KANDA (KAMIS TRADISIONAL SUNDA)

Oleh: Layla Sa’adah, M.Pd
(Guru SDN 3 Batujajar)

 

Setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP) dengan mempelajari 3 modul yang didalamnya berisi 10 sub modul, Calon Guru Penggerak (CGP) menemukan materi yang menuntun CGP merancang program sekolah yang berampak positif pada murid. Tepatnya, materi tersebut terdapat pada sub modul ke-10 atau modul 3 sub modul 3.3. Hal tersebut menjadi menarik karena kita sebagai guru akan melibatkan murid mulai dari merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi suatu program sekolah.

Berdasarkan pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara tentang pentingnya menghormati dan melestarikan budaya lokal, dikontekstualkan dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah, penulis tergagas untuk membuat sebuah program. Program tersebut dapat membentuk karakter murid yang memiliki rasa kecintaan dan kebanggan terhadap budaya daerah di tengah maraknya budaya luar yang masuk ke Indonesia.

Program yang dibuat merupakan program ko-kurikuler yang bernama KANDA (Kamis Tradisional Sunda). Apakah program KANDA dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid sehingga memberi dampak positif pada murid khusunya dalam melestarikan budaya daerah sunda?

Program KANDA dibuat berdasarkan realita di lapangan tentang semakin rendahnya pengetahuan murid akan budaya sunda seperti lagu daerah, kaulinan budak, dan makanan tradisional khas sunda. Hampir semua murid jarang mengenal budaya lokal tempat mereka tinggal. Melalui program KANDA, murid akan dituntun untuk memberikan pendapat tentang pentingnya program KANDA, sistem pelaksanaan, dan pengembangan budaya lokal.

Melalui program KANDA, murid juga akan membuat daftar harapan dan mengevaluasi program KANDA. Dengan begitu, program KANDA akan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. Program KANDA dipilih sebagai bentuk penanaman kearifan lokal sesuai karakteristik sekolah yang berada diwilayah sunda dan notabene sebagian besar warga yang di lingkungan sekolah adalah orang sunda (modal manusia).

Selalin itu, lingkungan alam serta fasilitas di sekolah juga mendukung (modal lingkungan dan modal fisik) karena sekolah kami memiliki alat musik tradisional sunda (angklung). Sekolah akan melakukan kerjasama dengan sanggar atau lembaga yang mengembangkan budaya sunda (modal politik). Selain itu, berkoordinasi dengan pihak terkait yang akan terlibat atau dapat dilibatkan dalam program ini (modal sosial).

Berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran berlangsung, sebagian besar murid tidak tahu tentang alat musik tradisional sunda dan cara memainkannya begitupun dengan jenis-jenis kaulinan budak sunda dan makanan khas sunda. Sebagian besar anak-anak justru lebih mengenal budaya barat yang sedang trand di internet.

Kegiatan KANDA dilaksanakan seminggu sekali yaitu hari Kamis pagi sebelum pembelajaran dimulai dengan durasi waktu kurang lebih 30 menit. Wali kelas sebagai pembina sekaligus pelatih, untuk pengembangan musik tradisional oleh guru seni musik bergantian ditiap kelas. pembina dan pelatih akan mendampingi murid selama kegiatan berlangsung. Murid akan diberi keterampilan dalam mengolah makanan khas daerah sunda, memainkan alat musik tradisional sunda dan memainkan permainan tradisional sunda.

Program di atas, sebagai salah satu bagian pembinaan O2SN yang didalamnya ada perlombaan khas tradisional sunda. Untuk mengetahui perkembangan keterampilan murid dalam mengembangkan budaya lokal, pembina dalam hal ini guru kelas akan membuat jurnal kemajuan masing-masing siswa yang akan dievaluasi bersama wali kelas lainnya. **

 

Profil Penulis
Layla Sa’adah, M.Pd, lahir di Garut, 23 Januari 1981. Penulis merupakan guru kelas VI di SD Negeri Batujajar 3 Kecamatan Batujajar sejak tahun 2011. Aktif dalam organisasi profesi PGRI ranting 1 Kecamatan sebagai Wakil Ketua. Ditunjuk sebagai kordinator kelas VI kelompok kerja guru ( KKG ) gugus Ki Hajar Dewantara sejak tahun 2018. Saat ini penulis sedang mengikuti pendidikan Guru Penggerak angkatan 9 di Kabupaten Bandung Barat.