EFEKTIVITAS PTM TERBATAS


Dadang A. Sapardan
(Kabid Pembinaan SD, Disdik Kab. Bandung Barat)

Sejalan dengan semakin menurunnya penyebaran Covid-19 yang diikuti dengan pemberian kesempatan bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, lahir harapan besar dari berbagai elemen masyarakat untuk segera mengimplementasikannya. Siswa dan orang tua siswa berharap sekali untuk segera melaksanakan PTM terbatas, sehingga mereka menuntut satuan pendidikan untuk segera mengambil kebijakan guna melaksanakannya sesegera mungkin. Namun, harapan tersebut tidak bisa dengan serta-merta direalisasikan karena diperlukan pertimbangan matang dalam upaya mengedepankan kesehatan dan keselamatan sebagai prioritas utamanya. Terlepas dari itu, setiap satuan pendidikan dituntut untuk menyiapkan berbagai syarat pelaksanaannya, demikian juga dengan guru untuk mempersiapkan model pembelajaran yang memungkinkan untuk dapat diterapkan saat PTM terbatas benar-benar dilaksanakan.

Core kebijakan implementasi pendidikan mengarah pada keberlangsungan pembelajaran yang terjadi pada ruang kelas ataupun pun di luar kelas. Pembelajaran dengan nuansa adanya aktivitas siswa dan guru dalam ruang dan waktu yang sama menjadi refleksi keberlangsungan pendidikan. Keberlangsungan pembelajaran menjadi perhatian banyak pihak karena proses pembelajaran telah menjadi indikator utama akan keterlaksanaan pendidikan pada setiap satuan pendidikan. Demikian pula dengan rencana pelaksanaan PTM terbatas yang akan segera dilaksanakan pada setiap satuan pendidikan. Bila dikaji lebih dalam, substansi implementasi PTM terbatas adalah keterlaksanaan pembelajaran dengan diwarnai adanya aktivitas bersama antara siswa dengan guru dalam ruang dan waktu yang sama.

Keterlaksanaan PTM terbatas perlu mendapat perhatian tersendiri para guru agar tidak terjebak pada konsep yang lebih mengedepankan metode teacher center oriented (berpusat pada guru). Hal ini perlu ditekankan karena guru memiliki otoritas besar dalam pelaksanaan pembelajaran, termasuk dalam pelaksanaan PTM terbatas. Keberlangsungan PTM terbatas harus dimanfaatkan secara optimal oleh para guru untuk lebih mengimplementasikan dan mengedepankan metode student center oriented (berpusat pada siswa). Langkah tersebut perlu mendapat perhatian serius karena waktu yang disediakan untuk pelaksanaan pembelajaran ini sangatlah terbatas, demikian pula dengan keikutsertaan siswa di dalam kelas.

Dalam pelaksanaan PTM terbatas, dimungkinkan siswa terbagi dalam dua kelompok yaitu mereka yang termasuk dalam kelompok pelaksana pembelajaran tatap muka dan mereka yang termasuk dalam kelompok pelaksana pembelajaran jarak jauh—moda dalam jaringan (daring) ataupun moda luar jaringan (luring). Pembelajaran tatap muka yang dikombinasi dengan moda daring (hybrid) akan sangat efektif karena dalam waktu yang bersamaan tetapi dalam ruang yang berbeda, seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Namun, untuk melaksanakan pola hybrid ini dibutuhkan kepemilikan perangkat pembelajaran digital yang dioperasionalkan oleh teknisi perangkat dimaksud. Langkah mudah dan murah yang dapat dilakukan dengan tanpa membutuhkan keberadaan sumber daya teknologi adalah pelaksanaan PTM yang digabung dengan luring melalui pemanfaatan modul, buku referensi, atau sumber belajar lainnya. Pelaksanaan pembelajaran dengan pola ini akan lebih mudah dilaksanakan oleh sebagian besar guru. Sekalipun demikian, bagi satuan pendidikan dan guru yang memiliki sumber daya sehingga mampu melaksanakan pembelajaran dengan moda hybrid, sudah sepatutnya melaksanakan moda tersebut dalam implementasi PTM terbatas.

Dalam khazanah model pembelajaran salah satu model yang bisa diterapkan guru dalam pembelajaran adalah model flipped classroom. Model ini pada intinya merupakan upaya untuk mengefektifkan pemanfaatan waktu, sehingga pembelajaran benar-benar mengarah pada tujuannya. Flipped classroom adalah salah satu model atau metode belajar yang meminimalkan pembelajaran langsung dari guru. Dalam pelaksanaan pembelajaran, siswa mempelajari materi pelajaran terlebih dahulu di rumah. Sehingga, para siswa sudah berbekal materi yang diperoleh dari berbagai sumber belajar, sebelum melaksanakan pembelajaran dengan guru. Sedangkan kegiatan pembelajaran di kelas hanya berupa pengerjaan berbagai tugas, berdiskusi tentang materi pelajaran, pemecahan masalah, atau pematangan materi yang belum dipahami saat belajar di rumah.

Model belajar flipped classroom pada dasarnya adalah pembalikan aktivitas pembelajaran. Aktivitas belajar yang biasa dilakukan siswa di kelas, dilaksanakan di rumah. Sedangkan aktivitas yang biasa dilakukan siswa di rumah, dilaksanakan di kelas. Model pembelajaran ini dimungkinkan dapat dilaksanakan oleh sebagian besar sekolah dan guru yang memiliki keterbatasan untuk melaksanakan pembelajaran dengan moda hybrid. Model ini dapat diterapkan di tengah keterbatasan sumber daya teknologi.

Untuk melaksanakan PTM terbatas, kecermatan dan kepiawaian guru harus dikedepankan agar pembelajaran tidak terjerumus pada teacher center oriented. Penugasan membaca modul, buku, atau materi pendukung sebaiknya diberikan kepada siswa saat melaksanakan PJJ—sebelum pelaksanaan PTM. Penugasan ini mengarah pada pemerolehan pemahaman dasar terhadap materi yang akan dipelajari siswa pada saat pelaksanaan PTM. Dengan demikian, saat pelaksanaan PTM nuansa guru berceramah yang biasanya begitu dominan dalam pembelajaran, tidak terjadi lagi. Sebaliknya, dalam pelaksanaan PTM siswa lebih banyak beraktivitas mengerjakan berbagai penugasan, menyampaikan pendapat, atau berdiskusi guna lebih memperkuat pemahaman materi.

Alhasil, dalam pelaksanaan PTM terbatas, diperlukan perencanaan yang matang dari sekolah dan guru, sehingga waktu yang sangat sempit dalam PTM terbatas dapat dimanfaatkan dengan sangat efektif. Efektivitas PTM kembali lagi kepada sosok guru yang memiliki otoritas dalam proses pembelajaran. ****Disdikkbb-DasARSS.