Adversity Quotient Siswa pada Masa PJJ

Nuni Fitriarosah

(SMPN 4 Ngamprah)

Penyebaran virus covid-19 di Indonesia mulai menyeruak pada pertengahan Maret 2020. Kegiatan di segala bidang seperti perdagangan, industri, pariwisata, seni-budaya, dan olahraga dibatasi. Bidang Pendidikan pun tak terkecuali. Pemerintah pun melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sampai harus mengeluarkan peraturan terkait pembelajaran di masa pandemi. Peraturan itu tertuang dalam Dalam SKB 4 menteri yang terbaru yaitu nomor 03/KB/2020 Nomor 612 Tahun 2020 Nomor HK.01.08/Menkes/502/2020 Nomor 119/4536/SJ tentang Perubahan atas Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/KB/2020, Nomor 516 Tahun 2020, Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, Nomor 440-882 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19). Keputusan yang ditandantangi pada tanggal 7 Agustus 2020 tersebut mengatur tentang penyelenggaraan pembelajaran pada tahun 2020/2021 dan tahun akademik 2020/2021 di masa pandemi Covid-19. Setelah itu, diberlakukanlah kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Dengan segala upaya, guru mencoba untuk tetap mengajar jarak jauh dengan berbagai media, metode, maupun fasilitas. Semua dilakukan agar siswa tetap menerima haknya, yaitu memperoleh pendidikan.

Seiring berjalannya waktu, pandemi covid-19 tidak kunjung usai. Hal ini menyebabkan siswa harus lebih lama lagi belajar di rumah. Siswa mulai banyak yang bosan, mulai tidak disiplin mengikuti PJJ, bahkan banyak yang sudah enggan mengikuti PJJ. Mereka asyik dengan gawainya sampai mengalami phubbing (kecanduan) yang notabene bukan mengikuti PJJ. Ada juga yang enggan mengikuti PJJ dengan alasan ikut bekerja membantu orang tua mencari nafkah. Tak sedikit pula di antara mereka yang lebih memilih keluar sekolah daripada belajar jarak jauh.

Berbagai reaksi siswa dalam menyikapi PJJ ini merupakan bentuk daya juang mereka dalam menyikapi perubahan. Ada yang tetap semangat belajar, ada yang mengikuti KBM dengan seadanya, dan ada juga yang menyerah sehingga memilih meninggalkan bangku sekolah.

Adversity Quotient
Daya juang manusia dalam menghadapi suatu keadaan disebut Adversity Quotient (AQ). Stoltz dalam bukunya “Adversity Quotient” menjelaskan bahwa adversity quotient adalah kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara teratur. AQ digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang menghadapi masalah rumit, penuh tantangan, bahkan mengubahnya menjadi suatu peluang.

Untuk menggambarkan kriteria AQ, Dr. Stoltz menggunakan terminologi para pendaki gunung. Dia membaginya menjadi tiga tipe, yaitu Quitters, Campers, dan Climbers.
Pada Quitters, yakni orang-orang yang memilih langsung berhenti mendaki sebelum memulai. Tipe ini adalah tipe yang langsung menyerah ketika mengetahui ada rintangan. Pada umumnya para quitters mencoba untuk memilih zona nyaman dan tidak berani mengambil risiko.

Seperti halnya siswa yang sudah kadung menyerah ketika PJJ diberlakukan. Siswa tidak mau menerima keadaan bahwa dunia sedang mengalami pandemi. Tatanan kehidupan berubah demi mencegah meluasnya penyebaran virus. Kondisi seperti ini menyebabkan siswa-siswa dengan tipe quitters lebih memilih meninggalkan bangku sekolah daripada harus terus menerus menghadapi pembelajaran jarak jauh. Mereka tidak tahan belajar dengan tidak bertatap muka, harus mengikuti pembelajaran melalui gawai. Belum lagi kendala eksternal lainnya seperti minimnya ketersediaan kuota dan sinyal. Ada juga pengaruh distraksi, yaitu siswa lebih suka melihat media sosial dan bermain game daripada mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Tipe Campers (merasa puas), yakni orang-orang yang berhenti dan tinggal di tengah pendakian. Mereka mendaki secukupnya lalu berhenti untuk beristirahat. Namun, saking enaknya beristirahat, mereka lupa untuk melanjutkan pendakian. Para campers ini mau bergerak, tetapi tidak mau melakukan effort lebih. Para campers merasa apa yang sudah diperbuatnya sudah cukup. Campers ini merupakan tipe yang sudah puas dengan apa yang telah diperbuatnya.

Siswa dengan tipe campers adalah siswa yang mengikuti PJJ dengan ala kadarnya. Siswa hanya semangat ketika mengisi daftar hadir. Ia cukup menyimak penjelasan materi dari guru di grup Whatsapp tanpa mau ikut berdiskusi. Parahnya lagi, siswa tipe campers ini akan mengumpulkan tugas ketika di akhir-akhir semester setelah gurunya mengejar-ngejar untuk segera mengumpulkan tugas.
Tipe climbers (optimis) adalah tipe yang terus mendaki hingga mencapai puncak. Tipe climbers akan fokus untuk mengatasai segala tantangan yang dihadapinya dalam perjalanan hingga mencapai puncak pendakian. Tipe climbers memang pernah menjadi tipe campers. Ia pernah beristirahat di tengah pendakian, tetapi tidak mau berdiam diri terlalu lama. Tipe climbers akan melanjutkan pendakian. Tipe climbers mampu menaklukan tantangan yang menghalanginya.
Siswa tipe climbers adalah siswa-siswa rajin yang mampu beradaptasi dengan keadaan. Siswa tipe climbers sadar bahwa setiap fase kehidupan pasti ada tantangannya dan tantangan itu bukan berarti harus menghentikan langkahnya. Tipe climbers ini bahkan mampu mengubah tantangan ini menjadi peluang. Siswa dengan tipe climbers, selain rajin mengikuti PJJ juga mau aktif berdiskusi layaknya KBM tatap muka meskipun menggunakan media handphone. Siswa tipe climbers juga mampu beradaptasi dengan dunia baru, yaitu pembelajaran melalui aplikasi pada gawai. Siswa tipe climbers akan mempelajari penggunaan aplikasi tersebut sehingga dia dapat mengiktui KBM secara daring dengan nyaman.

Tipe climbers juga akan tetap mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Yang saya alami ketika mengajar di masa PJJ, tipe climbers ini akan meminta penjelasan dan materi yang lebih setelah mereka memahami materi pembelajaran.

Hebatnya lagi, siswa tipe climbers pun akan semangat mengikuti even-even daring di luar KBM yang dilaksanakan selama PJJ. Kreativitasnya semakin tinggi ketika sekolah mengadakan lomba-lomba secara virtual. Baginya, PJJ bukan berarti tidak bisa berkreasi. Justru baginya, PJJ membuka kesempatan lebih luas lagi untuk mengeksplorasi kemampuannya baik dengan bimbingan guru maupun secara mandiri.

Dimensi Adversity Quotient
Apa saja yang dapat membentuk AQ? Stoltz menjelaskan ada empat dimensi yang membentuk AQ, yaitu Control (Pengendalian), Origin dan Ownership (Penguasaan diri), Reach (Jangkauan), serta Endurance (Daya tahan), disingkat CORE.

Control (Pengendalian) adalah sejauh mana seseorang dapat mengendalikan dirinya saat menghadapi masalah. Pada siswa misalnya sejauh mana dia dapat mengendalikan dirinya saat harus berhadapan dengan PJJ.
Origin dan Ownership (Penguasaan diri) adalah kondisi di mana seseorang dapat mengandalkan diri sendiri untuk mengatasi masalah dan memperbaiki keadaan. Pada siswa dapat terlihat sejauh mana dapat mengatasi masalah apa yang membuatnya terhambat dalam melaksanakan PJJ dan memperbaiki keadaan. Jika kendalanya terdapat pada kuota, sedikitnya pemerintah telah menyediakan paket kuota belajar. Pihak sekolah pun bisa jadi telah menyediakan fasilitas modul atau bahan ajar cetak yang dapat diambil pada dropbox sekolah secara berkala. Jika masalahnya terdapat pada sinyal, siswa dapat berusaha untuk mencari tempat yang sinyalnya lebih baik secara aman. Jika masalahnya terdapat pada keinginan untuk membuka media sosial dan game, maka siswa akan mengatur waktunya dengan lebih baik kapan waktunya untuk membuka media sosial serta bermain game serta kapan waktunya menggunakan gawai untuk belajar.

Reach (Jangkauan) adalah sejauh mana kesulitan itu akan menjangkau/mempengaruhi aspek-aspek kehidupan lainnya dari seseorang. Pada aspek ini, siswa akan menyadari jika dirinya terus menerus larut dalam kemalasan dan berhenti mengikuti PJJ. Dengan demikian, siswa akan menyadari bahwa dirinya terancam tidak akan memperoleh ilmu. Dia akan tidak disiplin, tidak lagi dipicu untuk kerja keras dalam mengerjakan soal. Ujung-ujungnya, siswa akan merasakan akibatnya bahwa menyerah dari PJJ dan memilih putus sekolah akan membuat masa depannya menjadi tidak terarah.
Endurance (Daya tahan) terkait berapa lama waktu yang dibutuhkan siswa dalam melewati kesulitan ini. Apakah siswa berlama-lama meratapi situasi pandemi ini sehingga membuatnya terpuruk. Atau, siswa segera bangkit dan berjuang untuk mencoba berbagai hal demi dapat beradaptasi dengan situasi pandemi seperti ini.

Berbagai persoalan yang muncul pada siswa terkait pembelajaran jarak jauh ini tentu membutuhkan penanganan yang baik. Guru dan orang tua sebaiknya bersinergi dalam mengarahkan anak agar menyadari arti penting pembelajaran jarak jauh di masa pandemi seperti ini.

Bagi sebagian besar siswa, PJJ memerlukan effort yang sangat tinggi. Tidak hanya cukup pada kepemilikan gawai, siswa pun harus mampu berliterasi digital. Siswa harus pandai mengoperasikan aplikasi pada gawai dalam rangka mendukung proses PJJ. Selain itu, siswa harus mampu menguasai diri sendiri. Mampu untuk membatasi penggunaan gadget sehingga tidak melenceng dari tujuan utama, yaitu digunakan untuk belajar daring. Mampu untuk menjaga motivasi agar tetap memiliki kemauan untuk melanjutkan sekolah di masa pandemi. Di sinilah peran guru dan orangtua betul-betul diperlukan untuk memberi pemahaman terhadap siswa.

Guru dan orangtua dapat bekerja sama bagaimana menumbuhkan Adversity Quotient pada siswa. Ada beberapa langkah yang disarankan Stoltz seperti berikut ini. Pertama, guru dan orangtua harus bersedia mendengarkan respons terhadap kesulitan yang dialami siswa. Setelah itu guru menganalisis apakah siswa tersebut termasuk ke dalam golongan siswa yang memiliki AQ tinggi atau rendah. Guru pun melakukan identifikasi dimensi mana yang paling tinggi dimiliki siswa. Kedua, galilah asal usul penyebab masalah, lalu guru dan orang tua bekerja sama mengeksplorasi alternatif tindakan tepat yang akan dilakukan. Ketiga, analisislah bukti apa yang menyebabkan siswa tidak dapat mengendalikan masalah. Periksa kemungkinan-kemungkinan apakah kesulitan yang dialami siswa ini akan merembet ke wilayah lain atau tidak? Apakah kesulitan ini berlangsung lebih lama daripada semestinya atau tidak? Terakhir, lakukan sesuatu suatu tindakan nyata setelah tahap-tahap sebelumnya (respon, menggali, dan analisis) dilewati.

Dunia terus bergerak dengan segala dinamikanya menuju perubahan. Apakah kita hanya akan berdiam diri menyaksikan situasi yang ada atau bergerak terus untuk menemukan solusi?

Nuni Fitriarosah, M.Pd. Guru matematika di SMP Negeri 4 Ngamprah – Kabupaten Bandung Barat.