Khutbah Rasulullah Jelang Bulan Suci

Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Menjelang datangnya bulan Ramadan, kaum muslimin senantiasa diingatkan khutbah Baginda Rasulullah SAW.  Rangkaian kalimat yang dipesankan Baginda Rasul selalu menjadi pijakan bagi siapapun yang ingin menikmati indahnya beribadah di Bulan Suci tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimahdari sahabat Salman Al Farisi dikisahkan Baginda Rasulullah pada akhir Syaban berkhutbah:

Wahai manusia, sunguh telah datang kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan, bulan yang mana Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai sunah.

Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga.

Bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan dimana rizki orang-orang yang beriman ditambah.

Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.

Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.

Rasulullah menjawab: Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu.

Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.

Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah SWT akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.

Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (Haudh) dimana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga.(HR. Ibnu Khuzaimah).

Daya tarik bulan Ramadan sungguh luar biasa. Sehingga tidaklah mengherankan manakala kaum Muslimin berlomba mengisi Bulan Suci ini dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga. Membaca kitab suci Al Quran, bersedekah, bersilaturrahim, dan amalan sunah lainnya, menjadi pemandangan yang tidak akan dijumpai intensitasnya di bulan lain.

Namun, keberkahan bulan seribu bulan tersebut tidaklah dapat diraih begitu saja manakala di setiap diri tanpa mentargetkan amaliah ibadah. Target yang dapat diterapkan di antaranya adalah mengoptimalkan pengkajian Al Quran. Tidak hanya mengkhatamkannya, tetapi juga mentadaburi maknanya.

Selain itu, memaksimalkan amaliah sedekah. Jika pada hari biasa hanya mampu bersedekah sekian rupiah, maka di Ramadan harus dilipatkan jumlahnya.

Begitupun dengan merubah paradigma “tidur di bulan suci adalah ibadah’, menjadi ‘tidur saja ibadah apalagi memperbanyak amal salih”. Dengan hal ini maka kualitas puasa menjadi terjamin.

Akhirnya, Ramadan telah tiba. Adalah kewajiban setiap insan beriman untuk mengisinya dengan sepenuh pengharapan, tentang dihapuskannya semua kekhilapan, seluruh kesalahan, segala maksiat yang telah diperbuat, dengan amal ibadah yang optimal.

Sesungguhnya tidak ada jaminan tahun depan akan berjumpa lagi dengan bulan suci ini. oleh karena itu kita luruskan niat, bersihkan hati semata-mata mengharapkan rahmat, berkah, dan rida Allah Swt.

Wallahu ‘alam bishawab…

29 Syaban 1443 H

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan. Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.