RAJA BULAN PUN PULANG…

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Ramadaan telah pergi meninggalkan  kita. Bulan Rahmah, Berkah,  dan Maghfirah   Allah  sudah       pergi mengikuti   langkah  sunattullah untuk  menjauh  dan  sebelas  purnama kemudian datang kembali. Pertanyaan bagi kita adalah: Pelajaran apa yang didapat dari Raja Bulan ini?

Bulan suci Ramadan mengingatkan tentang iman. Dengan imannya manusia disadarkan tenatng pentingnya makna keyakinan akan kekuasaan Allah. Keyakinan tentang kasih sayang dan kepercayaan akan eksistensi kita sebagai orang mukmin yang  beriman kepada Nya. Hal ini dikaitakan dengan bukankah  puasa hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman sesuai dengan konteksnya: Yaa ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumusshiyam. (QS. Al Baqarah:183).

Hal di atas mengandung arti bahwa Allah menganugerahkan Kasih Sayang Nya  berupa rahmat bagi orang yang beriman. Dia menurunkan berkah Nya hanya bagi orang yang beriman, dan Dia menurunkan Maghfirah Nya hanya untuk orang yang beriman. Orang yang mau dan patuh terhadap perintah Nya untuk berpuasa.  Allahu rofi’u darojati lil mu’minin…

Pelajaran berharga yang lainnya adalah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.  Maka, dengan keyakinan orang beriman diingatkan bahwa sekecil apapun kenikmatan yang dirasakan harus diyakini semuanya berasal dari Allah. Karena tidak ada satupun Dzat yang mampu memberikan kenikmatan kecuali Allah.

Ketika hal  tersebut sudah terpatri di dada, maka pada akhirnya sebesar apapun ujian yang Allah timpakan kepada kita,  seberat apapun  musibah yang menerpa kita, akan diyakininya  pasti ada jalan keluar, bagi mereka yang senantiasa bertawakal, berserah diri kepada Allah.  Mayyataqillah yaj’alahu makhroja…

Sering digambarkan bahwa terbayang dan terasa ketika berpuasa,  bagaimana  perihnya perut yang lapar. Keringnya tenggorokan karena dahaga. Letihnya badan karena energi yang dibutuhkan sangat kurang.  Namun karena keyakinan yang kuat,  bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Semua penderitaan akan  berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa manakala berjumpa dengan saat berbuka.

Sesunggunya hal di atas hendaknya  menjadi bekal untuk sebelas bulan ke depan, bahwa segala penderitaan yang mungkin dialami oleh kita, diujinya kita dengan kesempitan rizki akibat dililit hutang piutang, dihimpitnya kita akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, kemakmuran menjadi semakin jauh dari harapan, penghidupan yang layak menjadi suatu impian,  diujinya kita dengan penyakit yang tak kunjung sembuh,  penderitaan juga bisa  berupa penghinaan karena status sosial kita, bisa karena jodoh yang tak kunjung tiba bagi yang belum memperoleh pasangan, bisa juga terpaan fitnah dan musibah yang seakan tak berakhir singgah di keluarga kita.

Hal-hal tersebut  bagi orang yang sudah dilatih dengan puasa harus diyakini bahwa segala kesulitan seberat apapun itu, pasti akan ada jalan keluar, dan pasti telah Allah siapkan segala sesuatunya sesuai dengan kadar kesanggupan umatnya. Fa inama’al ushri yusron innama’al ushri yusroo.

Dan  Alloh tidak akan pernah membebani hamba Nya  dengan sesuatu yang kita tidak mampu memikulnya. La yukallifullohu nafsan illa wus ‘ahaa…

Berikutnya adalah diingatkan bahwa Ramadan adalah syahrul Qur’an. Bulan dimana diturunkannya Alquran, kitab suci  umat Islam. Alquran diturunkan oleh Allah sebagai Hudaan, petunjuk. Sebagai bayinah, penjelas. Sebagai  syifa,  obat.  Petunjuk bagi siapapun yang merindukan kebenaran, yang mendambakan keadilan, yang mengharapkan rida Allah. Alquran mengupas segala permasalahan manusia, dia menjadi solusi segala persolaan hidup dan kehidupan manusia, dan menjadi sumber dari segala sumber hukum.

Seperti diketahui, Alquran diturunkan dengan membawa misi-misi yang mulia. Pertama, membebaskan manusia dari kemusyrikan.  13 tahun periode Mekah, baginda Rasul membina  iman, memantapkan akidah, membangun keyakinan dan menanamkan kembali nilai-nilai Islami yang sekian lama dilupakan akibat kejahiliyahan manusia.

Seyogyanya, hal ini ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa biar zaman boleh berubah, waktu boleh berlalu, tetapi iman tak boleh goyah, akidah tetap istiqamah. Sekali melangkah pantang surut mundur dalam hal keyakinan.  Karena sesungguhnya Alquran  menjadi lampu petunjuk langkah kehidupan manusia.

Misi yang kedua diturunkannya Alquran adalah membebaskan manusia dari ras diskriminisasi, membebaskan dari perbudakan, perbedaan warna kulit, dan menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki derajat yang sama. Biar suku berbeda, walapun bangsanya tidak sama, biar status sosialnya tidak  sederajat, tetapi bila satu akidah, satu keyakinan dia adalah saudara kita. Yaa ayyuhannaas inna kholaqnakum min jakariw wa unsa waja’alnakum tsu ubawaqobaila lita’arofu inna  akromakum ‘indallohi atqokum. Innalloha ‘aliman khobiir-Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang bertaqwa, sesungguhnya  Alloh Maha Mengetahui lagi Maha mengenal.  (QS Al Hujurat : 13)

Sesungguhnya, di hadapan Allah, tidak ada yang lebih mulia karena tingginya pangkat, karena harta dan karena jabatannya, tetapi hanyalah orang yang bertakwa kepada Nya yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya,  yang senantiasa bersyukur bila mendapat kenikmatan, dan bersabar bila menghadapi ujian,  itulah yang sebenarnya mulia di hadapan Allah.

Oleh sebab itu, sangatlah sayang apabila masih diantara kita menyimpan permusuhan, akibat kesalahpahaman, sangatlah sayang hidup ini  disia-siakan karena sibuk menyimpan dendam, padahal terbentang dihadapan kita satu kehidupan yang akan banyak menyita perhatian, yakni  kehidupan akhirat yang kekal,  yang akan meminta pertanggungjawaban terhadap segala perbuatan kita, amal baik sekecil apapun akan dihisab, begitupan  amal yang jelek. Famanyya’mal mitsqola zarotin khoiroyyaroh  waman ya’mal mitsqola zarotin syaroyyah

Oleh karena itu, dulu, sebelum pandemi, pada hari yang penuh dengan kesucian ini hendaknya bermusafahah. Bersentuhan tangan sebagai wasilah saling mema’afkan. Bergandengan tangan  menuju suatu kehidupan  yang baru.  Sudah bukan masanya lagi kita berdebat tentang suatu yang tidak berguna. Sudah bukan waktunya lagi mempersoalkan tentang  urusan pribadi, sementara dihadapannya menumpuk kepentingan umum yang jauh lebih berguna.  Malah sekarang saatnya kita menyusun shaf-shaf  menyusun barisan seperti halnya salat berjama’ah yang demikian rukun dan tertib.

Di masa pandemi saat ini, hendaknya  dari sekarang diitikadkan untuk menempatkan persatuan di atas segalanya. Lebih melihat persamaan ketimbang perbedaannya.  Lebih mengedepankan keselamatan umat ketimbang mengedepankan ego sendiri.

Alangkah indahnya bila kita mampu mewariskan sesuatu yang berguna bagi anak cucu kita  yakni kedamaian, persatuan,  buah dari kebersamaan kita dengan saudara, tetangga dan lingkungan sekitar kita.

Misi ketiga Alquran adalah menggiring manusia ke arah yang benar menurut  tuntunan Allah dan Rasulullah SAW. Saat memperhatikan fenomena sekarang adalah betapa sebagian besar  diantara kita masih menempatkan Alquran hanya sebagai pajangan dan label keislaman saja. Padahal Alquran telah mengantarkan umat manusia pada keadaan beradab seperti sekarang ini. Alquran telah menggiring manusia dari jaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang. Alquran telah menghantarkan umat manuisa dari masa kebodohan menuju masa yang serba berpengetahuan, minazhulumat ilannuur

Akhirnya, Raja Bulan sebentar lagi akan pergi. Tersisa nilai-nilai mulia yang ditinggalkannya. Namun, hendaknya kita selalu menatap ke depan agar keagungan bulan suci ini tidak hilang.

Ramadan tahun ini hendaknya menjadi momentum yang baik untuk menempatkan kembali  nilai iman, syukur, sabar, taat, dan Alquran sebagai sahabat dimanapun berada.

Semoga semuanya menjadi cahaya  ilahi yang akan menerangi di setiap  langkah di kehidupan. Masa  sekarang, dan akan menjadi petunjuk dalam kehidupan, serta menjadi penyelamat disaat tidak ada penyelamat lagi kecuali yang dadanya telah terpatri nilai keyakinan, syukur, sabara, ikhlas, dan Alquran.

Waalahualam.

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

 

 

TIGA PILAR

 


Dadang A. Sapardan
(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol ringan dengan beberapa orang guru yang terbiasa menjadi teman diskusi di saat waktu senggang. Obrolan ringan tersebut berisi tentang penerapan berbagai kebijakan pendidikan yang selama ini diberlangsungkan. Sekalipun tidak dikemas dengan nuansa keseriusan, obrolan mengarah pada upaya pencarian format nyata tentang pemajuan pendidikan, terutama pada ranah kualitas. Obrolan tersebut pada akhirnya berujung pada konklusi bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata mengandalkan sekolah sebagai aktor tunggal, tetapi harus ditopang dengan komitmen dari pihak lain yang memiliki perisnggungan dengan kebijakan dan implementasi pendidikan.

Berbicara pendidikan, seakan bergumul dengan banyak elemen yang tidak akan pernah habis-habisnya untuk dikupas. Bahasan tentang pendidikan begitu seksinya untuk dikupas dalam berbagai forum formal atau non-formal, maupun dari berbagai sudut pandang. Banyak sekali pendapat dan pemikiran berdasarkan berbagai kajian yang diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan. Pendapat yang terungkap tersebut di antaranya menyajikan solusi terbaik—menurut pandangan mereka—guna mendorong pemajuan pendidikan ke arah yang lebih baik lagi.

Melihat keterlahiran regulasi yang mengarah acuan penerapan kebijakan pendidikan, regulasi yang menjadi acuannya adalah tentang standar nasional pendidikan (SNP). Baru-baru ini Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Produk hukum ini merupakan regulasi terbaru yang mengganti regulasi lama dalam upaya menyesuaikan dengan kebutuhan kekinian dan masa depan—dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kehidupan masyarakat.

Lahirnya regulasi tersebut mengungkapkan delapan standar minimal dalam pengelolaan sekolah—kedelapan standar tersebut memiliki kesamaan dengan regulasi lama yang selama ini menjadi acuan. Kedelapan standar minimal yang disebut standar nasional pendidikan (SNP) tersebut, yaitu: 1) standar kompetensi lulusan, 2) standar isi, 3) standar proses, 4) standar penilaian, 5) standar pendidik dan tenaga kependidikan, 6) standar pengelolaan, 7) standar sarana dan prasarana, dan 8) standar pembiayaan.

Kedelapan standar dalam SNP tersebut membentuk rangkaian input, proses, dan output sebagai realisasi penerapan pendekatan education production fungction. Standar yang termasuk unsur input adalah sarana dan prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, pengelolaan, serta pembiayaan. Standar yang termasuk unsur proses adalah standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Sedangkan standar kompetensi lulusan merupakan bagian dari output atau muara dari input dan proses.

Kedelapan SNP tersebut dimungkinkan sebagai sarana untuk pencapaian visi pendidikan Indonesia yang belum lama ini di-release oleh Kemendikbud. Visi pendidikan Indonesia yang dimaksud adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global.

Dalam upaya mendorong sekolah agar dapat memencapai visi tersebut bukanlah perkara mudah. Sekolah sebagai ekosistem pendidikan yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik guna mewujudkan profil pelajar Pancasila perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama dari setiap stakeholder pendidikan.

Karena itu, posisi sekolah yang menduduki tempat strategis sebagai elemen teknis kebijakan pendidikan, dalam setiap langkahnya harus ditopang oleh penerapan kebijakan teknis yang serius. Tidak kurang dari tiga pilar yang harus menjadi perhatian sekolah dalam mendorong kemajuan pengelolaan pendidikan. Ketiga pilar tersebut adalah manajemen pembelajaran yang kredibel, manajeman pengelolaan sekolah yang akuntabel dan transparan, serta peran serta orang tua dan masyarakat yang intens terhadap perkembangan sekolah.

Berkenaan dengan keterlahiran manajemen pembelajaran yang kredibel, langkah yang harus dilakukan adalah penumbuhan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran. Penumbuhan profesionalisme guru ini dimaknai sebagai upaya melahirkan sosok kompeten guna melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar serta berkomitmen kuat untuk meningkatkan kompetensinya. Penerapannya tentu dilakukan dalam konteks kurikuler secara komprehensif—intrakurikulur, ekstrakurikulur, serta kokurikuler.

Dalam kaitan dengan manajeman pengelolaan sekolah yang akuntabel dan transparan bisa dimaknai bahwa manajemen yang diterapkan harus ditopang oleh oleh tahapan-tahapan yang sistematis—perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Keempat langkah tersebut tidak bisa dilakukan dengan serampangan, tetapi harus dijalankan dengan mengikuti ketentuan normatif sehingga benar-benar akuntabel dan transparan. Dalam konteks ini, manajemen pengelolaan sekolah yang diterapkan harus dibangun atas dasar kebersamaan oleh seluruh unsur ekosistem sekolah.

Peran serta dan dukungan orang tua dan masyarakat merupakan modal besar yang tidak bisa dikesampingkan dalam upaya memajukan sekolah. Pihak sekolah harus dapat merangkul kedua elemen tersebut dengan baik, sehingga mereka memiliki perhatian besar terhadap laju perkembangan sekolah. Timbulnya perhatian besar tersebut dimungkinkan terjadi karena di sana terdapat anak-anak mereka yang tengah mengikuti pendidikan. Untuk itu, sekolah harus membuka lebar-lebar kanal komunikasi yang dapat menampung dan memfasilitasi berbagai ide dan pemikiran, sumber belajar, serta pembiayaan dari elemen orang tua dan masyarakat.

Ketiga pilar pendukung keberlangsungan pengelolaan sekolah tersebut dimungkinkan dapat menjadi penopang keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan seperti yang tertuang dalam visi pendidikan Indonesia. ****Disdikkbb-DasARSS.

KETAR-KETIR

Dadang A. Sapardan
(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Menjelang perayaan Idul Fitri 1442 H, media sosial diramaikan dengan berbagai informasi tentang gambaran perilaku warga yang memaksakan diri untuk mudik ke kampung halamannya. Fenomena mudik merupakan budaya yang sudah lama berlangsung, sehingga kurang afdol ketika perayaan Idul Fitri tidak diwarnai dengan prosesi mudik ke kampung halaman. Namun, sejalan dengan merebaknya pandemi Covid-19, fenomena budaya mudik selama dua tahun terakhir ini menjadi sebuah dilema bagi berbagai pihak. Karena itu, untuk menekan keberlangsungan fenomena ini, pemerintah membuat regulasi yang melarang setiap warganya melaksanakan mudik ke kampung halamannya.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, perayaan Idul Fitri identik dengan prosesi mudik ke kampung halaman masing-masing. Karena sudah menjadi budaya lama dan turun temurun, kegiatan mudik seakan menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap warga yang selama lebih kurang setahun lamanya mengais rezeki di perkotaan sebagai tempat perantauannya. Mudik ke kampung halaman menjadi pemandangan rutin yang biasa terjadi menjelang keberlangsungan perayaan Idul Fitri.

Sejalan dengan merebaknya pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan regulasi yang melarang setiap warga masyarakat melakukan mudik. Penerapan pelarangan ini sudah berlangsung selama dua kali perayaan Idul Fitri. Pelarangan yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut merupakan upaya represif untuk menekan laju perkembangan pandemi Covid-19.

Dengan berbondong-bondongnya warga masyarakat yang melakukan mudik ke kampung halamannya, dikhawatirkan akan menjadi sarana pemicu penularan dan penyebaran Covid-19 terhadap setiap warga di perkampungan yang selama ini cukup hening dengan hiruk-pikuk penyebarannya. Atas dasar kekhawatiran tersebut, dengan mengerahkan potensi yang dimiliki, pemerintah melakukan upaya untuk menghambat keberlangsungan mudik dari setiap warganya.

Ketar-ketir dan kekhawatiran tersebut tidak saja dirasakan oleh pemerintah semata, tetapi dirasakan pula oleh warga lainnya yang paranoid dengan penyebaran Covid-19. Tentunya, kekhawatiran pun mendera setiap tenaga kesehatan yang secara langsung akan terkena imbas dari dampak kegiatan mudik yang dikhawatirkan akan menjadi sarana penyebaran Covid-19. Para tenaga kesehatan yang selama ini terus berjibaku untuk mentretatment warga yang terpapar Covid-19, dimungkinkan didera oleh rasa khawatir penyebaran dan perluasan pandemi ini. Bukan tidak mungkin, bila kenyataan pahit itu terjadi, mereka harus mengeluarkan energi ekstra dalam melakukan penanganannya.

Sekalipun demikian, tidak sedikit masyarakat yang memaksakan diri untuk melakukan mudik ke kampung halamannya. Bahkan tidak sedikit pula para pelaku usaha transportasi dan ekonomi lainnya yang mengeluhkan bahkan menghujat kebijakan yang diterapkan pemerintah tersebut. Belum lagi, ‘kipasan’ dari pihak lain—entah apa motifnya—yang seakan mendorong masyarakat untuk memaksakan diri melakukan mudik. Mereka seakan bersorak-sorai ketika warga yang berniat melakukan mudik melakukan ‘perlawanan’ dan ‘pemaksaan’ terhadap petugas yang tengah melaksanakan penyekatan di jalan-jalan. Berbagai ‘kipasan’ dari pihak-pihak tertentu tersebut dapat dengan mudah ditemuka pada berbagai media sosial.

Kekhawatiran pelaksanaan mudik akan menjadi pemicu semakin meluasnya penyebaran Covid-19 memang sangat beralasan. Dengan memberi kelonggaran terhadap warga untuk melaksanakan mudik, akan terjadi mobilisasi masyarakat dari perkotaan ke pedesaan. Mobilisasi ini, dimungkinkan akan diiringi dengan penyebaran Covid-19 pada warga pedesaan yang selama ini sangat nyaman dengan minimnya tingkat penyebaran Covid-19 di daerahnya. Belum lagi, selama keberlangsungan bulan Ramadhan ini, warga India tengah didera fenomena masivnya penyebaran Covid-19. Masiv-nya penyebaran Covid-19 di India—dengan disertai lahirnya varian baru yang dijuluki strain Bengal—membuat berbagai pihak berjibaku untuk mencurahkan energi guna melakukan penekanan penyebarannya. Bagaimana pemerintah India dengan didukung potensi tenaga kesehatan yang dimiliki berjibaku untuk melakukan treatment terhadap warganya yang terpapar Covid-19. Karena kewalahan dengan masiv-nya penyebaran Covid-19 terhadap warganya, mereka meminta bantuan negara lain untuk turut serta berjibaku meredam penyebarannya. Dengan fenomena tersebut, bukan pihak-pihak internal saja yang harus berupaya mencurahkan energinya untuk melakukan treatment, tetapi merambah pada negara lain untuk memberi bantuan, guna berperan serta memeranginya.

Bisa dimungkinkan, timbulnya kekhawatiran pemerintah tersebut, salah satunya berangkat dari fenomena yang melanda warga India tersebut. Bisa dipahami bila pemerintah dengan sangat ketat melakukan berbagai upaya untuk menekan agar dalam perayaan Idul Fitri 1442 H ini, masyarakat tidak melakukan mudik seperti yang biasa dilakukan beberapa tahun ke belakang.

Ketika pemerintah memberi kelonggaran terhadap terpenuhinya hasrat warga untuk melakukan mudik, dikhawatirkan penyebaran Covid-19 akan lebih masiv mendera masyarakat pedesaan yang selama ini begitu nyaman dengan kehidupannya. Ketika penyebaran benar-benar berlangsung—mudah-mudahan hal ini tidak terjadi—yang diakibatkan oleh mobilisasi masyarakat lewat pemuasan hasratnya untuk mudik, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan episentrum baru penyebaran Covid-19. Hal itu akan memicu kerepotan seluruh warga dan tentunya kerepotan pemerintah beserta tenaga kesehatan yang selama ini berjibaku untuk mentreatment setiap pasien yang terpapar Covid-19.

Karena itu, bijaksana sekali bila saat perayaan Idul Fitri 1442 H setiap warga dapat menahan diri untuk melakukan mudik ke kampung halamannya dengan tujuan guna menjaga kesehatan setiap orang tua dan saudara di kampung halamannya. ****Disdikkbb-DasARSS.

BERPUSAT PADA SISWA

 

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Dalam satu waktu, sempat mengikuti sesi kegiatan diskusi kelompok terpumpun terkait dengan implementasi kurikulum. Dalam diskusi tersebut, narasumber yang menjadi pemantik bahan diskusi menyampaikan perihal perlunya pemahaman dan implementasi pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai sentral pembelajaran. Keterlaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru harus mengarah pada nuansa berpusat pada siswa. Nuansa pembelajaran seperti ini menampilkan pergerakan dan aktivitas siswa sebagai salah satu indikatornya. Dalam konteks ini, guru hanya sebatas sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengarah yang mendorong keberlangsungan pembelajaran.

Menilik terhadap arah kebijakan pendidikan, penerapan kebijakannya paling sedikit menuju pada dua ranah utama, yaitu ranah peningkatan aksesbilitas dan ranah peningkatan kualitas. Ranah aksesbilitas mengarah pada upaya fasilitasi terhadap setiap warga usia sekolah agar memiliki kemudahan dalam mengakses pendidikan sesuai usia mereka. Dengan demikian, capaian ranah ini merefleksikan peningkatan partisipasi belajar yang biasa dihitung dengan angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM). Sedangkan ranah kualitas mengarah pada capaian mutu dengan perhitungan indokator tertentu yang ditetapkan atau melalui perbandingan dengan mutu negara laing.

Kenyataan, memperlihatkan bahwa fenomena capaian aksesbilitas termasuk ranah yang cukup menggembirakan, dari tahun ke tahun, APK dan APM menunjukkan trend kenaikan. Kebijakan pendidikan yang diterapkan telah mendorong terjadinya peningkatan akses pendidikan dasar dan menengah, sehingga prosentase usia sekolah yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan terus mengalami peningkatan dengan cukup signifikan. Namun, kenyataan tersebut berbading terbalik dengan ranah kualitas pendidikan. Sampai saat ini, kualitas pendidikan berdasarkan berdasarkan indikator yang menjadi tautannya belum memuaskan berbagai pihak. Indikator yang nyata adalah capaian score Programme for International Student Assessment (PISA) dari para siswa yang menjadi sampelnya. Hasil survei PISA tahun 2018 yang diikuti oleh siswa Indonesia yang menjadi sampelnya, menggambarkan bahwa 60% sampai dengan 70% siswa masih berada di bawah standar kompetensi minimum pada bidang metematika, sains, dan literasi. Ketiga bidang tersebut menjadi objek penilaian dalam penetapan skor PISA.

Kebijakan pendidikan yang mendorong keterlaksanaan pembelajaran dengan nuansa berpusat pada siswa sudah lama didengungkan. Sejalan dengan fase perubahan kurikulum yang telah diimplementasikan selama ini, upaya untuk menyajikan pembelajaran dengan siswa sebagai porosnya, selalu menjadi isu utama yang harus diimplementasikan oleh setiap guru. Pembelajaran dengan menempatkan siswa sebagai pengeksplorasi pengetahuan menjadi isu utama pada setiap perubahan kurikulum.

Untuk lebih mendorong capaian kualitas seperti yang diharapkan, salah satu langkah yang harus dilakukan adalah mengampayeukan secara terus-menerus pola pembelajaran dengan nuansa berpusat pada siswa. Sasaran akhir dari langah ini adalah lahirnya pemahaman guru secara komprehensif, terkait pembelajaran dengan nuansa berpusat pada siswa. Dengan modal pemahaman komprehensif tersebut, setiap guru dimungkinkan dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran yang diselenggarakannya.

Berbagai pendekatan pembelajaran utama yang umumnya menyertai pemberlakukan kurikulum, pada substansinya mengarah pada upaya pelaksanaan pembelajaran dengan nuansa berpusat pada siswa. Beberapa pendekatan yang pernah diterapkan sejalan dengan pemberlakuan kurikulum—cara belajar siswa aktif (CBSA), keterampilan proses, contekstual teaching learning (CTL), dan pendekatan saintifik—merupakan berbagai pendekatan yang arahnya menstimulasi agar proses pembelajaran terlahir dengan nuansa berpusat pada siswa.

Barangkali, langkah untuk mendorong agar pelaksanaan pembelajaran mengarah pada nuansa yang berpusat pada siswa perlu terus-menerus dilakukan oleh seluruh stakeholder pendidikan pada tingkat pusat maupun daerah. Langkah ini pun tentunya harus dilakukan pula oleh seluruh stakeholder pendidikan pada level sekolah sebagai elemen teknis pendidikan. Peran sekolah sebagai pengimplementasi pembelajaran yang mengetengahkan nuansa berpusat pada siswa benar-benar sangat diharapkan. Kebijakan apapun yang diterapkan oleh pusat dan/atau daerah, hanya akan menjadi dokumen yang tak bermakna apa-apa, manakala respons atas kebijakan tersebut tidak diberikan oleh sekolah.

Pembelajaran dengan nuansa berpusat pada siswa mempersyaratkan peran aktif siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan sesuai dengan tuntutan pada kurikulum yang berlaku. Penerapan pola ini dimungkinkan dapat mendorong lahirnya semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspiratif, inovasi, dan kemandirian setiap siswa. Lahirnya kondisi demikian bisa terjadi karena terstimulasi oleh tantangan demi tantangan yang diberikan setiap guru dalam proses pembelajarannya. Dengan adanya tantangan tersebut siswa diberi dirangsang untuk mampu mencari solusi atau jawaban atas permasalahan yang disodorkan.

Terkait dengan konteks ini, guru memiliki peran strategis dalam memberi dukungan dan bimibingan selama pelaksanaan proses pembelajaran. Guru menjadi fasilitator, pembimbing, pelatih, pengarah, penasihat, dan perantara yang mendorong seluruh siswa untuk terus terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru tidak dapat terlepas begitu saja dari aktivitas siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan. Guru harus menjadi sosok solutif dalam memecahkan berbagai kendala yang dihadapi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Alhasil, pembelajaran dengan nuansa berpusat pada siswa harus terus dikampanyekan dan dimplementasikan, sehingga dapat dilaksanakan oleh sebagian besar guru dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya. ****Disdikkbb-DasARSS.

AYO SEKOLAH, SUKSESKAN WAJAR DIKDAS 9 TAHUN!

 


Oleh: Endang Wahyu Widiasari, M.Pd
(Guru SMPN 4 Cikalongwetan)

Jika kita ingin maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, yang sudah lebih maju baik peradabannya, maupun tingkat kesejahteraannya, maka tidak bisa terlepas dari pendidikan. Kita wajib menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk kebaikan diri sendiri dan umat manusia di dunia. Bukankah ketika kita ingin bahagia di dunia harus dengan ilmu, bahagia di akherat harus dengan ilmu dan jika ingin bahagia di dunia dan akherat pun harus dengan ilmu. Bahkan Rosullulloh pun mewajibkan kita untuk menuntut ilmu seperti dalam hadits riwayat Bukhori yang artinya Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (HR.Bukhari).

Islam sudah dari dahulu mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, bahkan Alloh berjanji dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadillah (58:11) yang artinya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara mu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Alloh maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Janji Allah itu pasti, dia akan meninggikan derajat kita jika kita menpunyai ilmu pengetahuan, apalagi kalau ilmu yang dimiliki itu kita amalkan dan sebarkan lagi kepada orang lain.

Untuk melindungi bangsa dan negaranya pemerintah kita pun mewajibkan, setiap warga negara untuk menuntut ilmu pengetahuan/pendidikan, ini tercantum dalam tujuan luhur bangsa Indonesia dalam UUD 1945 dalam pembukaan alenia ke-4, “..mencerdaskan kehidupan bangsa…“ salah satu perwujudan untuk mencerdaskan bangsa adalah dengan pendidikan. Tujuan luhur bangsa Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini lebih rinci ada dalam UUD pasal 31 ayat 1 dan 2 tertulis bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan, wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Negara juga memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD.

Pertanyaannya,  sudahkan semua anak bangsa mendapatkan haknya? Melihat fakta sekarang, apalagi di era pandemi covid 19 banyak anak putus sekolah, bahkan menurut data statistik jumlah putus sekolah untuk semua jenjang mencapai 159.075 anak, untuk jenjang SD sebanyak sekitar 59.443 anak putus sekolah, dan Jawa Barat menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah 6.030 anak putus sekolah.

Menurut data yang diperoleh dari KPAI jumlah anak yang putus sekolah di era pandemi covid 19 semakin tinggi terutama yang berasal dari keluarga miskin, ini disebabkan oleh faktor : menikah, bekerja, kecanduan game on line, menunggak SPP dan meninggal dunia.

Pandemi covid 19 memang telah memporak-porandakan tatanan kehidupan tak terkecuali dunia pendidikan, dunia pendidikan juga mengalami perubahan yang luar biasa.

Kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara tatap muka langsung, secara serta merta diubah menjadi daring (dalam jaringan/on line/pembelajaran jarak jauh). Pembelajaran daring ini banyak menuai masalah, seperti kurangnya kepemilikan handphone, sulitnya  jaringan internet, dan harus ada biaya kuota. Pembelajaran daring harus dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencegah mata rantai penularan virus covid 19 ini.

Permasalahan covid 19 salah satunya berdampak pada tingginya anak putus sekolah, tentunya ini menjadi permasalahan kita bersama dan harus dicarikan solusinya.

Kolaborasi antara keluarga sekolah dan masyarakat mutlak diperlukan, karena proses pendidikan merupakan kegiatan yang komplek, yang memerlukan keterlibatan berbagai pihak, agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah , sekolah, orang tua dan masyarakat. Melalui proses pendidikan diharapkan sumber daya manusia Indonesia bisa meningkat menghasilkan generasi yang lebih berkualitas, sehingga dapat mengasilkan manusia unggul yang dapat bersaing baik ditingkat nasional, regional maupun global, sehingga dapat hidup layak dimanapun berada.

Untuk mewujudkan itu semua, pemerintah jauh jauh hari sudah memprogramkan wajib belajar 9 tahun, dengan implementasi program sekolah gratis, dengan tujuan supaya seluruh lapisan masyarakat dapat mengeyam / menikmati pendidikan, sehingga tujuan luhur bangsa Indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 dapat terwujud.

Namun usaha-usaha pemerintah tersebut masih banyak mengalami hambatan-hambatan, padahal seharusnya dengan adanya sekolah gratis ini diharapkan seluruh masyarakat Indonesia usia sekolah bisa sekolah tanpa terkecuali, namun sayang kesempatan emas ini tidak dimamfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat kita.

Dilapangan masih banyak ditemui kasus anak putus sekolah, kebanyakan yang menjadi latar belakangnya selain yang diungkapkan diatas adalah: 1). Faktor ekonomi keluarga, 2).Malas / tidak mau sekolah, 3). Kurangnya minat untuk meraih pendidikan, 4). Kurang paham akan pentingnya pendidikan.

Sangat disayangkan jika factor ekonomi masih dikeluhkan oleh banyak masyarakat kita, padahal pemerintah sudah begitu memperhatikan terhadap dunia pendidikan melalui bantuan sekolah gratis, pemberian bantuan untuk siswa yang tidak mampu dan didirikannya sekolah-sekolah baru yang letaknya lebih dekat dengan pemukiman penduduk sehingga dapat menghemat biaya transportasi. Namun yang menjadi kendala adalah kadangkala bantuan dari pemerintah datangnya terlambat, sehingga keperluan yang mendesak tidak bisa terpenuhi, seperti kebutuhan alat tulis, seragam, biaya transportasi dan kebutuhan sekolah lainnya.

Akan tetapi hal tersebut masih bisa diupayakan dengan bantuan dari rekan sesama pendidik atau para pendidik sendiri melalui infak / sumbangan sukarela dan mencarikan donator untuk membantu anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu agar bisa melanjutkan pendidikan, sehingga anak-anak yang kekurangan / tidak mampu bisa terselamatkan dan tidak sedikit anak yang tadinya akan keluar sekolah bisa kembali sekolah.

Selain itu untuk menarik anak-anak yang putus sekolah, bisa juga dengan memberikan pengarahan/melakukan sosialisasi pentingnya Wajar Dikdas kepada masyarakat pentingnya sekolah untuk pengembangan diri, pembentukan karakter dan memberantas kebodohan. Tentunya banyak trik dan cara yang bisa dilakukan untuk memarik minat anak untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, selain memberikan penyuluhan kepada masyarakat juga menjalin komunikasi antar lembaga sekolah, dan juga aparat pemerintah setempat agar bisa terdeteksi siapa saja anak yang putus sekolah yang bagaimana cara penganggulngannya, juga bisa dengan cara pendekatan secara pribadi kepada siswa putus sekolah dengan cara mendatangi ke rumahnya dan berbicara dari hati ke hati.

Jika anak mempunyai semangat dan tekad yang kuat untuk sekolah didukung dengan dukungan orang tua, kesulitan sebesar apapun bisa diatasi asalkan ada keinginan dari dalam diri anak tersebut. Namun yang sulit adalah menghadapi anak yang malas dan memang tidak ada semangat untuk melanjutkan sekolah, padahal ekonomi keluarga mendukung, mengahadapi anak seperti itu tentunya diperlukan keseriusan dan kesabaran yang tidak sedikit, untuk itu kerjasama dari berbagai pihak diperlukan baik dari pihak sekolah, masyarakat (aparat pemerintah) dan keluarga.

Peranan keluarga sangat menentukan terhadap pembentukan perilaku anak, apalagi jika diprosentasekan sekarang ini anak lebih banyak tinggal di dalam keluarga dari pada sekolah, bahkan dengan pembelajaran jarak jauh ini hampir 100% anak tinggal bersama dalam keluarga. Selain itu dari pihak sekolah peranan guru baik itu wali kelas, guru bidang study, guru BK sangat diperlukan untuk menumbuhkan motivasi anak supaya timbul keinginan untuk sekolah. Melalui komunikasi yang harmonis dan pemberian motivasi terus-menerus tanpa mengenal lelah dan bosan tidak sedikit anak yang tadinya akan keluar, akhirnya dapat terus melanjutkan sekolah bahkan tidak sedikit yang berhasil, tentunya hal itu tidak terlepas dari kemauan anak itu sendiri. Sebab bagaimanapun kuatnya dorongan dari luar kalau memang anak sudah tidak mau sekolah tetap saja akan sulit mengupayakannya, apalagi tidak ada sanksi yang jelas dari pemerintah terhadap anak usia sekolah tetapi tidak sekolah.

Tugas guru memang cukup menantang, selain mendidik, mengajar dan mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi, juga membimbing, memfasilitasi dan memotivasi. Melalui komunikasi yang harmonis antara guru, orang tua siswa, siswa, masyarakat dan juga aparat pemerintah setempat sangat memudahkan dalam membentuk kepribadian, akhlak dan semangat belajar anak, untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Tugas kita semua bagaimana menumbuh kembangkan kesadaran seluruh komponen bangsa akan pentingnya pendidikan, sehingga semua orang berlomba-lomba untuk mengembangkan potensi dirinya agar memiliki keunggulan. Dengan kerjasama dari berbagai pihak diharapkan suatu hari nanti tujuan bangsa Indonesia dapat terwujud dan pendidikan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dilapangan tidak ada lagi kasus anak putus sekolah.
Sumber
kemdikbud, diolah Bang Imam Berbagi, Mei 2020.
https://nasional.kompas.com/read/2021/03/06/12561341/kpai-angka-putus-sekolah-pada-masa-pandemi-covid-19-cukup-tinggi

HARDIKNAS, MENANGGAPI DAN MENGAPRESIASI HASIL KERJA PJJ

 

Oleh: N. Mimin Rukmini
(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Cililin Bandung Barat)

Tugas pendidik sejatinya adalah sebagai perencana, pelaksana, pembimbing, pelatih, dan penilai dalam pembelajaran. Saat pandemi covid-19 pun demikian, pendidik masih memiliki tugas dan peran yang sama seperti masa sebelum pandemi korona, bahkan tugas dan peran pendidik masa covid dinyatakan lebih berat. Terlepas apakah pembelajaran itu dilaksanakan secara daring atau PJJ bagi wilayah yang berzona merah dan kuning, atau pembelajaran tatap muka atau luring pada sebagian kecil wilayah yang berzona hijau.

Hari ini 2 Mei 2021, kita Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hardiknas tahun kedua di Masa Covid-19. Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional betapa telah mengajarkan kita bagaimana mendidik anak sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang memerhatikan kodrat peserta didik sebagai kodrat manusia agar mereka selamat dan bahagia. Filosofi pendidikan yang tak lekang oleh zaman. Kekal sepanjang kehidupan.

Tugas dan peran pendidik jika dikaitkan dengan prinsip pembelajaran sebagai dasar filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara tersebut sangatlah relevan, dan memang harus relevan karena itu kiblat pendidikan kita. ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani, selaiknya bisa pendidik aplikasikan pada setiap pembelajaran yang dilakukan.

Ing ngarso sung tulado. Pendidik ketika di depan siswa harus menjadi teladan yang baik bagi siswa. Teladan dalam berakhlak dan beretika. Teladan dalam mengembangkan kreativitas, ilmu, dan wawasan pengetahuan. Termasuk menjadi teladan dalam mengembangkan kompetensi Abad 21. Kompetensi berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaboratif, serta komunikatif. Ditopang pula dengan kemampuan literasi dan kuatnya karakter sebagai ciri kepribadian bangsa. Ketika berada di tengah siswa, ing madyo mangun karso, pendidik seyogyanya menjadi pembimbing siswa secara baik. Menjadi fasilitator sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan belajarnya secara mandiri dan menerapkan pengetahuan serta keterampilan hasil belajar tersebut di dalam kehidupannya. Pada akhirnya, jika prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulado dan ing madyo mangun karso tercapai, tidak menutup kemungkinan prinsip tut wuri handayani pun dapat tercapai. Artinya, pendidik ketika di belakang selalu menjadi penyemangat, dan pendorong, serta menjadi inspirasi bagi para siswanya, siswanya akan terus belajar hingga mencapai kesuksesan.

Kembali pada tugas pendidik yang terakhir, yakni sebagai penilai pembelajaran. Peran pendidik sebagai penilai pembelajaran tidak terlepas dari panduan atau kebijakan yang digulirkan pemerintah. Berdasarkan Pemendikbud No. 23 tahun 2016 pasal 13, tentang Standar Penilaian Pendidikan, prosedur penilaian proses dan hasil belajar siswa oleh pendidik di antaranya adalah mengolah, menganalisis, dan mengiterpretasikan hasil penilaian, melaporkan hasil penilaian, serta memanfaatkan laporan hasil penilaian.

Tugas dan peran pendidik sebagai penilai hasil belajar siswa di masa Covid-19 lebih berat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Saat sebelum pandemi menilai proses dan hasil belajar siswa, baik mengolah, menganalisis, menginterpretasi nilai siswa, bisa secara langsung pada saat tatap muka di dalam kelas. Sebaliknya, saat pandemi menilai proses dan hasil kerja siswa hanya bisa secara daring. Itu pun dengan melahirkan berbagai persoalan, karena keterbatasan, sarana atau media, dan jangkauan internet yang tidak merata di seluruh wilayah tempat tinggal siswa.

Dengan segala persoalan yang ada. pendidik berusaha memantapkan komunikasi dengan rekan guru, pimpinan sekolah, dan penentu kebijakan. Selain itu, ada pula usaha-usaha yang menurut hemat penulis dapat menjadi acuan untuk bekerja walau dalam keterbatasan pembelajaran sehingga penilaian terhadap siswa boleh dikatakan bijak dan mendorong siswa untuk tetap semangat dalam belajar. Usaha-usaha tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pendidik terus belajar memantapkan ilmu, sikap, dan keterampilan, sehingga dapat dijadikan teladan, dan inspirasi bagi para siswanya. Guru atau pendidik seperti ini, Ing Ngarso Sung Tulado, di hadapan siswa menjadi teladan dan di tengah siswa menjadi inspirasi (ing madyo mangun karso) akan segera terwujud. Tidak hanya itu, sebagai pendidik selayaknya terus mengembangkan kecakapan Abad 21 (4K). Tuntutan kecakapan tersebut menjadi tuntutan kecakapan pula bagi para siswa atau peserta didik kita.Kecakapan Abad 21 tak kan seimbang apabila tidak ditopang oleh kemampuan literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

2. Pendidik terus belajar meningkatkan pembelajaran daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar menarik bagi siswa. PJJ yang menarik diharapkan dapat menghilangkan kebosanan sehingga siswa pun dapat terus belajar secara mandiri. PJJ yang menarik memerlukan kemampuan IT yang handal. Oleh karena itu, pendidik terus belajar dengan mengikuti berbagai diklat yang ada, misalnya saja melalui webinar atau zoomeeting apa pun namanya. Yang jelas, jika pendidik mau belajar, kesempatan terbuka untuk belajar IT dengan tidak mengenal batas ruang dan waktu.

3. Meningkatkan sinergitas antara pendidik dengan pendidik, pendidik dengan pimpinan sekolah, serta pendidik dengan orang tua siswa. Sinergitas lebih dari sekadar kolaborasi atau kerja sama. Sinergitas dibangun atas dasar kesungguhan dan kebutuhan bersama serta adanya konsistensi untuk meningkatkan proses dan hasil PJJ siswa.

4. Menanggapi dan memberi apresiasi terhadap apa yang dikerjakan oleh siswa. Sekecil apapun yang dikerjakan siswa, pendidik tetap dan harus menanggapi dan memberi apresiasi kepada mereka. PJJ masa Covid-19 tidak mengejar target kurikulum, tetapi lebih mengutamakan pendidikan kecakapan hidup. Hal itu mengingat telah disampaikan oleh pemerintah dan relevan dengan Surat Edaran Mendikbud No 4 Tahun 2020.

Walaupun pencapaian target kurikulum tidak diutamakan, tetapi menilai secara bijak bagi pendidik tetaplah harus dilaksanakan. Misalnya saja bijak membalas chat lewat whatsApp dari siswa. Membalas berarti menanggapi. Menanggapi berarti memberikan apresiasi. Di sanalah salah satu kekuatan diri siswa dalam menempuh dan melaksanakan tugas PJJ. Tidak cukup dengan hanya menanggapi dan mengapresiasi siswa saja, peran dan tugas pendidik pun harus menanggapi apa yang dikeluhkan orang tua. Kita mengapresiasi kerja orang tua dalam membimbing dan mendampingi anak-anak mereka di rumah. Bukan tugas sepele mendampingi anak di rumah, melainkan tugas luar biasa yang harus orang tua siswa emban.

Simpulan
Dari keempat upaya di atas, akhirnya dapat penulis simpulkan bahwa PJJ menjadi ajang pembelajaran hebat bagi pendidik, penentu kebijakan, sekolah, orang tua, dan siswa. Sabar untuk terus belajar, belajar secara mandiri sehingga proses dan hasil memiliki nilai yang dianggap baik walau dalam keterbatasan jarak dan suasana. Suasana yang hanya ada di dalam rumah, rindu dengan teman dan sahabat mereka. Pendidik terus belajar meningkatkan kompetensi hingga nanti saatnya pandemi pergi dari bumi pertiwi. Semoga!

Sumber bacaan:
Permendikbud No. 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan
Surat Edaran Mendikbud No. 4 tentang Pembelajaran Pada Masa Darurat Covid-19
Yayasan Cahaya Guru dalam Diklat Kebhinekaan Guru. “Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara”

BIODATA PENULIS

N. Mimin Rukmini, Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 1 Cililin Kabupaten Bandung Barat (KBB). Peraih beasiswa P2TK Kemdikbud 2013 untuk Pendidikan S2 Unesa Surabaya Sebagai salah satu Tim Newsroom dan Fasda Literasi KBB. Suka menulis artikel dan telah diterbitkan di media massa (cetak dan online) dan telah menerbitkan 12 buku, baik buku tunggal maupun buku antologi. Tinggal di Bandung Barat, Jabar. Email, mimin.abu@gmail.com. No. WA 08122149005

SERENTAK BERGERAK

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat)

 

Sesungguhnya, kondisi Pandemi Covid-19 haruslah disikapi dengan bijak. Kondisi yang tidak nyaman ini janganlah membuat produktivitas setiap anak bangsa menurun. Namun justru harus bertambah,

Ketika Ki Hajar Dewantara memberikan spirit inspiratifnya, yakni  “ing ngarsa sung tulada” (di depan memberi teladan), “ing madya mangun karsa” (di tengah menjadi penyemangat), dan “tut wuri handayani” (dari belakang memberi dukungan), maka hal ini sangat relevan dengan kondisi dunia pendidikan Indonesia di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Seperti diketahui, Pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud, telah mencanangkan ‘Belajar dari Covid-19 pada peringatan Hardiknas tahun lalu’. Hal ini menginformasikan kepada bangsa Indonesia tentang pentingnya kepekaan, dan kepedulian terhadap situasi yang kurang menguntungkan dewasa ini.

Sementara itu, pada peringatan Hardiknas 2021 Pemerintah kembali mengajak seluruh bangsa Indonesia dengan meluncurkan tema ‘Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar’. Hal ini hendaknya memberikan hasil yang bermanfaat dengan menghindarkan diri dari prasangka buruk atas segala kebijakan stakeholders, sehingga berujung pada terbuangnya energy, serta melemahnya produktivitas kerja.

Apabila dikaitkan dengan filosofi yang dicanangkan Bapak Pendidikan di atas harusnya kondisi sekerang dapat menghasilkan ekstra energi. Saat Ide tentang ‘di depan memberi teladan’ diimplentasikan, maka hal tersebut  menyiratkan bahwa setiap individu adalah guru. Sehingga dengan predikat tersebut, kita akan termotivasi untuk peningkatan kualitas sikap personal yang harus selalu siap tampil di publik dan bersiap untuk diduplikasi oleh lingkungan sekitar.

Dalam mewujudkan tema Hardiknas 2021, sebagai seorang guru, sangatlah penting menjaga sikap, menjaga perilaku, menjaga kehormatan diri dan kemuliaan akhlak. Hal ini dikarenakan keteladanan terkait erat dengan akhlak yang merupakan respon spontan yang dilakukan seseorang dalam menghadapi situasi yang terjadi. Dengan demikian guru harus dapat menjadi sumber penyemangat anak didik yang dihasilkan dari energi positif akhlaknya, karena hal ini akan berbanding lurus dengan capaian prestasi mereka.

Kemudian, seorang pendidik harus memberikan dukungan atas kreativitas, inovasi dan hal-hal lainnya yang sifatnya menuju perbaikan diri dari seorang anak didiknya. Hal ini erat kaitannya dengan peran guru dalam mendukung aktivitas mereka baik secara spiritual, moral, maupun  emosional. Sehingga akan tercipta harmonisasi dan sinergitas keduanya.

Sesungguhnya, kondisi Pandemi Covid-19 yang belum berakhir seperti yang terjadi dewasa ini, haruslah disikapi dengan bijak. Kondisi yang tidak nyaman ini janganlah membuat produktivitas setiap anak bangsa menurun. Namun justru harus bertambah, seiring terbukanya kesempatan untuk peningkatan kualitas kompetensi diri di suasana work from home.

Terdapat banyak hal yang dapat dilakukan dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Berbagai layananan daring menyediakan kemudahan dalam mengaksesnya. Hal ini kembali kepada individu masing-masing. Sehingga tidaklah bijak apabila menjadikan keadaan saat ini sebagai penghambat produktivitas kerja.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 hendaknya juga disikapi sebagai momentum peningkatan produktivitas proses belajar mengajar. Kualitas pembelajaran dapat semakin meningkat dengan pemanfaatan berbagai media yang tersedia saat ini, tentu dengan komitmen jelas di antara guru dengan siswa. Kontrak belajar harus dibangun di awal pembelajaran. Hal ini sangat penting mengingat proses yang akan dilaksanakan di luar kebiasaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun komitmen kegiatan belajar mengajar di masa pandemi, yakni pastikan pesertanya dapat memahami situasi yang terjadi. Sehingga visi dan misi kegiatan dapat dimengerti. Selanjutnya berikanlah informasi yang benar, akurat, lengkap dan memotivasi mereka. Dengan demikian pola pembelajaran yang akan dilakukan menjadi terstruktur dan jelas.

Selanjutnya, lakukan pendataan yang akurat atas kepemilikan sarana pendukung pembelajaran, Hal ini untuk mengakomodasi pembelajaran yang dilakukan, apakah daring atau luring. Hindari perlakuan diskriminatif di antara keduanya. Sebaiknya dibuat desain redaksi yang membuat siswa merasa bangga dengan modanya masing-masing.

Berikutnya adalah memberikan variasi pembelajaran. Sehingga proses kegiatan menjadi menarik, interaktif dan imperatif. Prosentasi domain pembelajaran juga harus diperhatikan. Jangan sampai ranah kognitif lebih dominan dibandingan afektif dan psikomotor.

Dalam masa pandemic seperti sekarang ini, yang mengharuskan siswa belajar di rumah, sebaiknya pembelajaran diarahkan untuk penguatan pendidikan karakter. Oleh karena itu, aktivitas pembelajarannya dapat berupa peningkatan kualitas personal mereka, seperti membantu orang tua, menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal, beribadah di rumah, dan selalu menerapkan social serta physical distancing.

Tentu akan ditemui banyak hambatan dalam merealisasikan kegiatan di atas. Tetapi dengan kesungguhan dan sikap pantang menyerah  tentu akan dapat diatasi. Sesuai dengan keyakinan bahwa segala apa yang kita lakukan saat ini boleh jadi belum tampak hasilnya, namun kelak akan dirasakan manfaatnya. Tugas terpenting adalah berbuat dan berkarya. Sehingga waktu tidak berlalu sia-sia, dan hidup lebih bermakna.

Akhirnya, tema Hardiknas 2021 yang mengajak semua pihak untuk serentak bergerak mewujudkan merdeka belajar adalah tantangan nyata untuk mengeksplorasi seluruh potensi anak bangsa dalam mewujudkan pendidikan berkualitas sesuai dengan kemampuan dan di bidang masing-masing yang mandiri, berakhlak mulia, kreatif, dan berkebhinekaan berwawasan global. ***

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

MALAM 1000 BULAN

Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

 

“Tugas terpenting yang harus dilakukan di Ramadan ini  adalah dengan mengoptimalkan kualitas ibadah. Selain itu, juga meningkatkan keyakinan serta ketakwaan kepada Allah Swt. Hal ini menjadi salah satu ciri pribadi muslim yang senantiasa fokus mencari keridaan Allah dalam segala aktivitas ibadah apapun, tanpa menggantungkan harapan akan memperoleh imbalan yang belum tentu didapatkan…”

Ramadan memasuki fase kedua. Kaum muslimin sudah bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang untuk meningkatkan kualitas amaliah ibadah. Itulah yang dicontohkan Baginda Agung Muhammad SAW pada setiap momen Ramadan yang dijalaninya.

Seperti diketahui, Ramadan memiliki tiga fase, yakni rahmat dan berkah, maghfiroh, serta pembebasan dari api neraka (itqum min annaar). Di setiap fase kaum muslimin berusaha meraih segala keutamaan yang dianugerahkan Allah kepada siapapun hambanya yang berpuasa.

Di fase rahmat dan berkah, Allah memberikan suatu jamuan kasih sayang dan berlipatnya kebaikan kepada semua makhluk-Nya. Di fase ini seluruh alam semesta merasakan indahnya kedatangan bulan suci, bahkan sering disaksikan betapa banyak orang yang mengais rezeki justru bukan orang yang tidak terkena kewajiban berpuasa. Pasar-pasar penuh sesak dengan hilir mudiknya para penjual dan pembeli. Terkadang malah terjadi transaksi perdagangan yang tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa, seperti toko perhiasan menjadi lebih ramai dibandingkan dengan bulan sebelumnya, begitupun dengan toko asesoris kendaraan, dan lain-lain.

Terasa sekali rahmat ditumpahruahkan Allah untuk siapa saja yang berusaha dengan optimal di bulan suci Ramadan. Keutamaan di fase pertama ini adalah dijamu-Nya setiap makhluk yang menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Jamuan tersebut adalah berupa limpahan pahala dan kebahagiaan bagi siapapun yang berada di bulan ini.

Sementara itu, di fase kedua kaum muslimin diberikan Allah berupa ampunan, terutama yang berpuasa dengan berlandaskan keimanan dan hanya berharap keridaan-Nya semata. Di fase ini Allah seakan ingin menampakkan lautan ampunan yang tiada bertepi. Lalu, siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan ini? Di saat masih diberikan kesempatan usia hendaknya bersegera mencari ampunan-Nya tersebut.

Di fase kedua pun kaum muslimin diingatkan tentang salah satu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang yang beriman, yakni taubat. Seperti diketahui, terdapat empat hal yang senantiasa melekat dalam pribadi mukmin, yaitu syukur, sabar, taat, dan taubat. Pada fase kedua Ramadan orang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan seoptimal mungkin untuk meminta ampunan atas segala khilaf dan dosa, dan atas segala maksiat yang telah diperbuat selama ini. oleh karena itu, doa yang dianjurkan dibaca adalah Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul afwa fa fu’anni ya Kariim-Wahai Allah, sesunggungguhnya Engkaulah Maha Pengampun, limpahkanlah ampunan kepadaku, wahai zat yang Maha Mulia.  

Berikutnya, pada 10 hari terakhir Ramadan, terdapat sebuah keutamaan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada siapapun orang beriman yang beribadah pada malam di fase tersebut. Malam ini dikenal dengan nama Lailatul Qodar, suatu malam yang diliputi kemuliaan dan keberkahan hingga menjelang fajar. Bahkan, pada ayat kedua QS. Al Qadar disebutkan Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat masyhur  tbahwa ada seorang pemuda Bani Israil yang bernama Sam’un Al Gazhi yang memiliki kemuliaan di dalam hidupnya setelah beribadah selama 80 tahun. Dalam kisah lainnya terdapat empat orang Bani Israil, yakni Ayyub, Zakaria, Hexkiel, dan Yoshua bin Nun yang memiliki karamah karena tidak pernah berbuat maksiat dan senantiasa menyembah kepada Allah selama waktu yang sama. Hal ini mengundang kekaguman para sahabat yang mendengarkan kisah tersebut. sehingga malaikat Jibril datang dan berkata, Wahai Muhammad, ummatmu kagum dengan mereka yang menyembah Allah SWT selama 80 tahun, sedangkan Allah Swt telah menurunkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari itu. Kemudian Malaikat Jibril membaca surat Al Qadar dan berkata, Ini lebih mengagumkan bagi engkau dan ummatmu”. Rasulullah SAW pun bahagia mendengarnya.

Jika dikaji secara tekstual maka makna 1000 bulan adalah memang sesuai dengan jumlah masa yang apabila dikonversikan sebanyak 80 tahun. Hal ini sesuai dengan kisah di atas. Sebaliknya, jika dimaknai sebagai banyaknya jumlah anugerah Allah kepada orang yang beribadah pada malam tersebut maka boleh jadi ini adalah kiasan yang menunjukan kualitas kemuliaan yang diterimanya. Hal ini sesuai dengan kebiasaan bangsa Arab masa lalu untuk menunjukkan sesuatu yang banyak dengan istilah 1000, seperti yang terdapat dalam Al Baqarah ayat 96: Salah seorang di antara mereka ingin agar usianya dipanjangkan hingga 1000 tahun.

Di sisi lain, Lailatul Qodar yang disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Al Baihaqi dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, menyebutkan tentang sejumlah tanda-tanda munculnya malam mulia ini, yakni Di antara tanda Lailatul Qadar, suatu malam yang cerah, bersih, tenang, tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan terdapat bulan yang bersinar, tidak satu bintangpun terbit hingga subuh.

Hal ini pun diisyatakan juga oleh Imam Ibnu Katsir yang menyatakan-Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah, suatu malam yang bersih, cerah, seakan-akan terdapat bulan purnama yang bersinar, malam yang tenang dan teduh, tidak dingin dan tidak pula panas, bintang-bintang tidak terbit muncul hingga subuh.

Sesungguhnya banyak riwayat tentang tanda-tanda datangnya Lailatul Qodar, namun yang paling utama adalah bagaimana mempersiapkan diri dalam meraih kemuliaan malam tersebut. Kemudian, persiapan apa saja yang harus dimiliki dalam menyambut datangnya Lailatul Qodar ini, di antaranya adalah meluruskan niat semata-mata mengharap rida Allah Swt. Seperti yang dipahami bahwa segala amal tergantung dari niatnya. Oleh karena itu persiapan awal ini sangat penting dalam meraih Lailatul Qodar.

Sesungguhnya niat yang ditanamkan di dalam hati akan berbanding lurus dengan sikap ketawaduan diri dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Besar. Oleh karena itu, akan tampak dalam diri yang niatnya semata-mata karena mengharap keridaan Allah memiliki air muka yang cerah, teduh, dan menyejukan bagi siapapun yang memandangnya. Sebaliknya, apabila niatnya karena hanya mencari Lailatul Qodar  dengan tanpa mengharap rida-Nya, maka yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana dia akan memperoleh kemuliaan tanpa bersusah payah ibadah puasa dan amalan tathawu lainnya di Ramadan ini.

Persiapan berikutnya adalah membersihkan hati dari sifat-sifat yang menjauhkan diri dari Allah, yakni sifat takabbur, sombong, kemudian ujub, merasa paling mulia, riya, pamer, dan thoma, berharap pujian dari makhluk. Hal ini sangat penting karena Lailatul Qodar hanya akan ‘singgah’ kepada yang berhati bersih dan berpikiran jernih serta selalu berbaik sangka kepada segala ketetapan Allah Swt.

Seperti diketahui, kebersihan hati merupakan syarat mutlak untuk menghadap Allah. Hal ini pun tentu berkaitan dengan salah satu anugerah kemuliaan-Nya, yakni Lailatul Qodar, seperti dijelaskan dalam Al Quran surat Asy Syu’ara ayat 88-.Pada hari di mana harta dan anak tidak berguna kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih

Selanjutnya adalah persiapan fisik. Hal ini menjadi salah satu yang perlu diperhatikan bagi orang yang ingin meraih Lailatul Qodar yang umumnya dilakukan hingga malam hari. Sehingga diperlukan energi ekstra untuk melakukannya.

Akhirnya, Lailatul Qodar adalah rahasia Allah yang tidak pernah siapapun mengetahuinya. Walaupun isyarat tentang tanda-tanda dan waktu kedatangan Lailatul Qodar dapat dijumpai dari banyak referensi. Namun, tugas terpenting yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan kualitas ibadah. Selain itu, juga meningkatkan keyakinan serta ketakwaan kepada Allah Swt. Hal ini menjadi salah satu ciri pribadi muslim yang senantiasa fokus mencari keridaan Allah dalam segala aktivitas ibadah apapun, tanpa menggantungkan harapan akan mendapatkan imbalan yang belum didapatkan karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesungguhan seorang hambanya. Wallahu’alam.***

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

NUZULUL QURAN


Adhyatnika Geusan Ulun
(SMPN 1 Cipongkor)

Nuzulul Quran bukanlah hanya sekedar rutinitas seremonial belaka, tetapi mengandung makna luar biasa yang tidak lekang oleh masa. Dengan Nuzulul Quran manusia disadarkan tentang keimanan, ketakwaan, kebersihan hati, sikap syukur dan pengetahuan.

Ketika Muhammad SAW menerima wahyu pertama, surat Al Alaq (1-5), pada 17 Ramadan 13 SH (Sebelum Hijrah), saat itulah baginda diangkat menjadi Nabi, serta momen itu diperingati umat Islam sebagai hari diturunkannya Al Quran, dikenal dengan Nuzulul Quran.

Saat masih kecil, penulis menyaksikan kesibukan orang tua, terutama ibu-ibu, menyiapkan sejumlah makanan untuk kegiatan Nuzulul Quran. Dipersiapkannya sejak pagi hari. Menu utama momen tersebut adalah tumpeng dengan aneka lauk pauk. Aktivitas tersebut terus berlanjut hingga tiba acara khataman selepas salat Tarawih berjamaah. Anak-anak kecil dengan semangat meneriakan lafaz Allah setiap para pembaca Al Quran selesai membaca satu ayat. Acara pun diakhiri dengan tausiah tentang makna dan hikmah Nuzulul Quran dari sesepuh masjid.

Saat ini, ketika kesibukan beralih tempat ke mall, dan anak-anak kecil berlarian di luar masjid sambil menyalakan kembang api dan petasan, serta tumpeng berubah menjadi nasi box, acara Nuzulul Quran memang masih ada, tetapi dengan suasana yang sangat berbeda. Khataman Al Quran sudah mulai berkurang ‘peminatnya’, dan tausiah hikmah acara inipun mulai tergerus dengan maraknya acara-acara di layar kaca dan media sosial lainnya.

Namun, seperti tertera di dalam bunyi surat Al Alaq ayat 1-5 di atas, Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang telah menciptakan! (yang) telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhan mu lah yang Maha Mulia. Dialah yang telah mengajarkan (manusia) dengan pena. (Dia) mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Menyadarkan manusia untuk mengetahui asal muasal dirinya. Sehingga dengan mengenal siapa yang telah menciptakan, dia tidak akan tersesat ke lembah kekufuran.

Selanjutnya, diingatkan kepada manusia untuk tidak ujub dan sombong. Hal ini dikarenakan sehebat apapun manusia pasti berasal dari segumpal darah. Satu zat yang terkadang dianggap hina di awal tetapi dibanggakan setelah berbentuk makhluk di akhir. Dengan tidak ujub dan sombong maka manusia akan terbebas dari sifat merasa diri paling berjasa dan diri paling mulia di antara makhluk lainnya.

Hal di atas menjadi kajian yang teramat penting dalam mengenal diri sebagai manusia yang semua berasal dari bahan baku yang sama, segumpal darah. Hal ini tercantum di surat Al Hujarat ayat 13, ditegaskan bahwa …yang paling mulia adalah yang paling bertakwa di antara kalian. Sehingga gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan hanyalah ‘asesoris’ duniawi yang tidak berarti dibandingkan dengan ketakwaan kepada Allah Swt.

Kemudian, di penghujung ayat disadarkan tentang kebodohan manusia tanpa anugerah ilmu dari Allah. Hal ini menngingatkan tentang betapa seringnya manusia membangga-bagakan prestasi seakan-akan berkat jerih payah dan pengorbanannya sendiri, tanpa mau mengakui ‘campur tangan’ Nya. Dari ayat tersebut diarahkan manusia untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan, dan selalu membersihkan diri dari penyakit hati yang selalu membangga-banggakan diri dihadapan lainnya.

Akhirnya, Nuzulul Quran bukanlah hanya sekedar rutinitas seremonial belaka, tetapi mengandung makna luar biasa yang tidak lekang oleh masa. Dengan Nuzulul Quran manusia disadarkan tentang keimanan, ketakwaan, kebersihan hati, sikap syukur dan pengetahuan. Hal ini menjadi kebanggaan bagi umat Islam tentang kemuliaan agama yang mengedepankan semuanya tersebut sehingga, seharusnya, menempatkan umat ini menjadi terdepan dalam segala kebaikan. Terlebih menjadi umat yang bermanfaat bagi sebanyak-banayknya umat. ***

Profil Penulis:
Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.
(Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

PEMANTIK

 


Oleh N. Mimin Rukmini
Guru Bahasa Indonesia SMPN I Cililin

Beberapa hari yang lalu, saya dengan salah seorang teman mengikuti pelatihan dari Yayasan Cahaya Guru secara daring, yakni lewat zoomeeting. Zoomeeting yang sunguh menguras energi. Ups! Tahan nafas! Menguras energi, tetapi mengasyikan. Hebat! Pelatihan mengesankan, semoga dapat menjadi acuan dan inspirasi bagi negeri.

Menggelitik, sekaligus memantik saya untuk mengutif cuplikan tulisan Ki Hadjar Dewantara saat slide paparan prinsip pembelajaran dalam pelatihan tersebut ditayangkan . Cuplikan tulisan itu tertera’
“… Kita tahu apa yang datang bukan pilihan kita, tapi memang betul itu kebutuhan kita. ” (Ki Hadjar Dewantara: 1935). Betul, menarik bukan?

Pendapat Ki Hajar Dewantara tersebut jika kita kaitkan dengan pembelajaran di saat pandemi COVID-19 yang berbeda dari pembelajaran biasanya, bukan kemauan kita. Namun, pembelajaran Era Covid-19 memang betul itu kebutuhan kita. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah membawa perubahan dan berdampak terhadap berbagai unsur pembelajaran. Memberikan dampak terhadap siswa, guru, orang tua, masyarakat, maupun pemerintah. Artinya PJJ memberi warna kehidupan tersendiri bagi dunia pendidikan. Bahkan bukan hanya dunia pendidikan, korona telah mengubah seluruh aspek kehidupan manusia.
PJJ secara daring pada mulanya dianggap pembelajaran eksklusif. Tidak semua guru mohon maaf, mampu menyiapkan dan menyajikan pembelajaran PJJ secara daring.

Dari sekolah yang berada di perkotaan, paling sekitar satu atau dua orang guru melaksanakan PJJ daring. Itupun jika keadaan yang menuntut untuk PJJ, misalnya saja guru sedang ada di luar kota. Sekolah demikian, biasanya sekolah yang tingkat ekonomi orang tua siswanya berada pada level masyarakat yang berada atau kaya raya.

Berbeda dengan sekarang, PJJ menjadi salah satu kewajiban dan kebutuhan yang sangat urgen. Sekolah yang berada di perkotaan atau perdesaan selama masih terjangkau oleh signal, pastinya terus berusaha untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Siswa dan orang tua pun berusaha memiliki anroid sebagai media PJJ. Tak ketinggalan guru pun belajar IT untuk menopang PJJ sehingga PJJ lebih menarik.

Membuat PJJ lebih menarik bagi siswa, guru berusaha sekuat tenaga untuk belajar IT. Sehingga dengan belajar IT, PJJ walaupun tidak dilaksanakan secara sempurna , minimal ada langkah yang lebih kreatif dan inovatif.
Lalu bagaimanakah pelaksanaan PJJ secara real di lapangan?

Pelaksanaan PJJ tidak serta merta berjalan secara mulus walau telah berlangsung setahun lebih. PJJ melahirkan sejumlah persoalan yang paling mengerikan sejauh mana anak Indonesia bisa mengembangkan kompetensinya selama waktu tersebut. Lost learning yang sering diperbincangkan boleh jadi benar-benar dialami sistem pendidikan kita. Adakah disebut masa plateu? Stop! Tidak demikian! Pastikan kompetensi anak I ndonesia tetap berkembang!

Kembali merefleksi diri. Pandemi Covid-19 bukan kemauan kita. Tetapi Pandemi telah menuntut guru untuk meningkatkan kapasitas belajar, belajar IT, belajar mengatasi PJJ, dan belajar bagaimana menghadapi anak walau tidak tatap muka. Ada beberapa tips yang dapat guru lakukan untuk memenuhi tuntutan pelaksanaan PJJ. Tips itu adalah sebagai berikut.

1. Belajar IT sebagai media PJJ sungguhlah penting, namun yang paling utama adalah menganalisis dan memahami kemampuan anak didik itu sendiri dan kemampuan ekonomi orang tua. Misalnya sajakuota dengan memperhatikan kemampuan dalam kuota siswa, PJJ tidak terus menerus dilakukan lewat zoomeeting. Tidak terus-menerus memutar video yang membutuhkan kuota lebih banyak.

2. Memantau terus proses dan hasil kerja siswa. Sejauh mana siswa belajar dan bagaimana mereka melaksanakan tugas belajar adalah proses kinerja guru paling utama. Proses kerja siswa saat PJJ akan terlihat pada hasil kerja mereka.

3. Melayani siswa sepanjang waktu. PJJ tidak membatasi ruang dan waktu. Karena keterbatasan signal yang tidak menjangkau seluruh tempat tinggal siswa, menjadikan proses dan hasil kerja bisa terlambat. Guru harus legowo manakala siswa bertanya kapan pun. Sebaliknya tidak sampai terjadi siswa bahkan orang tua yang bertanya tidak ditanggapi guru. Ki Hajar Dewantara mengungkapkan bahwa kita guru semestinya menghamba kepada siswa. Menghamba agar siswa selamat dan bahagia.

4. Tetap membangun komitmen bersama sebagai bentuk kolaborasi antarguru, antara
guru dengan sekolah, penentu kebijakan, orang tua dan siswa. Membangun komitmen bersama adalah bentuk penanaman karakter memberi tanggung jawab dan kepercayaan, terutama kepada siswa sebagai subjek belajar.

Dari keempat upaya tersebut diharapkan peluang sekali gus tantangan dalam PJJ dapat diatasi. Semua bergantung pada kita guru sebagai pelaksana dan fasilitator PJJ. Hasil kerja tak kan menghianati prosesnya. PJJ saat COVID-19 awalnya bukan pilihan kita, namun itu menjadi kebutuhan agar anak dan seluruh warga terus mengembangkan potensi, belajar tiada henti. Semoga!