Berdampingan dengan Covid 19, Berdampingan dengan Ketidakpastian

Elis Lisnawati

(Guru IPS SMPN 1 Cililin)

Layaknya fenomena alam yang terjadi, COVID-19 begitu menghentakkan khalayak hingga menjadi pusat perhatian. Kehadirannya yang masif mampu meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan. Begitu hebat dan perkasanya hingga menjadi bencana yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat. Dua tahun berada dimasa pandemi selama itu gerak dan langkah menjadi terbatas. Tetap melangkah, tetap bergerak namun penuh dengan kehati-hatian. Gerak dan langkah mengikuti irama perkembangan kasus yang terjadi. Hingga harus terbiasa, harus beradaptasi dan harus bisa hidup berdampingan dengan COVID-19. Layaknya hujan yang menghadirkan kesejukan dan kesegaran. Semoga COVID-19 pun demikian adanya. Membelenggu namun bisa hadirkan kehidupan yang lebih baik kedepannya.

“Kita saat ini hidup dimasa transisi, di sekitar kita perubahan sedang terjadi, hilangnya kebiasaan lama membuat kita sedih, namun disaat yang lain hal-hal baru itu membawa kebahagiaan” ( Ki Hadjar Dewantara 1935 )
Berangkat dari apa yang pernah dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, langsung teringat tentang kondisi saat ini. Apa yang dikemukakan tokoh pendidikan tersebut relevan dengan kondisi saat ini. .Perubahan terjadi dalam semua bidang kehidupan, tak terkecuali bidang pendidikan.

Masa peralihan ini menjadi suatu masa sulit yang harus dijalani, perubahan yang terjadi dibidang pendidikan dimasa pandemic ini memang bukan sesuatu yang bersifat permanen namun akan menjadi pembelajaran berharga. Perkembangan teknologi yang demikian cepat membuat teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Semua dituntut untuk melek bahkan mahir dalam teknologi, karena teknologi berperan penting dalam proses pendidikan.
Teknologi memiliki peran yang dominan dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan selama masa pandemic. Teknologi memiliki porsi lebih banyak untuk bisa mewakili guru berada di tengah-tengah siswa. Teknologi bukan lagi bagian dari proses pembelajaran. namun menjadi hal yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran saat ini.

Setahun lebih melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menghadirkan banyak pengalaman dan pembelajaran bermakna. Tidak hanya bagi lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah, guru, siswa namun orangtua pun memiliki peran yang luar biasa selama pembelajaran saat ini. Semuanya memiliki peran yang luar biasa, penanganan luar biasa hingga hadirkan sesuatu yang luar biasa.
Wajah-wajah baru di masa pandemi
Sekolah yang biasa ramai dengan aktivitas siswa mendadak sepi. Kelas kelas kosong dengan kondisi bangku yang dipenuhi debu, lantai kelas kotor serta dinding kelas penuh dengan hiasan jaring laba-laba. Semuanya menjadi pemandangan yang terlihat di awal-awal masa pandemi, semua itu karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilaksanakan. Siswa tidak lagi datang ke sekolah,namun guru memberikan pembelajaran secara daring. Ritme jam kerja guru lebih fleksibel. Toleransi lebih banyak diberikan pada siswa di masa pandemic ini.

Sementara itu, keluhan-keluhan pembelajaran daring dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilaksanakan selama pandemic demikian deras.mengalir. Orang tua meneriakkan ketidakmampuan membimbing anaknya dalam pembelajaran daring. Bukan hanya keterbatasan kemampuan untuk membimbingya selama BelajarDari Rumah (BDR) namun juga keterbatasan secara finansial.

Di sisi lain muncul kebohongan, penyalahgunaan wewenang dari sebagian siswa. Ada diantara mereka yang menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan orangtuanya. Tugas pembelajaran daring terteter sementara fasilitas untuk melaksanakan pembelajaran daring di dapatkan dari orang tuanya. Hingga muncul kelompok siswa yang piawai dengan games bahkan sampai kecanduan.Ketergantungan terhadap handphone nya demikian besar.

Dilain fihak, sekolah terus berbenah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan di masa pandemic menjelang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kembali digulirkan. Tempat cuci tangan disiapkan hampir di setiap sudut kelas. Masker untuk seluruh peserta didik dan guru disiapkan sekolah. Handsanitizer menjadi sahabat terbaik di masa pandemic. Masker menjadi bagian dari fashion yang digunakan sehari-hari. Kedisiplinan dan kepatuhan salah satu karakter yang muncul dengan porsi yang lebih baik di masa pandemi.
Berharap dan terus berharap untuk segera pulih dari kondisi yang terjadi selama ini. Hingga berbagai upaya dipersiapkan Vaksinasi dosis 1 dan 2 bagi guru, siswa dan tenaga kependidikan rampung dilaksanakan di Bulan Oktober 2021. Kesiapan melaksanakan PTM di masa pandemi terus dipersiapkan baik secara fisik, psikis maupun sarana dan prasarana penunjang.
Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT)
Kasus harian COVID-19 di Indonesia terus melandai, .hingga di akhir tahun 2021 menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Kasus terus menurun yang diikuti dengan berbagai kebijakan pelonggaran dari pemerintah. Kasus Corona di Indonesia terus mengalami perbaikan. Angka positivity rate hingga keterisisan BOR menurun drastis. Makin banyak wilayah nihil kasus hingga zona hijau terus bertambah.

Sejalan dengan itu, dalam bidang pendidikan pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk kembali melaksanakan PTM terbatas dengan protokol COVID-19 yang ketat. Hingga berbagai aturan diberlakukan dan harus diterapkan sekolah saat melaksanakan PTM terbatas. Dan bulan Oktober 2021, SMPN 1 Cililin mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah yang diikuti oleh 50% dari jumlah siswa keseluruhan tiap kelasnya dengan menerapkan dua shift.

Dengan aturan ketat, SMPN 1 Cililin mulai melaksanakan PTM terbatas. Meski pembelajaran hanya dilaksanakan selama dua jam/harinya namun kegembiraan begitu terlihat dari siswa-siswa yang lebih dari setahun melaksanakan Belajar Dari Rumah (BDR). Dunia mereka seakan kembali. Mereka berada di tempat yang mereka inginkan. Situasi sekolah yang begitu di rindukan.

Harapan akan keadaan lebih baik terus dirasakan. PTM terbatas berlangsung sampai akhir semester ganjil.Dan mengawali semester genap, bulan Januari 2022 PTM full 100% mulai dilaksanakan. Seluruh siswa datang ke sekolah setiap harinya.Keadaan yang ditunggu-tunggu baik oleh guru maupun siswa. Semua menyambut gembira atas keadaan ini. Aktivitas pembelajaranpun kembali bergairah. Guru bisa kembali melaksanakan perannya secara maksimal. Demikian juga dengan siswa, haknya untuk bisa menerima pelajaran dapat dilakukan secara optimal. Hubungan dua arah terjadi secara langsung. Guru pun bisa mengawal,membimbing siswa selama proses pembelajaran.

Di tengah keasyikan dan kegembiraan melaksanakan PTM, kembali pil pahit harus dirasakan karena kehadiran varian baru COVID-19 yakni omicron yang mulai masuk ke Indonesia di awal tahun 2022. Dan itu, berpengaruh besar terhadap kehidupan. Gerak dan langkah kembali harus dibatasi karena varian jenis baru itu membuat kegundahan kembali menyeruak. Disaat kami mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan, berdampingan dengan COVID-19.

Hingga awal bulan Februari 2022, SMPN 1 Cililin kembali melaksanakan PTM terbatas yang hanya dihadiri 50% siswa. Dan di akhir bulan februari lagi lagi pembelajaran daring kembali harus dilaksanakan.Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), siswa Belajar Dari Rumah (BDR) kembali harus diterapkan. Dan semangat yang menggebu-gebu menyikapi PTM 100% kembali harus surut, nyali kembali ciut karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk tetap berada diposisi yang diinginkan.

Harapan dan Harapan
Berusaha tetap survive dalam situasi yang tidak diinginkan oleh siapapun dilakukan oleh semua orang. Banyak usaha yang telah dilakukan, banyak perjuangan dan pengorbanan yang telah dilalui. Karena pandemi tidak hanya menyerang fisik namun juga psikis manusia. Dampak yang ditimbulkannyapun demikian hebat. Pernah berada di situasi dimana sirine ambulance terdengar demikian sering tiap harinya.Hingga dalam saat yang bersamaan harus kehilangan banyak teman dan sanak saudara kita.
Harapan untuk segera berahir dari situasi pandemic ini senantiasa selalu ada. Harapan untuk bisa menjalankan aktivitas secara normal menjadi harapan terbesar semua orang.Karena nyatanya meskipun kita bisa berdamai dengan COVID-19, berdampingan dengan COVID-19 selama itu pula ketidakpastian mengiringi. Hingga harus melangkah ke luar dari program kerja yang telah dibuat. Berjalan dengan program baru yang dianggap efektif sesuai situasi yang terjadi. Melangkah mengikuti irama kasus yang terjadi. Situasi sulit yang tetap harus dijalani.
Meski demikian, berfikiran positif menyikapi situasi yang terjadi hingga bisa melangkah dengan pijakan yang tepat di situasi sulit, itu yang harus dilakukan. Perlu jiwa besar menghadapi situasi luar biasa ini. Dan orang-orang yang mampu berdiri dengan tegak di situasi sulit ini, itulah orang-orang luar biasa yang lahir dari situasi sulit yang luar biasa***

Profil Penulis

Elis Lisnawati. Guru IPS SMPN 1 Cililin. Sekretaris MGMP IPS SR 04 KBB. SekretarisFKG-IPS KBB. Tim Newsroom KBB. Penulis empat buah buku tunggal (Impian Yang Bertepi, Indahnya Terpasung,Semburat Rasa dan Saat Duka Menyapa) dan empat buku antologi (Cinta, Rasa dan Puisi, Pelangi di Bukit SACIL,Hikmah PJJ dan Hamparan Asa Sang Juara)