PLATFORM TEKNOLOGI

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Hari pertama pemberlakuan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) pada beberapa satuan pendidikan, diisi dengan monitoring atas pelaksanaannya. Di sela-sela monitoring terhadap beberapa satuan pendidikan, sempat ngobrol ringan dengan beberapa orang kepala sekolah dan guru. Obrolan ringan mengarah pada pelaksanaan PTMT yang tengah berangsung. Obrolan merambah pula pada fenomena pembelajaran dalam jaringan (daring) yang selama ini telah mewarnai implementasi pembelajaran pada sebagian besar satuan pendidikan. Bahasan berkenaan dengan kemungkinan akan berkurangnya pembelajaran melalui moda daring dengan pemanfaatan platform teknologi digital saat PTMT diberlakukan. Pada obrolan ringan itu ditekankan bahwa pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran harus tetap berlangsung bahkan lebih ditingkatkan.

Sebagai respon atas penerbitan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) paling akhir yang menetapkan sebagian besar kabupaten/kota di Jawa Barat dalam kriteria Level 3 ke bawah, beberapa kabupaten/kota sudah mulai melakukan persiapan bahkan segera menerapkan pelaksanaan PTMT. Langkah tersebut dilatarbelakangi oleh dictum pada regulasi tersebut yang mengungkapkan bahwa pada daerah dengan kriteria Level 3 ke bawah, pelaksanaan pembelajaran di satuan pendidikan dapat dilakukan melalui pembelajaran tatap muka terbatas dan/atau pembelajaran jarak jauh, dengan kapasitas maksimal 50% (lima puluh persen) untuk beberapa satuan pendidikan tertentu.

Sebagai rujukan utama implementasi PTMT pada satuan pendidikan adalah Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Regulasi tersebut mengungkapkan secara eksplisit tentang berbagai syarat dan prosedur yang harus ditempuh oleh para pemangku kepentingan dalam pelaksanaan PTMT di tengah kondisi pandemi Covid-19. Setiap daerah harus sudah menyiapkan satuan pendidikan di bawah kewenangannya guna melaksanakan PTMT. Pelaksanaan PTMT pada satuan pendidikan dipersyaratkan dengan berbagai ketentuan yang sangat ketat, terutama kondisi daerah masing-masing terkait dengan pandemi Covid-19. Dengan kata lain, untuk keterlaksanaan PTMT tersebut menjadi kewenangan masing-masing daerah atas dasar kajian komprehensif terhadap perkembangan pandemi Covid-19.

Mengacu para regulasi yang diberlakukan, PTMT dilangsungkan tidak seperti halnya PTM dalam kondisi normal. Berbagai ketentuan yang membatasinya harus dipenuhi dalam upaya menjaga kesehatan dan keselamatan siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, dan masyarakat. Pelaksanaan PTMT di antaranya mewajibkan setiap satuan pendidikan untuk meng-in put kondisi nyata satuan pendidikan dalam Daftar Periksa yang terdapat pada Dapodikdasmen, mempersyaratkan guru dan tenaga pendidik sudah divaksin, serta mempersyaratkan izin dari orang tua.

Sejalan dengan pemberlakuan pelaksanaan PTMT, pertanyaan mendasar yang menyeruak adalah akankah implementasi PTMT memberangus pembelajaran moda daring dengan pemanfaatan perangkat digital? Pertanyaan tersebut perlu diangkat karena bisa jadi dengan pemberlakuan PTMT, satuan pendidikan mulai mengendurkan semangat melaksanakan pembelajaran dengan pemanfaatan perangkat digital. Kekhawatian akan mengendurnya semangat tersebut dimungkinkan karena bila benar-benar terjadi, pemanfaatan moment pandemi Covid-19 sebagai pemantik bagi satuan pendidikan untuk memberi perhatian besar pada pemanfaatan platform teknologi akan menjadi langkah sia-sia.

Di tengah arus revolusi industri 4.0, berbagai sektor kehidupan harus mulai menyadari bahwa pemanfaatan platform teknologi menjadi parsyarat agar dapat survive dalam kehidupan ini. Demikian pula dengan sektor pendidikan, kesadaran dan kecepatan beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang tengah berlangsung harus mendapat perhatian besar. Setiap satuan pendidikan—terlepas dari adanya pandemi Covid-19 ataupun tidak—sebenarnya harus menjadi sektor pertama yang memanfaatkan platform teknologi dalam pengelolaannya. Hal itu perlu menjadi perhatian utama setiap pengelolanya karena pada satuan pendidikan tengah digembleng calon-calon penerus keberlangsungan bangsa yang harus memiliki skill dalam memanfaatkan platform teknologi.

Berkenaan dengan pemberlakuan pelaksanaan PTMT pada beberapa daerah yang ditandai dengan pembelajaran tatap muka langsung antara guru dengan siswa, ketertantangan untuk memanfaatkan perangkat digital tidak harus mengendur begitu saja. Para guru harus berupaya seoptimal mungkin memanfaatkan perangkat digital dalam proses pembelajaran yang dilaksanakannya. Bukan itu saja, pengelola satuan pendidikan selayaknya tetap berupaya meningkatkan pemanfaatan perangkat digital dalam manajemen satuan pendidikan. Melalui upaya tersebut, setiap siswa dimungkinkan memiliki skill yang mumpuni dalam pemanfaatan perangkat digital guna menyikapi fenomena keberlangsungan kehidupan masa kini dan masa depan.

Alhasil, pemberlakukan pelaksanaan PTMT pada beberapa daerah tidak menjadi alasan bagi satuan pendidikan untuk kembali pada pola lama—minimnya pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran dan manajemen. Moment pemberlakuan pelaksanaan PTMT harus menjadi tantangan tersendiri bagi setiap satuan pendidikan untuk berinovasi dan berkreasi guna mamanfaatkan perangkat digital secara optimal. ****Disdikkbb-DasARSS.

RELAKSASI AWAL PTMT


Dadang A. Sapardan
(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Menjelang pemberlakuan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) pada beberapa jenjang pendidikan, dilakukan penguatan berbagai unsur satuan pendidikan yang akan terlibat dalam pelaksanaannya. Penguatan dilakukan dengan moda daring melalui webinar. Webinar yang diikuti oleh banyak peserta tersebut—struktural dinas, pengawas sekolah, serta kepala sekolah dan guru—sangat hidup karena membahas perkembangan persiapan pelaksanaan PTMT yang akan dilakukan dalam beberapa waktu ke depan. Webinar yang diawali dengan penyampaian materi tentang persiapan PTMT sebagai pemantiknya. Selanjutnya dilakukan brainstorming terkait pencarian solusi berkenaan dengan kendala yang dihadapi pada setiap wilayah. Berbagai fenomena keberagaman strategi yang diambil terasa sekali saat brainstorming.

Sejalan dengan penerbitan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) yang memosisikan sebagian besar daerah di Jawa Barat dalam kriteria Level 3 ke bawah, beberapa daerah mulai melakukan persiapan pelaksanaan PTMT. Persiapan didasari oleh diktum yang termuat pada Inmendagri yang mengungkapkan bahwa pada daerah dengan kriteria Level 3 ke bawah, pelaksanaan pembelajaran di satuan pendidikan dapat dilakukan melalui pembelajaran tatap muka terbatas dan/atau pembelajaran jarak jauh, dengan kapasitas maksimal 50% (lima puluh persen) untuk beberapa satuan pendidikan tertentu.

Penerbitan Inmendagri tersebut mendapat sambutan baik dari berbagai pihak, terutama siswa dan orang tuanya. Sambutan baik dimungkinkan karena telah 1,5 tahun lamanya para siswa harus terpenjara di rumah dan lingkungan masing-masing untuk melaksanakan belajar dari rumah (BdR). Selama 1,5 tahun melaksanakan BdR telah melahirkan kejenuhan pada siswa karena mereka tidak bisa belajar bersama teman-temannya pada ruang dan waktu yang sama.

Penerapan kebijakan pelaksanaan BdR merupakan antisipasi strategis yang diambil pemerintah dalam upaya mengurangi resiko negatif dari pandemi Covid-19. Kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan termasuk di dalamnya seluruh siswa menjadi prioritas utama dalam penetapan kebijakan pada setiap satuan pendidikan. Walaupun demikian, hak setiap siswa tidak boleh dikesampingkan dan harus tetap tertunaikan yaitu hak untuk membangun tumbuh kembangnya.

Sampai saat ini perkembangan pandemi Covid-19 yang sudah mengalami trend penurunan dengan dilatarbelakangi beberapa kebijakan strategis pemerintah, di antaranya penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan pelaksanaan pemberian vaksin Covid-19 kepada masyarakat yang berumur di atas 12 tahun.

Sejalan dengan itu, pemerintah mengeluarkan regulasi terbaru yang menambah semangat masyarakat terutama warga satuan pendidikan untuk melaksanakan PTMT dengan cepat. Indikator dari lahirnya keinginan tersebut dilihat dari semangat siswa dan orang tua masing-masing untuk melaksanakan PTMT dengan cara mendorong satuan pendidikan guna melaksanakannya.

Berkenaan dengan perkembangan pandemi Covid-19 yang sudah mulai jinak, beberapa pemerintah daerah sudah melakukan kebijakan pelaksanaan PTMT pada satuan pendidikan di daerahnya masing-masing. Penerapan kebijakan ini sudah sepatutnya mendapat respon positif dari setiap satuan pendidikan. Respon positif diberikan harus tetap dalam konteks bahwa pelaksanaan PTMT bukanlah pelaksanaan PTM yang selama beberapa waktu ke belakang—sebelum pandemi Covid-19 terjadi—dilakukan pada setiap satuan pendidikan.

Pelaksanaan PTMT merupakan kebijakan yang diterapkan di tengah bencana, sehingga kepatuhan terhadap regulasi yang menjadi koridor pelaksanaannya harus mendapat perhatian utama. Kepatuhan setiap pelaksana, terutama warga satuan pendidikan terkait dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat mulai berangkat dari rumah, saat melaksanakan pembelajaran, sampai pulang ke rumah lagi.

Dalam konteks awal pelaksanaan PTMT pada setiap satuan pendidikan, para pendidik harus pula memperhatikan sisi psikologi siswa. Mereka yang telah lebih dari 1,5 tahun terkungkung di rumah dan lingkungan sekitarnya dimungkinkan telah memiliki kebiasaan baru. Kebiasaan baru tersebut harus berubah sejalan dengan penerapan PTMT yang harus dijalani siswa. Belum lagi, terkait pemahaman dari para siswa berkenaan dengan pelaksanaan PTMT—pola pembelajaran yang berbeda dengan pola PTM yang sebelum pandemi Covid-19 mereka jalani. Pemahaman komprehensif tentang PTMT harus diberikan kepada seluruh siswa.

Karena itu, dalam awal pelaksanaan PTMT, para pendidik dituntut dapat menerapkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kondisi psikologi siswa. Para pendidik perlu melakukan relaksasi dalam pembelajaran yang dilaksanakannya, sehingga siswa tidak mengalami shock berlebihan. Relaksasi ini dibutuhkan dalam upaya pemberian pemanasan terhadap siswa sebelum melaksanakan pembelajaran dengan materi yang sesuai tuntutan kurikulum. Pada awal pelaksanaan PTMT, sebaiknya siswa tidak dijejali materi berat terlebih dahulu tetapi disuguhi sebuah suasana yang menyenangkan bagi mereka sebagai bagian dari keberpihakan pendidik kepada mereka.

Alhasil, dalam menyikapi pemberlakuan pelaksanaan PTMT, setiap pendidik harus mengedepankan keberpihakan pada sisi psikologi siswa dengan melakukan relaksasi. Pemberian relaksasi ini dilakukan dalam upaya menghindarkan diri dari lahirnya shock berlebihan pada siswa karena harus mengikuti pelaksanaan PTMT. ****Disdikkbb-DasARSS.

KEKHAWATIRAN DI TENGAH PTMT


Dadang A. Sapardan
(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Menjelang pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT), dilakukan webinar yang melibatkan para kepala sekolah, pengawas, dan unsur struktural dinas. Webinar yang diikuti oleh banyak peserta tersebut cukup hidup karena membahas perkembangan kekinian, terutama persiapan pelaksanaan PTMT. Webinar yang diawali dengan penyampaian materi sebagai pemantik sangat hangat dan menarik, terutama terkait dengan berbagai persiapan yang dilakukan oleh berbagai pihak di wilayahnya masing-masing. Fenomena keberagaman strategi yang diambil terasa sekali saat brainstorming dari seluruh peserta webinar. Simpulan dari webinar mengarah pada pemahaman kolektif terkait dengan pelaksanaan PTMT yang segera akan dilakukan pada semua jenjang pendidikan.

Sejalan dengan merebaknya pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan regulasi yang melarang setiap warga masyarakat melakukan berbagai aktivitas yang dapat menjadi pemicu merebaknya pandemi Covid-19. Pelarangan melanda pula pada sektor pendidikan. Semua satuan pendidikan dilarang untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM), sehingga praktis sebagian besar satuan pendidikan menghentikan pelaksanaan PTM. Sebagai antisipasi agar keberlangsungan geliat pembelajaran tidak terhenti begitu saja, satuan pendidikan diarahkan untuk melaksanakan kegiatan belajar dari rumah (BdR). Kegiatan BdR inilah yang selama ini mewarnai dinamika pembelajaran pada satuan pendidikan, sehingga seluruh siswa tidak benar-benar berhenti melaksanakan pembelajaran.

Penerapan kebijakan pelaksanaan BdR dilatarbelakangi dengan upaya pemerintah dalam menerapkan prinsip utama saat pandemi Covid-19. Kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan—termasuk di dalamnya seluruh siswa—harus menjadi prioritas utama dalam penetapan kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan. Sekalipun demikian, setiap siswa harus tetap mendapatkan haknya sebagai upaya untuk membangun tumbuh kembang dan hak anak.

Kedua prinsip tersebut diterapkan oleh semua pihak, terutama seluruh stakeholder pendidikan.
Sejalan dengan perkembangan pandemi Covid-19 yang sudah mengalami trend penurunan, melalui regulasi yang dikeluarkannya, pemerintah membuka ruang pada daerah dengan kategori Level 3 ke bawah untuk melaksanakan PTMT. Penerbitan regulasi tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pihak. Dengan semangat yang menggebu-gebu, berbagai pihak mendorong agar pemerintah daerah dapat segera membuka kran PTMT.

Dorongan terutama banyak disampaikan oleh orang tua siswa pada pemerintah setempat. Keinginan para orang tua siswa ini bisa ditolelir karena dimungkinkan mereka sudah jenuh untuk membimbing dan mendampingi anaknya guna mengikuti pelaksanaan BdR. Sedangkan di sisi lain, mereka pun harus berupaya memenuhi kebutuhan lainnya, terutama kebutuhan ekonomi. Besarnya keinginan melaksanakan PTMT pun bisa dipicu dengan pemahaman yang selama puluhan tahun membangun konsep berpikir para orang tua, bahwa indikator terselenggaranya proses pembelajaran adalah adanya interaksi langsung antara siswa dengan guru dalam kegiatan PTM.

Besarnya harapan para orang tua pada pemerintah agar segera melaksanakan PTMT, disikapi oleh pemerintah dengan penuh kehati-hatian. Pemerintah tidak dengan serta-merta meluluskan harapan tersebut sekalipun kategori daerah telah berada pada Level 3 atau level di bawahnya. Kematangan pertimbangan dalam memutuskan pelaksanaan PTMT menjadi dasar sehingga tidak terkesan terburu-buru.
Untuk melaksanakan PTMT, pemerintah diliputi dengan kekhawatiran akan lahirnya satuan pendidikan sebagai cluster baru penyebaran Covid-19. Fenomena demikian tidak saja mendera pemerintah—termasuk di dalamnya para pemangku kebijakan pendidikan—tetapi mendera pula oleh warga lainnya yang paranoid dengan penyebaran Covid-19. Tentunya, kekhawatiran paling besar mendera setiap tenaga kesehatan yang secara langsung akan terkena imbasnya.

Untuk mengurangi kekhawatiran tersebut, seluruh pemangku kepentingan harus bekerja bersama sehingga pelaksanaan PTMT tidak berdampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan adalah tetap mengetatkan penerapan protokol kesehatan saat pelaksanaannya. Upaya ini tentunya tidak hanya dapat dilaksanakan oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan tetapi harus dilakukan oleh berbagai pihak terkait lainnya. Dalam konteks ini, satuan pendidikan memiliki otoritas besar berkenaan dengan pengetatan penerapan protokol kesehatan pada lingkungannya, saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung.

Namun, otoritas tidak dimiliki di luar lingkungan satuan pendidikan. Karena itu, berbagai pihak perlu membangun sinergitas untuk tidak abai terhadap protokol kesehatan karena siswa memiliki kesempatan besar untuk berinteraksi pada saat berangkat dari rumah menuju sekolah serta pulang dari sekolah menuju rumah.

Dengan demikian, untuk menjawab kekhawatiran tersebut dibutuhkan sinergitas dari berbagai pihak agar bersama-sama menerapkan protokol kesehatan saat pelaksanaan PTMT. Dengan upaya tersebut, prinsip utama tetap menjaga kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan dapat terealisasi sepenuhnya. ****Disdikkbb-DasARSS.

KEPALA SEKOLAH HARAPAN DAN HARAPAN KEPALA SEKOLAH

KEPALA SEKOLAH HARAPAN DAN HARAPAN KEPALA SEKOLAH

Oleh: AZIZ ISMAIL, M.Pd

(Kepala SDN 3 Rancapanggung Bandung Barat)

Menjelang pelaksanaan pembukaan Kembali Pembelajaran Tatap Muka  Terbatas (PTMT) dalam masa Pandemi Covid-19. Kepala Sekolah dihadapkan pada satu tangtangan dan pekerjaan yang harus mampu mengambil kebijakan yang yang terukur dan terstruktur supaya kebijakan yang diambil memberi nilai positif terhadap satuan Pendidikan yang dipimpinnya. Sehingga kebikannya menjadikan arah pada suatu program untuk meningkatkan kemajuan mutu pendidikan.

Salah satu aspek penting yang berpengaruh terhadap kemajuan mutu Pendidikan adalah kepemimpinan pendidikan. Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efesien.  Salah satu pemimpin pendidikan yang resmi adalah Kepala Sekolah.

Peranan kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan refleksi dari kemampuan dan keterampilan manajerial, sehingga secara fisik dan psikologis dapat dilihat dan dirasakan oleh semua pihak yang terkait, baik guru, pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga adminstrasi sebagai pelanggan internal, maupun siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat sebagai pelanggan eksternal yang merupakan pelanggan primer dan sekunder serta pemakai atau penerima lulusan yang merupakan pelanggan tertier.

Sejalan dengan manajemen mutu terpadu, Kepala Sekolah diberi kebebasan dalam pengelolaan sekolahnya  sebagai penghasil jasa pendidikan, yaitu dengan dimulainya pelaksanaan desentralisasi pendidikan pada tahun 2001 dengan Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management) yang pada akhirnya memberikan otonomi sepenuhnya kepada Kepala Sekolah untuk melaksanakan segala upaya perbaikan mutu pendidikan di sekolahnya.

Keberadaan Kepala Sekolah yang memimpin, mempunyai latar belakang pendidikan, pengalaman masa kerja yang bervariasi dari persyaratan minimal dan maksimal. Secara formal, Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas memimpin, mengatur dan mengelola satuan pendidikan di lingkungannya. Peranan kepala sekolah sudah mengerucut sebagai manajer satuan Pendidikan sehingga tidak lagi dibebani tugas mengajar. Tugas manajerial kepala sekolah dituntut keterampilan keahlian seorang leader  yang professional.

Untuk menjalankan tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah professional diperlukan kemampuan manajerial yang mempuni, memiliki kemampuan seni dalam memimpin, mampu memanajemen konflik, mampu melakukan supervise pembelajaran, dan mampu bertindak sebagai enteurpreuneur  Pendidikan yang dapat menciptakan kewirausahaan pendidikan. Dalam rangka implementasinya tugas dan fingsi kepala sekolah menjadi cukup berat, karena bukan hanya keterampilan administrasi saja yang harus dikuasai tetapi semua aspek kepemimpinan harus dikuasai. Peranannya menjadi sangat sentral sebagai pengambil kebijakan strategis di satuan pendidikannya yang akan membawa warga sekolah untuk mampu menunjukan hasil yang optimal sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Untuk itu rekruitmen kepala sekolah saat ini menjadi sangat ketat, dimulai dengan seleksi administrasi, tes substansi yang merupakan tes kompetensi.

Selain itu, sebelum ditempatkan menjadi kepala sekolah diperlukan pendidikan dan latihan yang sangat panjang. Calon kepala sekolah harus mengikuti pelatihan, dan magang yang disebut On Job Learning (OJL). Pendidikan Latihan tersebut sangatlah menguras pikiran dan tenaga, karena dituntut untuk mampu menguasai 5 Komptensi, yakni kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi manajerial, kempetensi supervisi dan kompetensi kewirausahaan. Kesemua itu dilaksanakan oleh lembaga yang hanya ada satu-satunya di Indonesia, yakni Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) yang ada di Solo Jawa Tengah.

Hal ini sangat berbeda dengan rekruitmen calon kepala sekolah zaman dahulu. Kalau dulu untuk menjadi kepala sekolah itu dengan DUKDIK, artinya duduk atau diangkat dulu menjadi kepala sekolah, baru setelah dididik atau masuk Lembaga Pendidikan dan Latihan. Kalau sekarang melalui proses DIKDUK, artinya ikut dulu Pendidikan dan jika lulus pendidikan baru duduk atau diangkat menjadi kepala sekolah. Maka dari itu pengangkatan kepala sekolah menjadi sangat panjang dan rumit.

Proses tersebut dilaksanakan dalam rangka mengembangkan dan memberdayakan kepala sekolah yang profesional, mampu mengelola satuan pendidikan, dan memimpin pendidikan untuk menciptakan guru profesional dan peserta didik yang berkompetensi dan mampu berkompetisi dalam dunia global. Apalagi saat ini sudah zamannya milenial dan era digital sehingga kepala sekolah tidak gagap menghadapi revolusi industri 4.0 di lingkungannya. Untuk itu kepala sekolah diharapkan harus mampu menyesuaikan diri dalam kancah persaingan global di dunia digital. Kepala Sekolah juga harus bersifat terbuka dengan perubahan dan informasi terbaru dan terupdate.

Dalam peranannya sebagai pengambil kebijakan di lingkungan satuan pendidikannya, kepala sekolah selain dapat mengelola dan mengatur satuan Pendidikan juga harus memilki sifat taat azas, artinya kebijakannya harus berdasar dan melaksankan regulasi yang ditetapkan, baik dalam rangka pengelolaan Pendidikan maupun sebagai Pemegang Kuasa Anggaran (KPA) dalam implementasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sehingga dalam pelaksanaan dapat akuntabel transparan dan tidak keluar dari pedoman yang telah ditetapkan.

Fungsi utama Kepala Sekolah sebagai pemimpin pendidikan ialah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga pendidik dan tenaga kependidikan dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik. Dalam melaksanakan fungsi tersebut, kepala sekolah memiliki tanggungjawab ganda yaitu melaksanakan administrasi sekolah sehingga tercipta situasi belajar mengajar yang baik dan melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guru-guru meningkat dalam membimbing pertumbuhan murid-muridnya.

Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah menghadapi tantangan yang besar untuk itu ia harus memiliki kesiapan yang memadai. Karena banyak tanggung jawab maka kepala sekolah memerlukan rekan kerja. Ia hendaknya mempunyai keterampilan dalam mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab sehingga ia dapat memusatkan perhatiannya pada usaha pembinaan program pengajaran. Sehingga menajemennya harus merupakan pemberdayaan potensi, bukan manajemen yang seluruhnya dikerjakan sendiri.

Pekerjaan pemimpin pendidikan ialah menstimulus dan membimbing pertumbuhan guru-guru berkesinambungan sehingga mereka mampu menjalankan tugasnya dengan baik sesuai dengan perkembangan situasi. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus mampu mengelola sarana dan prasarana pendidikan, pelayanan khusus  sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya.

Sebagai pemimpin pendidikan, Kepala Sekolah bertanggung jawab atas pertumbuhan guru-guru secara berkesinambungan, ia harus membantu guru mengenal kebutuhan masyarakat, membantu guru membina kurikulum sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

Kepala sekolah merupakan jabatan yang didasarkan atas berbagai pertimbangan, sehingga siapapun yang diangkat menjadi kepala sekolah harus ditentukan melalui prosedur dan persyaratan-persyaratan seperti latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritas. Mutu pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keadaan kepala sekolahnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin berkualitas kepemimpinan kepala sekolah, maka semakin baik mutu sekolah yang dipimpinnya itu.

Untuk mencapai mutu sekolah yang sebaik-baiknya, kepala sekolah dituntut memiliki kinerja kepemimpinan yang baik. Kepala sekolah dituntut untuk memenuhi persyaratan peran, kompetensi dan usaha yang diperlukan dalam menghasilkan kinerja yang baik. Kepala sekolah juga dituntut untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan agar sekolah yang dipimpinnya mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang didalam lingkungannya.

Untuk itu pula kepela sekolah harus memiliki kemampuan 5M yakni mempengaruhi, menggerakan, mengarahkan, mengembangkan dan memberdayakan seluruh potensi di satuan pendidikan. Kepala Sekolah bisa mepengaruhi guru untuk melaksanakan program yang telah disusun baik dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) selama 4 tahun maupun Rencana Kerja Tahunan (RKT). Kepala sekolah juga harus mampu menggerakan dan mengarahkan guru dan warga sekolah lainya untuk menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Kepala Sekolah juga harus mampu mengembangkkan guru untuk meningkatkan sumber dayanya, dan juga harus memberdayakan sumber daya yang dimiliki satuan pendidikan.

Untuk menjadi kepala sekolah sesuai harapan di atas maka perlu usaha dari pemangku kebijakan dan pembinanya. Kepala Sekolah perlu terus dibina oleh atasannya langsung melalui pengawas sekolah yang disebut Pengawas Bina. Apalagi hari ini dihadapkan pada persoalan manajemen yang serba digital. Maka pembinaan yang berkesinambungan dan terarah perlu dilakukan. Selain itu, kepala sekolah juga perlu diberikan penghargaan atas beban dan tanggung jawab yang diembangnya, penyesuaian tunjangan nya juga perlu ditingkatkan untuk meningkatkan motivasi dan peningkatan kinerja yang lebih baik. Sehingga untuk mendapatkan seorang kepala sekolah perlu pula mengabulkan harapan Kepala Sekolah. Harapan Kepala sekolah itu diantaranya adalah, diperbaiki dan ditingkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan, dipermudah akses untuk meningkatkan kompetensinya dan kompetensi guru dan ditingkatkannya tunjangan kinerjanya sebagai bentuk reward atas tugasnya yang semakin berat. ***

 

GURU MASA DEPAN

Dadang A. Sapardan

(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Hari ini berkesempatan mengikuti Workshop Pendidikan yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Masyarakat, Kemendikbudristek. Workshop yang mengambil tema Peran Anggaran Transfer Daerah dalam Pemenuhan Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan tersebut menampilkan Kang Dede Yusuf, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI sebagai salah seorang narasumbernya. Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta mengungkapkan curhatnya bahwa dalam pelaksanaan seleksi PPPK guru, passing grade yang ditetapkan terlalu tinggi, sehingga sulit untuk bisa lolos dalam seleksi dimaksud. Dengan bijaknya, narasumber menyampaikan bahwa untuk mendapatkan PPPK guru yang berkualitas memang harus diberikan standar tinggi. Dengan tampilan PPK guru yang berkualitas, dimungkinkan dapat mendongkrak kualitas pendidikan.

Pada beberapa hari ini seleksi PPPK guru mewarnai dinamika kehidupan ranah pendidikan, terutama bagi mereka yang memenuhi syarat dan memiliki potensi untuk menjadi salah satu bagian dari peserta seleksi tersebut. Ratusan ribu peserta mengadu untung guna mengisi salah satu formasi yang disediakan dalam seleksi tersebut. Mereka yang selama beberapa tahun berstatus sebagai guru honorer pada sekolah negeri, bersaing ketat untuk dapat memperebutkan salah satu kursi sebagai PPPK guru.

Guna mengikuti seleksi tersebut, setiap peserta harus menjalani dua jenis tes yang disediakan oleh panitia seleksi, yaitu tes kompetensi dan tes wawancara. Untuk tes kompetensi sendiri, setiap peserta harus melahap soal kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi sosio kultural. Berbagai tes yang harus dijalani oleh mereka membutuhkan kepiawaian dalam mengoperasionalkan komputer karena menggunakan perangkat komputer secara online.

Dalam pandangan peserta yang sempat mengikuti seleksi tersebut, soal yang diberikan terkategori sangat sukar sehingga harus menguras energi pikiran mereka. Belum lagi, penetapan passing grade yang ditetapkan oleh panitia seleksi tergolong tinggi. Pandangan peserta terkait hal tersebut sah-sah saja karena karakter soal yang diberikan pada berbagai kegiatan seleksi harus memiliki tingkat kesukaran tinggi. Demikian pula dengan penetapan standar kelulusan, dalam hal ini passing grade. Keduanya dilakukan dalam upaya mendapatkan calon yang unggul, calon yang potensial, serta calon yang prospektif.

Dalam konteks evaluasi, minimal terdapat tiga ranah yang sejalan dengan tujuan penyelenggaraannya, yaitu pemerolehan informasi, pemerolehan potensi, serta pemerolehan pemahaman. Konselor akan mengevaluasi guna mendapat informasi sebanyak-banyaknya dari seseorang untuk penetapan treatment lanjutan. Panitia seleksi melakukan evaluasi agar mendapat calon pegawai yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Seorang guru melaksanakan evaluasi guna menyelami kedalaman pengetahuan siswa selepas mengikuti pembelajaran. Dengan perbedaan tujuan tersebut, tentunya kadar soal yang diberikan kepada objek evaluasi akan memiliki perbedaan. Kadar soal yang disiapkan panitia seleksi tentunya memiliki level sukar dalam upaya mendapatkan calon yang benar-benar unggul, potensial, serta prospektif.

Panitia seleksi memberikan kadar soal sukar serta passing grade tinggi pada pelaksanaan seleksi PPK guru, merupakan upaya mendapatkan calon aparatur sipil negara (ASN) yang bisa diandalkan sehingga dapat berkontribusi dalam mengakselerasi kualitas pendidikan. Upaya tersebut didasari dengan adagium “kualitas pendidikan tidak akan melebihi kualitas guru”. Untuk mendongkrak kualitas pendidikan agar mengalami trend menaik, tentunya harus didukung oleh tampilan guru yang berkualitas. Guna mendapatkan guru berkualitas, harus dimulai dari proses seleksi terhadap setiap calon guru yang akan direkrut.

Sebagai pemegang otoritas seluruh ASN, pemerintah berharap besar terhadap tampilan ASN masa depan agar dapat berkiprah optimal dalam mengelola pemerintahan. Mereka diharapkan menjadi abdi negara yang benar-benar tangguh dan dapat diandalkan dalam menghadapi fenomena kehidupan era revolusi industri 4.0 dengan dominasi pemanfaatan perangkat digital pada berbagai elemen kehidupan masyarakat. Mereka diharapkan menjadi sosok yang dapat diandalkan dalam mewarnai tata pemerintahan masa depan yang lebih baik lagi.

Pemberian soal berkadar sukar serta penetapan passing grade yang tinggi pada pelaksanaan seleksi PPPK guru tersebut dapat dihubungkan pula dengan keinginan pemerintah bahwa pada tahun 2024, ASN yang menjadi bagian dari birokrasi pemerintah harus menjadi sosok yang diistilahkan dengan Smart ASN 2024. Indikator Smart ASN 2024 ditandai dengan profil ASN yang memiliki integritas, nasionalisme, profesionalisme, wawasan global, kemampuan dalam IT dan bahasa asing, hospitality, networking, serta enterpreneurship.

Dengan demikian, pemberian soal terkategori sukar serta penetapan passing grade tinggi pada pelaksanaan seleksi PPPK guru bukanlah langkah tanpa arah. Pemerintah berekspektasi bahwa pelaksanaan seleksi PPPK guru dapat menjadi pemicu perolehan PPPK guru unggul, potensial, serta prospektif yang sejalan dengan Smart ASN 2024. ****Disdikkbb-DasARSS.

PTMT FASE BARU PENDIDIKAN KITA

Ema Damayanti, M.Pd.

(Guru SMPN 2 Cililin dan Pembimbing TMBB)

Saat ini sudah banyak sekolah yang melaksanakan Tatap Muka. Gebyar vaksin pun dilaksanakan di beberapa sekolah sebagai langkah persiapan PTMT. Mendengar teman-teman guru bercerita pada awal tatap muka, membuatku tersenyum getir “Siswa ditanya malah hokcay (melongo, tatapan kosong)” Begitu komentar salah satu guru di salah satu sekolah di Cililin.

PTMT menjadi fase baru yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Siswa dan guru yang terbiasa berada di rumah selama dua tahun, sekarang kembali ke sekolah. Dua tahun belajar di rumah tentu sudah cukup membentuk kebiasaan baru. Belajar sambil pegang HP atau laptop bisa sambil tiduran, makan, mengasuh bayi, waktu fleksibel, dan tidak bertatap muka hanya berinteraksi lewat layar ponsel.

Sekarang PTMT dilaksanakan, ruh kegembiraan mulai muncul. Kita dapat melihat lagi siswa berseragam hilir mudik di sekolah, di jalan sepulang sekolah, rasanya dunia kembali hidup. Akan tetapi, ketika memasuki ruang kelas pasti kebingungan mulai muncul. Guru bertanya pada diri sendiri, “Mulai dari manakah saya mengajar?” “Bagaimanakah mengawali semua ini?”

Siswa menatap guru dengan canggung, “Ibu guru bicara apa ya?” Belum lagi pikiran dan jiwa masih belum fokus, masih merambah ke tempat lain. Mungkin game online yang biasa dilakukan pada jam itu, atau bantal guling yang biasa digunakan untuk tiduran pada jam itu. Atau hal lainnya yang biasa dilakukan saat kegiatan belajar di rumah.

Menghadapi situasi itu, memang gurulah prajurit sekaligus pengatur strategi pembelajaran yang berhadapan langsung dengan siswa-siswa hasil “didikan” masa pandemi. Guru harus mulai memutar otak merancang pembelajaran yang bisa diterima siswa dengan baik. Minimal wajah-wajah “pucat” siswa yang terbiasa di rumah kembali “berwarna”

Saya membayangkan saat masuk kelas. Hal pertama yang guru lakukan pasti perkenalan. Siswa dan guru meski sering chatingan tapi berinteraksi langsung tentu belum pernah. Dalam situasi seperti itu, guru bisa membangun suasana lebih hangat dengan membawa siswa berkenalan  dengan permainan. Misalnya, sederhana saja guru mengambil sebuah spidol lalu berkata, “Saya Ema saya adalah guru bahasa Indonesia, saya berikan spidol ini kepada Andi dari Lubak Sumur” Lalu Andi diminta melakukan hal yang sama. “Saya Andi dari Lubak sumur saya berikan spidol ini kepada Arrafi dari Rancapanggung” Begitu seterusnya sampai spidol kembali kepada guru ☺

Mengawali pembelajaran bisa juga dengan cara menulis di papan tulis, tulisan berukuran besar sebuah kalimat atau kata yang menarik perhatian. Misalnya “Generation Loss” Guru bisa bertanya pada siswa maksud tulisan itu. Guru mulai memancing dengan mengatakan bahwa tulisan itu sebutan untuk kondisi yang dialami kita hari ini akibat pandemi.  Setelah itu, guru menyisipkan motivasi tentang, kenapa harus belajar?, apakah itu belajar?, bagaimana peran mereka di masa depan?. Guru bias mengarahkan siswa tentang mimpi dan cita-cita.Bisa juga dengan menampilkan sebuah gambar yang menarik perhatian dan memancing komentar dan pertanyaan siswa.

Beberapa opini mengatakan bahwa pandemi bisa menyebabkan kemunduran terhadap siswa. Belajar jarak jauh 1-2 tahun, tapi kemunduran belajar bisa sampai lima tahun. Guru bisa menyiasati permasalah tersebut dengan mendongeng untuk siswa tentu saja dengan ekspresi dan suara yang bisa menarik perhatian siswa. Menurut beberapa ahli dan penelitian, manfaat mendongeng bisa meningkatkan kemampuan kognitif dan emosional. Jadi, mendongeng secara rutin bisa menjadi sebuah upaya mengakselerasi kemunduran siswa dalam belajar dan juga kemunduran perkembangan karakter.

Upaya lain, guru dapat mengajak siswa keluar kelas. Mungkin aktivitas berkebun bersama atau membersihkan lingkungan sekolah bersama atau berolahraga bersama. Saat seperti itu siswa akan lebih terbuka mengekspresikan dirinya. Atau bermain peran di depan kelas, atau menyanyi lagu bersama. Dll Ya, banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk mengawali kebiasaan baru Pembelajaran Tatap Muka. Satu hal yang mungkin dijadikan catatan, mengawali fase baru pembelajaran saat PTMT, guru jangan mengawalinya dengan materi pembelajaran.***

PERJUANGAN


Dadang A. Sapardan
(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Selama dua hari ini, beberapa teman begitu sibuk memfasilitasi kegiatan seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru. Mereka pontang-panting untuk memberi pelayanan optimal dalam pelaksanaan seleksi PPPK guru yang diikuti para guru Non-ASN. Seleksi PPPK guru yang dilaksanakan pada tahun 2021 ini termasuk surprise tersendiri dari pemerintah untuk mereka yang selama ini berharap menjadi bagian dari aparatur pemerintah. Selain itu, pelaksanaan seleksi ini merupakan upaya pemerintah untuk menutupi kekurangan pegawai, terutama tenaga guru pada setiap satuan pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja, memaknai PPPK sebagai warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu dan diangkat berdasarkan perjanjian kerja dengan jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Dari batasan tersebut, setiap PPPK merupakan bagian dari ASN seperti halnya dengan pegawai negeri sipil (PNS), sekalipun posisinya tidak dipersamakan secara mutlak seperti halnya PNS.

Sebagai pemegang otoritas seluruh ASN dalam hal ini PNS dan PPPK pemerintah berharap besar terhadap tampilan ASN masa depan agar dapat berkiprah optimal guna mengelola pemerintahan. Mereka diharapkan menjadi abdi negara yang benar-benar tangguh dan dapat diandalkan dalam menghadapi fenomena kehidupan era revolusi industri 4.0 dengan dominasi pemanfaatan perangkat digital pada berbagai elemen kehidupan masyarakat. Mereka diharapkan menjadi sosok elegan dalam mewarnai tata pemerintahan masa depan yang lebih baik lagi.

Dalam kaitan dengan seleksi PPPK-guru, perlu dipahami bahwa tugas guru bukan semata menyelesaikan pekerjaannya mulai awal jam pelajaran sampai akhir jam pelajaran. Pekerjaan guru bukanlah menyelesaikan pekerjaan dengan didasari perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang serampangan. Tugas guru harus direncanakan dan dilaksanakan dengan perhitungan sangat matang sehingga pasca pembelajaran yang dilakukan dapat menghasilkan kebermanfaatan bagi seluruh peserta didiknya. Dengan demikian, seorang guru harus mampu memosisikan diri sebagai sosok futuristik, sehingga bisa memperkirakan kebutuhan peserta didiknya dalam menghadapi fenomena kehidupan masa depan.

Terlepas dari berbagai tuntutan yang dipikul oleh para guru dalam menyiapkan tunas-tunas unggul yang akan mengisi kehidupan masa depan, pelaksanaan seleksi PPPK-Guru yang baru pertama kali dilaksanakan ini seakan menjadi oase di gurun pasir yang melahirkan harapan dan peluang besar dari para guru honorer pada satuan pendidikan. Mereka harus dengan sekuat tenaga dan dengan berbagai cara agar dapat menangkap peluang yang ada. Mereka berupaya dengan sekemampuan yang dimiliki untuk dapat lolos seleksi sehingga dapat dipercaya untuk menjadi ASN dalam kapasitas sebagai PPPK guru.

Besarnya antusias para guru honorer untuk ikut ‘mengadu untung’ dalam seleksi PPPK guru memang bisa dipahami karena selama ini kuota yang disediakan pemerintah untuk mengangkat PNS guru sangatlah kecil. Efek dari kecilnya kuota pengangkatan PNS guru tersebut melahirkan kekurangan tenaga PNS guru pada berbagai jenjang pendidikan. Sebagai antisipasi mendesaknya, pemberdayaan guru honorer menjadi solusi yang paling mungkin gunu menutupi kekurangan PNS guru. Para guru honorer inilah yang selama ini berjibaku pada setiap satuan pendidikan pangkalnya untuk turut serta berkontribusi dalam membangun dan mengembangkan pendidikan agar tidak mengalami stagnasi.

Ketika pemerintah membuka peluang besar ini, para guru honorer meresponnya dengan cepat dan antusias, sehingga segala cara dan upaya dilakukan agar dapat berkesempatan ‘mengadu untung’ dalam seleksi PPPK guru. Cerita yang mengharukan dan menyentuh hati nurani benar-benar tergambar dari pengalaman mereka dalam mengikuti seleksi PPPK guru. Mereka seakan mengesampingkan berbagai hal yang selama ini dianggap penting untuk menempatkan seleksi PPPK guru sebagai prioritas utamanya.

Perjuangan menjadi PPPK guru benar-benar menorehkan cerita yang sangat menyentuh sisi empati setiap orang. Untuk dapat mengikuti seleksi ini para peserta, seakan tidak mengindahkan kesehatan dan keselamatan diri atau keluarganya. Bagaimana seorang peserta berupaya mengikuti seleksi PPPK guru, sekalipun harus membawa bayi yang berumur sekitar 2 bulan ke tempat seleksi dan menidurkannya di mushola sekolah tempat pelaksanaan seleksi. Bukan itu saja, ada pula di antara peserta seleksi yang baru melahirkan beberapa hari dan dia memaksakan diri untuk ikut seleksi. Bahkan, ada pula peserta yang berjibaku mengikuti seleksi sekalipun baru saja pulang dari rumah sakit, pascaoperasi usus buntu.

Sekelumit cerita para pejuang yang mengharukan dan menyentuh hati nurani tersebut tentunya bukan itu saja, masih banyak lagi cerita lainnya yang mengundang empati. Tujuan dari perjuangannya jelas sekali, bagaimana mereka mengorbankan berbagai hal—termasuk kesehatan dan keselamatan—demi tercatat sebagai PNS dalam kapasitas sebagai PPPK guru. Semoga, perjuangan mereka membuahkan hasil seperti yang diharapkan, sehingga bisa bersama-sama dengan PNS guru lainnya berjuang untuk membangun dan memajukan pendidikan. Aamiin…. ****Disdikkbb-DasARSS.

‘INOGIMEBESAPI’ AJANG PENINGKATAN PJJ

Oleh N. Mimin Rukmini

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Cililin)

Sepintas melihat judul, entah bahasa apa dan bermakna apa bentukan kata “Inogimebesapi”. Pembaca yang Budiman, ini hanya sebuah akronim.  Akronim tersebut merupakan kependekan dari inovasi strategi, dan media pembelajaran di masa pandemi. Kalimat tersebut penulis ambil dari kegiatan IHT yang diselenggarakan oleh sekolah.

Inovasi strategi dan media pembelajaran oleh seorang guru adalah sebuah keniscayaan. Apalagi dalam masa pandemi yang saat ini sedang berlangsung dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), Inogimebesapi oleh guru perlu terus dilakukan seiring dengan era digitalisasi dan pemenuhan kecakapan Abad 21.

Era digital yang serba cepat memungkinkan kita menghadapi ancaman eksistensi pembelajaran yang serba cepat pula. Guru dituntut untuk selalu mengasah kompetensi guna menyajikan PJJ yang kreatif dan inovatif sekaligus menyenangkan bagi peserta didik. Artinya, dengan inovasi dan berbagai strategi diharapkan guru mampu mengemas PJJ yang tidak menjenuhkan dan tidak memberatkan peserta didik

Beberapa pertemuan PJJ yang telah penulis lakukan dilaksanakan dengan inovasi dan strategi yang berbeda. Hal ini didasarkan pada hasil refleksi peserta didik selama dan setelah berlangsungnya PJJ.

Ketika  menggunakan strategi google meet, ada beberapa siswa yang mengeluh tidak bisa masuk meet. Sementara, ada pula peserta didik yang tidak dapat membuka video pembelajaran. Demikian pula PPT yang telah penulis atau guru siapkan tak bisa disimak. Di sisi lain, tidak jarang  link pembelajaran sebagai ciri PJJ daring tidak dapat diakses mereka.

Penulis pun menggunakan strategi lain, yakni dengan cara dari lima kelas yang penulis emban, satu kelas menggunakan aplikasi google clasroom. Dari strategi PJJ tersebut, ada saja peserta didik yang tidak dapat masuk ke google clasroom sehingga tugas kelas tidak dapat mereka kerjakan. Padahal, beberapa mata pelajaran telah menggunakan google clasroom ini dan memang telah diarahkan belajar di google clasroom.

Dengan mempertimbangkan hasil refleksi pembelajaran serta menyimak keluhan-keluhan peserta didik, suatu waktu penulis hanya menggunakan voicenote dalam aplikasi whatsapp. Link tugas pembelajaran seperti biasa penulis buat dan langsung dibagi dalam chat WA. Hanya dengan strategi PJJ lewat voicenote ternyata apa yang terjadi, respons peserta didik lebih cepat dibanding inovasi dan strategi lain. Walaupun sebenarnya hasil respons tersebut tidak signifikan.

Menurut hemat penulis, selain selalu melihat hasil refleksi PJJ, ada beberapa pertimbangan yang seyoyanya guru atau kita lakukan ketika inovasi dan strategi PJJ itu dilaksanakan.

Pertama, mempertimbangkan aspek media pembelajaran. Tidak semua peserta didik memiliki media dan fasilitas PJJ yang memadai. Boleh jadi HP yang tidak support, atau signal yang terbatas bahkan tidak memungkinkan.

Pertimbangan berikutnya adalah kemampuan membaca dan menggunakan IT yang terbatas. Keluhan tidak hanya datang dari peserta didik, dari orang tua pun keluh-kesah datang silih berganti. Sehingga arahan, layanan, dan kolaborasi guru mapel atau wali kelas dengan orang tua pun perlu terus dilaksanakan.

Hal lain yang sejatinya menjadi pertimbangan dalam strategi dan inovasi  PJJ adalah kebermaknaan pembelajaran bagi peserta didik. Kebermaknaan boleh jadi dalam hubungannya dengan kecakapan hidup peserta didik atau sikap peserta didik terhadap PJJ. Inovasi dan strategi PJJ diharap mampu memberi pengalaman belajar yang akan melahirkan sikap kritis, kreatif, inovatif peserta didik. Dengan strategi dan inovasi PJJ  ini pun kolaborasi di antara mereka dan guru mampu dibangun secara harmonis.

Simpulan

Inovasi dan strategi dipastikan akan menghasilkan keberagaman PJJ. PJJ yang tidak sekedar berupa lembar kerja peserta didik yang sifatnya menjenuhkan, tetapi penyajian pembelajaran yang dapat mewakili tatap muka secara langsung. Minimal bertemu wajah secara virtual atau komunikasi simak, baca, dan dengar multi arah tanpa batas ruang dan waktu yang terus memberikan semangat dan meningkatkan hasil pembelajaran. Semoga!***

ASUPAN GIZI

Dra. Efni Iriani, M.Pd

(Kepala SMPN 3 Parongpong)

Semua sepakat jika meihat seorang anak yang sehat,  secara fisiknya dapat diamati  ia akan tumbuh dengan baik,  yang dapat dilihat dari naiknya berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional, tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya., tampak aktif atau gesit dan gembira,  mata bersih dan bersinar,  anak sehat nafsu makannya baik, kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering. Ciri anak sehat lainnya, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jadi secara sederhana, ciri anak sehat dilihat dari segi fisik, psikis dan sosialisasi.

Dilihat dari segi fisik ditandai dengan sehatnya badan dan pertumbuhan jasmani yang normal, Segi psikis, anak yang sehat itu jiwanya berkembang secara wajar, pikiran bertambah cerdas, perasaan bertambah peka, kemauan bersosialisasi baik, dari segi sosialisasi, anak tampak aktif, gesit, dan gembira serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Anak yang sehat dikarenakan faktor asupan gizi yang baik.mereka diberi  nutrisi yang baik untuk kesehatannya. Karena dalam sehari-hari, tubuh manusia memerlukan energi agar dapat beraktivitas dengan lancar. Makanan dan gizilah yang menjadi sumber energi itu. Kecukupan asupan gizi sangat menentukan keberlangsungan kesehatan tubuh manusia, Gizi seimbang adalah asupan makanan sehari-hari dari berbagai jenis makanan yang memiliki kelompok gizi dengan porsi yang cukup dan tepat. Hal ini berarti, porsi makanan bergizi yang kita konsumsi tidak boleh terlalu kurang atau berlebihan.

Mengapa penulis paparkan asupan gizi ini dan apa kaitannya dengan dunia pendidikan. Sepintas seolah tidak ada hubungannya. Namun secara langsung dan perumpamaannya banyak sekali yang bisa diterjemahkan. Pertama ciri-ciri anak yang memiliki asupan gizi yang baik, mereka pasti sehat. Anak yang sehat akan memiliki aktivitas yang baik. Dia akan gesit, kecerdasannya bagus, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini pasti dibutuhkan oleh dunia pendidikan agar mendapatkan siswa yang mumpuni dari segi kecerdasan dan penguasaan keilmuan yang diperuntukan dan ditetapkan  oleh kurikulum pendidikan.

Dari sisi perumpamaannya, guru yang mentransferkan ilmunya pun harus memenuhi asupan gizi’’ yang baik pula. Hal ini yang jarang dipahami dan diimplementasikan oleh tenaga pendidik. Guru terkadang hanya menyampaikan ilmu pengetahuan dan mengugurkan kewajiban serta target kurikulum tercapai secara teori dan alokasi waktu. Konsep ketuntasan minimal dan pencapaian tujuan pembelajaran harus menjadi tujuan utama. Peserta didik hanya dijejali dengan capaian kognitif minimal:

  1. Membiasakan guru untuk membuat pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaiannya
  2. Membiasakan siswa untuk berpikir tingkat tinggi sehingga dapat meningkatkan kompetensinya
  3. Memberikan acuan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik
  4. Meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).
    • Capaian Peserta Didik, Keterampilan berpikir sesuai dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang menjadi satu kesatuan dalam proses belajar dan mengajar
    • Pengendalian Mutu, Guru mampu melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan gradasi dimensi pengetahuan dan proses berpikir.
    • Capaian Peserta Didik, Keterampilan peserta didik yang dikerahkan dalam memecahkan permasalahan yang muncul, mengambil keputusan, menganalisis, menginvestigasi, dan menyimpulkan.
    • Pengendalian Mutu, Guru mampu memebrikan proses pembelajaran yang menjadikan peseserta didik kreatif dan dapat mengembangkan pemikirin kritis peserta didik terhadap permasalahan yang dihadapkan.
    • Capaian Peserta Didik, Keterampilan peserta didik yang mampu memiliki keinginan kuat untuk dapat memecahkan masalah muncul pada kehidupan sehari-hari.

Pengendaian Mutu, Guru mampu mengajak peserta didik untuk memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sesuai konteks dalam pembelajaran yang sedang berjalan. Hal ini sesuai dengan teori Tabularasa dari John Locke dan Francis Bacon. Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters).

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah” yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu.***

NILAI POSITIF DARI KEGALAUAN TES PPPK GURU

AZIZ ISMAIL, M.Pd

(Kepala SDN 3 Rancapanggung Cililin Bandung Barat)

Kebijakan yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negera (Kemenpan RB) serta Badan kepegawaian Negara (BKN). untuk memenuhi kekurangan guru yang berasal dari tenaga kependidikan honorer, disambut hangat oleh seluruh guru honorer di Indonesia, terutama oleh mereka yang sudah lama mengabdi bertahun-tahun. Hal ini pula membawa harapan baru bagi mereka untuk menjadi Aparatur Sipil Negera (ASN), walau usia tak lagi muda.

Rekruitmen ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tentu merupakan perjuangan Panjang yang diperjuangkan oleh berbagai asosiasi tenaga honorer. Walaupun harapan mereka agar diangkat langsung tanpa tes tidak terwujud. Hal ini disebabkan karena  Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) Nomor 5 tahun 2014 memiliki semangat sistem merit yakni kebijakan dan manajemen ASN berdasarkan kualifikasi, kompetensi dan kinerja yang diberlakukan secara adil dan wajar tanpa diskriminasi. Sehingga pengangkatan ASN ototmatis harus melalui sejumlah tahapan seleksi melalui tes.

Badan Kepegawaian Negara ( BKN) menerbitkan peraturan BKN Nomor 50 Tahun 2019 yang diubah menjadi Peraturan BKN Nomor 2 tahun 2021 yang mengatur tes ASN melalui CAT (Computer Assisted tes), dimana calon PPPK guru akan dites melalui Komputer dengan melalui berbagai tahapan tes secara daring, baik tes kemampuan teknis, sosiokultural dan wawancara. Para guru yang ikut dalam tes tersebut harus melalui nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Agar mendapatkan nilai diatas ambang batas tersebut, tentu dituntut kemampuan (komptensi) dari para calon PPPK tersebut.

Aturan tersebut tentu saja mengundang kegalauan dari kalangan guru. Mereka menjadi risau seolah tes tersebut menjadi momok dalam perjalanan memperjuangkan nasibnya menjadi lebih baik, dengan harapan menjadi ASN PPPK. Mereka takut tidak mampu mengerjakan sejumlah tes yang akan mereka hadapi, sepertinya mereka trauma setelah beberapa kali mengikuti tes CPNS tetapi gagal. Mereka juga risau, kalau saja mereka tidak mampu mengerjakan tes tersebut maka pupus lagi harapan mereka. Terutama mereka yang sudah berumur, karena kalau tes mereka selalu kalah oleh mereka yang fresh graduate atau anak muda yang baru lulus kuliah. Mereka merasa kompetensi mereka sudah lemah dibandingkan yang muda-muda.

Sekali lagi pemerintah memberikan harapan bagi mereka guru honor yang sudah berumur dengan memberikan afirmasi nilai. Mereka yang usia diatas 35 tahun mendapat nilai bonus, demikian juga bagi mereka yang sudah masuk kategori II, peserta disabilitas, dan guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik yang linear dan sudah bekerja selama minimal 3 tahun. Untuk yang sudah bersertifikat pendidik mendapat afirmasi kemampuan teknis 100%, bagi yang sudah berumur lebih dari 35 tahun 15 %, bagi calon PPPK disabilitas 10% dan Yang sudah masuk kategori II 10%. Tentu hal ini memudahkan mereka untuk mencapai nilai ambang bawah.

Hal tersebut diatas ternyata masih tetap menyisakan kegalauan mereka dengan ketakutan takut tidak lulus. Maka pemerintah memfasilitasi mereka untuk belajar melaui seri belajar dalam akun Sim PKB masing masing guru. Diterbitkan pula E-book agar dapat dengan mudah didownload, dengan harapan dibaca oleh para calon PPPK.

Selain itu, diberi kesempatan pula para calon PPPK itu untuk mengikuti simulasi pengerjaan soal tes melalui Komputer. Simulasi memberikan gambaran bahwa pada saat tes nanti di CAT soal tidak begitu berbeda. Harapan agar soal soal yang akan dihadapi dalam CAT menjadi familiar bagi para calon PPPK. Sehingga mereka lebih berpeluang untuk lebih mudah mengerjakan soal dan memperoleh nilai diatas ambang bawah.

Berbagai LPTK dan Lembaga bimbingan menawarkan untuk memberikan bimbingan kepada para calon PPPK untuk melatih mengerjakan soal tes pada CAT. Walaupun harus berbayar banyak diantara mereka mengikuti kegiatan tesebut. Harapannya pun sama agar mereka mudah dalam menghadapi soal tersebut.

Berawal dari kegalauan dan kerisauan tersebut para guru calon PPPK ternyata memiliki semangat belajar agar mereka lulus Tes PPPK guru. Tetapi dari hal itu memberi dampak yang positif bagi peningkatan kompetensi para guru. Secara tidak sadar mereka kini meningkat kemampuan teknisnya dalam pekerjaan. Mereka menambah wawasan, teori, keterampilan dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga meningkat pula kualitas diri mereka baik secara keilmuan maupun kemapuan dan keterampilannya karena terlatih melaui berbagai pelatihan, simulasi dan banyak belajar dengan membaca baik buku maupun E-book.

Sehingga fenomena rekruitmen ASN PPPK guru melalui sejumlah tes melalui CAT akan meningkatkan kualitas pendidikan. Mereka yang lulus ASN PPPK adalah mereka yang memiliki kemampuan yang baik, yaitu diatas nilai ambang batas. Yang tentunya perolehan tersebut berkat hasil belajar yang sungguh-sungguh mereka lakukan untuk menghadapi tes calon ASN PPPK guru. Sehingga keinginan mereka untuk lulus menjadi berbanding lurus dengan kemampuan (kompetensi) yang mereka miliki dan berbanding lurus pula dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Harapannya adalah jika mereka sudah lulus ASN PPPK guru semangat menambah ilmu dengan banyak belajar tidak berubah, mereka tetap selalu ingin meningkatkan kualitasnya dengan belajar dan belajar. Sehingga selamanya mereka menjadi guru pembelajar untuk terus meningkatakan kualitas diri demi peningkatan kualitas pendidikan.

Sesuangguhnya guru bukan hanya bisa membelajarkan peserta didiknya, tetapi juga dirinya harus selalu belajar untuk peserta didiknya. Kalau guru sudah tidak mau belajar, maka dia harus berhenti menjadi guru. Karena dunia terus berkembang dan selalu berubah, untuk mengimbanginya guru terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman yang sesuai kebutuhan peserta didik dizamannya. Selamat belajar dan selamat meningkatkan kualitas diri dan kualitas pendidikan, semoga kita semua sukses. Ayo, kita capai semua impian dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, semoga hasilnya bermanfaat. khoerunnas anfa`uhun linnas.***

 

 

 

Penulis:

Nama                                     : AZIZ ISMAIL, M.Pd

Tempat/Tgl Lahir      : Bandung, 18 Februari 1974

Pekerjaan                  ; Kepala Sekolah

Satuan Kerja             : SDN 3 Rancapanggung Kec. Ciliin   Kab. Bandung Barat