwa Tuhan adalah Zat Maha dari segala Maha. Sebuah konklusi yang termata cerdas, di mana logika bersanding dengan iman.

Sementara dialognya dengan sang ayah melahirkan pembelajaran luar biasa, saat sikap hormat kepada orang tua tetap dijaga meskipun berbeda prinsip kepercayaan. Sama halnya saat sikapnya kepada penguasa yang telah menzaliminya, dengan menyerahkan hukuman atas tindakan tersebut kepada Sang Pemilik makhluk, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Begitupun dengan pendidikan keluarga. Ditempatkannya hal ini sebagai prioritas utama. Dididiknya istri dan anak-anak dengan dasar cinta serta kasih. Sehingga dari sinilah muncul generasi penerusnya yang menjadi nabi sehingga gelar ‘Bapak para Nabi pun melekat dipribadinya yang mulia.

Ritual Kurban

Di sisi lain, ritual kurban yang menjadi ciri utama dari perjalanan sejarah keluarga mulia tersebut, melahirkan banyak hikmah luar biasa. Hal tersebut sangat penting bagi setiap insan beragama yang bercita-cita melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan menjadi kebanggaan bangsa, negara serta agama.

Di dalam dunia pendidikan, hal atas juga akan menjadi modal utama dalam menciptakan anak bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Sesungguhnya, hikmah lain yang dapat dipetik adalah, secara vertikal bahwa peristiwa kurban tidak boleh dipandang hanya sebagai persembahan hewan sembelihan saja, tetapi lebih bagaimana pendekatan diri atas limpahan anugerah-Nya. Sehingga dari sini akan melahirkan pribadi ahli syukur yang taat dalam menjalankan perintah Tuhan.

Kemudian, secara horizontal bertujuan untuk saling berbagi kepada kaum kaum yang belum diberikan kemampuan untuk melaksanakan ritual tersebut. Solidaritas dan kesetiakawanan sosial akan terbangun. Nikmat yang telah diterima berupa limpahan rizki harta, gelar, pangkat, kedudukan, jabatan, patut disyukuri, dengan menggunakannya tidak hanya bermanfaat bagi diri, tetapi maslahat untuk sebanyak-banyaknya umat.

Maka, jika dilihat dari hikmah di atas, dampak dari ibadah kurban sangat luar biasa dalam upaya membangun kebersamaan dan meningkatkan persaudaraan dalam masyarakat. Hal ini akan membentuk keharmonisan hubungan antara kaum agniya dengan dhuafa.

Lebih jauh lagi, perintah berkurban menyadarkan kaum muslimin bahwa pada hakikatnya kekayaan itu hanyalah titipan Allah. Terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan dari sebagian harta yang dititipkan tersebut. Hikmah lainnya adalah mengandung simbol penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri. Dengan ibadah ini diharapkan dapat membuang sifat-sifat hewani yang dapat menjauhkan diri dari Allah.

Pesan Moral Ibadah Kurban

Dalam konteks kekinian, ibadah kurban mengandung banyak pesan moral. Pertama, untuk  pemimpin. Ibadah ini mengandung pesan bahwa sebagai pemegang amanah harus menunjukkan jiwa pengorbanan yang tulus dan ikhlas dalam menjalankan mandat rakyat dengan lebih mementingkan urusan umat daripada pribadi dan golongan.

Sifat dari binatang yang mementingkan urusan perut sendiri daripada berbagi dengan yang lainnya haruslah dihilangkan. Sifat hewani lainnya yang harus dihilangkan dari seorang pemimpin adalah prinsip ‘siapa yang kuat akan menguasai dan menindas yang lemah’. Terjadinya kekuasaan diktator dan otoriter disebabkan belum dapatnya menghilangkan sifat hewani yang menindas kaum tidak berdaya.

Kedua, bagi para pengusaha, pebisnis, pedagang, dan wirausahawan. Ibadah kurban melenyapkan sifat curang, zalim dan tidak jujur, seperti mengurangi takaran timbangan, tipu muslihat dalam transaksi, dan riba dalam praktek ekonomi. Sifat hewan yang tidak menghiraukan halal dan haram harus segera dipupus dalam pribadi yang merindukan keberkahan hidup dunia dan akhirat.

Ketiga, untuk para penegak hukum. Ibadah kurban akan memupus nafsu praktik ‘jual beli hukum’. Penegakkan hukum yang diajarkan Rasulullah adalah mengutamakan azas keadilan dengan hati nurani yang tunduk atas ketentuan Tuhan daripada mengedepankan hawa nafsu dan kekuasaan. Sifat hewani yang lebih takut pada atasan ketimbang Tuhan haruslah dihilangkan.

Selanjutnya keempat, untuk para pendidik, dan orang tua. Berkurban meningkatkan semangat berkorban dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara sosial, cerdas emosional, tetapi juga cerdas spiritual. Keteladanan dalam membimbing anak harus dikedepankan. Kejayaan satu bangsa salah satunya adalah keberhasilan para pendidik dan orang tua dalam melahirkan para pemimpin bangsa yang jujur, adil, dan bijak. Buah dari pribadi pendidik dan orang tua yang menjadi tuntunan bukan tontonan.

Keteladanan Nabi Ibrahim hendaknya menjadi acuan dalam memposisikan anak sebagai mitra bukan sebagai ‘objek’. Al Qur’an mengabadikan peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail as., pada saat Allah memerintahkan untuk mengorbankan putranya tersebut, Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelih engkau. Bagaimana menurut pendapatmu? Sebagai anak yang dididik dengan keteladanan orang tua, sang putra menjawabnya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan: Wahai ayahku, lakukan saja apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan mendapati aku, insya Allah termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaffat (37):102).

Hal tersebut membuktikan bahwa sifat hewani yang tidak mengenal keteladanan harus disembelih dalam kehidupan ini. Keteladan dari para pendidik dan orang tua dengan saling menghargai kepada sesama, mengasihi kepada kepada yang lemah, akan berbuah kemuliaan pada diri seorang anak.

Simpulan

Ibadah kurban mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Setiap jerih payah yang dikorbankan dengan ikhlas pasti akan menghadirkan limpahan rahmat dan berkah dalam kehidupan. Para pendiri bangsa telah membuktikannya. rahmat dan berkah Allah akan hadir pada setiap pejuang yang rela mengorbankan kepentingan diri dan kelompoknya untuk kepentingan yang jauh lebih utama, yaitu kepentingan umat.

Akhirnya, hikmah dari ritual ibadah kurban seakan belajar mendalami makna pengorbanan para pahlawan yang mampu menghilangkan kerakusan dan ketamakan akan duniawi, mampu melenyapkan syahwat akan kekuasaan, memupus nafsu ingin menindas yang lemah, dan mampu menampilkan keteladanan dalam mencetak generasi ungul masa depan.

Hari Raya Idul Adha 1442 H pada masa pandemi Covid-19 saat ini, mengandung pelajaran luar biasa. Ibadah kurban selaras dengan semangat pengorbanan seluruh elemen bangsa dalam mengatasi ujian ini. Ritual mulia ini hendaknya memotivasi semua pihak agar tetap menggolarakan semangat optimisme dengan terus menjaga diri, keluarga dan lingkungan dari semakin menyebarnya wabah tersebut. Sebagai guru hendaknya menjadi garda terdepan untuk mengajak warga sekolah menaati protokol kesehatan. Sebagai pelajar hendaknya menjadi generasi yang selalu mendukung setiap langkah kebaikan. Dan sebagai masyarakat hendaknya selalu mematuhi segala kebijakkan pemerintah. Sehingga semuanya bersinergis menjadi pribadi yang bukan hanya manfaat untuk diri, namun selalu membawa maslahat untuk sebanyak-banyaknya umat.***

Dari berbagai sumber.

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

METODE FLIPPED CLASSROOM

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Sejalan dengan satuan pendidikan telah masuk pada tahun pelajaran baru, pada ranah pendidikan berkembang harapan akan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Timbulnya keinginan tersebut berkenaan dengan telah sangat lamanya pembelajaran didominasi dengan pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui moda dalam jaringan (daring), luar jaringan (luring), atau kombinasi daring dengan luring. Belum lagi, beberapa waktu yang lalu Kemendikbud begitu optimis dengan rencana untuk melakukan penerapan kebijakan PTM terbatas paling lambat pada awal tahun pelajaran baru. Bersamaan dengan masuknya pada moment tahun pelajaran baru tersebut, penyebaran Covid-19 terus meluas, sehingga harapan melaksanakan PTM terbatas harus dikesampingkan terlebih dahulu.

Penerapan kebijakan PJJ dilatari dengan upaya penerapan prinsip kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama dalam penetapan kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan serta mengarah pula pada prinsip pertimbangan tumbuh kembang dan hak anak selama pandemi Covid-19. Kedua prinsip tersebut menjadi perhatian para pemangku kebijakan dalam penerapan kebijakan pendidikan.

Pelaksanaan PJJ dengan rumah sebagai basis pelaksanaan pembelajarannya telah menimbulkan berbagai permasalahan penyerta. Permasalahan penyerta yang ditimbulkan oleh penerapan kebijakan tersebut di antaranya tampilan prestasi siswa tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan sebelumnya karena dalam pelaksanaan PJJ tidak menutup kemungkinan terjadinya learning loss—hilangnya kesempatan siswa untuk belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru melalui pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM).

Untuk menyikapi semakin meluasnya siswa yang mengalami learning loss, para pemangku kebijakan perlu mencari jalan keluarnya. Dalam konteks ini, salah satu pemangku kebijakan pada tataran teknis adalah para guru. Mereka dituntut untuk memeras energi dengan melakukan inovasi dalam implementasi pembelajaran yang di lakukannya. Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan di antaranya melalui penerapan metode flipped classroom. Penerapan metode ini dapat dilakukan pada saat satuan pendidikan diberi kesempatan untuk melaksanakan PTM terbatas.

Sekalipun pemberlakuan PTM terbatas masih terkendala dengan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang salah satu kebijakannya mengharuskan pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan moda daring, tidak salahnya para guru sudah mempersiapkan metode yang memungkinkan untuk diterapkannya. Hal itu harus dipersiapkan karena PTM terbatas hanya mentolelir paling banyak 18 siswa yang dapat melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Selebihnya harus melaksanakan pembelajaran dengan moda daring atau luring.

Flipped classroom adalah salah satu model atau metode belajar yang meminimalkan pembelajaran langsung dari guru. Dalam prosesnya, siswa mempelajari materi pelajaran terlebih dahulu di rumah, sedangkan kegiatan pembelajaran di kelas hanya berupa pengerjaan tugas, berdiskusi tentang materi pelajaran, atau pemecahan masalah yang belum dipahami saat belajar di rumah. Model belajar flipped classroom pada dasarnya adalah pembalikan aktivitas pembelajaran. Aktivitas yang biasa dilakukan di kelas—pada pembelajaran konvensional—dilaksanakan di rumah, sedangkan aktivitas yang biasa dilaksanakan di rumah—pada pembelajaran konvensional—dilaksanakan di kelas.

Model flippe classroom pertama kali diperkenalkan oleh J. Wesley Baker pada tahun 2000. Model pembelajaran ini mengkombinasikan pembelajaran di dalam kelas dan pembelajaran di luar kelas dengan tujuan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran. Dalam penerapannya, guru berposisi sebagai fasilitator yang mengemas materi pembelajaran dalam bentuk digital berupa video untuk dipelajari siswa di rumah sehingga siswa sudah lebih siap belajar ketika pelaksanaan PTM.

Dalam kondisi keterbatasan, guru dapat mengganti bentuk pembelajaran melalui video dengan bentuk lain, seperti buku, modul, atau bahan cetak lainnya. Bahkan, bagi sekolah yang memiliki radio atau televisi pemancar sendiri, dapat memanfaatkan perangkat ini untuk menopang pembelajaran. Namun, pemanfaatan radio atau televisi memiliki keterbatasan ruang dan waktu, tidak sepertinya pemanfaatan buku, modul, atau bahan cetak lainnya sebagai sumber belajar. Hakikat dari pembelajaran ini adalah menyiapkan kepemilikan pengetahuan dasar dari setiap siswa, sehingga pada saat pelaksanaan PTM, mereka telah siap mengerjakan tugas, berdiskusi, atau memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru.

Melalui penerapan metode flipped classroom, pelaksanaan PTM terbatas dimungkinkan akan mengarah pada pelaksanaan pembelajaran yang benar-benar esensial dalam upaya membangun pengetahuan siswa. Aktivitas yang dilakukan siswa saat pelaksanaan PTM lebih diarahkan pada pendekatan student center oriented dengan guru sebagai fasilitatornya.

Sebagai pelaku utama pembelajaran, setiap guru sudah sangat familiar dengan konsep bahwa pembelajaran merupakan proses konstruksi atau konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan pemahaman bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Esensi dari konstruktivisme ini adalah siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi ini menjadi milik mereka sendiri. Dengan demikian, pembelajaran harus dikemas menjadi proses merekonstruksi bukan menerima pengetahuan sehingga siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini, upaya tersebut dapat dilakukan dengan penerapan metode flipped classroom.

Alhasil, dalam situasi seperti ini, setiap satuan pendidikan dengan guru sebagai motor penggeraknya harus berinisiatif untuk berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran. Inovasi dari setiap guru dibutuhkan dalam upaya meminimalisasi terjadinya learning loss yang diakibatkan oleh penerapan pola PJJ saat menghadapi pandemi Covid-19. ****Disdikkbb-DasARSS.

EKSISTENSI BAHASA DAERAH SEBAGAI KEKAYAAN BUDAYA NASIONAL

Wika Karina Damayanti, S.Pd., S.H., M.Pd.

(Kasi Pengembangan Bahasa dan Sastra

Bidang Pengembangan Kurikulum Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)

Keragaman menjadi identitas bangsa yang harus dipertahankan. Keragaman tersebut perlu dilestarikan agar tidak tergerus oleh arus globalisasi yang semakin melanda dunia dengan berbagai perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Indonesia merupakan negara multi etnik yang memiliki aneka ras, suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya. Keragaman tersebut menjadi pemersatu bangsa melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yang berasal dari Bahasa Jawa Kuno ini memiliki makna meskipun terdapat beragam perbedaan namun pada hakikatnya Indonesia tetap satu kesatuan yang utuh. Toleransi terhadap perbedaan menjadi kunci dalam persatuan bangsa. Salah satu perbedaan yang menjadi penguat persatuan bangsa adalah bahasa daerah.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Pasal 1 ayat (6) menyatakan bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahasa daerah merupakan cara berkomunikasi antar masyarakat di daerah tertentu, baik komunikasi formal maupun non formal. Pembiasaan menggunakan bahasa daerah merupakan strategi dalam perlindungan bahasa daerah agar terus berkembang dan tidak tenggelam dalam bahasa asing yang semakin digemari oleh generasi muda.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 32 Ayat (2) menyatakan bahwa  Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Sesuai dengan amanat UUD 1945 tersebut bahwa bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang harus dihormati, dijaga, dilestarikan, dilindungi, dan juga dikembangkan. Pasal tersebut menunjukkan bahwa bahasa derah memiliki kedudukan yang tinggi dalam budaya nasional. Bahasa daerah menjadi identitas diri, kebanggaan, dan cara berkomunikasi masyarakat di wilayah tertentu.

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan melalui laman petabahasa.kemdikbud.go.id merilis bahwa Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang terverifikasi dan tersebar diseluruh penjuru negeri. Keragaman bahasa daerah tersebut membawa Indonesia menduduki peringkat ke dua sebagai Negara dengan bahasa terbanyak di dunia.

Kekayaan bahasa daerah perlu dijaga dan dikembangkan sebagai warisan budaya untuk generasi muda, agar kelak mereka tidak melupakan identitas asalnya. Meskipun tidak tinggal didaerah asal namun masyarakat cenderung tetap berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerahnya dimanapun berada. Hal tersebut menandakan adanya kebanggan terhadap suku dan daerah asalnya.

Pelestarian bahasa menjadi isu Internasional karena bahasa daerah atau bahasa Ibu menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang harus dijaga. Pentingnya kedudukan bahasa daerah terwujud dalam keputusan UNESCO dalam  menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa  Ibu Internasional.

Perlindungan dan pemeliharaan terhadap bahasa daerah menjadi tanggung jawab dari Pemerintah Daerah, hal tersebut sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 42 Ayat (1), yang berbunyi: Pemerintah Daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Perlindungan dan pengembangan bahasa daerah perlu diusung menjadi sebuah kebijakan dengan melibatkan peran serta masyarakat luas sebagai usaha dalam pelestariannya. Peran dunia pendidikan sangat penting, karena bahasa perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini agar terbentuk menjadi identitas diri yang tidak dapat dilepaskan ketika beranjak dewasa. Penguatan kurikulum muatan lokal bahasa daerah menjadi salah satu cara dalam perlindungan dan pengembangan bahasa daerah melalui pendidikan. Selain itu pengembangan sastra daerah juga perlu dilakukan dalam lingkungan sekolah untuk menanamkan rasa cinta pada bahasa dan budaya daerah. Kepala Sekolah, Guru, dan siswa harus turut berpartisipasi aktif dalam pelestarian bahasa daerah. DisdikKBB-Wika.Kd.

BERBAHASA DI MEDIA SOSIAL

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu yang lalu berkesempatan untuk menyampaikan materi pada webinar Gerakan Literasi Digital yang diselenggarakan Kemenkominfo. Dalam webinar tersebut, materi yang disampaikan terkait dengan ethic digital. Pada TOR yang disampaikan panitia, ethic digital merupakan salah satu dari empat pilar literasi digital yang dikampanyekan oleh Kemenkominfo. Karena itu, untuk mengisi salah satu materi pada webinar tersebut bahasan yang disampaikan terkait dengan penggunaan bahasa dalam ruang digital. Penggunaan bahasa santun dalam ruang digital sangat penting diperhatikan oleh masyarakat sebagai bagian dalam mewarnai ruang digital.

Kehidupan sudah menapaki era revolusi industri 4.0 dengan fenomena kehidupan yang didominasi pemanfaatan perangkat digital dengan memanfaatkan berbagai aplikasi media sosial. Dengan fenomena tersebut, masyarakat telah diberi kemudahan dalam mengarungi kehidupan karena keberadaan teknologi digital telah mampu memobilisasikan entitas pengetahuan secara cepat, murah, dan masiv.

Masivnya masyarakat dalam memanfaatkan perangkat teknologi digital melalui jaringan media sosial dapat mengarah pada dua sisi yang kontradiktif. Perhubungan melalui media sosial telah memberi kemudahan untuk dapat berkomunikasi dan berbagi informasi dengan pihak lain. Sejalan dengan kemudahan yang diperoleh, ternyata pemanfaatan media sosial mengandung pula resiko masuknya fenomena negatif. Berbagai konten negatif yang berbau ujaran kebencian, fitnah, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, hoax, dan lainnya dengan sangat mudah tersebar pada berbagai media sosial—instagram, whatapps, twitter, facebook, dan media sosial lainnya.

Untuk menyikapi menyeruaknya fenomena negatif tersebut, pemerintah melalui Kemendikbud dan Kemenkominfo menerbitkan regulasi yang memberi panduan terkait pemanfaatan perangkat digital oleh masyarakat. Kemdikbud telah menetapkan regulasi Gerakan Literasi Nasional (GLN). Melalui regulasinya, menjadikan literasi digital menjadi kompetensi yang harus dimiliki oleh masyarakat karena literasi digital merupakan kompetensi yang linier dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa depan. Demikian pula dengan Kemenkominfo telah mengeluarkan kebijakan tentang peta jalan literasi digital 2021-2024. Peta jalan tersebut mengungkapkan secara eksplisit tentang empat pilar yang harus dibangun, yaitu digital skill, digital ethic, digital safety, dan digital culture. Kedua regulasi tersebut, salah satunya mengarah pada upaya untuk memberi pencerahan dan pemahaman kepada masyarakat agar menjadi sosok yang dapat memanfaatkan media sosial secara sehat.

Kenyataan memperlihatkan bahwa cukup banyak kasus yang menyeruak akibat pemanfaatan media sosial. Berbagai kasus tersebut di antaranya terkait dengan penggunaan bahasa yang disebar melalui ruang media sosial. Kasus-kasus tersebut tidak jarang harus berdampak pada pemberian sanksi sosial dan sanksi hukum terhadap pelakunya. Untuk membuktikan bahwa konten yang diunggahnya bersinggungan dengan ranah hukum, para ahli bahasa diminta untuk melakukan analisis. Mereka dituntut untuk melakukan analisis secara komprehensif dan elaboratif guna melihat sejauh mana bahasa yang digunakan mengandung muatan yang mengakibatkan ketersinggungan pada orang lain. Ilmu penganalisisan terhadap penggunaan bahasa—baik bahasa lisan maupun tulis—dari mereka yang terjerat hukum adalah linguistik forensik.

Saat ini, linguistik forensik menjadi ilmu yang cukup menantang karena setiap orang yang terjun pada bidang ini dituntut untuk memiliki kemampuan lingusitik yang komprehensif dengan didukung kemampuan elaboratif yang tinggi terhadap fenomena penggunaan bahasa lisan atau tulis. Hal itu dimungkinkan karena linguistik forensik saat ini bersinggungan dengan keputusan pada ranah hukum yang harus diambil dengan seobyektif mungkin.

Sejalan dengan banyaknya kasus yang memaksa pelakunya untuk berurusan dengan hukum, upaya yang dilakukan oleh setiap pengguna media sosial adalah mengedepankan kehati-hatian dalam menggunggah berbagai konten. Ungkapan bijak yang sering disampaikan adalah saring sebelum sharing. Untuk melakukan penyaringan ini, langkah yang harus dilakukan—terutama oleh pemroduksi konten pada media sosial—adalah mengkaji bahasa penyampaian yang digunakan.

Akan halnya dengan penggunaan bahasa dalam media sosial, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis adalah memperhatikan bahasa yang baik dan benar. Pemanfaatan bahasa yang baik dan benar ini merefleksikan kesantunan dalam berekspresi bahasa. Bahasa yang baik adalah ketepatan pengguna bahasa dalam melakukan pemilihan ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi dari penuturnya. Beberapa ragam bahasa yang dapat digunakan sesuai konteks di antaranya bahasa beku, bahasa resmi, bahasa konsultatif, bahasa santai, dan bahasa akrab. Dalam ranah media sosial yang sering digunakan adalah salah satu di antara ketiga ragam bahasa konsultatif, bahasa santai, dan bahasa akrab. Sedangkan bahasa yang benar adalah penggunaan bahasa oleh penutur yang sesuai dengan kaidah kebahasaan yang berlaku. Beberapa kaidah kebahasaan yang merefleksikan penggunaan bahasa yang benar adalah tata bahasa, tata bunyi, kata-kata baku, ejaan resmi, dan kalimat efektif.

Alhasil, guna menyikapi kebebasan berekspresi—tulis dan lisan—dalam media sosial, langkah yang harus dilakukan oleh setiap penggunanya adalah mengedepankan kesantunan dalam berbahasa. Kesantunan berbahasa ini lebih ditekankan kepada setiap orang yang memproduksi konten pada media sosial. ****Disdikkbb-DasARSS.

BERLATIH BERPIKIR

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Hari ini sempat menonton video kiriman dalam Whatsapp tentang dialog antara Chairul Tanjung dengan beberapa CEO muda Indonesia. Dialog tersebut mengupas tentang jatuh bangun yang dialami beberapa CEO muda sebelum pada akhirnya perusahaan yang dikelolanya bisa tegak berdiri. CEO yang dimintai pandangannya dalam forum tersebut rata-rata merupakan pemilik perusahaan startup yang saat ini tengah berkibar di Indonesia. Dalam dialog tersebut yang paling menarik adalah pandangan bahwa pendidikan yang dialaminya telah menjadi tempat mereka untuk berlatih berpikir, sedangkan transfer pengetahuan dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap proses pembesaran perusahaan mereka.

Kehidupan memang penuh dinamika yang harus mampu dihadapi dan disikapi dengan bijak oleh seluruh manusia yang menjadi bagian dari ekosistemnya. Kehidupan masa lalu berbeda dengan masa kini. Demikian pula kehidupan masa kini, akan berbeda sekali dengan masa depan. Untuk menyikapi perbedaan pola kehidupan yang diakibatkan oleh dinamika perkembangan tersebut, berbagai persiapan harus terus dilakukan.

Untuk dapat bertahan hidup dalam suasana perubahan tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah mengaktualisasi kepemilikan pengetahuan. Dalam konteks ini, menarik sekali ungkapan yang disampaikan El Hajj Malik El Shabazz, Education is the passport to the future, tomorrow belongs to those who prepare for it today. Ungkapan tersebut lebih mengena pada fenomena keberlangsungan pendidikan, terutama pendidikan formal. Proses pendidikan merupakan pemberian passport kepada peserta didik untuk kehidupan masa depan, sehingga masa depan adalah milik mereka yang sudah mempersiapkan dirinya pada masa kini. Sekalipun demikian, ungkapan tersebut bisa dimaknai lebih luas lagi, bahwa kepemilikan pengetahuan—hasil proses pendidikan formal, maupun non-formal—oleh masyarakat merupakan passport bagi mereka dalam menyongsong kehidupan masa depan.

Akan halnya dengan fenomena keberlangsungan pendidikan yang saat ini tengah diimplementasikan, terdapat empat kompetensi yang yang harus dibekalkan oleh para pendidik kepada setiap peserta didik. Keempat kompetensi tersebut adalah berpikir kritis (critical thinking), kreatifitas (creativity), komunikatif (communication), serta berkolaborasi (collaboration).

Keempat kompetensi tersebut merupakan prasyarat minimal yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam mengarungi kehidupan masa depan. Dengan kepemilikan keempat kompetensi tersebut, dimungkinkan akan menjadi modal dasar dalam percaturan persaingan kehidupan yang semakin hari semakin ketat.

Akan halnya dengan pendapat salah seorang CEO muda dalam wawancaranya bahwa pendidikan telah menjadi ajang untuk berlatih berpikir. Pendapat tersebut bisa menjadi dasar bagi para pendidik untuk mengubah mindset penerapan pola pembelajaran yang berlangsung selama ini. Para pendidik memiliki otoritas besar untuk melakukan perubahan radikal terkait dengan proses pembelajaran yang selama ini dilangsungkan pada ruang-ruang kelas yang menjadi tanggung jawabnya.

Sudah lama diungkap bahwa pendidik bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Dengan keberlangsungan kemajuan kehidupan ini, siapapun dapat belajar dan menggali ilmu dari berbagai sumber. Beberapa sumber belajar yang memungkinkan di antaranya buku, alam sekitar, teman sebaya, orang tua, masyarakat lainnya, selain tentunya internet sebagai rujukannya. Dalam kehidupan yang lebih didominasi dengan pemanfaatan perangkat digital, internet menjadi salah satu rujukan penggalian pengetahuan oleh para peserta didik. Karena itu, perubahan mindset bahwa pendidik menjadi satu-satunya sumber belajar harus mulai ditanggalkan. Ketergantungan peserta didik akan sosok pendidik sebagai pemasok ilmu pengetahuan sudah mengalami pergeseran.

Proses pembelajaran yang lebih berat pada pendekatan teacher center oriented—dengan memosisikan pendidik sebagai pusat pembelajaran, dengan dominasi penerapan metode ceramah pada pembelajaran, serta dengan menempatkan guru sebagai salah satu sumber belajar—harus sudah mulai ditinggalkan. Proses pembelajaran melalui pendekatan student center oriented—dengan lebih mengaktifkan siswa untuk mengalami pembelajaran, dengan memberi keleluasaan kepada mereka guna mengeksplorasi pengetahuan dari berbagai sumber, serta dengan memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih berpikir—harus terus dilakukan oleh setiap guru.

Penerapan pendekatan student center oriented dapat memberi ruang dan waktu yang seluas-luasnya kepada peserta didik guna melahirkan keterbangunan berpikir kritis, kreatifitas, komunikasi, dan kolaborasi. Untuk membangun keempat kompetensi tersebut, harus dimulai dari inisiatif setiap pendidik sebagai aktor sentral dalam pembelajaran. Para pendidik harus melakukan banting stir dengan mengubah mindset yang selama ini dipahami dan diimplementasikannya. Pengetahuan yang selama ini disampaikan dengan berpatokan pada kurikulum yang berlaku, tidak berdampak signifikan dalam perkembangan peserta didik selanjutnya. Pengetahuan yang disampaikan oleh para pendidik—dalam konteks sebagai sumber belajar—dimungkinkan hanya menjadi salah satu pondasi bagi peserta didik. Selanjutnya, pengembangan kepemilikan pengetahuan menjadi otoritas mutlak setiap peserta didik.

Arah untuk menjadikan proses pembelajaran sebagai arena berlatih berpikir, bukanlah pekerjaan semudah membalikkan tangan, tetapi harus terus dilakukan oleh berbagai pihak, terutama oleh para pendidik sebagai motor penggeraknya. Untuk sampai pada upaya tersebut, pendidik tidak dapat bergerak sendiri, tetapi harus dibantu pula stakeholder pendidikan lainnya.****Disdikkbb-DasARSS.

KESANTUNAN BERMEDIA SOSIAL

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Pendahuluan

Hingga saat ini kehidupan manusia sudah menapaki era revolusi industri 4.0 dengan fenomena kehidupan masyarakat yang didominasi pemanfaatan teknologi digital. Lewat fenomena tersebut, masyarakat telah diberi kemudahan dalam mengarungi kehidupan karena keberadaan teknologi digital telah mampu memobilisasikan entitas pengetahuan secara cepat, murah, dan masiv. Selain itu, perangkat ini telah melahirkan fenomena disrupsi pada sebagian besar pranata kehidupan masyarakat. Berbagai pola kehidupan yang selama puluhan tahun begitu mendominasi, secara terpaksa harus tergantikan dengan teknologi digital sebagai medianya. Era revolusi industri 4.0 melahirkan lompatan besar teknologi dengan adanya symptom pemanfaatan teknologi digital secara masiv dan optimal pada berbagai elemen masyarakat.

Masivnya masyarakat dalam memanfaatkan perangkat teknologi digital—untuk berhubungan dengan berbagai pihak—melalui jaringan media sosial dapat mengarah pada dua sisi konten yang kontradiktif. Perhubungan melalui media sosial telah memberi kemudahan untuk dapat berkomunikasi dan berbagi informasi dengan pihak lain dalam dunia maya. Sejalan dengan kemudahan yang diperoleh, ternyata pemanfaatan media sosial mengandung pula resiko masuknya anasir-anasir negatif. Konten negatif yang berbau kebohongan atau fitnah dapat dengan sangat mudah tersebar pada berbagai media sosial—instagram, whatapps, twitter, facebook, dan media sosial lainnya.

Kenyataan memperlihatkan bahwa konten yang mewarnai ruang media sosial sangatlah heterogen. Para pengguna media sosial memiliki keleluasaan untuk mengonsumsi berbagai konten yang tersaji pada media sosial. Tidak hanya konten positif saja yang dapat tampil pada ruang ini. Tidak sedikit pula konten negatif yang bisa ditemukan dengan mudah pada ruang media sosial. Berbagai konten negatif dengan berbau berita bohong, ujaran kebencian, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, hoax, dan lainnya sangat banyak berseliweran di ruang media sosial. Bertaburannya konten negatif pada ruang media sosial tersebut sangat mengkhawatirkan banyak pihak karena dimungkinkan akan menjadi pemicu kerusakan tatanan ekosistem kehidupan ini.

Keberadaan konten negatif yang mewarnai ruang media sosial hanya bisa ditangkal dengan membangun kebersamaan dan kesadaran akan berbahayanya konten tersebut terhadap keajegan tatanan ekosistem kehidupan yang selama ini telah dibangun. Masyarakat pengguna media sosial harus dimampukan untuk menyaring dan men-sharing konten yang benar-benar akuntabel dari sisi substansi dan penyajiannya. Ketika masyarakat terus-menerus dicekoki oleh berbagai konten negatif karena kelemahan kemampuan dalam menyaring dan men-sharing konten, mereka dimungkinkan untuk terbius dan termakan dengan substansi negatif pada konten tersebut.

Berkenaan dengan berseliwerannya konten negatif pada media sosial, adalah tugas dan tanggung jawab berbagai elemen yang memiliki kepedulian untuk secara gencar mengampayekan cara bermedia sosial dengan sehat. Salah satu kampanye yang harus dilakukan adalah mengajak masyarakat untuk mengedepankan kesantuan dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana mereka berkomunikasi. Kampaye perlu dilakukan oleh berbagai elemen yang peduli, seperti pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, kementerian/lembaga, serta berbagai pihak lainnya. Dengan melakukan kampanye secara terstruktur, sistematis, dan masiv, diharapkan akan dapat mengurangi side effect dari pemanfaatan media sosial sebagai sarana masyarakat dalam berkomunikasi.

Kesantunan Bermedia Sosial

Dalam hal mendorong bertumbuh dan berkembangnya kesantuan dalam bermedia sosial ini, menarik sekali ungkapan yang disampaikan El Hajj Malik El Shabazz, Education is the passport to the future, tomorrow belongs to those who prepare for it today. Ungkapan tersebut lebih mengena pada fenomena keberlangsungan pendidikan, terutama pendidikan formal. Namun, ungkapan tersebut dapat diperluas dalam konteks pendidikan secara umum, di antaranya pendidikan terhadap masyarakat. Berbagai pihak, terutama para pemangku kepentingan harus terus-menerus dan tidak mengenal lelah untuk memberi pemahaman terhadap masyarakat terkait fenomena kehidupan yang dihadapi. Pemberian pemahaman terhadap masyarakat merupakan langkah strategis dalam menyiapkan mereka agar bisa survive dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

Demikian pula dengan fenomena maraknya pemanfaatan media sosial oleh masyarakat. Adalah langkah bijak ketika para pemangku kepentingan berkonsentrasi untuk memberi pencerahan dan pemahaman komprehensif kepada masyarakat akan bermedia sosial secara sehat yang salah satunya mengedepankan kesantunan.  

Kepemilikan kesantuan bermedia sosial oleh masyarakat penggunanya harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Masyarakat harus selalu pengedepanan kesantunan dalam berkecimpung dalam media sosial. Pemberian pemahaman tersebut dapat dilakukan melalui kampanye terstruktur, sistematis, dan masiv oleh berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap lahirnya masyarakat yang dapat bermedia sosial dengan sehat.

Masyarakat perlu diarahkan untuk memahami bahwa bermedia sosial tidak dapat dilakukan dengan semena-mena, tanpa menyertakan pranata yang harus dipatuhinya. Berkecimpung dalam media sosial membutuhkan pengetahuan tentang berbagai pranata. Dalam konteks ini, harus terbangun kesadaran bahwa mereka memiliki tanggung jawab terhadap berbagai tindakan dan sikap dalam bermedia sosial. Berbagai kasus telah memperlihatkan bagaimana akibat yang harus diterima dari kecerobohan masyarakat—akibat keengganan menaati pranata—dalam memanfatkan media sosial. Mereka harus berhadapan dengan sanksi sosial, bahkan sanksi hukum.

Berbagai langkah telah dilakukan oleh berbagai penentu kebijakan. Kemendikbud telah menetapkan regulasi Gerakan Literasi Nasional (GLN). Melalui GLN, masyarakat diharapkan memiliki kompetensi literasi yang linier dengan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa depannya. Demikian pula dengan Keminfokom telah pula melahirkan kebijakan tentang peta jalan literasi digital 2021-2024. Rumusan peta jalan tersebut secara eksplisit mengungkapkan empat pilar yang harus dibangun, yaitu digital skill, digital ethic, digital safety, dan digital culture. Kedua regulasi tersebut, salah satunya mengarah pada upaya untuk memberi pencerahan dan pemahaman kepada masyarakat agar menjadi sosok yang dapat memanfaatkan media sosial secara sehat.

Melihat kenyataan masyarakat dalam bermedia sosial, sedikitnya terdapat dua fenomena yang ada. Masyarakat dalam posisi sebatas menerima informasi (reseptif) dari berbagai pihak tertentu serta masyarakat yang aktif mengaktualisasikan berbagai berbagai pemikirannya (produktif).

Dalam konteks sebagai penerima informasi, masyarakat harus memiliki kepiawaian dalam mengkaji informasi yang diterima. Mereka harus mampu mengkaji kebenaran informasi yang diterimanya serta mereka pun harus mampu mengkaji kebermanfaatannya. Bila salah satu—apalagi keduanya—belum pasti atau masih diragukan, informasi yang diterima sudah selayaknya tidak disebar pada berbagai media sosial. Namun sebaliknya, bila informasi tersebut benar dan bermanfaat, informasi tersebut dimungkinkan untuk disebarkan.

Akah halnya dengan penyampaian informasi aktual dari hasil pemikiran pribadi (produktif), langkah yang harus dilakukan adalah melakukan kajian atas substansi informasi dan kajian atas bahasa penyampaiannya. Ketika salah satu dari keduanya—apalagi keduanya—belum benar atau belum pasti kebenarannya, informasi yang disusun belum memiliki kelayakan untuk disebar pada media sosial. Lain halnya, kalau keduanya sudah dianggap benar, maka informasi dapat langsung di-share pada berbagai media sosial.

Dari paparan di atas dapat ditarik konklusi bahwa kehatian-hatian dalam berkomunikasi melalui media sosial harus menjadi perhatian setiap masyarakat penggunanya. Salah dalam melangkah bisa berakibat fatal—harus berhadapan dengan sanksi sosial bahkan sanksi hukum. Apalagi melihat karakter ruang digital yang sulit menghapus rekam jejak digital. Rekam jejak digital siapapun—positif atau negatif—dapat diungkap siapapun tanpa mengenal ruang dan waktu.

Simpulan

Fenomena maraknya pemanfaatan media sosial oleh masyarakat merupakan sesuatu yang tidak bisa dibendung oleh siapapun. Langkah bijak dalam menyikapi fenomena ini adalah mendorong setiap pemangku kepentingan—pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, kementerian/lembaga, serta pihak lainnya—untuk bersama-sama berkonsentrasi guna memberi pencerahan dan pemahaman komprehensif kepada masyarakat akan bermedia sosial secara sehat yang salah satunya mengedepankan kesantunan.

Kepemilikan kesantuan bermedia sosial oleh masyarakat penggunanya harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Masyarakat harus mampu pengedepanan kesantunan dalam berkecimpung dalam media sosial. Pemberian pemahaman tersebut dapat dilakukan melalui kampanye terstruktur, sistematis, dan masiv oleh berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap lahirnya masyarakat yang dapat bermedia sosial dengan sehat.

Masyarakat harus diberi pemahaman terkait perlunya kehatian-hatian dalam berkomunikasi melalui media sosial. Mereka harus mampu mempertimbangkan secara matang terhadap informasi yang diterima atau dibuatnya. Salah dalam melangkah, bisa berakibat fatal, harus berhadapan dengan sanksi sosial bahkan sanksi hukum sekalipun. ****Disdikkbb-DasARSS.

 

PEMIMPIN DI BELAKANG LAYAR

Oleh: Retno Gandaresmi Fitroh

(Guru Bahasa Indonesia SMP PGRI 384 Rendeh)

“Pemimpin terbesar belum tentu orang yang melakukan hal besar. Dia adalah salah satu yang mencari dan menemukan orang untuk melakukan hal-hal besar.”  (Ronald Reagan)

Berkecimpung dalam dunia pendidikan terutama sebagai guru banyak sifat yang harus dimiliki. Hal ini  untuk memotivasi dan menjadi teladan semua peserta didik. Salah satu sifat yang harus dimiliki adalah kepemimpinan. Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sun Tulodo, dan Ing Madyo Mbangun Karso sangat lekat dengan kata kepemimpinan. Ketiganya memiliki arti yang dalam dengan sifat seorang pemimpin.

Pemimpin harus memiliki sifat Tut Wuri Handayani yang mengandung arti ketika seorang pemimpin berada di belakang dia harus mampu mendorong dan memberi semangat kepada para bawahannya, karena mereka sangat membutuhkan pemimpin yang dapat member mereka semangat. Sementara, Ing Ngarso Sun Tulodo memiliki makna jika seorang pemimpin berada di depan dia harus bisa menjadi suri tauladan bagi orang yang ada disekitarnya. Sedangkan, Ing Madyo Mbangun Karso memiliki makna jika seorang pemimpin berada ditengah-tengah dia harus mampu menjadi pembangkit dan penggugah semangat agar yang berada di sekelilingnya merasakan kenyamanan dan keamanan yang lebih dalam kesibukannya.

Selain itu, seorang pemimpin harus memiliki keterampilan dalam berusaha. Terdapat tiga keterampilan yang harus dimiliki seorang pemimpin:

  1. Technical skills, yaitu keterampilan pemimpin untuk melaksanakan pekerjaannya. Jika tidak memiliki sebuah keterampilan, apa yang akan bisa dia lakukan sebagai seorang pemimpin.
  2. Human skills, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan membangun tim bersama orang lain. Menjadi seorang pemimpin harus mampu membangun citra bersama orang lain, karena tanpa bantuan orang lain belum tentu kita bisa jadi seorang pemimpin yang sukses. dan untuk membuat teman kerja kita nyaman jangan batasi dengan kata atasan dan bawahan.
  3. Conteptual skills, yaitu kemampuan dalam berfikir dan mengungkapakan apa yang ada dipikirannya ke dalam sebuah konsep. Jika kita memiliki sebuah ide atau konsep, jangan hanya dibiarkan di dalam pikiran saja, tuangkan dalam secarik kertas dan buatlah konsep itu menjadi sebuah kesuksesan.

Manfaat memiliki sifat kepemimpinan adalah kita akan berusaha melaksanakan apa yang menjadi tanggungjawab dengan baik dan sesempurna mungkin. Selain itu, kita menjadi panutan dalam mengerjakan sesuatu dan menjadi contoh yang baik untuk ditiru, tentu tidak dengan diiringi rasa sombong.

Sosok seorang pemimpin yang bisa dijadikan sebagai contoh adalah Rasulullah Muhammad SAW. Mengapa beliau menjadi sosok pilihan?  Karena Rasulullah dapat menjadi seorang pemimpin di manapun berdiri. Sosok beliausangat berwibawa dan patut untuk diteladani. Beliau adalah sosok pemimpin nyata yang akan sulit ditemukan di zaman sekarang. Seorang pemimpin tanpa cacat di muka bumi ini. Sekarang kita dapat berpikir, Bagaimana menjadi seorang pemimpin? Bisakah kita menjadi seorang pemimpin? Seharusnya sebagai khalifah di bumi ini kita meniru kepemimpinannya.

Seperti diketahui, menjadi seorang pemimpin haruslah mengetahui sejumlah kriterianya.  Dan yang terpenting adalah mempunyai niat yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin. hal ini dikarenakan pada dasarnya dalam diri setiap manusia itu sudah memiliki sifat kepemimpinan. Terutama memimpin dirinya sendiri. Jika ingin menjadi seorang pemimpin kita juga harus percaya pada diri bahwa kita bisa menjadi pemimpin yang sukses. jejali pikiran kita dengan kata sukses dengan menujukkan usaha maksimal demi meraih hal itu.

Selain di atas, buktikan bahwa kita layak dipercaya sebagai seorang pemimpin. Jangan kecewakan yang dipimpin. buatlah bangga siapapun yang dipimpinnya.  Selama kita kerja keras, pasti akan ada jalannya.

Sebagai guru kita adalah pemimpin di kelas. Memimpin siswa dalam melakukan hal besar untuk masa depannya. Sebagai sosok pemimpin, guru harus bisa memotivasi, mendorong, membangkitkan semangat mereka untuk belajar dan mencari kelebihan yang akan membawanya menuju kesuksesan.

Guru adalah sosok penting yang berdiri di belakang layar orang-orang sukses di muka bumi ini. Mengapa demikian?  Sesuai dengan salah satu lambang di dunia pendidikan yaitu Tut Wuri Handayani dimana guru menjadi pemimpin di belakang yang mendorong dan memotivasi para siswanya.  Karena sesungguhnya siswa membutuhkan sosok penyemangat yang akan siap memberikan arahan dan bantuan yang mereka butuhkan.

Akhirnya, guru akan tersenyum bahagia melihat anak-anaknya menjadi apa yang mereka inginkan. Guru adalah pemimpin yang tak kenal lelah untuk menuntun para siswanya meraih asa, menuju bintang, dan kehidupan penuh warna-warni dunia. Selamat menjadi pemimpin sukses. ***

Profil Penulis

Retno Gandaresmi Fitroh  dilahirkan di Bandung 31 Agustus 1990. Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan artikelnya pernah dimuat di Koran Radar Bandung dan Koran Pendidikan Malang saat mahasiswa. Kini, tulisan lainnya tersimpan rapih di komputer. Aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP PGRI 384 RENDEH. Pembimbing TMBB (Tantangan Membaca Bandung Barat).

Editor: Adhyatnika Geusan Ulun

 

 

WARGA LITERAT DIGITAL

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Pendahuluan

Gerakan Literasi Nasional (GLN) adalah gerakan pendidikan yang mengarah pada upaya pemberian pemahaman terhadap warga untuk menjadi sosok literat. Sekalipun Gerakan ini didasari oleh lahirnya regulasi dari Kemendikbud, tetapi penggerak keberlangsungan gerakan ini tidak dapat menihilkan peran berbagai pemangku kepentingan. Berbagai pihak—pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, kementerian/lembaga, serta pihak lainnya—dituntut untuk dapat terlibat secara aktif dalam mengimplementasikan program ini.

Kepemilikan kompetensi literasi oleh seluruh warga harus mendapat perhatian dan dorongan serius. Perhatian atau dorongan yang dapat dilakukan adalah pengemasan program literasi dengan muara untuk memberi pemahaman tentang pentingnya kepemilikan kompetensi literasi dalam menghadapi kehidupan ini. Melalui pengemasan program literasi yang baik, setiap warga dimungkinkan memiliki modal dasar untuk melakukan pengembangan wawasan keilmuan yang akan bermanfaat dalam menyikapi kehidupan mereka. Dengan kata lain, kepemilikan kompetensi literasi menjadi sangat urgent dalam upaya menyiapkan setiap warga agar dapat survive dalam menghadapi kehidupannya.

Literasi digital merupakan salah satu dari keenam kompetensi literasi—selain literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewarganegaraan. Kepemilikan kompetensi literasi digital merupakan tuntutan yang harus dimiliki pada era revolusi industri 4.0. Dengan demikian, akselerasi kepemilikan kompetensi ini harus terus dilakukan oleh berbagai pihak yang memiliki perhatian besar terhadap penyiapan sumber daya manusia masa kini dan masa depan.

Kenyataan memperlihatkan bahwa ruang digital saat ini diserbu banyak konten yang bisa dikonsumsi oleh setiap penggunanya. Konten yang mewarnai ruang digital tersebut sangat heterogen. Tidak hanya konten positif saja yang tampil pada ruang ini, tetapi tidak sedikit pula konten negatif yang bisa ditemukan dengan mudah pada ruang digital. Keberadaan konten negatif tersebut tidak jarang, menyinggung unsur suku, agama, ras, antargolongan, dan privasi individu. Bahkan, berbagai konten berbau berita bohong, ujaran kebencian, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, hoax, dan lainnya sangat banyak berseliweran di ruang digital. Bertaburannya konten negatif pada ruang digital tersebut sangat mengkhawatirkan banyak pihak karena dimungkinkan akan manjadi candu yang dapat merusak tatanan ekosistem kehidupan ini.

Keberadaan konten negatif yang mewarnai ruang digital tersebut hanya bisa ditangkal dengan membangun kesadaran akan bahayanya konten tersebut bagi kehidupan individual dan kolektif, terutama bagi keajegan tatanan ekosistem kehidupan yang selama ini telah dibangun. Kesadaran ini perlu digaungkan, di antaranya dengan memanfaatkan berbagai pemangku kepentingan bersama elemen masyarakat lain yang memiliki perhatian besar terhadap pemberian pendidikan terhadap warga masyarakat.

Warga Literat Digital

Sampai saat ini kehidupan manusia sudah berada pada era revolusi industri 4.0 dengan fenomena pemanfaatan teknologi digital yang mampu memobilisasikan entitas pengetahuan secara cepat, murah, dan masiv. Era ini melahirkan fenomena disrupsi pada sebagian besar pranata kehidupan masyarakat. Berbagai pola kehidupan yang selama puluhan tahun begitu mendominasi, secara terpaksa harus tergantikan dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai medianya. Era revolusi industri 4.0 melahirkan lompatan besar teknologi dengan adanya symptom pemanfaatan teknologi digital secara masiv dan optimal pada berbagai elemen masyarakat.

Berkenaan dengan hal tersebut, adalah tugas dan tanggung jawab berbagai pihak yang care terhadap keberlangsungan kehidupan ini untuk dapat merespon fenomena era revolusi industri 4.0. Langkah yang harus dilakukan adalah mendorong setiap warga agar menjadi sosok literat digital. Dengan tampilan sosok literat digital, dimungkinkan hingar-bingar dengan berbagai hal yang tidak begitu penting pada ruang digital akan relatif terkurangi.

Literasi merupakan istilah yang merujuk pada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dari pengertian tersebut, literasi tidak dimaknai secara sempit yang mengarah pada kemampuan reseptif semata, tetapi mengarah pula pada kemampuan produktif. Tampilan kemampuan produktif dapat direalisasikan setelah seseorang melewati tahapan kemampuan reseptif. Untuk sampai pada kondisi demikian, tidak dapat lahir atas inisiatif pribadi semata, tetapi dapat terlahir dari pemberian ruang dan waktu yang sangat luas melalui penerapan berbagai program strategis.

Literasi digital dimaknai sebagai pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkan secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari paparan di atas dapat ditarik konklusi bahwa literasi digital mengarah pada dua domain. Kedua domain tersebut yaitu kompetensi mengoperasionalkan perangkat digital (tecnological literacy) serta Kompetensi memroses informasi dari perangkat digital secara optimal (information literacy). Kedua domain inilah yang harus menjadi perhatian berbagai pihak terhadap keberlangsungan program literasi digital.

Setiap warga perlu memahami bahwa literasi digital merupakan kompetensi penting yang dituntut untuk dapat berpartisipasi aktif dalam era kehidupan saat ini. Namun, di balik tuntutan tersebut harus pula terbangun kesadarannya bahwa mereka memiliki tanggung jawab terhadap pemanfaatan perangkat digital untuk berinteraksi dalam kehidupan kesehariannya. Dalam upaya memupuk keterbangunan tanggung jawab setiap warga, barangkali pemahaman akan rumusan peta jalan literasi digital 2021-2024 bisa menjadi rujukan. Dalam rumusan peta jalan tersebut secara eksplisit mengungkapkan empat pilar yang harus dibangun pada diri setiap warga, yaitu digital skill, digital ethic, digital safety, dan digital culture.

Sejauh ini, permasalahan yang paling mendominasi dalam ruang digital, terkait dengan kompetensi pemrosesan informasi. Kompetensi ini bila dikaitkan dengan keempat pilar literasi digital, bersinergis dengan digital ethic, digital safety, dan digital culture. Barangkali, langkah cepat yang harus dilakukan adalah mengupayakan program yang memberi pemahaman terhadap pemrosesan informasi. Penerapan langkah ini tentu tidak pula mengesampingkan program pengoperasionan perangkat digital.

Upaya pengimplementasian program guna memberi pemahaman terhadap setiap warga akan kemampuan memproses informasi menjadi pekerjaan rumah bagi berbagai setiap pemangku kepentingan. Dengan penerapan berbagai program secara masiv, dimungkinkan akan dapat mengurangi hingar-bingar pada ruang digital, sehingga energi yang selama ini dicurahkan untuk menyikapinya dapat dialihkan pada berbagai aktivitas lain yang lebih bermakna dan bermanfaat.

Melalui keterbangunan kompetensi literasi digital akan tercipta tatanan kehidupan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis dan kreatif. Setiap orang tidak akan dengan mudah termakan oleh isu provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital. Dengan kompetensi literasi digital, kehidupan sosial dan budaya akan cenderung lebih aman dan kondusif.

Simpulan

Kepemilikan kompetensi literasi digital pada setiap warga harus mendapat perhatian serius sehingga setiap pemangku kepentingan—pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, kementerian/lembaga, serta pihak lainnya—diharapkan dapat menyusun berbagai program dengan nuansa pengembangan literasi digital. Hal itu perlu dilakukan karena pemahaman warga akan kompetensi literasi digital, terutama kemampuan memproses informasi masih sangat minim.

Saat ini ruang digital dipenuhi dengan berbagai berbagai konten berbau berita bohong, ujaran kebencian, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, hoax, dan lainnya. Banyaknya konten negatif pada ruang digital tersebut sangat mengkhawatirkan karena akan manjadi candu yang dapat merusak tatanan ekosistem kehidupan ini.

Dengan demikian, para pemangku kepentingan dituntut untuk melakukan upaya nyata guna mendorong lahirnya kepemilikan kompetensi literasi digital. Melalui keterbangunan kompetensi literasi digital akan tercipta tatanan kehidupan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis dan kreatif. Setiap warga tidak akan dengan mudah termakan oleh isu provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital. ****Disdikkbb-DasARSS.

 

CARA MEMBUAT IPS TIDAK MEMBOSANKAN

Oleh: Rizky Kurnia Rahayu, M.Pd.

(Guru IPS SMPN 1 Gununghalu)

Pembelajaran dengan menggunakan pola di luar jaringan ternyata dapat memantik semangat anak untuk tetap belajar. Pengiriman materi pembelajaran melalui classroom dalam bentuk video, materi ataupun gambar ternyata bisa menjadi penepis anggapan bahwa mata pelajaran IPS membosankan

Latar Belakang

Tugas utama seorang guru dalam memberikan pelayanan pendidikan  kepada para siswanya, yaitu dengan cara mengondisikan mereka agar belajar secara aktif dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga potensi mereka dapat berkembang secara optimal.

Hal di atas senada dengan pendapat dari Hamalik (1999:3) bahwa pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan untuk berfungsi secara adekuat dalam kehidupan masyarakat.

Seperti diketahui, kegiatan belajar mengajar yang aktif dalam setiap kegiatan pembelajara akan membuat siswa terlatih dan terpicu untuk memiliki kompetensi. Hal ini diperlukan dalam  membentuk kecakapan hidup sebagai bekal hidup di kemudian hari.

Di sisi lain, bagi sebagian besar siswa, mata pelajaran IPS merupakan pelajaran yang sering membuat jenuh. Menurut mereka materi pembelajaran IPS sangat banyak dan sering menyita waktu. Oleh karena itu, untuk menghilangkan stigma penilaian ini, setiap guru mata pelajaran IPS mendapatkan tantangan untuk menepisnya. Sehingga semuanya berupaya membuktikan bahwa mata pelajaran ini merupakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Tantangan terbesar lainnya yang sering dihadapi guru pada masa pandemi sekarang ini adalah pembelajaran jarak jauh. Hal ini sesuai dengan anjuran pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Oleh karena itu, guru dituntut untuk berkreasi dan melakukan terobosan agar pelayanan pendidikan tidak terhenti, dan siswa mendapatkan hak pengajarannya.

Di lain pihak, pembelajaran langsung dengan moda dalam jaringan pun sering menghadapi kendala. Selain sarana dan prasarana siswa yang tidak memadai. Kurangnya akses jaringan internet, juga keterbatasan kuota yang dimiliki. Selain itu, pemberian modul pembelajaran pun bukan merupakan jalan terbaik.

Langkah Penyelesaian

Untuk memecahkan permasalahan tersebut di atas, penulis mencoba melakukan pembelajaran dengan pola membuat grup dalam aplikasi classroom untuk setiap kelas. Dimana setiap kelasnya dibuat kelompok belajar dengan jumlah siswa terbatas, maksimal 5 orang. Materi pembelajaran dikirim ke melalui flatform tersebut agar tidak membosankan siswa. Sehingga  materi dicampur bisa berbentuk video, slide atau materi disesuaikan dengan materi ajarnya.

Sementara itu, untuk memfasilitasi mereka yang terkendala dengan teknologi dan tidak bisa mengikuti aktivitas belajar melalui classroom, maka guru membuat kelompok belajar siswa melalui grup whatsapp dan membuat jadwal kunjungan ke setiap kelompok tersebut sambil membawa materi pembelajaran dengan durasi dua jam pelajaran.

Kunjungan guru kepada siswa yang dibagi beberapa kelompok ini dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Selanjutnya, untuk pengumpulan tugas bisa melalui classroom, atau bisa melalui fasilitas grup whatsapp. Dan bagi siswa yang terkendala dengan fasilitas-fasilitas ini bisa mengumpulkan tugas pada saat guru berkunjung minimal satu minggu sekali.

Hasil

Meskipun menghadapi berbagai kendala, ternyata cara di atas cukup ampuh untuk menjaga dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Mereka memiliki respon yang baik. Hal ini tampak saat tugas-tugas yang diberikan guru bisa mereka kerjakan dan penuhi. Dan apabila materi yang dikirim melalui fasilitas classroom ada yang kurang dimengerti, siswa bisa minta penjelasan langsung pada saat guru berkunjung

Simpulan

Pembelajaran dengan menggunakan pola diluar jaringan ternyata dapat memantik semangat siswa untuk tetap belajar. Pengiriman materi pembelajaran melalui classroom dalam bentuk video, materi ataupun gambar ternyata bisa menjadi penawar anggapan mata pelajaran IPS adalah pelajaran yang membosankan.

Akhirnya, kondisi pandemi bukan halangan untuk menghambat kegiatan belajar-mengajar, pola dan cara terbaik harus terus diciptakan dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Namun, penulis tetap berharap keadaan segera membaik agar pembelajaran bisa dilaksanakan secara maksimal, karena secanggih apapun teknologi, tetap tidak akan bisa menggantikan manusia.***

Sumber

Hamalik, Oemar. 2008, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara

Catatan: Tulisan di atas lebih lengkap dapat disimak di Buku Kumpulan Best Practice Guru yang segera akan terbit.

Profil Penulis:

Rizki Kurnia Rahayu, lahir 2 Juli 1980 di Gununghalu. Saat ini bertugas mengajar mata pelajaran IPS di SMPN 1 Gununghalu dan tinggal di Kec.Rongga, Bandung Barat. Alumni Pendidikan Ekonomi FPIPS – UPI Bandung 2004, Alumni Pasca Sarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial – STKIP Pasundan Cimahi 2009.

Editor: Adhyatnika Geusan Ulun