Belajar dari Hijrah

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

Saat Baginda Rasul Muhammad SAW meletakan dasar ukhuwah insaniyah, persatuan umat, di Madinah Munawarah, maka dari sanalah terbangun pondasi kebersamaan dan keutuhan yang menciptakan generasi unggul yang berkarakter.

Sangat menarik ketika mengkaji sejarah hijrah kaum muslimin ke Madinah. Mereka meninggalkan segala asesoris dunia yang telah diraih di Mekah, menuju satu tempat yang belum diprediksi akan mendapatkan kedudukan, pangkat, dan jabatan seperti yang telah diraih sebelumnya. Ketundukan umat terhadap perintah Tuhan menepis keraguan ini.

Hal di atas menjadi pembelajaran pertama bahwa ketaatan kepada satu aturan menjadi energi yang luar biasa dalam perjuangan hidup. Seberat apapun pengorbanan diyakini akan berbuah kebahagiaan dikemudian hari.

Berikutnya, kisah hijrah dengan mengarungi lautan gurun yang panas menyengat di siang hari dan membekukan darah di malam hari, tidak menyurutkan para penegak kebenaran. Hal ini menjadi pembelajaran berikutnya di saat lika-liku jalan perjuangan yang penuh onak duri menjadi spirit agung dalam meraih suatu cita-cita mulia. Bahwa setiap perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

Begitupun dengan pengorbanan kaum Anshor yang luar biasa saat menyambut kafilah muhajirin di Madinah. Mereka menyongsong saudara seimannya dengan penuh suka cita. Diberikannya harapan kehidupan yang layak. Dipersembahkannya segala yang terbaik demi meraih kemuliaan hidup semuanya.

Semuanya menjadi pembelajaran berharga kepada umat, bahwa hubungan kemanusiaan janganlah terputus dikarenakan perbedaan suku bangsa, warna kulit, kedudukan dan atribut keduniawian. Sehingga tampaklah satu tatanan kehidupan yang penuh dengan persaudaraan dalam bingkai persatuan dan kesatuan insan Tuhan.

Perjuangan Hijrah

Menelusuri sejarah hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Jarak sejauh lebih dari 400 km yang ditempuh penulis dan peziarah dengan kendaraan ber-AC dan jalan yang terbentang mulus, sangat berbanding terbalik dengan kejadian 14 abad silam.

Ditemani sahabat utama, sayid Abu Bakar, menempuh lautan pasir yang panasnya dapat mematangkan butiran telur, dan dinginnya malam yang dapat membekukan air. Tidak jarang kaki mulia Nabi harus melewati tajam dan terjalnya cadas bukit-bukit di sepanjang perjalanan agung ini.

Sebentar beristirahat di alam terbuka, dan tidak sedikit harus bermalam di tengah samudera pasir dengan kondisi alam yang gulita. Siang dan malam ditempuh dengan tekad dan keyakinan kuat, bahwa Allah akan memberikan kemuliaan bagi umat Islam setibanya di negeri yang Dia janjikan, Yatsrib.

Jika para tamu Allah saat ini dapat menjangkau jarak di atas sekira empat hingga lima jam perjalanan, maka perjalanan suci Nabi memakan waktu 40 hari untuk tiba di tujuan. Suatu perjuangan yang berat dalam menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi. Hal ini memberikan pelajaran sperti yang sudah diungkapkan di awal tulisan bahwa  tidak ada satu pun perjuangan tanpa diiringi dengan pengorbanan. Itulah keteladanan Nabi yang seharusnya dicontoh.

Hal di atas pun menyiratkan  bahwa perjuangan bukanlah sesuatu yang ‘instan’, yang hanya mengandalkan ‘mukjizat’ dan keajaiban Tuhan. Proses adalah sesuatu yang harus ditempuh oleh siapapun dalam meraih tujuan. Samudera pasir, tajamnya batu diperjalanan, tidak menyurutkan tekad dan semangat perjuangan.

Penulis diingatkan akan para tokoh penghias sejarah yang menjadikan hijrah sebagai suatu strategi perjuangannya. Begitulah yang dilakukan Nelson Mandela, Benazir Bhuto, Imam Khomeini, Fidel castro, hingga Bung Karno. Tokoh-tokoh dunia tersebut menjadikan ‘hijrah’ sebagai upaya merubah nasib bangsanya menjadi jauh lebih baik.

Diingatkan pula tentang strategi hijrahnya pasukan Siliwangi saat perang kemerdekaan. Maka, jika hijrah dimaknai sebagai strategi perjuangan, tentu spiritnya adalah semangat untuk memperbaiki diri dan bangsa yang dipimpinnya. Itulah yang dilakukan Nabi dalam merubah dunia menjadi jauh lebih baik dan beradab.

Refleksi Hijrah

Dalam konteks kekinian, hijrah menjadi bahan refleksi diri. Menciptakan generasi unggulan tidak seperti mudahnya membalikan tangan. Butuh perjuangan ekstra yang menguras pikiran dan tenaga. Diperlukan pula semangat perbaikan diri setiap saat. Perjuangan memang tidak selalu bertabur bunga dan berhamparkan karpet merah. Perjuangan bahkan selalu menemui tajamnya onak dan duri. Keikhlasan dan kesabaran adalah pengorbanannya.

Menarik juga untuk dikaji manakala Nabi tiba di Yatsrib yang kelak menjadi Madinah. Kegiatan pertama Baginda tidak mencari rumah untuk tempat tinggal diri dan keluarga. Tidak pula meminta fasilitas kelayakan hidup sebagai seorang pemimpin umat. Tetapi yang beliau lakukan adalah mendirikan masjid. Diyakininya bahwa masjid adalah pusat kegiatan yang dapat menjadi sentra perubahan dan perbaikan umat. Dari masjid itulah Islam memancarkan charisma kewibawaan sebagai agama ramatan lil ‘alamin.

Hal tersebut hendaknya menjadi renungan. Sebesar apapun keinginan untuk meraih dunia tidaklah harus mengalahkan kebutuhan akhirat, dan masjid adalah salah satunya. Segala riak perjuangan Islam bermula dari tempat ini. Dimulai dari merubah Yatsrib menjadi Madinah, hingga ditulisnya mitsaq al-madinah (Piagam Madinah), suatu konstitusi modern pertama di dunia yang menjadikan rujukan pola kerukunan umat.

Piagam tersebut menjadi titik temu komunitas madinah yang majemuk menjadi prototype negeri yang rukun, damai, toleran dan beradab. Satu revolusi dakwah yang dilakukan Nabi yang menekan pada perbaikan umat dalam urusan ibadah dan muamalah, spiritual dan sosial. Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib dalam menjamin kebasan beragama, keamanan, penegakan hukum, dan hak-hak individu.

Sesungguhnya hal tersebut patut diteladani hingga sekarang. Dan Inilah makna hijrah yang sebenarnya. Tidak hanya bermakna secara harfiah, migrasi atau pindah tempat, melainkan juga pindah orentasi, berubah pola pikir, yakni berpindah dari keadaan buruk menjadi baik, dari kondisi baik menjadi jauh lebih baik. Itulah perubahan. Dan baginda Rasul memberikan contoh keteladanan bahwa semua perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat secara kolektif.

Selanjutnya adalah saat Muharam dipilih sebagai awal tahun kalender Islam. Bulan ini ditetapkan setelah melalui musyawarah para sahabat sepeninggal Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Disebutkan dalam Manaqib al Anshar, bahwa para sahabat tidak menghitung dan menjadikan awal penanggalan dari masa diutusnya Nabi Muhammad saw, dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau. Suatu usulan yang rasional, mengingat bahwa Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik.

Akhirnya setelah berbagai usulan, Khalifah Umar berdasarkan persetujuan para sahabat, menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah, hijrah. Kalifah berkata: Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil. Oleh karena itu jadikanlah hijrah itu untuk menandai kalender awal tahun Hijriah.

Simpulan

Sesungguhnya, peristiwa hijriah mengandung nilai-nilai yang sangat relevan sepanjang zaman. Momen ini mengandung tekad yang bulat, semangat untuk berjuang, dan kegigihan kuat dalam beramal menuju tujuan yang jelas, yakni, terwujudnya baldatun toyyibatun warrabun ghafur. Negeri adil makmur yang senantiasa penuh rahmat dan ampunan Allah swt.

Akhirnya, spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah harus dimaknai dalam kerangka perjuangannya merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan. Selain itu sikap yang dibangun adalah semangat kemandirian, nilai-nilai kemanusiaan, integritas dan keyakinan akan nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang akan membawa kemuliaan hidup.

Hal di atas pun mengandung semangat ikhtiar, pengorbanan, kebulatan tekad, keteguhan niat, kesabaran, dan keikhlasan.

Baginda menyatakan: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. 

Semoga tahun baru Islam ini  membawa keberkahan bagi semuanya,  Aamiin.***

Dari berbagai sumber

(Tulisan ini telah diterbitkan di media yang sma dengan sejumlah koreksi) 

Biodata Penulis:
Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

email: œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

3 Dosa Besar dalam Pendidikan


Popi Siti Ichsanniaty, M.Pd
(Analis Kebijakan sub Koordinator Kesiswaan
Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat)

Mengikuti Sosialisasi pendampingan layanan khusus yang diadakan oleh pihak Kemendikbudristek di Surabaya tanggal 22 Juli 2022 menggugah pemikiran bahwa sudah tidak ada kata menunggu untuk menangani 3 dosar besar dalam pendidikan. Dosa besar tersebut adalah kekerasan, perundungan dan intoleransi.

Kenapa disebut dosa besar? Mungkin pihak kemendikbudristek hanya ingin menggugah para warga pendidikan agar bisa menggeliat melihat berbagai kasus yang terjadi. Kasus kekerasan anak dalam rumah tangga, perundungan dan penelantaran peserta didik karena harus segera ditangani demi keselamatan masa depan generasi penerus bangsa Indonesia.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melaporkan, ada 797 anak yang menjadi korban kekerasan seksual sepanjang Januari 2022. Jumlah tersebut setara dengan 9,13 persen dari total anak korban kekerasan seksual pada tahun 2021 lalu yang mencapai 8.730. KPAI pun turut membeberkan sejumlah kasus kekerasan pada anak di sejumlah daerah saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 2022 digelar. Sebanyak 12.920 kasus terdiri dari 1991 laki-laki dan 11.949 perempuan.

Melihat banyaknya kasus tersebut membuat hati miris, begitu banyak ancaman terhadap peserta didik. Ancaman lingkungan tidak hanya datang dari lingkungan sekolah, tetapi dari lingkungan terdekat yaitu keluarga dan masyarakat. Anak adalah buah hati yang tak ternilai harganya untuk sebuah keluarga, maka dari itu menjaganya untuk tumbuh baik dan berkembang sebagaimana yang diharapkan adalah merupakan kewajiban mutlak bagi kedua orang tua yaitu ayah dan ibu. Bagaimana memilih pendidikan yang baik, pergaulan yang baik, lingkungan yang mendukung sudah sepantasnya orang tua wajib mengarahkan anak.

Kemendikbudristek dan Dinas Pendidikan baik kabupaten maupun kota bersama-sama KPAI diharapkan dapat melakukan sosialisasi terkait Permendikbud No. 82 Tahun 2015 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah. KPAI mendorong ada sosialisasi dan edukasi bagi para pendidik untuk memahami psikologi perkembangan anak, UU no 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak dan Konvensi Hak Anak (KHA).

Kekerasan merupakan setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum (Pasal 15a UU 35/2014). Berdasarkan pengertian tersebut kekerasan terbagi ke dalam beberapa bentuk, yaitu; fisik, psikis/ emosional, seksual, penelantaran dan eksploitasi. Oleh karenanya Negara hadir dalam melindungi anak di berbagai satuan pendidikan.

Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. (Pasal 9 Ayat 1a, UU 35/2014).

Segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara berulang dikenal dengan istilah perundungan.

Perundungan dilakukan secara sadar dan sengaja karena terjadi beulang kali dan adanya kesenjangan kekuatan atau kuasa.
Dari beberapa kasus yang terjadi perundungan dapat dikategorikan ke dalam 4 kategori;
Perundungan Fisik: memukul, menendang, mendorong, meludahi, mengambil/ merusak hak milik orang lain dengan paksa.

Perundungan Verbal: mengejek, menghina, menggunakan panggilan negatif atau komentar rasis, bahasa bernada sekusal, mengancam
Perundungan Relasional: menyebakan rumor negatif mengenai orang lain; mengeluarkan, mengabaikan dan mengisolasi seseorang dalam suatu kelompok; membocorkan rahasia seseorang kepada pihak ketiga; memanipulasi hubungan dan merusak persahabatan

Cyber Bullying: mengirim atau mengunggah (posting) kata – kata maupun gambar yang intimidatif dengan menggunakan alat komunikasi digital ke berbagai aplikasi atau platform, umumnya media sosial atau pesan singkat

Jenis perundungan yaitu Vertical Bullying adalah bentuk perundungan yang dilakukan oleh senior kepada junior. Jenis bullying yang dilakukan bisa secara fisik, verbal, relasional, maupun cyberbullying. Di masyarakat nampaknya hal ini perlakuan yang biasa dilakukan dan sudah menjadi mafhum perlakuam dari senior kelasnya kepada juniornya, padahal hal inilah benih-benih praktik yang tidak baik yang dipupuk dan berkembang sampai anak tersebut tumbuh dalam kebiasaan yang dapat meresahkan pendidik, orangtua maupun masyarakat itu sendiri.

Kasus yang terbaru yang membuat merinding, kasus perundungan yang dialami anak berinisial FH berusia 11 tahun di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia tergolong berat dan kompleks lantaran korban mengalami kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis dan mengakibatkan korban meninggal dunia. Pelaku menjadikan korban sebagai obyek perlakuan seksual terhadap seekor hewan, yang sudah tidak manusiawi lagi.

Dosa besar lainnya dalam pendidikan yaitu intoleransi, salah satu kasus yang terjadi di Indonesia yaitu penyerangan terhadap rumah ibadah, timbulnya berbagai pergerakan fanatisme untuk melawan pemerintah.

Munculnya intoleransi disebabkan oleh empat faktor, pertama pandangan keagamaan sektarian, kedua populisme agama, ketiga politisi yang memanfaatkan agama dan yang terakhir yaitu pendirian rumah ibadah yang dilarang atas dasar agama, sehingga menimbulkan intoleransi. Kasus intoleransi masih sering terjadi di sejumlah sekolah di Indonesia. Padahal sejatinya, sekolah merupakan tempat disemainya pemahaman dan pemaknaan kemajemukan sebagai identitas dan kekayaan bangsa. Sepertinya para pendidik harus lebih mengenalkan kembali Ideologi Indonesia yaitu Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika., bahwa sebagai warga Negara Indonesia memegang pemahaman berbeda-beda tetapi tetap satu. Inonesia sebagai sumber keanekaragaman, baik suku, agama dan ras sehingga inilah yang harus dijadikan pondasi besar untuk menajaga keutuhan Negara.

Sungguh tugas berat bagi warga pendidik untuk dapat melindungi siswa agar terhindar dari karakter yang tidak terpuji ini. Zaman sudah mulai mengerogoti generasi muda kita dengan mudahnya semua chanel dan akses dapat diunduh secara bebas.

Peranan keluarga khususnya orangtua dalam mendampingi tumbuh kembang anak sungguh sangat berharga karena itulah keluarga merupakan pondasi pendidikan pertama dan utama, karena di keluarga lah peranan agama awal mula dikenalkan dan anak dapat memfilter sendiri hal-hal yang dianggap negative dan merusak masa depannya. Sekolah menjadi rumah kedua untuk anak haruslah dibuat senyaman mungkin, pendidikan agama dapat ditindaklanjuti di sekolah dengan melalui pendampingan layanan khusus.

PENGUATAN KARAKTER DALAM ERA ‘VUCA’


Dadang A. Sapardan
(Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Dinamika kehidupan terus berlangsung, sejalan dengan sejalan dengan perkembangan zaman. Saat ini, kehidupan telah memasuki abad ke-21 yang diwarnai dengan kelahiran berbagai fenomena penyertanya. Keberadaan fenomena penyerta tersebut tentunya tidak dapat dikesampingkan atau dihindari begitu saja tetapi harus dihadapi dan disikapi dengan baik sebagai tantangan yang harus dilalui. Berbagai pihak, baik masyarakat maupun pemerintahan harus mampu menyikapi dengan berbagai strategi tepat, sehingga tantangan tersebut menjadi pemicu bagi bertumbuh dan berkembangnya masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik.

Pada kenyataannya, kehidupan abad ke-21 diwarnai dengan masuknya ranah revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 serta kehidupan milenial. Keberadaan kedua warna kehidupan tersebut diperkuat pula dengan merebaknya pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk melanda Indonesia. Ketiga fenomena kehidupan tersebut melahirkan tantangan nyata kehidupan yang membutuhkan penerapan strategi tertentu dalam menyikapinya.

Keberadaan tiga fenomena kehidupan tersebut melahirkan akronim VUCA, seperti yang diungkapkan oleh US Army War College. Era VUCA sendiri merupakan akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Keempat istilah di atas, bila dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi gejolak/anomali, ketidakpastian, kompleksitas, dan ketidakjelasan/ambigutas. Secara lebih simple, era VUCA telah melahirkan dinamika kehidupan dengan perubahan yang begitu cepat serta berbagai ketidakpastian yang tidak bisa diprediksi dengan mudah.

Era VUCA bukanlah penghambat bertumbuh dan berkembangnya kehidupan, tetapi menjadi tantangan tersendiri dalam kehidupan abad ke-21 yang harus disikapi oleh berbagai komponen masyarakat. Tantangan tersebut tentunya merambah pula pada ranah pendidikan. Seluruh pemangku kepentingan dalam ranah pendidikan harus menyadari adanya dinamika kehidupan ini, sehingga dapat secara cepat menyikapi kebijakan yang diambil dalam mengimplementasikan berbagai kebijakan pendidikan. Perhatian terhadap dinamika kehidupan ini harus dicurahkan sehingga seluruh kebijakan yang diterapkan dalam menumbuhkembangkan sumber daya manusia tidak mengalami salah arah. Tentunya, implementasi kebijakan tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh satu atau dua pemangku kepentingan semata, tatapi harus dilakukan secara gotong royong oleh seluruh pemangku kepentingan.

Sebagai ranah yang bergelut dengan penyiapan sumber daya manusia masa depan, pendidikan dengan satuan pendidikan sebagai ujung tombaknya harus menjadi ranah yang masuk pada gerbong pertama dalam menyikapi era VUCA. Kemampuan penyikapan terhadap era VUCA harus mendapat perhatian serius dari ranah ini sehingga kebijakan yang diterapkan tidaklah salah kaprah dalam penyiapan sumber daya manusia. Perlunya perhatian yang dibarengi dengan penyikapannya dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa fenomena tersebut telah menstimulasi terjadinya dinamika perubahan cepat dan ketidakpastian pada berbagai tatanan kehidupan.

Pertanyaan mendasar berkaitan dengan dinamika kehidupan pada era VUCA tersebut adalah bagaimana satuan pendidikan sebagai bagian dari ranah pendidikan dapat mengambil sikap atas fenomena ini, sehingga era VUCA dapat dilalui dan disikapi dengan baik?

Penguatan Karakter sebagai Langkah Strategis
Peserta didik yang menimba ilmu pada satuan pendidikan adalah karunia Allah SWT yang tak terhingga dan tak ternilai harganya. Keberedaan mereka pada satuan pendidikan, sudah selayaknya dimanfaatkan dengan optimal melalui cara mendidik sebaik-baiknya, sehingga akan bertumbuh menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan dapat berkiprah pada kehidupan masa depan mereka. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memberi penguatan kompetensi sikap melalui penguatan karakter, selain tentunya penguatan kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Ketiga ranah tersebut harus mendapat sentuhan yang proporsional dari setiap satuan pendidikan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Penyadaran akan pentingnya perhatian optimal kepada peserta didik dari setiap satuan pendidikan perlu terus didorong. Kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap mereka yang tengah berada pada masa bertumbuh dan berkembang itu patut menjadi core dalam berbagai kebijakan yang diterapkan oleh setiap satuan pendidikan. Mereka sedang berada pada moment penting dan terbaik dalam kehidupannya, terutama dalam pembentukan pondasi kehidupannya. Melalui kekuatan dan ketangguhan fondasi yang dimilikinya, mereka diharapkan akan bertumbuh menjadi generasi harapan masa depan sehingga dapat berkiprah dan berkontribusi positif dalam membangun bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik.

Dalam visi pendidikan Indonesia tersurat bahwa proses pendidikan mengarah pada mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Visi tersebut begitu sarat dengan muatan karakter yang harus dicapai oleh setiap peserta didik sebagai outcomes satuan pendidikan.

Secara kasat mata, visi pendidikan Indonesia merupakan kolaborasi dari pelahiran keterampilan abad ke-21 serta penguatan karakter. Bila merujuk pada dinamika kehidupan saat ini yang diwarnai dengan revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, kehidupan milenial, serta pandemi Covid-19, pencapaian visi pendidikan Indonesia cukup berat. Setiap satuan pendidikan harus dapat menerapkan strategi kebijakan sistematis, terstruktur, dan masif dalam pencapaian visi tersebut di tengah era VUCA.

Pembinaan terhadap peserta didik merupakan kewajiban semua pihak, dalam hal ini kewajiban tri pusat pendidikan—satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Pembinaan sepatutnya diarahkan pula pada upaya untuk membentuk mereka sehingga akan bertumbuh dan berkembang menjadi sosok berkualitas, yaitu sosok yang sesuai dengan visi pendidikan Indonesia, yaitu tampilan sosok profil pelajar Pancasila.

Upaya yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mencapai visi tersebut tidak akan berdampak signifikan, manakala tidak terbangun kebersamaan di antara tripusat pendidikan. Kebersamaan tripusat pendidikan sangatlah dituntut, agar penguatan karakter dapat diimplementasikan secara optimal terhadap setiap peserta didik. Karena itu, sudah selayaknya, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat mensinergikan ide dan pemikiran untuk turut menumbuhkembangkan karakter agar dapat mengkristal pada setiap peserta didik.

Implementasi penguatan karakter merupakan langkah yang harus mendapat dukungan optimal dari semua pihak dalam upaya penyiapan generasi masa depan bangsa. Implementasinya harus didasari dengan pemikiran bahwa pada masa mendatang, insan berkarakter baiklah yang dapat survive dalam menghadapi dinamika kehidupan yang diwarnai dengan perubahan cepat dan ketidakpastian dalam era VUCA.

Karena itu, alangkah baiknya bila kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh setiap satuan pendidikan lebih ditekankan dan memberi penguatan terhadap penumbuhkembangan karakter yang pada akhirnya akan mengkristal pada diri setiap peserta didik. Upaya penumbuhkembangan karakter tersebut tidak akan berlangsung dengan baik—mengarah pada lahirnya profil pelajar Pancasila—bila tidak didukung dengan kebersamaan dari unsur tri pusat pendidikan. Karena itu, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter di tengah era VUCA.

Simpulan
Abad ke-21 diwarnai dengan masuknya kehidupan pada ranah revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, kehidupan milenial, serta merebaknya pandemi Covid-19. Ketiga fenomena kehidupan tersebut melahirkan tantangan nyata kehidupan yang membutuhkan penerapan strategi tertentu dalam menyikapinya. Keberadaan tiga fenomena kehidupan era VUCA, (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Keempat istilah di atas, bila dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi gejolak/anomali, ketidakpastian, kompleksitas, dan ketidakjelasan/ambigutas. Secara lebih simple, era VUCA telah melahirkan dinamika kehidupan dengan perubahan yang begitu cepat serta berbagai ketidakpastian yang tidak bisa diprediksi dengan mudah.

Setiap satuan pendidikan dituntut untuk dapat menerapkan kebijakan strategis. Kebijakan yang mungkin dilakukan, salah satunya adalah penguatan karakter peserta didik. Strategi ini dimungkinkan dilakukan dalam upaya mengkristalisasikan karakter pada diri setiap peserta didik. Upaya penumbuhkembangan karakter tersebut tidak akan berlangsung dengan baik bila tidak didukung dengan kebersamaan dari unsur tri pusat pendidikan.

Karena itu, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi dalam mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter di tengah era VUCA. **** DasARSS.

GURU, SPIRIT MURAKATA

Prof. Dr.  Dinn Wahyudin, MA

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Seorang sahabat, Guru SDN di Kecamatan Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan berujar bahwa di sekolah tempat ia mengajar belum melaksanakan Kurikulum Merdeka. Sekolahnya masih melaksanakan Kurikulum 2013, dengan penguatan pada tradisi lokal dan semangat kebersamaan, gotong royong seiaya sekata untuk mencerdaskan bangsa.

Semangat ikatan kebersamaan inilah, secara nyata menjadi ciri pembelajaran di sekolah kami. Di tengah keterbatasan yang ada, warga sekolah tetap berupaya keras. Secara bertahap sekolah kami bisa melengkapi standar minimal pendidikan. Guru yang ada terus berdedikasi untuk melaksanakan pembelajaran, termasuk sesekali memanfaatkan media sosial. Materi muatan lokal juga diberikan secara berkala, termasuk pembelajaran budaya dan bahasa lokal Banjar.
Bagi etnis suku Banjar yang merupakan mayoritas penduduk di Kecamatan Barabai, semangat kebersamaan dan ikatan persaudaraan dengan landasan agamis Islam merupakan ciri masyarakat yang utama. Warga setempat menyebutnya Semangat Murakata yang diambil dari bahasa Banjar. Murakata merupakan singkatan dari Mufakat, Rakat, dan Seiya-sekata.
Tradisi _Murakata_ bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, tak sekedar slogan. Tetapi lebih merupakan tradisi kolaborasi dan kekompakan masyarakat dan Pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan. Murakata telah menjadi ikon masyarakat setempat.

Bumi Murakata
Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Kota Barabai merupakan ibukota kabupaten yang berjarak 165 km dari kota Banjarmasin. Bila ada berkesempatan berkunjung ke Banjarmasin, coba luangkan waktu untuk berkunjung ke kota Barabai ini. Warga setempat menyebut kabupaten ini dengan Bumi Murakata.
Sepanjang jalan aspal yang mulus, anda akan disuguhi pemandangan alami : kawasan rawa dengan pepohonan payau, dataran rendah yang subur, dan pemandangan Pegunungan Meratus yang hijau memukau dan masih rimbun. Hutan lindung yang masih asri dengan aliran dua sungai besar yaitu Sungai Batang Alai dan Sungai Barabai yang memukau.
Walaupun Barabai belum menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) Nasional, banyak potensi daerah yang bisa dikembangkan secara lebih profesional.
Wisata Puncak Gunung Halau Halau adalah destinasi idaman para pelancong pendaki gunung. Wisata alam eksotik yang menawarkan pemandangan alam bentangan pegunungan Meratus sangat memukai. Puncak Gunung Meratus yang senantiasa berbalut kabut tipis melengkapi keindahan alam Pegunungan Meratus.
Ikwal panorama Meratus yang memukai, banyak pakar Geologi yang menyatakan optimismenya bahwa suatu saat Pegunungan Meratus berpeluang besar sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) dengan keragaman geologi, biologi, dan unsur budaya yang dimilikinya.

Anggrek Raksasa
Anggrek raksasa _(Grammatophylum)_ yang tumbuh subur alami di Taman Anggrek Meratus menjadi salah satu ikon yang mendunia. Aggrek lainnya seperti anggrek hitam (Coelogyne pandurata),_anggrek Vanda (Vanda dearei), dan anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) tumbuh sumbur alami di pepohonan rimbun di wilayah Konservasi Alam Meratus Kalimantan Selatan.
LIPI (2019) mencatat Indonesia memiliki 5000an jenis anggrek alam. Beberapa jenis langka antara lain anggrek Paraphalaenopsis laycockii, Paraphalaenopsis labukensis, tumbuh subur di Pegunungan Meratus.

Kuliner Khas

Jenis kuliner andalan kota ini yaitu Apam Barabai.Kue basah yang terbuat dari tepung beras, santan, gula merah/putih dan campuran lainnya, menjadikan Apam Barabai sebagai ikon kuliner Bumi Murakata ini. Rasakan kelezatan dan hisap aroma harumnya yang menggoda.
Sensasi lain makanan khas Barabai adalah Ikan Pakasam. Olahan ikan yang diawetkan dengan cara fermentasi oleh bakteri asam laktat. Ikan yang biasa digunakan untuk membuat pakasam atau samu berupa air tawar atau sungai dan rawa khas Kalsel yaitu ikan gabus (haruan), pepuyu (betok), dan ikan sepat. Datanglah ke Restoran setempat, cicipi kelezatan ikan pakasam ini. Rasakan sensasi rasanya.

Misteri Burung Sulangking
Bila rekan rekan berkunjung ke kota Barabai, di gerbang masuk kota berdiri megah Tugu Burung Sulangking. Tugu burung ini menjadi ikonik sebagai ciri selamat datang bagi warga yang datang ke Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan. Burung Sulangking ini dinyatakan sudah punah.
Masyarakat setempat meyakini bahwa jenis burung tersebut pernah ada, namun tak seorang pun tahu bentuk fisiknya. Makna dan filosofi burung Sulangking adalah burung yang kerap bangun pada waktu dini hari. Burung itu berteriak keras membangunkan masyarakat supaya jangan malas bekerja dan beraktifitas sejak pagi. Namun, burung Sulangking tetap menjadi misteri karena tak seorangpun warga masyarakat yang melihat sosok bentuk burung ini. Dan secara ilmiah nama latin burung Sulangking ini tak ada. Berbeda dengan jenis burung Enggang dengan nama latin Buceros vigil Forster atau burung Rangkong atau julang dengan sebutan Bucerotidae.
Itulah tulisan ringan tentang Barabai Kabupaten Sungai Hulu Tengah Kalimantan Selatan. Kota unik dengan sejuta ciri dan optimisme warganya.***

EXPO LITERASI: MENUMBUHKAN KECINTAAN TERHADAP LITERASI UNTUK MERAIH PRESTASI

Oleh: Euis Lesmini Djuanda, S. Pd., M. Ed

(Plt. Kepala SMP Negeri 4 Ngamprah)

Kemampuan literasi, numerasi dan sains bagi banyak peserta didik kita masih meninggalkan pekerjaan rumah yang cukup berat, terutama dalam peran sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal. Kita mungkin sudah tidak asing lagi membaca dan mendengar bagaimana Indonesia masih termasuk negara yang tingkat literasi dan numerasinya masih rendah.

Refo Indonesia menyebutkan bahwa skor PISA Indonesia lebih rendah sekitar 100 poin dari rata-rata negara OECD untuk membaca, berhitung dan sains. Dalam sistem PISA, nilai 40 setara dengan satu tahun pembelajaran. Skor anak-anak kita yang 100 poin di bawah rata-rata mengindikasikan bahwa kemampuan literasi, berhitung dan sains mereka tertinggal 2,5 tahun dibanding anak-anak 15 tahun di negara-negara OECD. Hasil ini tentu menjadi sebuah tantangan yang harus disikapi oleh semua pemangku kebijakan, baik dari pusat sampai tingkat daerah, termasuk sekolah dan keluarga.

Raport mutu sekolah yang dikeluarkan oleh kementrian pendidikan pun ternyata menyadarkan kita akan tantangan besar yang harus dihadapi. Angka merah yang muncul ternyata masih berkutat di kemampuan literasi dan numerasi siswa. Terlepas dari kondisi pada saat pelaksanaan AN itu, situasi sedang puncak pandemi, namun apapun alasannya, rendahnya tingkat literasi dan numerasi peserta didik kita menjadi kondisi yang harus segera disikapi.

Salah satu dampak yang terjadi akibat pandemi ini adalah hilangnya semangat belajar (learning loss) akibat terlalu lamanya belajar dari rumah. Sebagai salah satu solusinya, maka diperlukan upaya untuk kembali meningkatkan semangat belajar peserta didik melalui kegiatan kegiatan yang menyenangkan, namun tetap bermakna. Dan sekolah harus terus berupaya menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam literasi dan numerasi.

SMP Negeri 4 Ngamprah, bekerjasama dengan tim literasi sekolah, guru dan PKS, berupaya mewujudkan salah satu agenda yang sempat tertunda akibat pandemi. Kegiatan itu kami namakan Expo Literasi. Expo ini, diselenggarakan pada hari Senin, 13 Juni 2022. Dalam kegiatan ini, terdapat beberapa kegiatan inti, yaitu: pelatihan penulisan puisi, pertunjukkan dongeng, bazar buku dan hiburan dari siswa untuk siswa. Dua narasumber dihadirkan untuk membersamai kegiatan ini. Kang Eddy dan Kang Idon hadir untuk memberikan pelatihan dan mengisi acara ini. Kang Eddy dan kang Idon adalah dua orang pegiat literasi yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam menguatkan kegiatan literasi baik di tingkat kabupaten/kota maupun tingkat nasional.

Di bawah sinar hangat Matahari pagi dan sejuknya udara pengunungan, peserta didik langsung berinteraksi dengan narasumber dan mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Peserta didik begitu antusias saat harus membuat puisi dan mengumpulkan tulisan puisinya itu berbaris rapi tergantung sehingga semua peserta dapat saling melihat puisi yang telah mereka buat

Selain penulisan puisi, acara ini juga diisi dengan kegiatan dongeng. Kemampuan Kang Idon dalam mendongeng begitu menarik, sehingga semua larut, hanyut terbawa oleh alur cerita yang dibawakan. Semoga pengalaman ini menjadi semangat dan menambah pengetahuan peserta didik kita.

Satu hal yang tidak kalah bermakna adalah sesi bazar buku. Penerbit Mizan, kali ini ambil bagian dalam bazar buku ini. Dalam kegiatan ini, peserta didik kelas IX didorong untuk membeli buku yang mereka sukai, dengan harga yang sangat terjangkau dengan kondisi keuangan mereka. Buku ini, kelak setelah dibaca, dapat disumbangkan kepada perpustakaan sekolah. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki kepedulian terhadap kegiatan literasi di sekolah dan buku buku yang mereka donasikan dapat bermanfaat untuk adik kelasnya nanti.

Meningkatkan literasi, bukan proses yang instan. Perlu upaya upaya yang konsisten, menarik dan bermakna dan didukung oleh banyak pihak sehingga hasilnya dapat lebih terasa manfaatnya.***

Pemanfaatan Media Sosial ‘TIK TOK’ dalam Media Pembelajaran

Wika Karina Damayanti, S.Pd., S.H., M.Pd. 

(Analis Kebijakan Ahli Muda
Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)

Perkembangan pesat berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat ditahan, suka maupun tidak berbagai perubahan sebagai dampak dari perkembangan zaman akan selalu melekat dalam kehidupan manusia. Perubahan perlu disikapi dengan bijak, karena pada hakekatnya perubahan memiliki tujuan positif untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Buka pikiran, tingkatkan literasi, bangun komunikasi, dan kembangkan kemampuan guna mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan.

Perubahan terjadi dalam segala aspek, salah satunya dalam dunia pendidikan. Cara pembelajaran konvensional tidak tepat lagi jika diterapkan dalam era digital saat ini. Pendidikan terkini perlu menyesuaikan dengan beragam kemajuan dari  pengetahuan dan teknologi yang terjadi. Jika pola pembelajaran masih tetap dilakukan secara konvensional seperti dahulu maka anak-anak akan tetap berjalan ditempat tanpa keberdayaan mengikuti pesatnya perkembangan dunia.

Pendidikan bukanlah ilmu pasti yang bersifat stagnan, namun ilmu yang terus berkembang secara dinamis mengikuti tren perubahan yang terus terjadi. Pendidikan tidak seperti ilmu matematika dimana rumus keliling persegi tetap 4 x sisi dan 1 tambah 1 tetap 2. Dunia pendidikan dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman.

Seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu Ali bin Abi Thalib pernah mengungkapkan hal yang cukup fenomenal mengenai pendidikan anak, yakni “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Ungkapan Ali bin Abi Thalib tersebut menegaskan bahwa pola pembelajaran dalam dunia pendidikan harus terus berkembang mengikuti segala perubahan yang terjadi dalam dunia ini.

Mengikuti trend revolusi industri 4.0 maka segala bentuk pendidikan dan pembelajaran harus di arahkan kedalam nuansa digital. Anak generasi Z dan generasi Alfa memerlukan stimulan dengan memanfaatkan media digital sesuai dengan zamannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas. Meskipun terdapat sisi negatif dari media digital, namun dampak positifnya jauh lebih banyak jika digunakan dengan bijak.

Menurut Aji (2017) bahwa pada saat ini internet menjadi fasilitas yang sangat diperlukan dalam kehidupan, media dalam pembelajaran dipilih untuk menyesuaikan materi yang diajarkan agar peserta didik dapat memahami materi dengan baik. Pembelajaran dengan memanfaatkan internet menjadi jawaban dari pendidikan bagi generasi saat ini. Pemanfaatan media pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Pemilihan media pembelajaran harus menarik dan juga dekat dengan anak.

Media pembelajaran di era digital harus diselaraskan dengan pengembangan teknologi. Transformasi pendidikan sangat kental dengan kekuatan internet yang semakin menarik seperti magnet. Penyelarasan penggunaan media pembelajaran yang menarik dan dekat dengan anak dapat membantu berjalannya proses pembelajaran secara efektif.

Terdapat banyak platform online yang dapat dimanfaatkan untuk media pembelajaran, salah satunya adalah media sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial sangat dekat dengan kehidupan anak, bahkan jika ditanya cita-cita, banyak anak yang ingin menjadi seorang youtuber, selebgram, creators tiktok (tiktokers), atau influencer yang erat dengan ketenaran dan pendapatan fantastis dari media sosial. Berdasarkan hal tersebut maka media sosial dapat menjadi alternatif yang efektif untuk dijadikan sebagai media pembelajaran bagi anak generasi Z dan Alfa.

Salah satu media sosial yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dan memiliki banyak pengguna adalah Tiktok. Menurut tekno.kompas.com ada sekitar 10 juta pengguna aktif aplikasi Tiktok di Indonesia. Mayoritas pengguna dari media sosial Tiktok adalah anak usia sekolah generasi Z. Aplikasi Tiktok memiliki berbagai kontroversi yang mengakibatkan pemblokiran pada tahun 2016 lalu. Namun terlepas dari kontroversi tersebut pengguna Tiktok di Indonesia menembus lebih dari 10 juta pengguna, hal tersebut menjadikan Tiktok sebagai primadona media sosial.

Tiktok tak lepas dari segala kontroversinya, stigma negatif masih melekat dalam benak masyarakat, namun disisi lain banyak manfaat yang dapat diambil dari media sosial Tiktok ini, seperti menjadi media promosi yang memiliki dampak besar bagi penjualan atau pemasaran dan media pembelajaran yang sangat menarik bagi anak usia sekolah. Penggunaan Tiktok sebagai media pembelajaran ini menghasilkan efek positif pada anak dalam meningkatkan motivasi belajar, kreativitas, dan menambah rasa percaya diri.

Menurut Bulele (2020) Tiktok memilki keunggulan yang disukai oleh peserta didik melalui berbagai konten menarik serta sebagai wadah bagi peserta didik yang mempunyai minat dalam membuat video sesuai dengan kreativitasnya. Melalui Tiktok kemampuan digital anak dapat meningkat seiring dengan peningkatan kreatifitasnya dalam membuat konten kreatif.

Hutamy et al. (2021) menyatakan bahwa Aplikasi Tiktok tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, namun dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran, khususnya dimasa pandemi. Hasil penelitian dari Hutamy et al. (2021) menunjukkan bahwa 55,36% Tiktok dapat diterapkan sebagai media pembelajaran yang menyesuaikan dengan relevansi materi ajar. Penggunaan Tiktok sebagai media pembelajaran menjadikannya sebuah trend yang unik dan baru dalam menyampaikan bahan ajar.

Menurut Ramdani et al., (2021) Tiktok memiliki daya tarik tersendiri dalam menampilkan konten video yang beragam, berdurasi singkat, dan diiringi oleh musik. Hal itulah yang membuat Tiktok menarik perhatian anak. Pemanfaatan Tiktok dalam pembelajaran dapat mempermudah anak dalam memahami suatu materi.

Berbagai manfaat baik dari penggunaan Tiktok dalam pembelajaran diantaranya adalah : materi ajar dapat tersampaikan dengan menarik, ringkas, singkat, dan mudah diterima, dapat meningkatkan kreatifitas anak, menjadi media pembelajaran yang menyenangkan serta tidak membuat bosan, meningkatkan rasa percaya diri dan keaktifan anak. Jika seorang guru dapat mengambil nilai positif dari pemanfaatan media sosial Tiktok dalam pembelajaran, maka suasana belajar yang menyenangkan akan tercipta dan berdampak sangat baik terhadap psikologis anak.

Media pembelajaran merupakan hal penting yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan juga ketertarikan anak agar lebih mudah menangkap materi yang disampaikan. Pemanfaatan media sosial sebagai bagian dari pembelajaran menjadi inovasi yang perlu diapresiasi karena media sosial dapat menjadi media pembelajaran yang menarik dan efektif jika dikemas sedemikian rupa. Wika-Kd.

Daftar Pustaka 

Aji, W. N. (2017). Implementasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Klaten. Jurnal VARIDIKA, 29(1), 1–8. 

Bulele, Y. N. (2020). Analisis Fenomena Sosial Media dan Kaum Milenial: Studi Kasus Tiktok. Conference on Business, Social Sciences and Innovation Technology, 1(1), 565–572.

Hutamy, E. T., Swartika, F., Alisyahbana, A. N. Q. A., Arisah, N., & Hasan, M. (2021). Persepsi Peserta Didik Terhadap Pemanfaatan Tiktok Sebagai Media Pembelajaran. Prosiding Penelitian Pendidikan Dan Pengabdian 2021, 1(1), 1270–1281.

Ramdani, S.N., Hadiapurwa A., Nugraha H., (2021). Potensi Pemanfaatan Media Sosial Tiktok Sebagai Media Pembelajaran Dalam Pembelajaran Daring. Jurnal Teknologi Pendidikan. Vol. 10 (2). 425-436.

Reformasi PROSES PEMBELAJARAN


Dadang A. Sapardan
(Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Mencermati fenomena yang berkembang, pendidikan Indonesia tengah mengalami tantangan masa depan yang harus disikapi dengan berbagai kebijakan oleh para stakeholder-nya. Untuk dapat manghadapi tantangan ini, diperlukan penerapan kebijakan strategis, termasuk penerapan kebijakan pendidikan. Langkah ke arah tersebut tidak dapat mengesampingkan pemeranan guru yang menjadi tumpuan utama pada setiap satuan pendidikan. Pemeranan harus dilakukan agar mereka menjadi sosok yang benar-benar diharapkan mampu melaksanakan proses pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan zaman dengan kurikulum yang berlaku sebagai target antaranya.

Tantangan yang harus dihadapi terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat itu angkanya mencapai 70%. karena itu, fenomena masa depan tersebut merupakan tantangan besar yang harus dihadapi dan diantisipasi dengan tepat. Strategi kebijakan yang harus dilakukan adalah mengupayakan agar limpahan sumber daya manusia usia produktif tersebut dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia dengan kepemilikan kompetensi dan keterampilan. Untuk mencapai hal tersebut penerapan kebijakan pendidikan dengan guru di dalamnya sangat besar perannya.

Tantangan lainnya, antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Selain itu, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi, dan transformasi bidang pendidikan tidak dapat dianggap angin lalu olah bangsa ini.

Guru menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan pendidikan dengan tugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, guru menjadi faktor pengungkit pemajuan pendidikan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan.

Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan core yang mewarnai proses pendidikan pada satuan pendidikan. Dalam keberlangsungan proses pembelajaran, guru terposisikan sebagai sosok sentralnya. Mereka harus mampu menyelenggarakan poses pembelajaran yang bermakna bagi setiap siswanya. Mereka harus mampu menyusun perencanaan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan arah kebermaknaan bagi siswa.

Pembelajaran Berpusat pada Siswa
Hasil penelitian dalam What Teacher Knowledge Matters in Effectively Developing Critical Thinkers in the 21st Century Curriculum? mengungkapkan bahwa sebagai agen utama perubahan dalam reformasi pendidikan, guru dipandang sebagai pusat untuk melakukan perubahan. Guru diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan guru dalam pembelajaran berpikir kritis harus dikembangkan secara eksplisit dan sistematis.

Upaya ke arah itu tentu tidak dapat menyandarkan diri terhadap dorongan internal dari guru sendiri tetapi harus pula mendapat dorongan eksternal melalui penerapan kebijakan dari para stakeholder pendidikan.
Hasil penelitian tersebut secara tersurat menempatkan guru sebagai tumpuan utama keberhasilan pendidikan. Guru dengan kompetensi yang baik dimungkinkan akan dapat mengantarkan setiap siswanya pada tujuan kurikuler yang telah digariskan. Karena itu, penguatan kompetensi guru mutlak diperlukan dan harus menjadi kebijakan strategis dari para stakeholder pendidikan. Kebijakan pendidikan harus mengarah pada upaya penguatan guru agar benar-benar menjadi sosok berkompetensi yang dapat melaksanakan pembelajaran kreatif dan inovatif.

Saat ini, penyelenggaraan pendidikan harus mengarah pada capaian keterampilan abad ke-21. Dalam konsep pendidikan Indonesia, Kemendikbudristek telah merilis visi pendidikan Indonesia. Visi ini secara eksplisit mengungkapkan bahwa proses pendidikan mengarah pada mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Visi tersebut harus dicapai oleh setiap satuan pendidikan sehingga melahirkan peserta didik sebagai outcomes berprofil Pancasila.

Penetapan visi pendidikan Indonesia merupakan salah satu upaya untuk membumikan Pancasila di kalangan siswa yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Sebagai kearifan bangsa yang menjadi pondasi berkehidupan, Pancasila dikolaborasi bersama tampilan tuntutan keterampilan abad ke-21. Kolaborasi tersebut mengarah pada tampilan profil pelajar Pancasila yang menjadi core visi pendidikan Indonesia.

Untuk mencapai visi tersebut, perubahan paling krusial yang harus dilakukan adalah melakukan reformasi terhadap keterlaksanaan proses pembelajaran yang diselenggarakan guru. Pencapaian profil pelajar Pancasila dalam kemasan visi pendidikan Indonesia oleh siswa dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan reformasi proses pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada siswa merupakan jawaban untuk mencapai visi tersebut. Pola pembelajaran berpusat pada siswa dimungkinkan mengarah pada tampilan siswa yang sesuai dengan tujuan yang dipancangkan dalam visi pendidikan Indonesia. Pola pembelajaran tersebut dapat mangarahkan pada suasana kegiatan belajar mengajar bermakna, sehingga pengetahuan yang didapat siswa dapat digunakan dalam menyikapi kehidupan keseharian masa kini dan masa depannya.

Merujuk pada konsep pembelajaran kekinian yang menjadi tugas dan fungsi utamanya, guru harus berperan sebagai tutor, resource linkers, fasilitator, gate keepers, dan catalyst. Penerapan konsep tersebut dimungkinkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mengarahkan proses pembelajaran agar bermakna bagi siswa. Dalam kapasitas sebagai tutor, guru memiliki tugas sebagai pemberi bimbingan belajar terhadap seluruh siswa pada mata pelajaran yang diampunya. Sebagai seorang resource linkers, guru memosisikan diri menjadi penghubung atas sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Berkenaan dengan fasilitator, guru berada pada posisi penyedia kebutuhan pembelajaran yang dilakukan setiap siswanya. Dalam posisi gate keepers, guru menempatkan diri sebagai penyeleksi materi yang dianggap penting dan esensial untuk dipahami siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakannnya. Sedangkan sebagai catalyst, seorang guru merupakan sosok yang menjadi agen perubahan sehingga pembelajaran yang dilakukannya akan bermanfaat bagi kehidupan masa depan siswa.

Dengan tampilan guru yang mampu melakukan perubahan melalui reformasi proses pembelajaran, capaian tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam visi pendidikan Indonesia akan dapat tercapai. Upaya memosisikan guru agar mampu melakukan hal itu tidaklah semudah membalikkan tangan. Dorongan perubahan harus datang dari sisi internal dan eksternal. Guru harus memiliki keinginan kuat guna melakukan reformasi pola pembelajaran. Demikian pula dengan para stakeholder pendidikan, mereka harus dapat men-suport dengan menerapkan kebijakan strategis.

Simpulan
Guru mengemban tugas utama merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam konteks ini, guru menjadi tumpuan utama yang dapat mengungkit pemajuan pendidikan.

Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan core pendidikan yang mewarnai pendidikan pada satuan pendidikan. Dalam keberlangsungan proses pembelajaran, guru terposisikan sebagai sosok sentralnya. Mereka harus mampu meyusun perencanaan dan melaksanakan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswanya.

Guru harus mampu melakukan perubahan melalui reformasi proses pembelajaran dengan arah pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Upaya tersebut tidaklah semudah membalikkan tangan. Dorongan perubahan harus datang dari sisi internal dan eksternal. Guru harus berkeinginan melakukan reformasi pola pembelajaran. Demikian pula dengan para stakeholder pendidikan, mereka harus dapat men-suport dengan menerapkan kebijakan strategis. ****DasARSS.

Warga Sekolah BERLITERASI DIGITAL


Dadang A. Sapardan
(Kepala Bidang Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Denyut nadi kehidupan manusia sudah menapaki era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dengan fenomena yang diwarnai pemanfaatan perangkat digital dalam berkehidupan. Maraknya pemanfaatan perangkat digital diperkuat pula dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk melanda bangsa ini. Saat ini, beberapa sisi kehidupan masyarakat tercukupkan beraktivitas sambil memegang perangkat digital. Dengan fenomena kehidupan tersebut, masyarakat dituntut untuk mampu menyikapinya sehingga mendapat kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

Keberadaan perangkat digital telah mampu memobilisasikan entitas pengetahuan secara cepat, murah, dan masiv. Lebih jauh lagi, perangkat ini telah melahirkan fenomena disrupsi pada sebagian besar pranata kehidupan masyarakat. Beberapa pola kehidupan yang selama beberapa puluh bahkan ratus tahun menghiasi denyut nadi kehidupan masyarakat, dengan terpaksa harus tergantikan dengan pola kehidupan bernuansa pemanfaatan perangkat digital.

Dari waktu ke waktu, pemanfaatan perangkat digital semakin masiv dalam denyut nadi kehidupan masyarakat. Masivnya masyarakat dalam memanfaatkan perangkat digital dapat mengarah pada dua domain yang bertolak belakang. Pemanfaatan perangkat digital telah memberi kemudahan untuk dapat berhubungan dengan pihak lain dalam dunia maya.

Berbagai kemudahan pun merambah pada ranah pendidikan. Pemanfaatan perangkat digital telah memberi warna dalam pengelolaan sekolah. Pemanfaatan perangkat ini telah memberi berbagai kemudahan dalam manajemen pembelajaran dan manajemen tata kelola sekolah. Proses pembelajaran dimungkinkan dilakukan melalui penggabungan moda luring (luar jaringan) dengan moda daring (dalam jaringan), demikian juga dengan tata kelola sekolah.

Adalah tugas dan tanggung jawab sekolah dan para pemangku kepentingan sekolah untuk secara gencar mengimplementasikan literasi digital sehingga warga sekolah piawai memanfaatkan perangkat digital. Upaya tersebut perlu dilakukan dengan menerapkan strategi yang terstruktur, sistematis, dan masiv disertai dengan menggandeng berbagai elemen lainnya, seperti pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta berbagai pihak lainnya.

Dengan melakukan strategi demikian, diharapkan akan dapat mendorong setiap warga sekolah untuk mampu memanfaatkan perangkat digital dalam manajemen pembelajaran dan manajemen tata kelola sekolah. Arah kepemilikan kompetensi seluruh warga sekolah tersebut pada intinya tertuju pada upaya untuk dapat memfasilitasi siswa agar dapat mengimbangi denyut nadi perkembangan kehidupan. Inilah tujuan utama dari semua kebijakan yang diterapkan sekolah.

Literasi Digital Menjadi Keharusan
Literasi digital dimaknai sebagai pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkan secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi tanggung jawab berbagai pihak untuk dapat menampilkan sosok berpengetahuan dan berkecakapan digital yang mumpuni seperti di atas. Pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, serta pihak lainnya harus harus berkolaborasi secara sinergis dalam menampilkan sosok demikian.

Untuk dapat menampilkan sosok yang memiliki kemampuan literasi digital bukanlah pekerjaan yang mudah, diperlukan penerapan kebijakan strategis yang didasari kajian komprehensif. Kebijakan yang disusun harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan dengan secara terstruktur, sistematis, dan masiv, sehingga hasilnya benar-benar sesuai dengan target yang dipancangkan.

Literasi digital mengarah pada dua ranah, yaitu kompetensi mengoperasionalkan perangkat digital (tecnological literacy) serta kompetensi memroses informasi dari perangkat digital secara optimal (information literacy). Kedua ranah inilah yang harus menjadi perhatian berbagai pihak sehingga dapat melahirkan masyarakat yang literat digital.

Warga sekolah yang menjadi bagian dari ekosistem penyiapan siswa sehingga menjadi sumber daya manusia masa depan potensial, harus dibawa pada kemampuan beradaptasi pada denyut nadi kehidupan kekinian. Denyut nadi kehidupan yang dimaksud tentunya bernuansa pemanfaatan perangkat digital. Mereka harus diarahkan agar mampu beradaptasi dengan potensi teknologi digital dalam ranah pendidikan. Mereka perlu dibawa pada pemahaman bahwa literasi digital merupakan kompetensi penting yang dituntut untuk dapat berpartisipasi aktif dalam era kehidupan kekinian. Mereka harus dibawa pula pada kesadaran bahwa kemampuan mengoperasionalkan perangkat digital harus dibarengi dengan tanggung jawab atas setiap pemanfaatannya.

Tugas demikian merupakan kewajiban yang harus dipikul oleh sekolah di bawah kepemimpinan kepala sekolah. Sebagai pucuk pimpinan yang bertugas menyusun kebijakan terkait dengan pengelolaan pembelajaran dan tata kelola sekolah. Setiap kepala sekolah harus mampu untuk mewujudkan pelaksanaan pembelajaran dan tata kelola sekolah dengan nuansa pemanfaatan perangkat digital. Penerapan kebijakan tersebut diarahkan pada tampilan warga sekolah yang berkompetensi dalam mengoperasionalkan perangkat digital (tecnological literacy) serta berkompetensi memroses informasi dari perangkat digital secara optimal (information literacy).

Sekolah sebagai lembaga penyiap sumber daya manusia masa depan harus menjadi ekosistem pertama yang mampu menyikapi denyut nadi perkembangan kehidupan. Dalam kaitan itu, sekolah di bawah kepemimpinan kepala sekolah harus dapat membawa warga sekolah agar memiliki kompetensi literasi digital (tecnological literacy dan information literacy). Dengan kepemilikan kompetensi literasi digital, setiap warga sekolah dimungkinkan piawai dalam mencari dan memahami informasi dengan cepat, memperoleh informasi kekinian, mendapati kemudahan dan kecepatan dalam berkomunikasi, mampu menjaga privasi diri dan orang lain, memahami cybercrime, serta mengenal situs dan konten palsu.

Terkait upaya upaya tersebut, menarik sekali ungkapan yang disampaikan El Hajj Malik El Shabazz, Education is the passport to the future, tomorrow belongs to those who prepare for it today. Ungkapan tersebut mengarah pada berbagai strategi yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan sekolah sehingga penyelenggaraannya benar-benar mengarah pada upaya penyiapan siswa untuk memiliki passport dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

Simpulan
Era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dengan fenomena yang didominasi pemanfaatan perangkat digital dalam berkehidupan telah mengubah denyut nadi kehidupan masyarakat. Kenyataan itu diperkuat pula dengan pandemi Covid-19 yang mendera dunia, termasuk mendera pula bangsa ini. Dengan fenomena kehidupan tersebut, masyarakat dituntut untuk mampu menyikapinya sehingga mendapat kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

Sebagai lembaga penyiap sumber daya manusia masa depan, sekolah harus menjadi ekosisitem pertama yang mampu menyikapi denyut nadi perkembangan kehidupan. Sekolah di bawah kepemimpinan kepala sekolah harus dapat membawa warga sekolah agar memiliki kompetensi literasi digital (tecnological literacy dan information literacy). Kepemilikan kompetensi seluruh warga sekolah tersebut mengarah pada core pendidikan, yaitu memfasilitasi seluruh siswa agar dapat mengimbangi denyut nadi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan. **** DasARSS.

Sensei, JOERAGAN GOEROE

Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Kisah guru sangat universal. Rekam jejaknya dari zaman ke zaman sangat istimewa. Mereka penyandang profesi terhormat dan disegani. Guru diyakini sebagai orang bijak dan berilmu. Begitu istimewanya sosok guru, Plato – filsuf Yunani yang hidup 25 abad lampau (427 SM- 327 SM), pernah berujar, Teachers have such power that prime minister can only dream about it. Guru memiliki kekuatan sedemikian rupa sehingga seorang Perdana Menteri sekalipun hanya dapat memimpikan.
Itulah sosok guru. Kelompok terhormat yang berwibawa karena ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka kelompok terpandang.

Sistem pendidikan guru pun secara terus menerus ditata ulang. Sistem regulasi, penggajian, remunarasi dan karir guru juga berdampak pada profesi guru semakin membaik. Sertifikasi guru dan calon guru terus dibenahi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan ataupun PPG Prajabatan. Kehidupan guru menjadi semakin cerah. Mereka mendedikasikan kemampuan profesionalnya secara penuh, dan hak kesejahteraannya secara bertahap bisa terpenuhi.

Namun demikian, bagi kelompok guru tertentu, masih juga terhembus derita sendu. Mereka belum semua mendapat imbalan hak yang lebih baik. Oleh karena itu, sosok guru masih menjadi objek parodi karena nasibnya tak selalu berbanding lurus dengan tugas yang diembannya.

Saat ini masih banyak guru yang mendedikasikan waktu dan pikirannya secara penuh, namun belum mendapat hak penghasilan yang memadai. Sebut saja sosok guru honor. Mereka bukan sebuah balada dalam aliran cerita, tetapi kondisi lebih pada fakta. Sisi lain realita kegetiran di negeri ini. Masih banyak guru honor yang hak kesejahteraannya sangat minim. Mereka harus survive dengan penghasilan yang jauh di bawah UMR, padahal tugasnya sangat mulia yaitu mencerdaskan generasi muda.

Satir Oemar Bakri

Lagu Oemar Bakrie yang dinyanyikan Iwan Fals sangat melegenda pada tahun 1980-an. Lagu satir ini bertutur tentang sosok guru sederhana yang mengajar tanpa pamrih. Ia figur guru yang sepenuh hati berbakti. Simak penggalan liriknya.
Oemar bakri empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri banyak ciptakan menteri,
profesor, dokter, insinyur pun jadi
mengapa gaji guru Oemar bakri selalu dikebiri..
Satir lagu ini begitu mendalam sebagai kritik kehidupan sosial pada masa itu. Figur guru diilustrasikan sangat sederhana. Ia seorang pesepeda sejati dengan tas lusuh menelusuri jalan berlubang. Baktinya tak luntur. Ia tetap mengabdi agar anak didiknya bisa belajar keras untuk masa depan yang lebih baik.

Joeragan Goeroe

Guru atau Goeroe zaman doeloe sering menjadi nostalgia (sengaja ditulis dengan huruf oe=u). Guru jebolan Kweekachool voor Inlandsche Onderwijern atau Sekolah Guru bagi kaum pribumi, tampil disegani oleh para murid nya. Atau pada beberapa dekade berikutnya, guru muda jebolan Sekolah Guru Bagian B (SGB) tampil prima mendidik anak pribumi di bangku Sekolah Rakyat (SR).

Ungkapan akronim Guru sebagai “orang yang digugu dan ditiru” saat itu sangat dirasakan. Guru merupakan sosok yang sangat dihormati dan disegani. Mereka tak hanya mengajar bidang ilmu tetapi juga mendidik moral, integritas, karakter dan sopan santun. Pola manajemen sekolahpun dilakukan dengan sistem inspeksi. Ada Mantri Goeroe istilah populer untuk kepala sekolah. Sedangkan untuk Pengawas Sekolah dikenal dengan nama School Opzichter atau sering disebut Opsiner.

Alkisah, konon pada suatu hari, Toean Opsiner datang ke sekolah. Ia akan melakukan inspeksi mendadak. Ia pergi ke toilet dulu, dan menyimpan pakaian kebesarannya baju jas putih putih dan topi bulat yang khas seperti helm di meja guru depan kelas. Ketika siswa satu per satu masuk kelas, dengan rasa “hormat dan campur takut”, semua siswa membungkukan kepala dan badannya sebagai tanda hormat pada baju dan topi bundar sang opsiner.
Itulah sisi lain pendidikan di zaman kolonial. Joeragan Goeroe, Mantri Goeroe dan Opsiner merupakan tokoh yang dihormati sekaligus “ditakuti” oleh para murid sekolah rakyat.

Sensei

Dalam dimensi global, sosok guru merupakan salah kelompok elit yang disegani dan dihormati. Bagi masyarakat Jepang misalnya, masyarakat sangat menghargai profesi guru. Mereka sangat hormat dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para guru. Mereka menyebut guru dengan sebutan sangat terhormat yaitu Sensei.

Tofugu (2019) menulis bahwa kata sensei memiliki makna sebagai a person born before you were. Orang lahir sebelum anda. Maknanya adalah orang yang “dituakan” dan dihormat. Mereka merupakan sosok yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni. Dengan dengan demikian sebutan sensei bisa juga melekat pada profesi lain dengan expertise tertentu yang sangat disegani masyarakat.

Studi yang dilakukan Japan Education System (2018) menyebutkan bahwa dari 82 profesi utama di Jepang, ternyata guru berada pada posisi 18, kepala sekolah posisi 9, dan profesor urutan ke 3. Hal ini menunjukkan bahwa profesi guru, kepala sekolah dan dosen di perguruan tinggi merupakan kelompok yang sangat dihargai. Mereka dihormati dan sudah barang tentu juga, mereka mendapat penghasilan yang sepadan.

Seorang rekan yang lama bermukim di Jepang pernah mengemukakan pengalaman menarik. Walau lebih sebagai joke. Tradisi masyarakat Jepang yang sangat menghargai sensei, biasanya diekspresikan dengan memberi gestur hormat. Yaitu dengan lebih membungkukkan kepala dan badannya ketika bersua sensei.

Suatu hari, seseorang bertemu dengan sensei senior yang memang sudah bungkuk postur tubuhnya. Ketika sang sensei mengangguk dan membungkukan badannya, ia dengan susah payah menurunkan posisi badannya untuk lebih bungkuk lagi.

Demikian juga dalam tradisi masyarakat China. Mereka juga hampir sama dengan bangsa Jepang, begitu hormat pada guru. Masyarakat China menyebut guru dengan ujaran Seonsaeng atau Xiansheng. Suatu predikat terhormat disematkan bagi seseorang yang berilmu dan mengabdikan dirinya untuk mengajar.

Begitu hormatnya kepada sang guru, dalam tradisi Cina masa lampau, penghargaan pada guru diberikan dalam bentuk Xiushu. Arti Xiushu adalah a bunch of dried meat. Sebongkah daging yang dikeringkan atau dendeng. Secara filosofis, maknanya profesi guru patut diberi penghargaan yang tinggi, hidup berkecukupan dengan mengkonsumsi makanan bergizi higinies. Melalui tunjangan Xiushu inilah para guru bisa terus sehat mengabdi untuk melahirkan generasi terdidik.

Mr.Chips

Akisah, di sebuah sekolah sederhana Brookfield school di pedesaan Fenland. Sosok seorang guru muda bernama Mr. Chips sangat dicintai murid muridnya. Ia sosok guru yang taat secara konvensional dalam keyakinannya dan menerapkan disiplin yang kuat di kelas bagi muridnya. He is conventional in his belief and exercises firm dicipline in the classroom.
Mr. Chip juga seorang guru yang efektif dan sangat dihormati. Ia guru yang humoris dan menyenangkan semua orang. He is an effective teacher, and develop an arch sense of humour that pleases everyone. Namun demikian, sikap pedagogisnya mengendur setelah ia menikah dengan wanita muda bernama Katherine. Terjadi perubahan drastis dalam pola pembelajaran di sekolah tersebut. Namun pernikahan Mr. Chip dengan pujaannya tak berlangsung lama. Kathrine wafat ketika melahirkan putra mereka. Terjadilah pergulatan bathin pada diri sang guru Mr. Chips.

Itulah kisah penggalan Novel berjudul “Good Bye Mr.Chips”. Novel buah pena Sastrawan kaliber dunia James Hilton pada tahun 1933. Novel ini sangat populer dan menjadi best seller dan mendunia. Novel Mr.Chips inilah yang membawa James Hilton bertengger sebagai penulis Novel terkenal kelas dunia.

Itulah sosok guru dari berbagai sisi. Guru adalah pribadi yang sangat dihormati semua kalangan. Begitu pentingnya posisi guru, banyak telaah tentang guru sebagai pribadi yang patut digugu dan ditiru.***

 

AVICENNA AWARD

Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA

(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Jagat raya terguncang. Pada awal Juni 1993, UNESCO mengumumkan akan memberi penghargaan Avicenna Award (Ibnu Sina) kepada Presiden Soeharto. Hal yang membanggakan,  Direktur Jenderal UNESCO Prof. Federico Mayor akan datang sendiri ke Jakarta untuk menyerahkan  penghargaan yang prestisius dan Avicenna award pertama tersebut.

Pak Harto dalam kapasitas Presiden Republik Indonesia diapresiasi UNESCO sebagai sosok negarawan tangguh yang mampu melakukan terobosan inovatif dan massal guna memberantas Tiga Buta (buta aksara & buta angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar). Pemerintah Indonesia diapresiasi karena mampu melakukan terobosan kebijakan untuk mencerdaskan masyarakat dari kegelapan buta huruf buta aksara (iliterate comunity) menjadi masyarakat yang mulai melek pengetahuan dasar (early literate community).

Dalam sambutan penyerahan Avicenna Award, Federico Mayor (1993) menegaskan noting that UNESCO had for years paid close attention to Soeharto’s efforts to make education programs available, even in the country’s most remote areas, and that other devoping countries should folow Indonesia’s lead in successfully decreasing illiteracy. Dalam pandangan UNESCO, Indonesia menjadi model negara yang patut diadopsi oleh negara berkembang dalam mengatasi kebodohan dan keterbelakangan melalui berbagai progam pendidikan.

Nama Avicenna atau Ibnu Sina itu sendiri yang dijadikan simbol ilmu pengetahuan dan nama Award UNESCO merupakan seorang ilmuwan muslim kaliber dunia pada abad 10. Ibnu Sina (980-1037) dikenal sebagai filosof, ilmuwan Kedokteran  kelahiran Persia (Iran). Ia penulis dan ilmuwan produktif, yang karya karya menjadi rujukan bidang kedokteran sampai sekarang. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Al Qanun fi At Tibb atau Kitab Penyembuhan dan Qanun Kedokteran.

Ketika pandemik Covid 19 melanda dunia sampai saat ini, masyarakat dunia sangat mempercayai tentang pernyataan yang diungkapkan Ibnu Sina lebih 1000 tahun yang lalu. Kata bijak yang dikemukakannya menjadi tuntunan dan terapi dalam mengatasi pandemik Covid-19.   Ibnu Sina berujar :   Kepanikan adalah separuh Penyakit. Ketenangan adalah Separuh Obat. Dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan.

SD Inpres

SD Inpres sangat melegenda. Program ini berdasarkan Instruksi Presiden RI nomor 10 tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Gedung SD. Pada tahap pertama, Pemerintah telah berhasil membangun 6.000 SD dengan fasilitas minimal dan pengadaan Guru SD yang berkualifikasi lulusan  Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau sederajat.  Hingga tahun 1994 telah dibangun 150 ribu SD tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Selain Program SD Inpres, Pemerintah juga merintis SD Pamong pada tahun 1975, SD Pamong ini diperuntukan bagi anak putus sekolah, untuk  menuntaskan studi di Sekolah Dasar.

Secara nasional, kebijakan pembangunan SD INPRES 1973 -1994 telah memberikan kesempatan anak usia SD untuk bisa menuntaskan wajib belajar 6 tahun.

Investasi kebijakan SD INPRES inilah yang diapresiasi UNESCO. Melalui pendekatan kebijakan tersebut,  Indonesia berhasil memberantas Tiga Buta. Program nasional ini telah dijadikan  success story bangsa Indonesia untuk adopsi bangsa lain.

Meraih Noble Prize

Dalam kajian makro, efek Kebijakan SD Inpres khas Indonesia ini, ternyata telah menjadi lahan subur  bagi para peneliti dunia bidang ekonomi. Banyak riset internasional yang mengkaji  perkembangan ekonomi masyarakat diamati dari raihan pendidikan dan kesehatan masyarakat yang dialaminya. Termasuk bagaimana efek kebijakan pembangunan SD Inpres bisa memberikan pengaruh signifikan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin.

Tiga ekonom kaliber dunia berkebangsaan  Amerika Serikat yaitu : Esther Dufo, Abhijt Banerjee dan  Michael Kremer pada tahun  2019 meraih Hadiah Nobel (Noble Prize) bidang Ekonomi.  Esther Dufo – profesor di Massachuset Intitute of Technogy (MIT), salah seorang periset yang meraih Nobel Prize ini  melakukan penelitian SD Inpres. Judul penelitiannya Schooling ang Labour Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from  an Unusual Policy Experiment. Riset  yang dilakukan Dufo dkk tentang Kebijakan Pendidikan SD Inpres ini telah mengantarkan mereka untuk meraih Nobel Prize di bidang Ekonomi.

Bila teman teman tertarik dengan hasil riset tersebut akan saya kirim papernya.

Selamat berakhir pekan sahabat!