MALAM 1000 BULAN

Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

 

“Tugas terpenting yang harus dilakukan di Ramadan ini  adalah dengan mengoptimalkan kualitas ibadah. Selain itu, juga meningkatkan keyakinan serta ketakwaan kepada Allah Swt. Hal ini menjadi salah satu ciri pribadi muslim yang senantiasa fokus mencari keridaan Allah dalam segala aktivitas ibadah apapun, tanpa menggantungkan harapan akan memperoleh imbalan yang belum tentu didapatkan…”

Ramadan memasuki fase kedua. Kaum muslimin sudah bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang untuk meningkatkan kualitas amaliah ibadah. Itulah yang dicontohkan Baginda Agung Muhammad SAW pada setiap momen Ramadan yang dijalaninya.

Seperti diketahui, Ramadan memiliki tiga fase, yakni rahmat dan berkah, maghfiroh, serta pembebasan dari api neraka (itqum min annaar). Di setiap fase kaum muslimin berusaha meraih segala keutamaan yang dianugerahkan Allah kepada siapapun hambanya yang berpuasa.

Di fase rahmat dan berkah, Allah memberikan suatu jamuan kasih sayang dan berlipatnya kebaikan kepada semua makhluk-Nya. Di fase ini seluruh alam semesta merasakan indahnya kedatangan bulan suci, bahkan sering disaksikan betapa banyak orang yang mengais rezeki justru bukan orang yang tidak terkena kewajiban berpuasa. Pasar-pasar penuh sesak dengan hilir mudiknya para penjual dan pembeli. Terkadang malah terjadi transaksi perdagangan yang tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa, seperti toko perhiasan menjadi lebih ramai dibandingkan dengan bulan sebelumnya, begitupun dengan toko asesoris kendaraan, dan lain-lain.

Terasa sekali rahmat ditumpahruahkan Allah untuk siapa saja yang berusaha dengan optimal di bulan suci Ramadan. Keutamaan di fase pertama ini adalah dijamu-Nya setiap makhluk yang menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Jamuan tersebut adalah berupa limpahan pahala dan kebahagiaan bagi siapapun yang berada di bulan ini.

Sementara itu, di fase kedua kaum muslimin diberikan Allah berupa ampunan, terutama yang berpuasa dengan berlandaskan keimanan dan hanya berharap keridaan-Nya semata. Di fase ini Allah seakan ingin menampakkan lautan ampunan yang tiada bertepi. Lalu, siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan ini? Di saat masih diberikan kesempatan usia hendaknya bersegera mencari ampunan-Nya tersebut.

Di fase kedua pun kaum muslimin diingatkan tentang salah satu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang yang beriman, yakni taubat. Seperti diketahui, terdapat empat hal yang senantiasa melekat dalam pribadi mukmin, yaitu syukur, sabar, taat, dan taubat. Pada fase kedua Ramadan orang yang berpuasa hendaknya memanfaatkan seoptimal mungkin untuk meminta ampunan atas segala khilaf dan dosa, dan atas segala maksiat yang telah diperbuat selama ini. oleh karena itu, doa yang dianjurkan dibaca adalah Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul afwa fa fu’anni ya Kariim-Wahai Allah, sesunggungguhnya Engkaulah Maha Pengampun, limpahkanlah ampunan kepadaku, wahai zat yang Maha Mulia.  

Berikutnya, pada 10 hari terakhir Ramadan, terdapat sebuah keutamaan luar biasa yang Allah anugerahkan kepada siapapun orang beriman yang beribadah pada malam di fase tersebut. Malam ini dikenal dengan nama Lailatul Qodar, suatu malam yang diliputi kemuliaan dan keberkahan hingga menjelang fajar. Bahkan, pada ayat kedua QS. Al Qadar disebutkan Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat masyhur  tbahwa ada seorang pemuda Bani Israil yang bernama Sam’un Al Gazhi yang memiliki kemuliaan di dalam hidupnya setelah beribadah selama 80 tahun. Dalam kisah lainnya terdapat empat orang Bani Israil, yakni Ayyub, Zakaria, Hexkiel, dan Yoshua bin Nun yang memiliki karamah karena tidak pernah berbuat maksiat dan senantiasa menyembah kepada Allah selama waktu yang sama. Hal ini mengundang kekaguman para sahabat yang mendengarkan kisah tersebut. sehingga malaikat Jibril datang dan berkata, Wahai Muhammad, ummatmu kagum dengan mereka yang menyembah Allah SWT selama 80 tahun, sedangkan Allah Swt telah menurunkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari itu. Kemudian Malaikat Jibril membaca surat Al Qadar dan berkata, Ini lebih mengagumkan bagi engkau dan ummatmu”. Rasulullah SAW pun bahagia mendengarnya.

Jika dikaji secara tekstual maka makna 1000 bulan adalah memang sesuai dengan jumlah masa yang apabila dikonversikan sebanyak 80 tahun. Hal ini sesuai dengan kisah di atas. Sebaliknya, jika dimaknai sebagai banyaknya jumlah anugerah Allah kepada orang yang beribadah pada malam tersebut maka boleh jadi ini adalah kiasan yang menunjukan kualitas kemuliaan yang diterimanya. Hal ini sesuai dengan kebiasaan bangsa Arab masa lalu untuk menunjukkan sesuatu yang banyak dengan istilah 1000, seperti yang terdapat dalam Al Baqarah ayat 96: Salah seorang di antara mereka ingin agar usianya dipanjangkan hingga 1000 tahun.

Di sisi lain, Lailatul Qodar yang disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Al Baihaqi dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit, menyebutkan tentang sejumlah tanda-tanda munculnya malam mulia ini, yakni Di antara tanda Lailatul Qadar, suatu malam yang cerah, bersih, tenang, tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan terdapat bulan yang bersinar, tidak satu bintangpun terbit hingga subuh.

Hal ini pun diisyatakan juga oleh Imam Ibnu Katsir yang menyatakan-Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah, suatu malam yang bersih, cerah, seakan-akan terdapat bulan purnama yang bersinar, malam yang tenang dan teduh, tidak dingin dan tidak pula panas, bintang-bintang tidak terbit muncul hingga subuh.

Sesungguhnya banyak riwayat tentang tanda-tanda datangnya Lailatul Qodar, namun yang paling utama adalah bagaimana mempersiapkan diri dalam meraih kemuliaan malam tersebut. Kemudian, persiapan apa saja yang harus dimiliki dalam menyambut datangnya Lailatul Qodar ini, di antaranya adalah meluruskan niat semata-mata mengharap rida Allah Swt. Seperti yang dipahami bahwa segala amal tergantung dari niatnya. Oleh karena itu persiapan awal ini sangat penting dalam meraih Lailatul Qodar.

Sesungguhnya niat yang ditanamkan di dalam hati akan berbanding lurus dengan sikap ketawaduan diri dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Besar. Oleh karena itu, akan tampak dalam diri yang niatnya semata-mata karena mengharap keridaan Allah memiliki air muka yang cerah, teduh, dan menyejukan bagi siapapun yang memandangnya. Sebaliknya, apabila niatnya karena hanya mencari Lailatul Qodar  dengan tanpa mengharap rida-Nya, maka yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana dia akan memperoleh kemuliaan tanpa bersusah payah ibadah puasa dan amalan tathawu lainnya di Ramadan ini.

Persiapan berikutnya adalah membersihkan hati dari sifat-sifat yang menjauhkan diri dari Allah, yakni sifat takabbur, sombong, kemudian ujub, merasa paling mulia, riya, pamer, dan thoma, berharap pujian dari makhluk. Hal ini sangat penting karena Lailatul Qodar hanya akan ‘singgah’ kepada yang berhati bersih dan berpikiran jernih serta selalu berbaik sangka kepada segala ketetapan Allah Swt.

Seperti diketahui, kebersihan hati merupakan syarat mutlak untuk menghadap Allah. Hal ini pun tentu berkaitan dengan salah satu anugerah kemuliaan-Nya, yakni Lailatul Qodar, seperti dijelaskan dalam Al Quran surat Asy Syu’ara ayat 88-.Pada hari di mana harta dan anak tidak berguna kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih

Selanjutnya adalah persiapan fisik. Hal ini menjadi salah satu yang perlu diperhatikan bagi orang yang ingin meraih Lailatul Qodar yang umumnya dilakukan hingga malam hari. Sehingga diperlukan energi ekstra untuk melakukannya.

Akhirnya, Lailatul Qodar adalah rahasia Allah yang tidak pernah siapapun mengetahuinya. Walaupun isyarat tentang tanda-tanda dan waktu kedatangan Lailatul Qodar dapat dijumpai dari banyak referensi. Namun, tugas terpenting yang harus dilakukan adalah mengoptimalkan kualitas ibadah. Selain itu, juga meningkatkan keyakinan serta ketakwaan kepada Allah Swt. Hal ini menjadi salah satu ciri pribadi muslim yang senantiasa fokus mencari keridaan Allah dalam segala aktivitas ibadah apapun, tanpa menggantungkan harapan akan mendapatkan imbalan yang belum didapatkan karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesungguhan seorang hambanya. Wallahu’alam.***

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

KHUTBAH INDAH RASULULLAH JELANG BULAN RAMADAN

Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Setiap kali mau berjumpa dengan Ramadan, diingatkan tentang khutbah Baginda Rasulullah. Sebuah pesan indah yang hendaknya menjadi pijakan setiap orang yang mau melaksanakan puasa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimahdari sahabat Salman Al Farisi dikisahkan Baginda Rasulullah pada akhir Syaban berkhutbah:

Wahai manusia, sunguh telah datang kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan, bulan yang mana Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai sunah.

Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga.

Bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan dimana rizki orang-orang yang beriman ditambah.

Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.

Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.

Rasulullah menjawab: Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu.

Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah SWT akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.

Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (Haudh) dimana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga.(HR. Ibnu Khuzaimah).

Sungguh luar biasa bulan Ramadan. Maka, sangatlah penting mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Diperlukan target utama untuk meraih keberkahan bulan seribu bulan tersebut.

Target yang dapat kita terapkandi antaranya adalah mengoptimalkan pengkajian Al Quran. Tidak hanya mengkhatamkannya, tetapi juga mentadaburi maknanya.

Selain itu, memaksimalkan amaliah sedekah. Jika pada hari biasa hanya mampu bersedekah sekian rupiah, maka di Ramadan harus dilipatkan jumlahnya.

Begitupun dengan merubah paradigma “tidur di bulan suci adalah ibadah’, menjadi ‘tidur saja ibadah apalagi memperbanyak amal salih”. Dengan hal ini maka kualitas puasa menjadi terjamin.

Akhirnya, Ramadhan telah tiba. Adalah kewajiban kita untuk mengisinya dengan sepenuh pengharapan, tentang dihapuskannya semua kekhilapan, seluruh kesalahan, segala maksiat yang telah diperbuat, dengan amal ibadah yang optimal.

Tidak ada jaminan tahun depan akan berjumpa lagi dengan bulan suci ini. oleh karena itu kita luruskan niat, bersihkan hati semata-mata mengharapkan rahmat, berkah, dan rida Allah SWT.

 

Wallahu ‘alam bishawab…

26 Syaban 1442 H

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

INDAHNYA KAJIAN ‘NAPAS’

Oleh: Drs. H. Jaka Supriatna,MM.Pd

(Kepala SMPN 2 Padalarang) 

Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah!”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Adalah menarik saat mempelajari tentang Pola NAPAS untuk MENDETEKSI kualitas HIDUP terutama pada dunia pendidikan. Hal ini  begitu fenomenal untuk melatih diri sehingga akan membuahkan kesabaran, keberkahan dan keberhasilan.

Berdasarkan hadits di atas, terdapat tiga macam olahraga yang disarankan oleh Rasulullah Muhammad SAW, yaitu Berkuda, Berenang, dan Memanah. Setelah Penulis amati ternyata ketiga olahraga tersebut erat kaitannya dengan pengaturan atau pengendalian napas, yakni kapan menerima napas, kapan menahan napas, dan kapan melepaskan napas. Di situlah seni ketiga olahraga tadi. Artinya, secara tersirat ada pesan dari hadits tersebut bahwa “Hai umatku, aturlah napasmu”.

Begitupun ketika kita membaca Al-Quran,  pengaturan napas harus sangat diperhatikan. Tidaklah boleh kita menerima, menahan, atau melepaskan napas seenaknya saja. Kita haruslah memperhatikan dimana ujung ayat, memerhatikan tanda washal, memerhatikan tanda waqaf, memerhatikan dengung, dan juga memerhatikan panjang pendeknya bacaan huruf di ayat-ayat Al-Quran tersebut.

Dalam kesempatan lainnya, Rasulullah melarang umatnya untuk MARAH. Hal ini dikarenakan ternyata marah dapat mengacaukan peredaran darah yang berakibat merusak kesehatan.

Seperti diketahui,  kacaunya peredaran darah dikarenakan marah membuat NAPAS TIDAK TERATUR. Napas para pemarah sangat berat dan terengah-engah. Jadi, kalau pun anda terpaksa harus marah, maka perhatikan napasnya, biarkan napas teratur, tenangkan diri, terima diri, terima kenyataan yang ada, lalu marahlah dengan hati yang damai, Hehe. Mampukah anda tetap marah bila hati sudah damai?

Nah dari ketiga pelajaran di atas, yakni tentang OLAHRAGA, MEMBACA AL-QURAN, dan JANGAN MARAH, tersiratlah dengan jelas bahwa kita disuruh untuk mengendalikan dan berdamai dengan napas. Semua disuruh belajar tentang fenomena Napas. Ada Rahasia apa dalam Napas?

Kini, cobalah tarik napas yang dalam secara perlahan, lalu tahanlah tiga detik, dan hembuskanlah perlahan. Apa yang dirasakan? Coba lakukan hingga tiga kali. Mana yang menurut Anda lebih nikmat, menerima udara, menahan udara, atau melepaskan udara?

Menarik napas adalah lambang dari MENERIMA, menahan napas adalah lambang dari MENAHAN, dan menghembuskan napas adalah lambang dari MELEPASKAN.

Coba ulangi lagi proses bernapas di atas dengan kesadaran yang lebih rileks, dan rasakanlah Allah meliputi Anda dan apa yang Anda lakukan. Nah, setelah Anda ulangi berkali-kali, coba jawab pertanyaan saya sekali lagi. Mana proses yang paling enak, apakah ketika MENERIMA, MENAHAN, atau MELEPASKAN?

Ya, bagi Anda yang merasakannya dengan baik, maka Penulis yakin mayoritas dari Anda menjawab ketika “Melepaskan”. Karena itulah jawaban mayoritas dari para audience training yang kami tanyakan langsung. Namun demikian, kita kadang tidak mudah untuk melepaskan karena  terlalu ingin menahannya. Terkadang kita juga tidak mampu melepaskan karena memang tidak pernah sungguh-sunguh menerimanya. Kadang kita pun sulit untuk rela melepaskan nyawa kita karena tak pernah benar-benar menerima kehidupan ini. Padahal puncak dari kenikmatan di dunia adalah ketika kita rela melepaskan napas terakhir dengan hati tenang, dan dalam keadaan bertakwa. Saat “puncak kenikmatan” itu maka semakin dekatlah kita kepada Allah, insya Allah.

Nah sahabat, proses melepaskan hanya terjadi bagi Anda yang ikhlas MENERIMA sepenuh hati, lalu MENAHAN apa yang Anda terima tersebut secukupnya.

Menerima itu penting! Seringkali orang beranggapan, disebabkan ia menikmati sesuatu maka hal itu bisa ia terima di kehidupannya. Padahal kenyataannya adalah justru disebabkan ia mau menerima sesuatu itu maka sesuatu itu menjadi nikmat baginya. Menerima adalah pintu kenikmatan.

Nah, lalu proses apa yang paling membuat Anda susah? Yup, tepat sekali, yaitu ketika Anda MENAHAN NAPAS terlalu lama. Yakni, menahan sesuatu yang sudah diterima dengan terlalu lama, berlebih-lebihan, alias kemaruk.

Begitulah Sahabat Bernapas sekalian, bila Anda menahan sesuatu terlalu lama, maka hidup Anda akan susah dan menderita. Ada dua saat “menahan” yang terjadi. Pertama, Menahan setalah Anda menerima. Ke dua,  Menahan setelah Anda melepaskan. Dan Menahan setelah Anda melepaskan itulah yang disebut sebagai MENOLAK. Jadi, Menahan itu bisa berarti Menolak untuk Melepaskan, atau Menolak untuk menerima.

“Menahan setelah Anda menerima” biasanya terjadi karena Anda keenakan dengan sesuatu yang Anda tahan tersebut. Anda tidak ingin melepaskannya, bahkan Anda sudah menganggap bahwa sesuatu itu adalah milik Anda 100%. Anda berusaha total menguasai dan mempertahankannya.

Sedangkan “Menahan setelah Anda melepaskan” biasanya terjadi karena Anda tidak mau menerima sesuatu yang hadir di kehidupan Anda. Padahal Anda ingin berlepas dari sesuatu yang tidak Anda sukai itu, namun demikian ternyata satu-satunya cara agar Anda bisa terlepas dari apa yang tidak Anda sukai adalah dengan cara : “Anda harus terlebih dahulu menerima kehadirannya di kehidupan Anda”. Bagaimana mungkin kita bisa menghembuskan napas bila kita belum menghirup napas? Terimalah, maka Anda akan mudah untuk melepaskan, dan lepaskanlah maka Anda akan mudah untuk menerima, insya Allah. Bolak Balik Method.

Akhirnya, melalui proses bernapas ini maka kita akan mendapatkan alur kehidupan, yaitu : Menerima – Menahan – Melepaskan – Menahan – Menerima – Menahan – Melepaskan – Menahan, dan seterusnya. Orang-orang yang cinta dunia hanya fokus kepada “Menahan – Menerima – Menahan”, padahal mereka hanya bisa optimal Menerima dan Menahan manakala mereka mau “Melepaskan” dengan tuntas.

Wallahu ‘alam***

INDAHNYA KAJIAN DI BULAN RAJAB (II)

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun
(SMPN 1 Cipongkor)
…bukan masalah surga dan neraka yang harus kita pikirkan, tetapi bagaimana persiapan diri menghadapi kematian; Husnul khotimah atau Su’ul Khotimah-kah diri ini saat hidup berakhir?”

Kajian Isra Mi’raj sangatlah menarik untuk diambil hikmahnya. Peristiwa dahyat ini tidak akan surut dimakan waktu, tak pernah sirna dimakan masa, dan tidak lekang ditelan zaman.
Sejarah mencatat bahwa Baginda Rasul Muhammad SAW mengalami suatu kejadian yang boleh jadi dialami oleh kebanyakan manusia lainnya, tentu dengan takaran intensitas yang beragam. Namun,pelajaran berharga yang diajarkan Baginda Rasul dalam menyikapi permasalahan yang dialaminya sangatlah berharga bagi kita, umatnya.
Salat Wujud Sabar yang Hakiki
Seperti diketahui bahwa Rasulullah, saat ditinggal wafat paman dan istrinya yang merupakan benteng hidup perjuangan syiar Islam, mengajarkan umatnya untuk mendirikan salat sebagai wujud sikap sabar yang hakiki, dan sebagai solusi terbaik ketika menghadapi berbagai macam permasalahan.
Pelajaran Mulia
Pelajaran berikutnya adalah ketika Baginda dipertemukan dengan para Nabi dan Rasul sebelum beliau. Hal ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi umatnya agar tidak melupakan para pendahulu yang telah menancapkan pelajaran berharga bagi kehidupan.
Dalam kontek sekarang adalah, bahwa kita tidak boleh melupakan jasa-jasa para guru yang telah mengajarkan berbagai disiplin ilmu sehingga mengantarkan, langsung maupun tidak langsung, terasa maupun tidak terasa, untuk menjadikan kita seperti saat ini. Sehebat apapun manusia, pasti berkat campur tangan para pendahulu kita, siapapun orangnya.
Istiqomah
Berikutnya adalah, peristiwa pada saat Baginda Rasul tidak menoleh ketika dipanggil oleh suara yang akan memalingkan baginda dari tujuan semula menghadap Allah, adalah pelajaran tentang ke”istiqomahan”an dalam melaksanakan suatu kewajiban. Bagi seorang mukmin istiqomah adalah pokok dari kesuksesan dalam mencapai rahmat dan rida Allah Swt.
Istiqomah adalah sikap konsistensi dalam melaksanakan suatu kegiatan. Seorang yang sudah memahami tugas dan kewajibannya akan pantang surut mundur ke belakang sampai kewajibannya terpenuhi. Begitulah yang diajarkan Baginda Rasul dalam istiqomah secara harfiah.
Dalam kontek sekarang, sikap Baginda Rasul demikian adalah mengajarkan kepada umatnya agar dalam kehidupan pasti selalu ada halangan dan rintangan yang akan memalingkan diri dari kewajiban ingat kepada Allah swt. Boleh jadi berupa panggilan hedonisme, patrialisme, harta, turunan, pangkat jabatan, kedudukan yang akan memalingkan diri kita sehingga menjadi orang yang merugi (QS Al Munafiqun:9.).
Sesungguhnya harta dan turunan itu tidak akan bermanfaat sama sekali, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih dikarenakan selalu ingat kepada Nya. (QS.As Syu’ara:88-89).
Persiapan Mati
Sementara itu, pada saat Baginda Rasul diperlihatkan tentang Surga dan Neraka. Hal ini mengandung makna bahwa ada hidup, ada yang namanya mati, ada saat datang dan ada waktunya kembali. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mempertanggungjawabkan semua amaliah yang kita lakukan di dunia.
Sesungguhnya kematian tidak mengenal usia, tidak kompromi dengan kedudukan seseorang; jika sampai pada waktunya tidak satu makhlukpun mengetahuinya. Setiap yang bernyawa akan menemui kematian dan akan mendapatkan tentang apa yang telah dikerjakannya, berbuah surgakah atau bahkan neraka (QS. ‘Ali Imran:185), dan Tidak ada satupun dapat meyangkalnya, walau sesaat sekalipun (Al Hijr:5).
Momentum Rasulullah menyaksikan sekumpulan manusia yang menjadi penghuni neraka yang diperlihatkan Allah adalah mengajarkan kepada kita tentang persiapan diri menuju kehidupan yang hakiki setelah dunia ini.
Dalam kontek saat ini adalah, bukan masalah surga dan neraka yang harus kita pikirkan, tetapi bagaimana persiapan diri menghadapi kematian; Husnul khotimahkah atau Su’ul Khotimah-kah diri ini saat hidup berakhir?
Simpulan
Oleh karena itu, hendaklah kita kembalikan kepada muara utama dari peristiwa Isra Mi’raj yakni salat. Sesungguhnya dengan salatlah kita akan terselamatkan, karena hakikat dari shalat adalah wujud serah diri yang utuh kepada Sang Khalik sebagai Penentu kejadian, dan Penetap suatu kepastian seorang hamba.
Marilah kita jadikan shalat dan sabar sebagai penolong kita. Terasa berat memang,tetapi yakinlah dengan keyakinan yang bulat kepada Allah akan menjadikan diri ini, mukmin yang akan mendapatkan pertolongan Allah Swt. Wallahu’alam bisshawab. ***

“Wahai Allah yang Maha Agung, Maha Penentu segala kejadian.
Jadikanlah kami menjadi hambaMU yang mampu bersyukur atas sekecil apapun kenikmatan yang engkau anugerahkan. Jadikanlah kami menjadi hamba Mu yang mampu bersabar atas seberat apapun ujian yang Engkau timpakan.
Ya Allah anugerahilah kami turunan yang shalih-shalihah, keluarga yang sakinah mawadaah warrahmah, dijauhkan dari fitnah dan musibah dunia akhirat.
Ampuni kedua orang tua kami Ya Arhamarrahimiin, beri maaf mereka,jangan pernah siapapun menghina kehidupannya, angkat harkat derajat mereka, sembuhkan jika mereka sakit. Jika wafat, wafatkalah dalam keadaan husnul khotimah.
Wahai Allah angkatlah derajat umat-Mu yang sedang mencari ilmu.
Lapangkan rizki bagi yang sedang dililit hutang piutang.
Selamatkanlah dan rahmatilah bagi siapapun yan sedang dalam kesusahan.
Wahai Allah berkahilah sisa usia kami, berkahilah rizki, ilmu, dan ikhtiar kami pada bulan Rajab dan Sya’ban. Dan perkenankanlah kami untuk bisa hidup pada bulan Ramadhan. Allohumma bariklana fii rojaba wa sya’bana wa balighna romadhon… Aamiin Ya Robbal’aalamiin.”
(Khutbah Jum’at Rajab 1442 H).

Profil Penulis:
Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.
(Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

INDAHNYA KAJIAN DI BULAN RAJAB

Oleh Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Sesungguhnya kewajiban kita adalah menyikapi segala macam permasahan dengan sikap terbaik; diberi  nikmat sekecil apapun bersyukur, dan syukur menjadi kebaikan bagi kita . Pada saat diuji dengan cobaan dan musibah seberat apapun, kita mampu bersabar, dan sabar menjadi kebaikan bagi kita.

Setiap membuka lembaran kisah perjalanan Baginda Rasul saat memasuki bulan Rajab, sungguh sarat dengan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Peristiwa Isra Miraj yang terjadi pada Rajab, haruslah dipahami dengan keimanan yang bulat, dan keyakinan yang utuh. Sungguh  tidak patut untuk meragukan Kuasa Allah Swt yang telah berkehendak dengan memperjalankan hamba-Nya pada satu lintasan dengan menembus ruang dan waktu, membelah tiga alam; alam nasut (alam fisika/inderawi), alam malakut (alam ke-malaikatan), dan alam Lahut (alam ke-Ilahian) dalam waktu kurang dari semalam saja.

Menarik untuk dikaji, dan sejarah telah mencatatnya. Peristiwa yang bermula dari penderitaan Rasulullah ketika ditinggal wafat oleh dua orang yang sangat dicintainya, yaitu paman Abu Thalib, orang yang mengasuh mendidik, dan merawat sejak kecil hingga menikahkannya ketika sudah dewasa,  Tidak berapa lama kemudian, Sayidah Khadijah al Kubra ra, istrinya yang menjadi sumber kekuatan Islam, yang jiwa raga dan seluruh hartanya diwakafkan untuk kejayaan Islam. Penderitaan Rasulullah pun kian bertambah dengan semakin menjadi-jadinya kaum kufar Quraisy memusuhi, menindas menganiaya kaum muslimin.

Kejadian tersebut di atas sebagai gambaran kepada kaum muslimin bahwa dalam kehidupan tidak akan pernah lepas dari perjuangan, dan perjuangan selalu menuntut pengorbanan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat pula perjuangan yang harus ditempuh, dan semakin besar pengorbanan yang harus dipersembahkan.

Manusiawi, Baginda Rasul pun sangat berduka, tapi dari sinilah keteladananpun bermula. Sebagai manusia pasti kita akan mengalami putaran roda hidup, terkadap kita berada di atas di samping bahkan di bawah. Fluktuatif kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh bahkan sekelas Rasul sekalipun. Makin tinggi derajat seseorang maka makin berat pula beban derita yang dipikul dan makin deras putran roda hidup itu. Firman Allah menegaskan bahwa Kebanyakan di antara manusia sering menyangka akan dibiarkan begitu saja  setelah menyatakan’kami beriman  kepada Allah, padahal belum datang ujian yang akan menakar seberapa kualitas keyakinan seorang hamba kepada Sang Khaliknya (Al Ankabut:1).

Yang sering  menjadi masalah bagi kita, adalah selalu melupakan sumber segala sumber solusi yakni Allah azza wa Jalla.  Sesungguhnya kewajiban kita adalah menyikapi segala macam permasahan dengan sikap terbaik; diberi  nikmat sekecil apapun bersyukur, dan syukur menjadi kebaikan bagi kita . Pada saat diuji dengan cobaan dan musibah seberat apapun, kita mampu bersabar, dan sabar menjadi kebaikan bagi kita.

Sesungguhnya kewajiban kita adalah menyikapi segala macam permasahan dengan sikap terbaik; diberi  nikmat sekecil apapun bersyukur, dan syukur menjadi kebaikan bagi kita . Pada saat diuji dengan cobaan dan musibah seberat apapun, kita mampu bersabar, dan sabar menjadi kebaikan bagi kita.

Itulah keteladanan yang luar biasa dari Baginda Rasul kepada kita, bahwa sabar bukanlah kepasifan diri yang hanya mau menerima semua takdir tanpa meau berikhtiar untuk melewati kesulitan dengan hasil terbaik menurut Allah SWT.

Keteladanan Baginda Rasul tidak berhenti di situ, tetapi terus berlanjut dengan mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya kepada Sang Pemilik hidup dan kehidupan, Allah SWT dengan mendirikan shalat. Bukankah muara utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah shalat? Dan Allah menegaskan bahwa segala macam permasalahan hanya dapat diatasi dengan sabar dan shalat .  Berat memang tetapi pasti dapat diamalkan oleh orang yang yakin sepenuhnya kepada Allah yang senantiasa mengawasi dan tempat kita kembali  (Al Baqarah:153-154) .

(Bersambung)

“Wahai Allah yang Maha Menantap, Maha Agung ampunilah atas segala kekhilapan yang telah kami kerjakan, ampuni atas segala kesalahan yang telah kami lakukan, atas segala maksiat yang telah diperbuat. Jadikanlah kami menjadi hamba MU yang mampu brsyukur atas sekecil apapun kenikmatan yang telah  Engkau berikan. Jadikanlah kami menjadi hamba MU yang mampu bersabar atas seberat apapun ujian yang Kau timpakan. Jadikanlah bibir ini mampu berdzikir menyebut nama Mu. Jadikanlah     lidah   ini  senantiasa fasih     membaca ayat –ayat suci Mu.

Ya Alloh ampunilah kedua orang tua kami, beri maaf mereka atas segala kekhilapan yang telah dilakukan, jangan pernah siapapun menghina kehidupannya. Jika mereka sakit sembuhkan ya Alloh yang Maha menyembuhkan.. jadikan sakitnya menjadi kifarat atas dosa-dosanya. Angkatlah harkat martabatnya Ya Alloh. Jika mereka wafat , wafatkanlah dalam keadaan khusnul khatimah, jauhkan dari siksa kubur, ringankan hisabnya hindarkan dari azab kubur. Pertemukan dan kumpulkanlah kami dengan penuh rahmat dan ridlo Mu dengan mereka di surga Mu kelak.

Wahai Allah berkahilah sisa usia kami, berkahilah rizki, ilmu, dan ikhtiar kami pada bula Rajab dan Sya’ban ini. Dan perkenankanlah kami untuk bisa hidup pada bulan Ramadhan. Allohumma bariklana fii rojaba wa sya’bana wa balighna romadhon… Aamiin Ya Robbal’aalamiin.”

(Khutbah Jum’at Jelang Rajab 1442 H)

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

 

 

 

BEKAL HIDUP

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Dunia sering diibaratkan sebuah perahu yang sedang mengarungi samudera kehidupan. Layar dan kompasnya adalah ilmu. Kemudinya adalah keyakinan. Dayungnya adalah ikhtiar. Dan pelabuhannya adalah akhirat.

Dalam sebuah kajian dibahas tentang fase kehidupan manusia. Tentu dipandang dari kacamata Islam. Disampaikannya bahwa terdapat dua fase yang sudah dilewati, satu yang sedang dijalani, dan dua yang sedang menunggu, yakni fase di saat kita berada di alam ruh, kemudian alam rahim, dan dunia. Sementara dua lagi, yakni alam barzah, dan akhirat.

Hal di atas, sebenarnya sudah dipahami oleh semua orang yang beriman. Bahkan di luar Islam sekalipun, terutama agama samawi. Namun, yang menjadi permasalahan bagi kita adalah bagaimana menyikapi serta mempersiapkan diri untuk menghadapi dua alam sisanya.

Masih dalam kajian tersebut, dibahaslah tentang sejumlah persiapan yang harus dimiliki oleh mukmin. Hal ini menjadi kajian menarik saat semua akan dihadapkan dengan perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh semua makhluk berakal di alam raya ini.

Terungkaplah bahwa terdapat lima bekal hidup yang harus dimiliki manusia untuk menghadapi dua alam sisanya ini, yakni Al Qur’an sebagai pedoman hidup, Ibadah sebagai tugas hidup, Rasulullah SAW sebagai teladan hidup, Setan sebagai musuh hidup, dan Mardhatillah sebagai tujuan hidup.

Al Qur’an Pedoman Hidup

Tuhan menciptakan makhluk-Nya dengan tidak sisa-sia. Dipersiapkan-Nya hamparan alam yang luas untuk dikelola dan dijaganya sebagai khalifah di muka Bumi, tentu dengan  anugerah rambu-rambu dan pedoman yang harus diikuti dan ditaati. Pedoman itu adalah Al Qur’an, sumber dari segala sumber hukum Islam.

Al Qur’an adalah bekal utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Dengannya, manusia  akan selamat dunia dan akhirat. Dan dengan kitab suci ini, seorang yang beriman akan terarah dalam melangkah. Hal ini dikarenakan dalam setiap aktivitasnya akan selalu tunduk dan patuh pada aturan Allah. Selain itu, Al Qur’an merupakan pedoman yang tidak ada keraguan di dalamya. Inilah Kitab, yang tidak ada keraguan di dalamya. Menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa. (QS:2:2)

Seorang muslim yang berperdomankan Al Qur’an akan berjalan sesuai dengan perintah Allah. Tidak melangkah berdasarkan hawa nafsu. Begitupun jika berhenti, selalu tunduk pada larangan-Nya. Tidak berhenti dikarenakan kehendak sendiri.

Ibadah Tugas Hidup

Seorang muslim akan selalu tenang dalam menjalani fungsinya sebagai khalifah di muka Bumi. Hal ini dikarenakan dia mengetahui kedudukannya sebagai hamba Allah yang memiliki tugas, yakni ibadah. Inilah yang selalu diyakini sepenuh hati oleh seorang mukmin berdasarkan firman Allah: Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS.51:56).

Seseorang akan nyaman dimanapun dia berada manakala mengetahui tugas yang diembannya. Dia akan menjalankan segalanya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan ya g diamanahkan kepadanya dengan penuh tanggung jawab.

Ketika seorang muslim menjalankan perintah Allah, maka selalu diyakininya bahwa hal tersebut adalah tugasnya sebagai seorang hamba. Tidak dipandang sebagai sebagai sebuah beban yang akan membuat dirinya tersiksa dan teraniaya, karena selalu yakin bahwa Allah tidak akan memberi suatu beban di luar kemampuan dirinya.

Rasulullah, Teladan Hidup

Tentu dalam menjalankan segala aktivitas di dunia, kita memerlukan model. Hal ini sangat penting sebagai rujukan yang tepat dalam mengintepretasikan kehadiran kita di muka Bumi ini. Hal ini ditegaskan Allah dalah firman-Nya: Sungguh telah ada pada diri Rasulullah, suri teladan yang baik. (QS.33:21)

Rasulullah Muhammad SAW dihadirkan Allah sebagai Role Model  paling ideal di alam semesta. Kepribadian mulianya tidak lekang oleh masa, tidak surut oleh waktu.  Selalu berlaku di sepanjang zaman.  Sabdanya bukan hanya untuk umat di masa kenabian, tetapi untuk manusia di akhir zaman.

Setiap kurun waktu, setiap bangsa selalu dihadirkan Tuhan seorang  tokoh panutan. Tetapi tidak semua yang bertahan dalam masa yang lama. Mereka hanya dipuja pada saat mereka hidup. Jasanya akan sirna seiring tenggelamnya jasad di dalam perut Bumi.

Namun, Rasulullah SAW telah ditakdirkan Allah untuk menjadi tokoh sepanjang masa. Segala perilakunya selalu diikuti umat dari zaman ke zaman. Kepopulerannya  terus melejit melampui batas ruang dan waktu.  Bahkan, kalaupun ada yang menghinanya, kita dapat menyaksikan bahwa semakin dicaki, semakin mulia nama dan kharismanya.

Setan, Musuh Hidup

Sudah menjadi sunatullah bahwa pada setiap kebaikan selalu saja beriringan (atau berseberangan) dengan keburukan. Dan pada setiap keburukan, disanalah bercokol makhluk yang tidak menginginkan orang beriman dekat dengan Allah. Dialah setan laknatullah.

Secara bahasa, setan berarti sesuatu yang menghalangi. Sedangkan secara istilah, setan bermakna segala hal yang menghalangi seorang yang beriman untuk mengingat kepada Allah, dan berusaha untuk menjatuhkan derajat kemuliaan mukmin untuk terjerumus dalam bujuk rayunya hingga masuk bersama-sama dalam tempat yang bernama Neraka.

Hal di atas digambarkan oleh Al Qur’an tentang sebagian perilaku setan yang menghalangi manusia untuk mengngat kepada Allah. (Qs.5:91).

Seperti diketahui, manusia terlahir suci. Lingkunganlah yang menyebabkan dia mulia atau hina. Nah, kemuliaan itulah fitrah manusia yang dianugerahkan Allah sebagai buah dari kepatuhan menuruti perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan kehinaan merupakan buah dari mengikuti bujuk rayu setan.

Maka, bekal hidup ini diberikan oleh Allah sebagai betuk kasih sayang-Nya agar manusia tidak terjerumus ke dalam kesesatan akibat menuruti kemauan setan. Sehingga di dalam hidupnya seorang mukmin akan berhati-hati dan selalu menjauhi tipu daya makhluk ini.

Rida Allah, Tujuan Hidup

Dunia sering diibaratkan sebuah perahu yang sedang mengarungi samudera kehidupan. Layar dan kompasnya adalah ilmu. Kemudinya adalah keyakinan. Dayungnya adalah ikhtiar. Dan pelabuhannya adalah akhirat.

Namun, diperlukan tujuan utama dalam hidup ini agar dalam mengarungi ‘samudera’ tersebut dapat selamat dunia dan akhirat. Dia adalah Rida Allah. Sebuah harapan yang harus diwujudkan dalam setiap aktivitas hidup orang beriman.

Rida Allah adalah sebuah karunia yang diberikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Namun, kita wajib menggapainya. Hal dikarenakan, sehebat apapun ibadah seorang hamba, tidak akan bisa meraih kemualiaan dunia dan akhirat tanpa rida Allah.

Dalam sebuah riwayat di kisahkan ada seorang alim di kalangan Bani Israil yang selama hampir 500 tahun tidak berhenti beribadah kepada Allah. Hingga sampailah ia di akhir hayat, wafat.  Akhirnya Allah tempatkan dia di Surga. Sang ahli ibadah itu bertanya: Amalan apakah yang membuatku berada di tempat ini?

Para malaikat yang diutus-Nya, menjawab: Rahmat Allah! Orang itu, kemudian bertanya kembali: Tidakkah amalanku yang 500 tahun yang membuatku dimasukan ke Surga ini? Para Malaikat menegaskan bahwa sebesar apapun amal seseorang tidak akan pernah mampu membeli Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, tanpa ada rahmat dan rida dari Allah.

 

Renungan

Dalam perjalanan mengarungi samudera kehidupan diperlukan peta yang akan menjadi pedoman dan akan menuntun kita ke pelabuhan yang dituju dengan selamat. Begitupun dengan fungsi kita di kapal ini, sebagai penumpang biasa, atau sebagai kru yang ikut berperan dalam perjalanan tersebut.

Nakhoda yang mengomandoi setiap laju perahu haruslah orang terpilih, yang setiap ucap, tingkah dan lakunya membuat seluruh penumpang tenang, merasa aman dan nyaman. Dan dari nakhoda inilah kita akan ditambatkan ke pelabuhan sesuai dengan tujuan utama perjalanan hidup.

Maka, itulah gambaran kehidupan yang tengah kita arungi. Ketika Al Quran dijadikan sebagai pedoman hidup, Ibadah sebagai tugas hidup, Rasulullah SAW sebagai teladan hidup, Setan sebagai musuh hidup, dan Rida Allah sebagai tujuan hidup, maka kita akan selamat menuju pelabuhan akhirat dengan penuh suka cita, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan: Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka. (Qs:2:201.

Dari berbagai sumber

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

INDAHNYA BERSEDEKAH

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Alloh seperti sebuah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada tiap-tiap tangkai itu berbuah seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang dikehendaki Nya. Alloh mempunyai karunia yang luas, lagi Maha Mengetahui. “  (QS. Al Baqarah:261)

Negeri Dermawan

Saat mendengar kata sedekah, yang tergambar dalam pikiran adalah sebuah kegiatan ketika seseorang memberikan uang kepada yang lainnya.Hal tersebut tidaklah salah, karena secara bahasa sedekah bermakna pemberian. Namun, dalam dimensi yang lebih luas, kata ini diartikan sebagai pemberian kepada Allah melalui fakir miskin, dan kaum dhuafa lainnya untuk ber-taqorub (mendekatkan diri) kepada-Nya. (al-Mu’jam al-Wasith, “shadaq”)

Ada hal yang menarik ketika membaca sebuah kliping dari sebuah surat kabar edisi 2018. Di dalamnya terdapat sebuah laporan dari Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index, sebuah organisasi yang melakukan survey tentang sejauhmana tingkat kepedulian dan kedermawanan sebuah negara di seluruh negara di dunia. Ternyata, hasilnya menempatkan Indonesia sebagai negara paling teratas.

Hal yang lebih menarik perhatian lagi adalah bahwa skor Indonesia untuk membantu orang  lain adalah 46 % , berdonasi materi 78 %, dan kegiatan sukarelawan 53 %. Data ini menunjukan bahwa penduduk Indonesia merupakan warga yang sangat peka dan peduli terhadap keadaan di sekitarnya. Hal ini pun menggambarkan bahwa negeri ini adalah tempat tinggal para pencinta sedekah.

Pecinta Sedekah

Bagi para pencinta sedekah, harta yang dimilikinya senantiasa diyakini bahwa itu merupakan titipan. Sehingga seberat apapun beban hidup ini, pantang untuk meminta-minta. Bahkan daripada meminta belas kasihan, maka pencinta sedekah akan mengulurkan tangan walau hanya segenggam beras, sepeser recehan, karena baginya yang terbayang adalah janji Allah yang akan melanggengkan karunia Nya bari para pencinta sedekah, yang terbayang di benaknya, adalah bagaimana untuk melanggengkan pahala yang tidak terputus walau sudah meninggal dunia.  Maka sedekah jariyah menjadi kewajibanya, yang akan terasa manfa’at dan mashlahatnya  hingga di akhirat kelak.

Bagi para pencinta sedekah, senyum adalah sarana berbagi kebahagiaan dengan mereka, kaum fakir dan miskin, sehingga senyum merupakan alat terakhir manakala sudah tak mampu memberikan harta kepada merek. Pokoknya apa saja sarana untuk berbagi kebahagiaan akan dicari oleh para pencinta sedekah.

Para pencinta sedekah juga akan gerah manakala melihat kepapaan melanda saudaranya, kemiskinan melanda tetangganya. Sehingga tidurnya tidak pernah nyenyak, sebelum tangannya mampu terulur membantu meringankan saudaranya.

Sesungguhnya para pencinta sedekah ini telah teruji  kualitas hatinya. Apabila menemukan kriteria tersebut, maka dialah orang yang pasti akan amanah dalam segala hal, yang akan mampu mengayomi siapa saja di sekitarnya, karena dia mampu memimpin hatinya untuk peka terhadap penderitaan orang-orang lemah.

Teladan Dermawan

Nabi Muhammad SAW, adalah sosok dermawan yang luar biasa. Baginda senantiasa, selama hidupnya, berusaha untuk membahagiakan umat, dengan bersedekah. Tidak pernah bersisa di rumahnya makanan untuk esok hari, hanya karena lebih banyak disedekahkan kepada fakir dan miskin.

Baginda SAW juga tak pernah menghina orang-orang dikarenakan kemiskinanan, tetapi senantiasa memberikan harapan kepada mereka untuk tidak menjadi beban orang dengan memberinya kesempatan berikhtiar yang sebanyak-banyaknya,  sehingga kelak tidak menjadi peminta-minta, tetapi menjadi pemberi sedekah, yang senantiasa akan dilipatkan karunia harta bendanya.

Selain itu, sedekah yang paling utama, yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, adalah sedekah yang diberikan kepada orang yang paling dekat dari segi kedekatan darah. Kemudian dari kedekatan tempat, setelah itu, menyeluruh kepada miskin yang berada di mana saja mereka berada.

Simpulan

Akhirnya, menjadi bahan pelajaran bagi kita, karena terkadang hati ini terkotori oleh keengganan membantu sesama saudara yang berada di bawah garis kemiskinan, padahal Baginda Rasul SAW, senantiasa mewanti-wanti untuk tidak menyakiti hati saudara-saudara kita, dengan mengabaikan, dan menelantarkannya karena disibukkan dengan harta yang kita makan sendiri.

Bagi umat Islam, hendaknya senantiasa menjadikan sedekah ini sebagai bahan kebutuhan sehari-hari, laksana makan sebagai kebutuhan utama. Betapa tidak, sedekah yang diajarkan Rasul SAW jika dilaksanakan dengan benar akan mampu mengangkat penderitaan umat se-iman, dan akan mampu mengurangi kemiskinan yang melanda umat ini,  sekurang-kurangnya meminimalisasi jumlah fakir miskin yang  membelengu bangsa kita ini.

Maka ketika sedekah ini dijadikan kebutuhan utama, akan terasa nikmatnya melihat senyuman tersungging di bibir kaum fakir miskin, akan terdengar desah Hamdallah di mulut kaum dhu’afa,  juga akan terlihat geliat para bayi generasi kita yang mendapatkan sesuap nasi yang kita berikan, Alangkah indahnya hidup ini,  jika diantara kita menjadikan infaq, sedekah, sebagai amalan sehari-hari yang tidak terpisahkan dari kehidupan ini.***

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

BAIK SANGKA

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun (SMPN 1 Cipongkor)

Dunia adalah laksana sebuah bahtera besar yang tengah mengarungi samudera kehidupan. Berkompaskan ilmu dan berdayung serta berlayar amal, maka manusia yang berada di dalamnya berjuang melawan terpaan badai musibah. Walaupun terkadang dinaungi indah dan nikmatnya angin kebahagiaan. Terus silih berganti. Seperti roda pedati, ada kalanya di atas, sering juga di bawah.

Hal tersebut mengandung pengertian bahwa dunia hanyalah alat untuk menuju pelabuhan akhirat. Sambutan saat menginjakkan kaki di tempat itu adalah seberapa besar persiapan dan beratnya timbangan kebajikan. Begitupun dengan tempat tinggal yang disediakan. Semua tergantung ilmu dan amal yang dimiliki.

Gambaran di atas pun merupakan pelajaran bagi orang yang beriman untuk menyadari bahwa saat ini kita tengah berada di sebuah perjalanan yang panjang. Sementara teman,  saudara,  bahkan orang-orang yang kita cintai sudah jauh meninggalkan kita, dan sedang menunggu kedatangan kita.

Seperti diketahui,  dunia merupakan tempat yang fana. Tidak ada yang kekal dan abadi di dalamnya. Oleh karena itu, bekal untuk mengarungi perjalanan haruslah maksimal. Sehingga di akhir perjalanan akan memperoleh hasil yang optimal.

Hal lain juga adalah,  bahwa dunia tidak pernah sepi dari bala dan musibah. Semuanya itu telah ada di dalam skenario Sang Pencipta. Hanya orang sabar dan bertawakalah yang akan mampu menghadapinya.

Kemudian apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi semua itu?

Terdapat banyak kiat yang diajarkan Islam dalam menghadapi berbagai masalah. Salah satu di antaranya,  adalah  sikap baik sangka.

Sikap baik sangka terhadap semua kejadian, baik maupun buruk, sangat diperlukan ketika menghadapi segala episode kehidupan.

Baik sangka,  atau bahasa agamanya adalah husnuzhon,   merupakan sikap mulia yang diajarkan Rasulullah. Sikap ini mendidik kita untuk tidak menyalahkan segala ketentuan Allah. Seberat apapun permasalahan yang terjadi, dihadapinya dengan bijak dan penuh keyakinan bahwa semua itu sudah dipersiapkan solusinya oleh Allah.

Sebagai orang beriman, datangnya ujian selalu diyakininya pasti datangnya dari Zat Pengatur segala ketentuan, Allah. Seperti ditegaskan dalam firrman Nya: Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali ). (QS . Al Baqarah: 155-156).

Baik sangka pun merupakan salah satu ciri utama orang yang beriman. Di dalam dirinya,  setiap ujian diyakininya sebagai salah satu bukti kecintaan Allah. Seberapa besar kualitas keyakinannya kepada kepada Allah.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(QS.  Al Ankabut:2-3).

Akhirnya,  boleh jadi musibah menimbulkan kesedihan. Namun,  Kesedihan adalah manusiawi. Rida terhadap segala keputusan Allah-lah yang harus dipegang oleh orang beriman, sebagai salah satu bentuk sikap berbaik sangka kepada takdir-Nya.

Mengutip dari Alquran Surat Al Baqarah:286, semoga menjadi renungan dan memotivasi diri agar terus optimis menghadapi segala permasalahan dengan selalu berbaik sangka dan selalu berdoa agar diberikan kemampuan yang terbaik dalam mengatasinya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Wallahu’alam. ***

Dari berbagai sumber

Profil Penulis

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus Nyantren Mekkah@Madinah MQ 2016, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan. Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.