Puasa, Literasi, dan Pembentukan Karakter Peduli

Oleh: Dra. N. Mimin Rukmini, M.Pd
(Kepala SMPN 3 Cililin)

Sungguh indah penomena di bulan Ramadhan. Pelaksanaan ibadah puasa memberi hikmah yang luar biasa. Ungkapan kalimat tersebut bukan basa-basi, melainkan memang kenyataan. Realita di keluarga saat bulan puasa berbeda dari bulan biasa. Puasa sebulan pastikan berdampak pada aspek literasi dan pembentukan karakter peduli.

Ketika bulan puasa makan dan salat tentunya sering berjamaah. Anggota keluarga mengutamakan berbuka bareng di ruang keluarga. Menunggu azan magrib, bapak, ibu, adik, atau kakak berbicara santai atau diskusi hal yang bermanfaat. Lalu saat berbuka kebahagiaan terpancar di anggota keluarga kita menyantap sajian berbuka. Sajian dengan ukuran yang berbeda-beda mulai dari yang sederhana atau apa adanya, sampai dengan sajian mewah karena kehidupan yang melimpah.

Pendek kata, untuk kebersamaan bulan ramadhan apapun diutamakan. Mengolah hati, rasa, dan karsa tercipta di bulan ini. Mengolah hati menahan diri, dan menjaga hawa nafsu. Mengolah rasa menjadikan diri lebih peduli. Peduli diri sendiri, peduli orang lain, dan peduli lingkungan serta masyarakat miskin. Cipta dan karsa pun dibentuk, berpikir dibolak-balik bagaimana di bulan puasa, tambahan penghasilan berlebih.

Selanjutnya, saat bukan bulan puasa bisa jadi salat tidak berjamaah, sedangkan bulan puasa melaksanakan ibadah salat mengutamakan berjamaah. Apalagi saat ibadah salat taraweh. Indah luar biasa! Perut kenyang setelah berbuka, dilanjut bergerak pergi ke mesjid untuk salat isya dan taraweh. MasyaAllah, badan berkeringat tandanya sehat. Inilah berkah puasa yang sungguh teramat hebat.

Saat sahur pun demikian. Makan sahur pasti bersama-sama. Selesai sahur dilanjut berwudu untuk pergi ke mesjid melaksanakan ibadah salat subuh berjamaah. Kakak dan Adik kala subuh di bulan biasa harus selalu dibangunkan, tetapi saat bulan penuh berkah ini, ibadah salat subuhnya tidak kesiangan.

Tadarus Alquran menjadi pelengkap rutin ibadah yang tentunya di bulan Ramadhan intensitasnya lebih banyak. Membaca quran di bulan suci ramadan adalah literasi terpatri untuk lebih menempa diri. Literasi sepanjang puasa
keindahan yang tiada bertepi.

Selain literasi Al-Quran, kajian literasi yang lebih luas banyak digali di bulan Ramadhan. Salah satunya kegiatan pesantren kilat (sanlat) atau ada pula yang menyebut dengan Kajian, Islam, Intensif (KII). Sanlat atau KII menjadi ajang literasi kontekstual Ramadhan yang diselenggarakan sekolah, mesjid, PAUD, surau, dan majlis ta’lim di masyarakat.

Indahnya Bulan Ramadhan bukan hanya di literasi, karakter peduli dan perbagi pun terlihat masiv di bulan ini. Bukan hanya pelaksanaan zakat fitrah menjelang Idul Fitri, peduli dan berbagi sebelum itu pun tercermin di bulan ini. Di perkotaan atau jalanan yang membagi tazil berbuka sering terlihat. Bahkan pemda, atau sekolah dengan sengaja mengordinir dana sosial atau makanan khusus tazil, terjadi di bulan ini pula. Di perdesaan, bagi-bagi rantang makanan ke tetangga menjadi agenda tahunan sepanjang masa.

Bagaimana kalau kita mudik atau menemui orang tua, dan saudara kala Idul Fitri? Tentunya kita saling berbagi, baik makanan atau pun rezeki lain yang sengaja dikumpulkan selama setahun atau lebih. Pada intinya, momen Idul Fitri penutup perjuangan di bulan puasa adalah momen berharga literasi luas tak terbatas, hingga peduli berbagi sebagai bukti penghambaan kepada zat Robbul Izzati. Aamin.***