Kiat Mendesain Visi dan Misi Sekolah

Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Mengikuti Lokakarya 3 program Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan IV Kab. Bandung Barat (KBB) semakin memotivasi penulis untuk terus menggali dan mengembangkan potensi diri. Di kegiatan tersebut, para CGP diharuskan berkolaborasi dengan para pemegang kebijakan tingkat satuan pendidikan (kepala sekolah), dan pengawas pembinanya. Tentu diperlukan keseriusan dalam melaksanakan kegiatan ini, karena tidak semua proses kolaborasi dapat ditempuh dengan cara yang sederhana, namun kami harus mengimplementasikan proses pembelajaran sosial dan emosional yang di antara kompetensinya adalah kesadaran diri, pengenalan diri, kesadaran sosial, hubungan relasi, dan pengemabilan keputusan yang bertanggung jawab. Hal inilah menjadi motivasi pertama penulis untuk mengembangkan dan menginternalisasikan program CGP yang telah ditempuh sebelumnya.

Seperti diketahui, pendidikan guru penggerak merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan.  Di Lokakarya 3, penulis mencoba merefleksi hal apa saja yang sudah ditempuh dari kegoatan CGP, mulai dari Modul 1 tentang Paradigma dan Visi Guru Penggerak yang topiknya tentang Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia – Ki Hajar Dewantara, Nilai-nilai dan peran Guru Penggerak, Visi Guru Penggerak, dan Membangun budaya positif di sekolah.

Selanjutnya, di Modul 2 para CGP belajar tentang Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid yang topik pembelajarannya adalah Pembelajaran berdiferensiasi, Pembelajaran emosional dan sosial, dan Coaching. Sementara untuk Modul 3 yang bertemakan Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah, dengan topik pembelajarannya, yakni Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya, Pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid.

Walaupun belum masuk ke Modul 3, namun para CGP di Lokakarya 3 sudah mulai mengerucut ke arah kolaborasi dengan para pemangku kebijakan di level satuan pendidikan, tentu dengan skala yang sederhana. Kendati ruang yang dibangun masih dalam tataran sederhana, namun hasil yang diperoleh penulis sungguh luar biasa, dan menjadi titik awal dalam memulai sebuah perubahan besar dalam membangun tatanan pembelajaran dan ekosistem sekolah yang lebih baik dan bermanfaat bagi seluruh warga sekolah.

Sebagai bagian dari program yang menyiapkan para pemimpin pembelajaran yang tangguh sesuai dengan perannya sebagai sebagai agen pendorong transformasi pendidikan di Indonesia. Selanjutnya, CGP diharapkan bisa menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid dan menggerakkan ekosistem pendidikan yang lebih baik. Dengan program CGP, kelak akan tampil pemimpin pembelajaran yang dapat mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri, memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik, merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua, berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan murid, mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.

Mendesain Visi dan Misi Sekolah di Kegiatan Lokakarya 3

Sebagai CGP yang diharapkan menjadi katalis perubahan pendidikan di daerahnya dengan cara menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya, menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah, mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah, membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antar guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan  menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah, maka di Lokakarya 3 ini, para CGP merancang visi dan misi, program dan tujaun sekolah. Desain visi dan misi sekolah tersebut diharapkan menjadi salah satu implementasikan peran dan nilai guru penggerak yang telah disebutkan di atas,

Seperti diketahui, visi sekolah merupakan gambaran ideal sekolah, inspirasi bersama yang ingin diwujudkan, dan mendorong semua orang bergerak mencapai tujuan.  Semuanya harus berdampak kepada seluruh warga sekolah, terutama kepada murid. Sedangkan misi sekolah menujnjukkan secara jelas mengenai pa yang hendak dicapai dan kegiatan utama sekolah. Selain itu, secara jelas misi sekolah mengandung upaya yang harus dilakukan untuk mencapainya dan keluaran utama (output) dari upaya tersebut.

Sementara itu, penulis-sesuai dengan alur yang telah ditentukan program CGP, memulai dengan mendiskusikan bersama kepala sekolah, dan pengawas untuk memulai dalam desai visi sekolah. Tentu ini merupakan simulasi saat sekolah merancang dan menyusun visi sekolah yang harus melibatkan semua warga sekolah, sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan harapan semua pihak.

Kata Kunci

Untuk merumuskan visi sekolah, diperlukan sejumlah kata kunci yang akan memudahkan para penyusun menentukan visi tersebut sesuai dengan gambaran ideal sekolah yang akan dicapai nantinya. Hal inilah yang dilaksanakan penulis dan kepala sekolah merancang visi sekolah dengan membuat kata-kata kunci yang diperoleh dari alur pembelajaran Inkuiri Apresiatif –BAGJA-sebuah manajemen perubahan kolaboratif berbasis kekuatan (lihat di artikel sebelumnya tentang BAGJA). Di tahap Ambil Pelajaran dan Gali Mimpi, maka kami berhasil menyusunnya, yakni

  1. Akhlak mulia,
  2. Kritis,
  3. Kreatif, dan
  4. Berwawasan lingkungan.

Kata-kata kunci di atas merupakan hasil Gali Mimpi warga sekolah, termasuk alumni yang mendambakan sekolah yang ideal.  Kemudian, dari semuanya berhasil disusun visi sekolah yang berpusat pada murid sebagai tujuan ‘outcome’ sekolah ke depan, yakni Terwujudnya Peserta Didik yang Berakhlak Mulia, Kritis, Kreatif, dan Berwawasn Lingkungan.

Visi sekolah di atas juga merupakan cerminan dari enam dimensi profil pelajar Pancasila yang mendambakan urid yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bergotong royong, mandiri, kritis, mandiri, dan bekebhinekaan tunggal yang global.

Sementara itu, untuk menyusun misi sekolah sebagai turunan dari visi sekolah yang merupakan kandungan upaya yang harus dilakukan untuk mencapai visi bersama yang telah dirumuskan. Selain itu, misi sekolah harus mengandung kalimat yang jelas dan juga dimulai dari penyusunan kata kunci untuk menyinergikan dengan visinya.

Sejumlah kata kunci yang berhasil didapat, yakni 1) ajaran agama, sebagai impelentasi visi pertama ; 2) ragam kecerdasan (visi 2); 3) ilmu pengetahuan dan teknologi (visi 3), dan 4) lingkungan belajar (visi 4).

Dari kata-kata kuci tersebut maka berhasil disusun sebuah misi, yaitu:

  1. Meningkatkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama yag dianut peserta didik,
  2. Menggali dan mengembangkan, serta meningkatkan ragam kesecerdasan peserta didik,
  3. Meningkatkan keunggulan dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi,
  4. Menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sejuk, rindang, dan indah.

 

Dari visi dan misi sekolah yang telah disusun tersebut, memudahkan sekolah merancang program sebagai perwujudannya yang semuanya berdampak pada murid. Sebagai contoh perogram yang dicanangkan adalah pembiasaan membaca Al Quran dan asmaul husna pada asetiap memulai pembelajaran, gerakan literasi, program melek teknologi, dan penanaman minimal 20 pohon setiap tahunnya. Dari program tersebut juga diperoleh tujuan yang jelas, yakni meningkatkan kemampuan murid dalam hal membaca Al Quran secara baik dan benar, membudayakan gerakan literasi menuju warga asekolah yang literat, memwujudkan infrastruktur sekolah bidang multimedia dan internet sebagai sarana pendukung pembelajaran, dan menuju sekolah Adiwiyata.

Simpulan

Diperlukan kolaborasi semua pihak dalam merancang sebuah visi dan misi sekolah yang berpihak kepada murid. Namun, dengan dukungan para pemangku kebijakan dan warga sekolah, semuanya dapat dilaksanakan dengan baik dan benar.

Akhirnya, kegiatan Lokakarya 3 benar-benar memantik para CGP untuk menginternalisasikan pemahaman materi dan proses pembelajaran yang telah diterima untuk sebuah perubahan yang berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan pendidikan.***

*Dari berbagai sumber.

Profil Penulis

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

Adhyatnika.gu@gmail.com.,Channel Youtube: Adhyatnika Geusan Ulun, Ig.@adhyatnika geusan ulun