JIKA KATA TERPELESET

Andri Rahmansah

(Guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Ngamprah)

Indonesia merupakan negara unik yang terdiri atas beraneka ragam suku bangsa, agama, budaya, dan bahasa. Selain unik, negara ini juga selalu diiringi dengan bentuk ketidakteraturan di berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam berbahasa Indonesia; keadaannya tak jauh berbeda; masih ada aturan yang dilanggar. Sampai-sampai ada sebagian orang yang menyatakan bahwa di Indonesia aturan dibuat untuk dilanggar.

Masyarakat pengguna bahasa Indonesia secara sadar ataupun tidak sadar sering melafalkan kata-kata yang berawalan huruf k, p, t, s dengan luluh atau lebur jika dipadukan dengan imbuhan me(N)-. Kita sering mendengar atau bahkan melafalkan kata mengunci, memukul, menarik, dan menyapu. Kata-kata tersebut merupakan penggabungan dari kata dasar kunci dengan imbuhan me(N)-, kata pukul dengan imbuhan me(N)-, kata tarik dengan imbuhan me(N)-, dan kata sapu dengan imbuhan me(N)-.

Akan tetapi, tidak selamanya kata-kata yang berawalan huruf k, p, t, dan s itu luluh. Ini terlihat dalam kata mengkondisikan yang seharusnya dilafalkan mengondisikan karena berasal dari kata dasar kondisi. Kata mengkonsultasikan seharusnya dilafalkan mengonsultasikan karena berasal dari kata dasar konsultasi. Kata mempopulerkan seharusnya dilafalkan memopulerkan karena berasal dari kata dasar populer. Kata mempelopori seharusnya dilafalkan memelopori karena

berasal dari kata dasar pelopor. Kata mentolerir seharusnya menolerir karena berasal dari kata dasar tolerir. Kata mensuplai seharusnya kata itu dilafalkan menyuplai karena berasal dari kata dasar suplai. Kata mensosialisasikan seharusnya dilafalkan menyosialisasikan karena berasal dari kata dasar sosialisasi. Kata mensukseskan seharusnya dilafalkan menyukseskan karena berasal dari kata dasar sukses. Kata mensejajarkan seharusnya kata tersebut dilafalkan menyejajarkan karena berasal dari kata dasar sejajar. Sampai saat ini hal itu masih terdengar sehingga kadang terasa risi. Padahal, sejatinya berkomunikasi itu harus tiis celi heurang panon (baca: menentramkan orang yang mendengar dan melihat).

Ada juga sebagian orang awam yang entah karena berpendidikan rendah atau karena kebiasaan sering atau boleh jadi status sosial tertentu melafalkan kata dirubah. Ini sedikit menimbulkan kebingungan karena yang menjadi kata dasarnya apakah kata rubah (binatang sejenis musang), ataukah kata dasarnya ubah. Jika yang dimaksud kata dasarnya ubah, bila dipadukan dengan imbuhan di-, kata tersebut harus dilafalkan diubah karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat imbuhan dir-. Tengok saja kata dasar ukur bila dipadukan dengan imbuhan dir- mungkin akan dilafalkan dirukur, bukan diukur! Akan tetapi, penutur ternyata memilih lafal diukur.

Selain itu beberapa waktu yang lalu, masih terdengar, “Da aku mah apa atuh.” Penggalan lirik lagu tersebut sempat menjadi hits di Indonesia mengingat sering digunakan oleh berbagai kalangan penutur Indonesia. Jika dicermati, konsep kalimat itu memiliki makna yang negatif (baca: merendahkan diri)

walaupun dalam konteks tertentu bisa diperkirakan bahwa penutur hanya bermaksud untuk hiburan semata. Namun demikian, “Da aku mah apa atuh” bisa jadi ungkapan keputusasaan dalam menerima kenyataan atau ketidakberdayaan dalam menghadapi relita kehidupan. Bukankah tiap individu itu unik? Artinya tiap individu itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain itu, manusia itu punya banyak sisi, misalnya sisi positif dan negatif, sisi yang diperlihatkan pada konteks tertentu, situasi tertentu, dan orang tertentu. Dengan demikian, masih pantaskah ujaran tersebut terucap dari manusia?

Selain sering melanggar aturan, masyarakat pengguna bahasa Indonesia juga sangat pandai dalam membuat dan memplesetkan singkatan. Dalam dunia militer, misalnya, dikenal beberapa kata, baik singkatan maupun akronim, misalnya resmob (reserse mobil), kopasus (komando pasukan khusus), bareskrim (badan reserse kriminal). Jika TNI memiliki satu pasukan elite yang bernama kopassus, maka masyarakat pun memiliki kopasjat (baca: komando pasukan hajat).

Namun demikian, karena bahasa itu dinamis, artinya selalu mengikuti perkembangan zaman, baik akronim maupun singkatan pun kadang diplesetkan dengan beragam konteks (baca: hiburan, sindiran, ungkapan perasaan, dan sebagainya). Tengok saja beberapa kata yang dimaksud!

Kata OTW pada awalnya merupakan On The Way sering diplesetkan menjadi Oke Tungguan Weh. Wanita-wanita “nakal” disebut juga dengan PSK (Pekerja Seks Komersial) atau juga sekarang berkembang menjadi Penjaja Seks Kilat. Di kalangan masyarakat Sunda singkatan ini juga digunakan sebagai nama

mata pencaharian yang cukup menggiurkan yang tidak hanya didominasi kaum wanita, tetapi juga dilakukan kaum pria. Akhirnya, kaum pria pun ikut serta menjadi PSK (Pedagang Sangu Koneng) yang berarti ‘pedagang nasi kuning’. Ada juga wanita-wanita panggilan yang disebut sebagai perek (perempuan rekrutan).

Di masyarakat Jawa ada sebutan dongdot (digendong dan disedot). Bahkan, hebatnya lagi ada sebutan sejenis yang dijadikan judul dalam sebuah lagu, yaitu jablay (jarang dibelai). Sebutan cewek bispak (cewek yang bisa dipake) juga menunjukkan begitu murahnya harga diri seorang wanita.

Dewasa ini di kalangan para pelajar SMA wanita-wanita nakal diidentikkan dengan akronim togepasar (toket gede pantat besar), bahkan dewasa ini sedang hits kata cewek anti up ap. Up ap itu disepakati oleh kelompok penutur bahasa (kalangan remaja SMP-SMA) memiliki kepanjangan uprat apret yang bermakna ‘menebar kasih sayang kepada siapa pun dalam waktu yang bersamaan’. Oleh karena itu, bukan ketika jalan saja kita dapat terpleset. Pun saat bertutur kata. Waspadalah! Waspadalah!

Profil Penulis:

Andri Rahmansah lahir di Cimahi, 17 Oktober 1987. Pria plegmatis itu berpofesi sebagai guru di SMPN 3 Ngamprah sejak 1 Januari 2011. Alumnus FPBS UPI itu  sedang berjuang agar profesi yang sedang dijalaninya bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga memenuhi kebutuhan.