MAS JANGKUNG

Cerpen Guru: Andri Rahmansah

Mas Jangkung, itulah panggilan akrabku. Selain karena memang aku keturunan Jawa, postur tubuhku sangat tinggi, di atas rata-rata teman-teman sebayaku di SMAN 4 Ciburial. Teman-temanku sering bertanya kenapa aku bisa tinggi menjulang. Bahkan, mereka sangat doyan ngepoin aku, saking doyannya mereka juga sering melabeliku Si Jangkis (baca: jangkung ipis) atau juga mereka sering menyangka bahwa aku sering makan taraje (baca: alat tangga dalam Bahasa Sunda). Mereka menganggap posturku ideal untuk jadi TNI atau POLRI. Maklum saja di sekolahku banyak yang bercita-cita ingin jadi anggota TNI dan POLRI. Alasannya ingin cepat cari duit kalau kuliah harus mikir lagi, males mikir, ingin serba instan, zaman now apalagi bisa lolos daftar SECABA POLRI menjadi prestise tersendiri. Selain bisa mengangkat harkat dan derajat, juga secara otomatis mengangkat status sosial. Begitulah sebagian besar anggapan mereka. Anggapan yang memang tidak salah. Namun, tiap individu secara kodrati telah diberi keunikan masing-masing. Tak mungkin semua jadi anggota TNI atau POLRI. Pasti ada aspek kehidupan lain yang mesti dijamah. “Yaaa, bagi-bagi tugaslah,” pikirku yang sangat idealis maklum jiwa muda haha. Meskipun ayahku anggota TNI dan postur tubuhku mumpuni, tak terbersit dalam pikirku mengikuti jejak ayahku. Entah kenapa aku tak tertarik di dunia militer.

Pembawaanku yang kalem menjadikanku banyak teman. Tipe-tipe plegmatis sepertiku memang sangat mencintai kedamaian, no rusuh! Mereka menganggap aku low profile sehingga teman-temanku dari segala penjuru mata angin. Tak disangka pula aku sering mendapat titipan salam dari kalangan kaum hawa. Bahkan, tak sedikit pula dari kakak atau adik tingkat. Padahal, aku juga merasa wajahku biasa saja, wajah asli Indonesia keturunan Jawa, dengan warna kulit agak kecoklat-coklatan. Saat itu, akulah satu-satunya yang belum pernah berpacaran walaupun banyak yang kesemsem dengan wajahku. Konon katanya melihatku seperti melihat dede emez hahaha. Aku memilih sendiri alias jomblo bukan karena takdir melainkan pilihan. “Kalau kenal perempuan, yaa harus serius. Ujungnya yaa pernikahan,’’ ujarku dalam hati. Prinsip yang aku pegang teguh sejak dini warisan kedua orang tuaku yang mewanti-wanti. “Janganlah pacaran apalagi masih ingusan. Mau dikasih apa ntar? Wong kamu juga masih numpang hidup dari orang tua,  iyaa toh?” ujar ibuku.

Setelah lulus SMA, aku meneruskan kuliah D1 di lembaga pendidikan yang menyiapkanku untuk kerja. Kembali, dejavu saat SMA. Banyak yang  curi-curi perhatianku, minta pin WA-ku, hingga ngajak jalan. Ahhh, tak ada satupun yang menggoyahkan imanku. Datar. “Biaya kuliah aja, aku masih numpang. Bagaimana aku bisa membahagiakan kekasihku,” pikirku. Lagi-lagi aku memilih sendiri apalagi saat itu aku banyak tugas kuliah yang melelapkanku dari dunia kaum hawa dengan segala kemewahannya.

Setahun sudah, aku lulus kuliah dan langsung bekerja di perusahan travel. Salary yang kudapatkan sudah membuatku bahagia. Kerja keras dan perjuanganku tak sia-sia. Aku sering memberi orang tuaku walaupun alakadarnya. Pemberianku itu takkan mampu menggantikan tetesan keringat dan darah hingga aku bisa seperti ini.

Nah, muncul dalam pikirku untuk melakukan ibadah sepanjang hayat lewat pernikahan, aku ingin menyempurnakan agama, dan aku ingin termasuk umat Nabi Muhammad SAW. Rekan kerjaku ada yang menarik hatiku. Dekat dengannya seakan-akan bom waktu siap meledak. Jantungku pun berdetak kencang seakan-akan melewati cepatnya detak waktu jam tangan yang melekat di tangan kiriku. Ternyata gayung pun bersambut. Dia punya perasaan yang sama terhadapku. Barangkali inilah yang disebut mencintai dalam diam. “Kubahagia kau terlahir di dunia dan dengan radarku ku menemukanku,” itulah nyanyian favoritku haha. Jiwa romantisku mulai bangkit. Hubunganku semakin erat bagai perangko yang nempel di surat. Di mana ada dia, di situ pun ada aku. Namun, itu tak berlangsung lama. Tak disangka perusahaan tempatku mencari nafkah goyah terkena wabah kebangkrutan, konon dunia pariwisata saat itu dilanda gejolak. Satu per satu karyawan dirumahkan, termasuk aku. Hubungan yang sempat kurajut mulai kusut, benang-benang asmara mulai hampa, seiring kehidupan ekonomiku yang terjun bebas. Sementara si doi masih bertahan di tempat itu karena etos kerjanya yang bagus. Lama-lama hubunganku sirna dan tak jelas rimbanya. Lama tak kudengar kabarnya, setelah dua tahun aku mendengar kabar dari SW (baca: status WA) yang dikirim temanku bahwa dia telah menikah dengan bosku juga. Petir di siang bolong seakan menghujam keras hatiku. Aku berusaha tegar hingga waktulah menjadi obat mujarabnya.

Aku pun berusaha bangkit dan bolak-balik kantor pos memasukkan lamaran. Namun, masih nihil. Tak ada satupun yang melirikku. Begitu juga dengan hatiku. Di saat aku mulai membuka hati, tak satupun perempuan yang mendekatiku. Jangankan mendekat, melirik pun tampak ogah. “Ke mana masa kejayaanku?” sungutku. Rasa rindu kala masih memakai seragam abu-abu kembali menggelayutiku. Ternyata aku tak berdaya. “Wanita bukan hanya butuh tampan tetapi juga mapan. Woooyyyy bangun?” teriak kesal ibuku membangunkanku dari tidur lelapku.

 

Profil Penulis: Andri Rahmansah berprofesi sebagai guru di SMPN 3 Ngamprah sejak 1 Januari 2011.