MEMICU SEMANGAT PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Oleh: Hj. Yeti Resmiati, M. Pd

(Kepala SMPN 2 Parongpong Bandung Barat)

Pembelajaran daring (e-learning) sebenarnya bukan hal baru. Bahkan semakin familiar diaplikasikan mulai tingkat Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Platform ini mendukung sekolah serta peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Sekaligus memantau perkembangan siswa dengan berbagai program yang ditawarkan.

SMPN 2 Parongpong. Dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).  Hal ini dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan kenyamanan. Metode pembelajaran daring secara penuh menjadi pilihan utama di tengah situasi pembatasan sosial yang diberlakukan baru-baru ini.

Seperti diketahui, saat ini pandemi Covid -19 ternyata masih mewabah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung Barat. Walaupun aturan Dinas Pendidikan masih seketat di awal pandemi, namun beberapa instansi khususnya di lembaga pendidikan telah membuka dan melakukan kegiatan seperti biasanya. Tentu saja dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Namun, setelah PJJ dilaksanakan muncul lah beberapa kendala yang dirasakan guru, siswa, dan orang tua. Kendala tersebut karena ketidakterbiasaan pembelajaran tanpa guru sehingga orang tua terpaksa harus bertindak sebagai guru. Mereka harus mengawasi, mengontrol, dan memberikan motivasi, serta melaporkan hasil pekerjaan putra- putrinya. Selain itu, luasnya materi pelajaran, dan ketidakleluasaan menerapkan nilai karakter kepada siswa

Penulis berasumsi untuk menetralisasi kendala yang dihadapi serta memacu dan memicu semangat para guru dalam melaksanakan tugasnya, diperlukan penyelenggaraan In House Training (IHT). Maka, sebagai Kepala Sekolah, digagaslah kegiatan tersebut pada tahun lalu  dengan mengusung tema- Optimalisasi E- Learning dalam Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid- 19 .

Di kegiatan di atas, penulis menyampaikan bahwa pembelajaran daring (e-learning) sebenarnya bukan hal baru. Bahkan semakin familiar diaplikasikan mulai tingkat Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Platform ini mendukung sekolah serta peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Sekaligus memantau perkembangan siswa dengan berbagai program yang ditawarkan.

Penulis juga menyampaikan bahwa metode e-learning akan terus dijalankan saat pandemi. Tidak terbatas pada pembelajaran daring, juga diterapkan untuk kegiatan Ulangan Tengah Semester ( UTS). Kemudian pada kegiatan praktikum setiap mata pelajaran, dan pelaksanaan tugas-tugas akhir siswa. Bahkan akan diimplementasikan  dengan berbagai variasi. Hal ini sangat membantu meningkatkan kreativitas dan aktivitas guru dalam menyampaikan materi secara utuh dan lebih hidup. Selain itu, mendorong siswa untuk tidak bosan dalam belajar mandiri sehingga beroleh pengalaman kontekstual.

Adalah sangat menarik saat IHT dilaksanakan, rekan guru yang membidangi kurikulum, Retno Widijawati,  yang menyajikan kegiatan dengan membacakan puisi karya sendiri. Hal ini kemudian diikuti oleh penulis, Komite Sekolah, Asep Kurnia, Wakasek Kurikulum, Iis Holisoh, dan Iyan Priatna, selaku perwakilan guru.

Selajutnya, acara dilanjutkan dengan penyampaian informasi kedinasan dan pemberian materi  PJJ oleh Pengawas Pembina, Sri Kusuma Ayuningsih. Bunda Ayu menuturkan tentang esensi merdeka belajar dan hubungannya dengan pembelajaran e- learning. diharapkannya bahwa pembelajaran tidak boleh dipersulit . Guru kekinian di era new normal hendaknya memiliki jiwa inovatif, kreatif, mampu menjadi fasilitator, katalisator, dan motivator yang handal bagi siswanya. Hal ini merupakan ciri utama dari sosok guru penggerak.

Tidak lupa dilaksanakan sesi tanya jawab interaktif. Banyak ide muncul. Hal ini menginspirasi para guru untuk selalu semangat dalam kegiatan pembelajaran sehingga mampu menggugah pembelajar. Diperkenalkan pula motode- metode pembelajaran jarak jauh, seperti ruang guru, rumah belajar, google classroom, zoom meet, google meet,  quipper, dan google form, dan lain-lain.

Pada akhir sesi, kegiatan diisi oleh Wakasek Kurikulum, Jaka Purwakusumah, yang memandu peserta IHT mempraktikkan cara penggunaan aplikasi Google Form. Hal ini untuk memudahkan guru dalam melakukan penilaian dan pemahaman para siswa. Tampak seluruh peserta sangat antusias menyimak dan mempraktikkannya.

Akhirnya, penulis berharap dengan kegiatan IHT ini, SMPN 2 Parongpong dapat memberikan layanan optimal kepada peserta didik sehingga dapat menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang bermutu. *

KONKLUSI BELAJAR DARI PENDIDIKAN

Deni Ramdani, M.Pd

(Kasubag Kepegawaian dan Umum Disperindag KBB)

Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar juga merupakan sesuatu yang dilakukan untuk menguasai hal tertentu, yang diperkuat melalui latihan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Pendidikan adalah suatu proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang melalui pembinaan dan mengembangkan kepribadian manusia baik dari segi rohani maupun jasmani.

Dalam sebuah renungan ketika masih jam kantor sambil duduk dekat pintu jendela. terlintas dalam pikiran ini, bahwa dalam menjalani proses belajar dari pendidikan itu setidaknya ada dua hal yang menjadi renungan penulis, yakni pendidikan dunia-penilaian di dunia, dan pendidikan dunia-penilaian untuk akhirat. Meskipun kedua prosesnya sama, yaitu di dunia.  Dan akhirat sebagai perhitungan terkait amal baik dan amal buruk.

Pertama, dalam pendidikan dunia-penilaian di dunia, yang dikaitkan dengan pendidikan formal, seperti, sekolah PAUD/Taman Pendidikan Al-Qur’an, SD/MI, SMP/MTs, SMA atau kejuruan/MA, dan Perguruan tinggi.

Untuk mengetahui perkembangan hasil yang telah dicapai dalam belajar, maka harus dilakukan evaluasi. Harus ada kriteria yang mengacu pada tujuan sehingga dapat diketahui seberapa besar hasil proses belajar dari pendidikan.

Penilaian Hasil Belajar Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (hal 120-121) mengungkapkan, bahwa untuk mengukur dan mengevaluasi hasil belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.

Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan dalam tes formatif, tes subsumatif, dan tes sumatif. Kemudian hasil dari pendidikan formal, adalah peserta lulus ujian sesuai standar nasional pendidikan.

Kedua, pendidikan dunia-penilaian untuk akherat. Proses belajar ini bisa saja melalui pendidikan formal, nonformal tapi lebih condong ke pendidikan informal. Karena pendidikan ini diberikan kepada setiap individu sejak lahir dan sepanjang hayat, baik melalui keluarga maupun lingkungannya. Jalur pendidikan ini akan menjadi dasar yang akan membentuk kebiasaan, watak, dan perilaku seseorang di masa depan, yang utama tertanam bagaimana cara melaksanakan kehidupan tersebut menuju Allah Swt.

Adapun ciri-ciri pendidikan informal, yakni tidak ada persyaratan khusus yang harus dilengkapi, tidak perlu mengikuti ujian tertentu, tidak terdapat kurikulum khusus yang harus dijalankan, tidak terdapat jenjang dalam proses pendidikannya. Namun, dilakukan secara terus menerus tanpa mengenal ruang dan waktu.

Salah satu jalur pendidikan ini adalah pendidikan agama melalui syariat. Sementara syariat merupakan jalan hidup muslim yang memuat ketetapan Allah dan ketentuan Rasul-Nya, berupa larangan maupun suruhan yang tertuang dalam hukum Islam, seperti wajib/fardhu, sunnah, makruh, mubah dan haram.

Ketika berbicara tentang syariat, Islam namanya. Kitabnya adalah fikih. Sementara arah sasarannya jasad, kemudian gelarnya abid, kerjaannya adalah ibadah.

Konklusi belajar dari pendidikan adalah, pertama pendidikan dunia-penilaian di dunia. Adanya batasan waktu, adanya tes perjenjang dalam hasil belajar. Bukti hasilnya peserta harus lulus ujian sesuai standar nasional pendidikan.
Kedua, pendidikan dunia-penilaian untuk akhirat. Tidak adanya batasan waktu, tidak adanya batasan umur, karena dilaksanakan sejak lahir dan sepanjang hayat, tidak adanya harus lulus ujian sesuai standar nasional pendidikan dari pemerintah.*

 

PENGUATAN BAHASA DAERAH DALAM RANAH PENDIDIKAN

Wika Karina Damayanti, S.Pd., S.H., M.Pd.
(Kasi Pengembangan Bahasa dan Sastra, Bidang Pengembangan Kurikulum Disdik KBB)

Siapa yang tak kenal dengan BTS, Blackpink, atau Super Junior?! Girlband dan boyband asal Korea ini menjadi idola baru bagi generasi muda. Musik yang energik dan drama menarik dari negeri gingseng ini sangat digandrungi, bahkan anak usia TK pun sudah mengenal lagu serta gerakan tarian dari bintang-bintang K-POP tersebut. Para pecinta K-POP mampu menyanyikan lagu-lagu favoritnya dengan bahasa Korea yang fasih. Budaya Korea disajikan dengan epic melalui film dan musik. Bahasa, makanan khas, pakaian tradisonal, dan sejarah kekaisaran Korea terbalut secara menarik dalam tontonan sehari-hari. Tanpa disadari generasi muda di Indonesia telah diperkenalkan dengan budaya bangsa Korea melalui kecintaannya terhadap lagu dan film yang berasal dari Korea.

Fenomena tersebut memberikan sebuah pelajaran tentang pelestarian budaya bangsa. Mengapa kita tidak mengenal budaya sendiri, tetapi mencintai budaya bangsa lain??. Budaya harus diperkenalkan, dipelajari, dan dijadikan pembiasaan, sehingga lambat laun akan muncul rasa bangga dan cinta terhadap budaya asal. Budaya memiliki kaitan yang sangat erat dengan bahasa, karena bahasa merupakan cerminan dari budaya dan identintas dari para penuturnya. Perkenalan bahasa dan budaya daerah harus dilakukan mulai dari keluarga dan diperkuat dalam proses pembelajaran di sekolah.

Bahasa daerah menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah yang termasuk dalam kurikulum muatan lokal. Bahasa daerah tidak sepopuler pelajaran lain, sehingga berakibat pada motivasi siswa yang kurang dalam mengikuti pelajaran ini. Dibutuhkan strategi yang tepat dalam pengembangan mata pelajaran bahasa daerah agar dapat menarik minat siswa. Perencanaan pembelajaran yang baik akan membantu guru dalam penyelenggaraan kegiata  belajar mengajar.

Perencanaan pembelajaran merupakan aktivitas dalam merumuskan, mengelola, dan mengembangkan setiap unsur pembelajaran untuk dijadikan sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar. Perencanaan pembelajaran atau yang lebih dikenal dengan istilah RPP harus disiapkan oleh guru sebelum melaksanakan proses pembelajaran di kelas dengan  mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan terselenggaranya kegiatan belajar mengajar, seperti : tujuan dari setiap pembelajaran, indikator keberhasilan kompetensi, materi ajar, penggunaan metode, media, dan sumber belajar, alokasi waktu, rincian kegiatan pembelajaran,  serta evaluasi pembelajaran yang tepat.

Berikut adalah Langkah-langkah dalam penyusunan pembelajaran muatan lokal bahasa daerah, yaitu :

  1. Perumusan tujuan

Setiap aktivitas atau pekerjaan pasti memiliki tujuan. Tujuan berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan dalam suatu pekerjaan dan alasan pekerjaan tersebut dilakukan. Begitu pun dengan pembelajaran, tujuan adalah kompetensi atau kemampuan siswa yang didapatkan dari aktivitas belajar tersebut. Tujuan dalam pembelajaran dapat terlihat dari standar kompetensi dalam kurikulum, selanjutnya guru bertugas menurunkan tujuan umun tersebut kedalam tujuan khusus agar menjadi indikator lebih terinci dalam keberhasilan pembelajaran.

  1. Menentukan metode pembelajaran

Salah satu strategi meningkatkan minat belajar siswa adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang menarik. Pembelajaran harus dilakukan dua arah, sehingga dibutuhkan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan. Bagi Sebagian siswa mempelajari bahasa daerah bukan hal yang menarik, karena pada dasarnya mereka sudah menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari. Variasi penggunaan metode pembelajaran yang interaktif dan menarik dapat menimbulkan minat belajar siswa. metode yang dapat digunakan diantaranya : tanya jawab, diskusi, demonstrasi, resitasi, karya wisata, pemecahan masalah, discovery, dan jenis metode lainnya.

Kreativitas guru sangat dibutuhkan dalam merancang pembelajaran menarik yang digunakan untuk meningkatkan partisipasi aktif para siswanya. Dalam menentukan metode dan merancang kegiatan pembelajaran guru dapat membubuhi kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan Bersama siswa, seperti membuat permainan, memasukkan tugas kreatif seperti membuat karya dengan menggunakan bahasa daerah, menyanyikan lagu daerah, membacakan cerita dalam bahasa daerah, mengajak siswa untuk belajar di luar ruangan, berdiskusi dengan mengangkat tema yang sedang digemari oleh siswa dalam bahasa daerah, menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, jalin komunikasi baik dan berikan perhatian pada seluruh siswa.

Penggunaan metode pembelajaran yang tepat, menarik, dan menyenangkan dapat mempengaruhi keberhasilan belajar dan meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari bahasa daerah. Jika siswa tertarik mempelajari bahasa dan budaya daerah perlahan akan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah.

  1. Menentukan sumber belajar

Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Sumber belajar merupakan segala hal  yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk memudahkan siswa dalam mempelajari materi. Sumber belajar dapat berupa buku teks, media cetak dan elektornik, dan narasumber dalam lingkungan sekolah, keluarga, atau masyarakat luas. Guru dapat menentukan sumber belajar yang tepat bagi setiap pembelajarannya untuk memudahkan dan meningkatkan minta belajar siswa.

Pemanfaatan teknologi dapat membantu penyelenggaraan pembelajaran yang menarik. Guru dapat menggunakan buku cerita bahasa daerah, tayangan televisi, dan youtube dalam pembelajaran, seperti menampilkan lagu daerah, kesenian, atau drama dalam bahasa daerah. Dengan menampilkan kekayaan budaya sebagai sumber belajar maka dapat menambah wawasan siswa dalam pengenalan bahasa daerah dan juga budaya asal yang dimiliki.

  1. Menentukan evaluasi belajar

Evaluasi belajar tidak hanya dapat dilakukan melalui ujian saja, namun dapat dilakukan dengan menilai kemampuan siswa dalam berbahasa daerah yang baik. Guru dapat membuat sistem ujian praktik yang menarik, seperti meminta siswa membuat cerita, puisi, atau membuat pertunjukan dalam bahasa daerah. Ujian tulis dapat mengukur kemampuan siswa secara akademik, namun ujian praktik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa daerah.

Penguatan mata pelajaran bahasa daerah di sekolah perlu dilakukan dalam rangka pelestarian budaya. Jika anak-anak tidak lagi bsia berbahasa daerah maka lambat laun bahasa dan budaya daerah akan terancam punah. Perlindungan dan pelestarian budaya daerah sangat dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi bangsa. DisdikKBB-Wika.Kd.

 

 

 

ADAB DAN ILMU PENDIDIKAN

Deni Ramdani, M.Pd

(Kasubag Kepegawaian dan Umum Disperindag KBB)

Di saat santai dengan ditemani secangkir kopi bubuk, di balik jendela terlihat kondisi alam di luar sana yang tidak terlalu panas. Awan putih terlihat beriringan menutupi indahnya langit berwarna biru. Kemudian terasa hembusan angin memasuki ruangan. Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk dengan suara lembut seperti ada tamu yang ingin berkunjung. Setelah pintu dibuka ternyata guru mengaji penulis. Kalau dilihat dari segi usia masih muda di bawah penulis, namun jika dikaitkan dengan agama beliau termasuk sosok yang bisa dihandalkan secara keilmuannya.

Singkat kata dalam obrolan tersebut terbersit bahwa sang guru minta ditemani untuk diantar ke satu tempat dengan mempergunakan sarana transportasi. Di dalam perjalanan, guru ngaji seperti sedang mengucapkan doa yang nyaris tidak terdengar. Dari raut wajahnya nampak sedang meratapi kesedihan.

Penulis baru menyadari ternyata duka menyelimuti setelah tiba di tempat tujuan. Ternyata gurunya meninggal dunia. Terlihat hilir mudik dan lalu lalang pengunjung cukup lumayan banyak. Di sana tampak para pelayat saling mengucapkan salam. Ada yang mengajak berjabat tangan saat berpapasan, kemudian ada juga yang melakukan kecupan tangan kepada yang dituakan pertanda kehormatan.

Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa adanya tata krama atau adab dalam masyarakat akan menumbuhkan dan terjalin rasa persaudaraan dan ikatan batin antar individu. Tanpa adanya tata krama atau adab dalam masyarakat, maka akan hilang rasa persaudaraan dan ikatan antar individu, karena hilang rasa hormat serta rasa cinta antara satu orang dengan yang lainnya. Bila hal ini terjadi maka akan hilang akhlak dari diri setiap individu dan mungkin akan menimbulkan kejahatan.

Adab merupakan bagian dari akhlak yang menuntun manusia untuk menjadi pribadi beradab.  Adab juga merupakan hal yang penting dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama manusia. Hal ini berkenaan dengan aspek sikap dan nilai, baik individu ataupun hubungannya dengan sosial kemasyarakatan. Adab yang baik akan memberikan pengaruh dalam kehidupan. Adab secara menyeluruh terkait segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan hati, kebaikan, budi pekerti atau akhlak.

Jika dikaitkan dalam pendidikan formal dan nonformal, adab bagian dari pendidikan karakter yang bisa diimplementasikan oleh guru mata pelajaran, guru kelas terhadap muridnya. Implementasi pendidikan karakter bisa dilaksanan di saat proses pembelajan, baik sebelum atau setelah pembelajaran, bisa diluar ruangan atau di dalam ruangan. Hal ini tergantung dari suasana dan kondisi yang kemudian ditunjang dengan sisi keilmuannya.

Menurut rujukan yang penulis dapatkan dari Wikipedia, pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Sementara Ilmu sebagai alat untuk menilai baik dan buruk, benar dan salah. Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan. Kata Ilmu, atau ilmu pengetahuan memiliki pengertian usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman dari berbagai segi ilmu, dari kenyataan yang di alami baik interaksi langsung maupun interaksi tidak langsung.

Akhirnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa ketika dikaitkan antara adab dengan ilmu pendidikan, adab lebih utama ketimbang ilmu, karena dengan adab akan menghasilkan murid yang berilmu. Sementara kalau ilmu yang lebih diutamakan mungkin akan menghasilkan murid yang berilmu tapi tidak beradab.***

 

SEBARAN DAN PRODUKSI INFORMASI

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Beberapa waktu yang lalu berkesempatan untuk pemateri pada webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo). Dalam webinar bertajuk Gerakan Literasi Digital tersebut, materi yang disampaikan terkait dengan ethic digital. Mengacu pada kebijakan Kemenkominfo, ethic digital merupakan salah satu dari empat pilar literasi digital yang sedang dikampayekan dengan masiv melalui berbagai kanal informasi. Dengan upaya ini, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman komprehensif tentang pemanfaatan ruang digital untuk berkomunikasi.

Kehidupan manusia sudah berada pada era revolusi industri 4.0 (computer/internet of things). Fenomena yang terjadi adalah semakin kerapnya intensitas pemanfaatan perangkat digital dalam berkomunikasi. Efek dari fenomena ini adalah entitas pengetahuan dan informasi bergerak secara cepat, murah, dan masiv. Era ini melahirkan pula fenomena disrupsi pada sebagian besar tata kehidupan masyarakat, terjadi lompatan pemanfatan teknologi informasi dan komunikasi secara masiv dan optimal oleh sebagian besar masyarakat. Masyarakat sudah mulai terbiasa berkomunikasi melalui berbagai kanal media sosial.

Masivnya masyarakat dalam memanfaatkan ruang digital untuk berkomunikasi melalui kanal media sosial dapat mengarah pada dua sisi yang kontradiktif. Perhubungan melalui berbagai kanal media sosial telah memberi kemudahan untuk dapat berkomunikasi dengan tidak tersekat oleh ruang dan waktu. Sejalan dengan kemudahan yang diperoleh, ternyata pemanfaatan kanal media sosial mengandung resiko masuknya anasir tidak baik bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat. Berbagai anasir tidak baik yang diusung konten negatif—ujaran kebencian, fitnah, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, informasi hoax, dan lainnya—dengan mudah dapat tersebar pada berbagai kanal media sosial—instagram, whatsapps, twitter, facebook, youtube, dan media sosial lainnya.

Berbagai konten negatif tersebut bertebaran begitu banyak dan masiv sehingga dengan sangat mudah dikonsumsi oleh masyarakat pengguna kanal media sosial. Untuk menyikapinya, salah satu langkah yang harus dilakukan adalah membanjiri ruang digital dengan berbagai konten positif sebagai penyeimbangnya. Upaya untuk melakukan penyeimbangan tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh satu atau dua elemen masyarakat, tatapi harus dilakukan oleh sebagian besar elemen masyarakat dengan berbagai pemangku kepentingan sebagai motor penggeraknya.

Langkah tersebut tentunya tidak dapat berjalan baik, tanpa upaya untuk memberi pemahaman terhadap masyarakat tentang kesantunan dalam berkomunikasi dalam ruang digital. Dalam konteks ini, sangat dibutuhkan peran para pemangku kepentingan yang memiliki kesadaran akan berbahayanya masyarakat ketika dicekoki berbagai konten negatif. Karena itu, Kemenkominfo mengeluarkan kebijakan tentang peta jalan literasi digital 2021-2024. Peta jalan tersebut memuat secara eksplisit empat pilar yang harus dibangun pada masyarakat sebagai refleksi kepemilikan kompetensi literasi digital. Keempat pilar tersebut adalah digital skill, digital ethic, digital safety, dan digital culture.

Upaya untuk mendorong lahirnya kompetensi digital pada masyarakat adalah memberi pemahaman beretika (santun) di ruang digital. Mereka harus mengedepankan kesantunan dalam berkomunikasi melalui berbagai kanal yang tersedia—instagram, whatsapps, twitter, facebook, youtube, dan media sosial lainnya. Dengan demikian, anasir kurang baik melalui sebaran berbagai konten negatif—ujaran kebencian, fitnah, radikalisme, perjudian, penipuan, pornogafi, informasi hoax, dan lainnya—dapat ditekan seminimal mungkin.

Dalam konteks ini, yang harus dipahami oleh masyarakat sebagai pemanfaat media sosial adalah kesadaran bahwa berbagai konten yang diproduksinya atau disebar melalui kanal media sosial, akan menjadi konsumsi orang banyak dengan tidak berbatas ruang dan waktu. Dalam hitungan detik, setiap orang akan segera menangkap berbagai konten yang diproduksi atau disebar. Lebih jauh lagi, berbagai informasi yang diproduksi atau disebar menjadi jejak digital yang sangat sulit dihapus.

Kesadaran akan begitu cepat dan terbukanya setiap orang untuk mengakses setiap produksi konten pada kanal media sosial, perlu terus diperkuat, sehingga menjadi pemahaman masyarakat. Sebelum menautkan informasi pada kanal media sosial, mereka memiliki kewajiban untuk melakukan kajian matang terhadap berbagai informasi yang diproduksi atau disebarnya. Dengan demikian, masyarakat tidak akan mudah dan sembarangan dalam memroduksi atau menyebar konten pada kanal media sosial yang diikutinya.

Dalam posisi sebagai pemroduksi konten, yang harus dilakukan masyarakat adalah melakukan kajian terhadap substansi informasi. Kajian terhadap substansi informasi ini sangat diperlukan dalam upaya melihat kebermanfaatannya. Ketika kajian atas substansi informasi telah terlewati, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian atas bahasa yang digunakannya. Penggunaan bahasa sebagai media penyampaian informasi harus mendapat perhatian agar tidak terjadi salah persepsi pada penerima informasi.

Dalam posisi sebagai penyebar informasi, masyarakat harus terlebih dahulu melakukan kajian atas kebenaran informasi yang diterima. Guna mengkaji keberan informasi ini, dapat dilakukan dengan mengkonfirmasi pada berbagai sumber informasi lainnya. Setelah melewati kajian atas kebenaran informasi yang diterima, langkah lanjutan yang patut dilakukan adalah mengkaji kebermanfaatan informasi. Ketika kedua hal tersebut—kebenaran dan kebermanfaatan—sudah terpenuhi, informasi memungkinkan untuk disebarkan pada kanal media sosial yang dimiliki.

Alhasil, tugas berat yang saat ini dipikul oleh para pemangku kepentingan adalah mendorong keterbangunan pemahaman masyarakat untuk memiliki kompetensi dalam berliterasi digital. Salah satu langkah yang patut dilakukan adalah memberi pemahaman tentang kesantunan dalam memroduksi dan menyebar informasi. Langkah ini patut dilakukan dalam upaya membanjiri ruang digital dengan berbagai konten positif. ****Disdikkbb-DasARSS.

 

LADANG AMAL DI MASA PANDEMI

Deni Ramdani, M.Pd

(Kasubag Kepegawaian dan Umum Disperindag KBB)

Ada kebanggaan tersendiri bagi penulis menjadi bagian dari Dinas Pendidikan, mengingat bukan berlatar belakang keluarga pendidik. Namun, justru dari mereka lahirlah anak-anak yang terjun di dunia pendidikan-ada yang sudah menjadi ASN dan ada juga  yang masih berstatus honorer, tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Menarik saat masa pandemi Covid-19 – dan sekarang bertambah dengan munculnya varian baru, Delta yang lebih menular- dikaitkan dengan wacana perpanjangan PPKM darurat dengan istilah PPKM level 4. Hal ini mendorong Dinas Pendidikan untuk mengambil sejumlah kebijakan sebagai upaya untuk tetap menjaga marwah pendidikan agar tetap berlangsung sesuai dengan harapan semua pihak. Terutama pelayanan pendidikan kepada masyarakat  menghadapi tahun pelajaran baru saat ini.

Seperti diketahui, proses pembelajaran di sekolah sekarang ini tidak dilaksanakan dengan moda tatap muka. Hal ini sebagai implementasi SKB Empat Menteri yang bertujuan agar meminimalisasi penyebaran Covid-19. Kegiatan pembelajaran pun diarahkan ke moda jarak jauh, baik daring maupun luring.

Sesungguhnya, proses pembelajaran yang bermutu/berkualitas dengan inovasi model pembelajaran yang disesuaikan dengan masa pandemi akan menciptakan kepercayaan orang tua peserta didik kepada pendidik. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari layanan pendidikan.

Banyak aspek yang menjadi pertimbangan seorang pendidik untuk memilih salah satu model pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan yang kondisi yang ada. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan peserta didik serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan semua pihak.

Kualitas pelayanan menurut Ratminto dan Atik– tolok ukur keberhasilan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima layanan. Sedangkan tingkat kepuasan penerima layanan ini akan dapat diperoleh apabila seorang penerima layanan tersebut mendapatkan jenis pelayanan sesuai dengan yang mereka harapkan dan yang di butuhkan. Dengan demikian maka kebutuhan penerima layanan harus sebisa mungkin dipenuhi agar diperoleh kepuasan

Dari kutipan tersebut sangatlah berat beban yang dipikul oleh pendidik dalam melayani peserta didiknya dengan model pembelajaran yang bermutu, apalagi belum merata dan maksimalnya sarana pendukung yang ada, baik software maupun hardware pembelajaran jarak jauhnya.  Belum lagi tersitanya waktu pendidik dalam meng implementasikan model pembelajaran tersebut karena adanya pengelompokan jumlah peserta didik. Termasuk adanya penjadwalan khusus terhadap mereka, dan tentu saja memunculkan masalah-masalah lainnya

Problem umum di setiap kabupaten/kota atau provinsi adalah berkenaan dengan status kepegawaian guru yang belum seluruhnya sebagai ASN.  Masih banyak di antara mereka masih berstatus honorer, yang mana ketika berbicara gaji tentu saja belum sesuai dengan UMR. Terutama bagi mereka yang mengajar di sekolah-sekolah negeri. Walaupun demikian, untuk pendidik yang berstatus honorer, mereka masih mempunyai empati yang tulus untuk turut serta mencerdaskan anak anak bangsa, serta berusaha memupuk karakter ke arah yang lebih baik.

Akhirnya, penulis hanya bisa berucap dalam doa semoga pelayanan dalam dunia pendidikan bagi guru menjadi ladang amal di masa pandemi ini. Semoga ada secercah harapan yang bisa diraih ke arah yang lebih baik. Dan semoga pandemi Covid-19 dan varian virus corona tertentu, terutama Delta, yang lebih menular dari jenis aslinya, cepat sirna di bumi pertiwi ini agar proses pembelajaran yang bermutu/berkualitas bisa ter implementasikan secara maksimal.***

 

KEBERSIHAN DI RANAH PENDIDIKAN

Deni Ramdani, S.Pd., M.Pd

(Kasubag Kepegum Disperindag KBB)

Hari ini cuacanya terasa cerah, udara bersih karena sedikitnya polusi dari asap kendaraan yang menghasilkan gas karbon monoksida. Karbon monoksida diklaim dapat menghambat kemampuan darah dalam membawa asupan oksigen.
Berada di luar ruangan dalam menghirup udara segar sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga.
Seperti yang kita pelajari di sekolah, adanya pohon rindang merupakan bagian fotosintesis untuk mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang diperlukan untuk bernapas. Pohon akan mengusir polusi dari udara sehingga lebih sehat untuk masuk ke dalam paru-paru. Dengan udara bersih dapat meningkatkan sistem imun, mengusir stres, dan dapat meningkatkan energi

Berada di lingkungan dengan udara bersih, kemudian berjalan-jalan di bawah rindang pepohonan dan menghirup wanginya bunga bukan hanya membuat kita bahagia tapi juga meningkatkan rasa relaks juga akan membuat lebih tenang dan berkurangnya rasa cemas.

Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran. Termasuk di antaranya debu, sampah, dan bau. Di zaman modern, setelah Louis Pasteur menemukan proses penularan penyakit atau infeksi disebabkan oleh mikroba, kebersihan juga berarti bebas dari virus, bakteria patogen, dan bahan kimia berbahaya.

Terlintas dibenak pikiran penulis ketika sedang menikmati segarnya udara bersih. Terlihat spanduk bertuliskan ‘Kebersihan Sebagian dari pada Iman’. Bagaimana agar kebersihan bisa diterapkan dan terasa manfaatnya untuk semua kalangan dengan tulisan tersebut,  karena menurut saya agar terciptanya kebersihan diperlukan suatu perawatan atau pemeliharaan dengan baik, yang mana dalam pemeliharan dalam perawatan tersebut perlunya hubungan sosial dalam bentuk kekeluargaan. Kekeluargaan adalah hubungan yang erat antar orang-orang dalam rumah, luar rumah, tempat bekerja, dan masyarakat. Kekeluargaan merupakan dasar persatuan, modal utama dalam masyarakat untuk ketentaraman.

Pengertian Iman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah kepercayaan yang berkaitan dengan agama, keyakinan dan ketetapan hati, dan keteguhan batin. Iman berarti percaya atau meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

Keimanan sering disalahpahami dengan ‘percaya’. Keimanan dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan akan adanya Yang Mengatur alam semesta ini. Dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan.

Lalu bagaimana penerapan kebersihan di ranah pendidikan?

Bersihnya lingkungan merupakan dambaan. Dengan lingkungan yang bersih dan indah akan dapat membangkitkan motivasi, menciptakan rasa nyaman dan suasana tenang dalam kegiatan. Dengan lingkungan yang bersih dan indah bisa dilakukan dengan cara membangun sebuah taman atau pepohonan hijau di halaman atau di lingkungan yang tidak memiliki tanaman atau pohon.

Jika dikaitkan dengan ranah pendidikan terdapat unsur-unsur pendidikan terdiri dari peserta didik, pendidik, interaksi edukatif antara peserta didik dan pendidik, materi isi pendidikan (kurikulum), konteks yang mempengaruhi pendidikan, alat dan metode, perbuatan pendidik, dan evaluasi dan tujuan pendidikan.

Sarana pendidikan umumnya mencakup fasilitas yang dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, seperti gedung, ruangan belajar, media pendidikan, dan sebagainya.

Apa yang harus diperhatikan di sekolah anda tentang semua fasilitas, sarana dan prasarana yang ada?

Setidaknya ada delapan fasilitas/sarana dan prasarana yang perlu diperhatikan di sekolah di antaranya :
1. Letak bangunan sekolah
2. Halaman sekolah
3. Bangunan sekolah/ruang kelas
4. Perlengkapan ruang kelas
5. Persediaan air bersih
6. Tempat cuci tangan
7. Kamar mandi
8. Tempat sampah dan pembuangan sampah

Halaman sekolah sangatlah bermanfaat sebagai area pembelajaran formal maupun non formal, sebagai tempat untuk refreshing para siswa, dapat memberikan pengalaman visual yang dapat diamati dan menjadi bahan kajian bagi para siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Halaman sekolah juga merupakan media dan sumber belajar yang realistik.

Halaman sekolah yang bersih menjadikan warga sekolah bergairah. Sudah menjadi kodrat alamiah bahwa halaman sekolah yang bersih akan membuat warga sekolah merasa betah dan kerasan untuk berlama-lama berada di tempat itu.

Halaman sekolah yang bersih yang jauh dari kebisingan. Dengan Kondisi lingkungan sekolah yang ditata dengan rapi akan membuat suasana menyenangkan dan menggairahkan semua warga sekolah.

Halaman sekolah yang bersih bisa terpelihara dengan baik jika sinergis dengan lingkungan sosial sekolahnya  tidak akan berati banyak lingkungan fisik yang bagus tanpa ditopang oleh lingkungan sosial.

Dengan kondisi lingkungan fisik dan sosial yang baik sekolah akan menjadi tempat ternyaman kedua setelah di rumah. Oleh karena itu, semua warga sekolah perlu menumbuhkembangkan budaya baik di sekolah. Baik lingkungan fisik sekolah, maupun lingkungan pergaulan sosial.

Kesimpulannya adalah halaman sekolah yang bersih, udara bersih bukan hanya membuat kita bahagia, rileks, tapi juga akan membuat kita lebih tenang dan berkurangnya rasa cemas, serta sangat bermanfaat sebagai area pembelajaran formal maupun non formal. Kemudian sebagai tempat untuk refreshing para siswa dan dapat memberikan pengalaman visual yang dapat diamati menjadi bahan kajian bagi para siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Halaman sekolah juga merupakan media dan sumber belajar yang realistik.**

*Dari berbagai sumber

BELAJAR DARI RITUAL KURBAN (Pendidikan Karakter Ala Rasulullah)

Adhyatnika Geusan Ulun

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (Q.S.al-Kautsar (108): 1-3).

Teladan Bapak Para nabi

Adalah Nabi Ibrahim as. sosok mulia sepanjang masa. Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah hidupnya. Mulai dari ‘pencarian’ Tuhan, hingga melahirkan generasi unggul sesudahnya.

Sesungguhnya perjalanan kisah Nabi Ibrahim telah dicatat dengan tinta emas oleh para sejarawan di muka bumi ini. Umumnya mereka sepakat memberinya gelar ‘Bapak Monoteisme’. Peletak dasar ajaran ketauhidan. Sebuah label yang sangat pantas, saat darinyalah cikal bakal para penerus risalah kenabian.

Perjuangan fenomenalnya dalam ‘pencarian’ Tuhan diabadikan di banyak riwayat. Saat akhirnya berada dalam satu kesimpulan bahwa Tuhan adalah Zat Maha dari segala Maha. Sebuah konklusi yang termata cerdas, di mana logika bersanding dengan iman.

Sementara dialognya dengan sang ayah melahirkan pembelajaran luar biasa, saat sikap hormat kepada orang tua tetap dijaga meskipun berbeda prinsip kepercayaan. Sama halnya saat sikapnya kepada penguasa yang telah menzaliminya, dengan menyerahkan hukuman atas tindakan tersebut kepada Sang Pemilik makhluk, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Begitupun dengan pendidikan keluarga. Ditempatkannya hal ini sebagai prioritas utama. Dididiknya istri dan anak-anak dengan dasar cinta serta kasih. Sehingga dari sinilah muncul generasi penerusnya yang menjadi nabi sehingga gelar ‘Bapak para Nabi pun melekat dipribadinya yang mulia.

Ritual Kurban

Di sisi lain, ritual kurban yang menjadi ciri utama dari perjalanan sejarah keluarga mulia tersebut, melahirkan banyak hikmah luar biasa. Hal tersebut sangat penting bagi setiap insan beragama yang bercita-cita melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan menjadi kebanggaan bangsa, negara serta agama.

Di dalam dunia pendidikan, hal atas juga akan menjadi modal utama dalam menciptakan anak bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Sesungguhnya, hikmah lain yang dapat dipetik adalah, secara vertikal bahwa peristiwa kurban tidak boleh dipandang hanya sebagai persembahan hewan sembelihan saja, tetapi lebih bagaimana pendekatan diri atas limpahan anugerah-Nya. Sehingga dari sini akan melahirkan pribadi ahli syukur yang taat dalam menjalankan perintah Tuhan.

Kemudian, secara horizontal bertujuan untuk saling berbagi kepada kaum kaum yang belum diberikan kemampuan untuk melaksanakan ritual tersebut. Solidaritas dan kesetiakawanan sosial akan terbangun. Nikmat yang telah diterima berupa limpahan rizki harta, gelar, pangkat, kedudukan, jabatan, patut disyukuri, dengan menggunakannya tidak hanya bermanfaat bagi diri, tetapi maslahat untuk sebanyak-banyaknya umat.

Maka, jika dilihat dari hikmah di atas, dampak dari ibadah kurban sangat luar biasa dalam upaya membangun kebersamaan dan meningkatkan persaudaraan dalam masyarakat. Hal ini akan membentuk keharmonisan hubungan antara kaum agniya dengan dhuafa.

Lebih jauh lagi, perintah berkurban menyadarkan kaum muslimin bahwa pada hakikatnya kekayaan itu hanyalah titipan Allah. Terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan dari sebagian harta yang dititipkan tersebut. Hikmah lainnya adalah mengandung simbol penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri. Dengan ibadah ini diharapkan dapat membuang sifat-sifat hewani yang dapat menjauhkan diri dari Allah.

Pesan Moral Ibadah Kurban

Dalam konteks kekinian, ibadah kurban mengandung banyak pesan moral. Pertama, untuk  pemimpin. Ibadah ini mengandung pesan bahwa sebagai pemegang amanah harus menunjukkan jiwa pengorbanan yang tulus dan ikhlas dalam menjalankan mandat rakyat dengan lebih mementingkan urusan umat daripada pribadi dan golongan.

Sifat dari binatang yang mementingkan urusan perut sendiri daripada berbagi dengan yang lainnya haruslah dihilangkan. Sifat hewani lainnya yang harus dihilangkan dari seorang pemimpin adalah prinsip ‘siapa yang kuat akan menguasai dan menindas yang lemah’. Terjadinya kekuasaan diktator dan otoriter disebabkan belum dapatnya menghilangkan sifat hewani yang menindas kaum tidak berdaya.

Kedua, bagi para pengusaha, pebisnis, pedagang, dan wirausahawan. Ibadah kurban melenyapkan sifat curang, zalim dan tidak jujur, seperti mengurangi takaran timbangan, tipu muslihat dalam transaksi, dan riba dalam praktek ekonomi. Sifat hewan yang tidak menghiraukan halal dan haram harus segera dipupus dalam pribadi yang merindukan keberkahan hidup dunia dan akhirat.

Ketiga, untuk para penegak hukum. Ibadah kurban akan memupus nafsu praktik ‘jual beli hukum’. Penegakkan hukum yang diajarkan Rasulullah adalah mengutamakan azas keadilan dengan hati nurani yang tunduk atas ketentuan Tuhan daripada mengedepankan hawa nafsu dan kekuasaan. Sifat hewani yang lebih takut pada atasan ketimbang Tuhan haruslah dihilangkan.

Selanjutnya keempat, untuk para pendidik, dan orang tua. Berkurban meningkatkan semangat berkorban dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara sosial, cerdas emosional, tetapi juga cerdas spiritual. Keteladanan dalam membimbing anak harus dikedepankan. Kejayaan satu bangsa salah satunya adalah keberhasilan para pendidik dan orang tua dalam melahirkan para pemimpin bangsa yang jujur, adil, dan bijak. Buah dari pribadi pendidik dan orang tua yang menjadi tuntunan bukan tontonan.

Keteladanan Nabi Ibrahim hendaknya menjadi acuan dalam memposisikan anak sebagai mitra bukan sebagai ‘objek’. Al Qur’an mengabadikan peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail as., pada saat Allah memerintahkan untuk mengorbankan putranya tersebut, Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelih engkau. Bagaimana menurut pendapatmu? Sebagai anak yang dididik dengan keteladanan orang tua, sang putra menjawabnya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan: Wahai ayahku, lakukan saja apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan mendapati aku, insya Allah termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaffat (37):102).

Hal tersebut membuktikan bahwa sifat hewani yang tidak mengenal keteladanan harus disembelih dalam kehidupan ini. Keteladan dari para pendidik dan orang tua dengan saling menghargai kepada sesama, mengasihi kepada kepada yang lemah, akan berbuah kemuliaan pada diri seorang anak.

Simpulan

Ibadah kurban mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Setiap jerih payah yang dikorbankan dengan ikhlas pasti akan menghadirkan limpahan rahmat dan berkah dalam kehidupan. Para pendiri bangsa telah membuktikannya. rahmat dan berkah Allah akan hadir pada setiap pejuang yang rela mengorbankan kepentingan diri dan kelompoknya untuk kepentingan yang jauh lebih utama, yaitu kepentingan umat.

Akhirnya, hikmah dari ritual ibadah kurban seakan belajar mendalami makna pengorbanan para pahlawan yang mampu menghilangkan kerakusan dan ketamakan akan duniawi, mampu melenyapkan syahwat akan kekuasaan, memupus nafsu ingin menindas yang lemah, dan mampu menampilkan keteladanan dalam mencetak generasi ungul masa depan.

Hari Raya Idul Adha 1442 H pada masa pandemi Covid-19 saat ini, mengandung pelajaran luar biasa. Ibadah kurban selaras dengan semangat pengorbanan seluruh elemen bangsa dalam mengatasi ujian ini. Ritual mulia ini hendaknya memotivasi semua pihak agar tetap menggolarakan semangat optimisme dengan terus menjaga diri, keluarga dan lingkungan dari semakin menyebarnya wabah tersebut. Sebagai guru hendaknya menjadi garda terdepan untuk mengajak warga sekolah menaati protokol kesehatan. Sebagai pelajar hendaknya menjadi generasi yang selalu mendukung setiap langkah kebaikan. Dan sebagai masyarakat hendaknya selalu mematuhi segala kebijakkan pemerintah. Sehingga semuanya bersinergis menjadi pribadi yang bukan hanya manfaat untuk diri, namun selalu membawa maslahat untuk sebanyak-banyaknya umat.***

Dari berbagai sumber.

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

METODE FLIPPED CLASSROOM

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pengembangan Kurikulum, Disdik Kab. Bandung Barat)

Sejalan dengan satuan pendidikan telah masuk pada tahun pelajaran baru, pada ranah pendidikan berkembang harapan akan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Timbulnya keinginan tersebut berkenaan dengan telah sangat lamanya pembelajaran didominasi dengan pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui moda dalam jaringan (daring), luar jaringan (luring), atau kombinasi daring dengan luring. Belum lagi, beberapa waktu yang lalu Kemendikbud begitu optimis dengan rencana untuk melakukan penerapan kebijakan PTM terbatas paling lambat pada awal tahun pelajaran baru. Bersamaan dengan masuknya pada moment tahun pelajaran baru tersebut, penyebaran Covid-19 terus meluas, sehingga harapan melaksanakan PTM terbatas harus dikesampingkan terlebih dahulu.

Penerapan kebijakan PJJ dilatari dengan upaya penerapan prinsip kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama dalam penetapan kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan serta mengarah pula pada prinsip pertimbangan tumbuh kembang dan hak anak selama pandemi Covid-19. Kedua prinsip tersebut menjadi perhatian para pemangku kebijakan dalam penerapan kebijakan pendidikan.

Pelaksanaan PJJ dengan rumah sebagai basis pelaksanaan pembelajarannya telah menimbulkan berbagai permasalahan penyerta. Permasalahan penyerta yang ditimbulkan oleh penerapan kebijakan tersebut di antaranya tampilan prestasi siswa tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan sebelumnya karena dalam pelaksanaan PJJ tidak menutup kemungkinan terjadinya learning loss—hilangnya kesempatan siswa untuk belajar karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru melalui pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM).

Untuk menyikapi semakin meluasnya siswa yang mengalami learning loss, para pemangku kebijakan perlu mencari jalan keluarnya. Dalam konteks ini, salah satu pemangku kebijakan pada tataran teknis adalah para guru. Mereka dituntut untuk memeras energi dengan melakukan inovasi dalam implementasi pembelajaran yang di lakukannya. Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan di antaranya melalui penerapan metode flipped classroom. Penerapan metode ini dapat dilakukan pada saat satuan pendidikan diberi kesempatan untuk melaksanakan PTM terbatas.

Sekalipun pemberlakuan PTM terbatas masih terkendala dengan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang salah satu kebijakannya mengharuskan pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan moda daring, tidak salahnya para guru sudah mempersiapkan metode yang memungkinkan untuk diterapkannya. Hal itu harus dipersiapkan karena PTM terbatas hanya mentolelir paling banyak 18 siswa yang dapat melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Selebihnya harus melaksanakan pembelajaran dengan moda daring atau luring.

Flipped classroom adalah salah satu model atau metode belajar yang meminimalkan pembelajaran langsung dari guru. Dalam prosesnya, siswa mempelajari materi pelajaran terlebih dahulu di rumah, sedangkan kegiatan pembelajaran di kelas hanya berupa pengerjaan tugas, berdiskusi tentang materi pelajaran, atau pemecahan masalah yang belum dipahami saat belajar di rumah. Model belajar flipped classroom pada dasarnya adalah pembalikan aktivitas pembelajaran. Aktivitas yang biasa dilakukan di kelas—pada pembelajaran konvensional—dilaksanakan di rumah, sedangkan aktivitas yang biasa dilaksanakan di rumah—pada pembelajaran konvensional—dilaksanakan di kelas.

Model flippe classroom pertama kali diperkenalkan oleh J. Wesley Baker pada tahun 2000. Model pembelajaran ini mengkombinasikan pembelajaran di dalam kelas dan pembelajaran di luar kelas dengan tujuan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran. Dalam penerapannya, guru berposisi sebagai fasilitator yang mengemas materi pembelajaran dalam bentuk digital berupa video untuk dipelajari siswa di rumah sehingga siswa sudah lebih siap belajar ketika pelaksanaan PTM.

Dalam kondisi keterbatasan, guru dapat mengganti bentuk pembelajaran melalui video dengan bentuk lain, seperti buku, modul, atau bahan cetak lainnya. Bahkan, bagi sekolah yang memiliki radio atau televisi pemancar sendiri, dapat memanfaatkan perangkat ini untuk menopang pembelajaran. Namun, pemanfaatan radio atau televisi memiliki keterbatasan ruang dan waktu, tidak sepertinya pemanfaatan buku, modul, atau bahan cetak lainnya sebagai sumber belajar. Hakikat dari pembelajaran ini adalah menyiapkan kepemilikan pengetahuan dasar dari setiap siswa, sehingga pada saat pelaksanaan PTM, mereka telah siap mengerjakan tugas, berdiskusi, atau memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru.

Melalui penerapan metode flipped classroom, pelaksanaan PTM terbatas dimungkinkan akan mengarah pada pelaksanaan pembelajaran yang benar-benar esensial dalam upaya membangun pengetahuan siswa. Aktivitas yang dilakukan siswa saat pelaksanaan PTM lebih diarahkan pada pendekatan student center oriented dengan guru sebagai fasilitatornya.

Sebagai pelaku utama pembelajaran, setiap guru sudah sangat familiar dengan konsep bahwa pembelajaran merupakan proses konstruksi atau konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan pemahaman bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Esensi dari konstruktivisme ini adalah siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi ini menjadi milik mereka sendiri. Dengan demikian, pembelajaran harus dikemas menjadi proses merekonstruksi bukan menerima pengetahuan sehingga siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini, upaya tersebut dapat dilakukan dengan penerapan metode flipped classroom.

Alhasil, dalam situasi seperti ini, setiap satuan pendidikan dengan guru sebagai motor penggeraknya harus berinisiatif untuk berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran. Inovasi dari setiap guru dibutuhkan dalam upaya meminimalisasi terjadinya learning loss yang diakibatkan oleh penerapan pola PJJ saat menghadapi pandemi Covid-19. ****Disdikkbb-DasARSS.

EKSISTENSI BAHASA DAERAH SEBAGAI KEKAYAAN BUDAYA NASIONAL

Wika Karina Damayanti, S.Pd., S.H., M.Pd.

(Kasi Pengembangan Bahasa dan Sastra

Bidang Pengembangan Kurikulum Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)

Keragaman menjadi identitas bangsa yang harus dipertahankan. Keragaman tersebut perlu dilestarikan agar tidak tergerus oleh arus globalisasi yang semakin melanda dunia dengan berbagai perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Indonesia merupakan negara multi etnik yang memiliki aneka ras, suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya. Keragaman tersebut menjadi pemersatu bangsa melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yang berasal dari Bahasa Jawa Kuno ini memiliki makna meskipun terdapat beragam perbedaan namun pada hakikatnya Indonesia tetap satu kesatuan yang utuh. Toleransi terhadap perbedaan menjadi kunci dalam persatuan bangsa. Salah satu perbedaan yang menjadi penguat persatuan bangsa adalah bahasa daerah.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Pasal 1 ayat (6) menyatakan bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahasa daerah merupakan cara berkomunikasi antar masyarakat di daerah tertentu, baik komunikasi formal maupun non formal. Pembiasaan menggunakan bahasa daerah merupakan strategi dalam perlindungan bahasa daerah agar terus berkembang dan tidak tenggelam dalam bahasa asing yang semakin digemari oleh generasi muda.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 32 Ayat (2) menyatakan bahwa  Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. Sesuai dengan amanat UUD 1945 tersebut bahwa bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang harus dihormati, dijaga, dilestarikan, dilindungi, dan juga dikembangkan. Pasal tersebut menunjukkan bahwa bahasa derah memiliki kedudukan yang tinggi dalam budaya nasional. Bahasa daerah menjadi identitas diri, kebanggaan, dan cara berkomunikasi masyarakat di wilayah tertentu.

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan melalui laman petabahasa.kemdikbud.go.id merilis bahwa Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang terverifikasi dan tersebar diseluruh penjuru negeri. Keragaman bahasa daerah tersebut membawa Indonesia menduduki peringkat ke dua sebagai Negara dengan bahasa terbanyak di dunia.

Kekayaan bahasa daerah perlu dijaga dan dikembangkan sebagai warisan budaya untuk generasi muda, agar kelak mereka tidak melupakan identitas asalnya. Meskipun tidak tinggal didaerah asal namun masyarakat cenderung tetap berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerahnya dimanapun berada. Hal tersebut menandakan adanya kebanggan terhadap suku dan daerah asalnya.

Pelestarian bahasa menjadi isu Internasional karena bahasa daerah atau bahasa Ibu menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang harus dijaga. Pentingnya kedudukan bahasa daerah terwujud dalam keputusan UNESCO dalam  menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa  Ibu Internasional.

Perlindungan dan pemeliharaan terhadap bahasa daerah menjadi tanggung jawab dari Pemerintah Daerah, hal tersebut sesuai dengan amanat dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 42 Ayat (1), yang berbunyi: Pemerintah Daerah wajib mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan perkembangan zaman dan agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Perlindungan dan pengembangan bahasa daerah perlu diusung menjadi sebuah kebijakan dengan melibatkan peran serta masyarakat luas sebagai usaha dalam pelestariannya. Peran dunia pendidikan sangat penting, karena bahasa perlu dikenalkan kepada anak sejak usia dini agar terbentuk menjadi identitas diri yang tidak dapat dilepaskan ketika beranjak dewasa. Penguatan kurikulum muatan lokal bahasa daerah menjadi salah satu cara dalam perlindungan dan pengembangan bahasa daerah melalui pendidikan. Selain itu pengembangan sastra daerah juga perlu dilakukan dalam lingkungan sekolah untuk menanamkan rasa cinta pada bahasa dan budaya daerah. Kepala Sekolah, Guru, dan siswa harus turut berpartisipasi aktif dalam pelestarian bahasa daerah. DisdikKBB-Wika.Kd.