ASUPAN GIZI

Dra. Efni Iriani, M.Pd

(Kepala SMPN 3 Parongpong)

Semua sepakat jika meihat seorang anak yang sehat,  secara fisiknya dapat diamati  ia akan tumbuh dengan baik,  yang dapat dilihat dari naiknya berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional, tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya., tampak aktif atau gesit dan gembira,  mata bersih dan bersinar,  anak sehat nafsu makannya baik, kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering. Ciri anak sehat lainnya, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jadi secara sederhana, ciri anak sehat dilihat dari segi fisik, psikis dan sosialisasi.

Dilihat dari segi fisik ditandai dengan sehatnya badan dan pertumbuhan jasmani yang normal, Segi psikis, anak yang sehat itu jiwanya berkembang secara wajar, pikiran bertambah cerdas, perasaan bertambah peka, kemauan bersosialisasi baik, dari segi sosialisasi, anak tampak aktif, gesit, dan gembira serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Anak yang sehat dikarenakan faktor asupan gizi yang baik.mereka diberi  nutrisi yang baik untuk kesehatannya. Karena dalam sehari-hari, tubuh manusia memerlukan energi agar dapat beraktivitas dengan lancar. Makanan dan gizilah yang menjadi sumber energi itu. Kecukupan asupan gizi sangat menentukan keberlangsungan kesehatan tubuh manusia, Gizi seimbang adalah asupan makanan sehari-hari dari berbagai jenis makanan yang memiliki kelompok gizi dengan porsi yang cukup dan tepat. Hal ini berarti, porsi makanan bergizi yang kita konsumsi tidak boleh terlalu kurang atau berlebihan.

Mengapa penulis paparkan asupan gizi ini dan apa kaitannya dengan dunia pendidikan. Sepintas seolah tidak ada hubungannya. Namun secara langsung dan perumpamaannya banyak sekali yang bisa diterjemahkan. Pertama ciri-ciri anak yang memiliki asupan gizi yang baik, mereka pasti sehat. Anak yang sehat akan memiliki aktivitas yang baik. Dia akan gesit, kecerdasannya bagus, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini pasti dibutuhkan oleh dunia pendidikan agar mendapatkan siswa yang mumpuni dari segi kecerdasan dan penguasaan keilmuan yang diperuntukan dan ditetapkan  oleh kurikulum pendidikan.

Dari sisi perumpamaannya, guru yang mentransferkan ilmunya pun harus memenuhi asupan gizi’’ yang baik pula. Hal ini yang jarang dipahami dan diimplementasikan oleh tenaga pendidik. Guru terkadang hanya menyampaikan ilmu pengetahuan dan mengugurkan kewajiban serta target kurikulum tercapai secara teori dan alokasi waktu. Konsep ketuntasan minimal dan pencapaian tujuan pembelajaran harus menjadi tujuan utama. Peserta didik hanya dijejali dengan capaian kognitif minimal:

  1. Membiasakan guru untuk membuat pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaiannya
  2. Membiasakan siswa untuk berpikir tingkat tinggi sehingga dapat meningkatkan kompetensinya
  3. Memberikan acuan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik
  4. Meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).
    • Capaian Peserta Didik, Keterampilan berpikir sesuai dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang menjadi satu kesatuan dalam proses belajar dan mengajar
    • Pengendalian Mutu, Guru mampu melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan gradasi dimensi pengetahuan dan proses berpikir.
    • Capaian Peserta Didik, Keterampilan peserta didik yang dikerahkan dalam memecahkan permasalahan yang muncul, mengambil keputusan, menganalisis, menginvestigasi, dan menyimpulkan.
    • Pengendalian Mutu, Guru mampu memebrikan proses pembelajaran yang menjadikan peseserta didik kreatif dan dapat mengembangkan pemikirin kritis peserta didik terhadap permasalahan yang dihadapkan.
    • Capaian Peserta Didik, Keterampilan peserta didik yang mampu memiliki keinginan kuat untuk dapat memecahkan masalah muncul pada kehidupan sehari-hari.

Pengendaian Mutu, Guru mampu mengajak peserta didik untuk memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sesuai konteks dalam pembelajaran yang sedang berjalan. Hal ini sesuai dengan teori Tabularasa dari John Locke dan Francis Bacon. Teori ini mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet ot white paper avoid of all characters).

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah” yang terus berceramah dan menjejalkan bejibun teori kepada siswa didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu.***