Membangun Budaya Positif

Oleh: Wanda S.Pd
(SDN 1 Wangunsari Kec. Lembang)

 

Sekolah diibaratkan sebagai tempat bercocok tanam sehingga guru perlu mengupayakan dalam menciptakan suasana sekolah aman, nyaman dan menyenangkan untuk tumbuh kembangnya murid berdasarkan kodrat yang dimiliki murid. Dengan demikian salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, berkolaborasi dan berinovasi, sehingga tercipta nilai-nilai kebajikan yang akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik yang menumbuhkan motivasi intrinsik yang nantinya akan terbentuk suatu Budaya Positif.

Budaya positif di sekolah dapat dimulai dengan menerapkan konsep disiplin positif dengan membentuk keyakinan kelas, memahami posisi kontrol restitusi dan penerapan segitiga restitusi dalam penyelesaian permasalah murid.

Tujuan penerapan Budaya Positif

  1. Menumbuhkan motivasi intrinsik pada murid,
  2. Meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat mengenai gambaran kelas impian,
  3. Meningkatkan rasa tanggung jawab disiplin diri dan kemandirian pada murid,
  4. Menumbuhkan budaya positif dikelas ataupun disekolah.

Dukungan yang dibutuhkan dalam Penerapan Budaya Positif

  1. Kolaborasi dengan kepala sekolah, rekan sejawat dan murid dalam upaya menerapkan Budaya Positif
  2. Kolaborasi dengan wali murid agar dapat melanjutkan pembiasaan Budaya Positif di lingkungan keluarga
  3. Sarana dan prasarana yang mendukung dalam terciptanya suasana aman, nyaman dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran untuk mewujudkan budaya positif

Apa pentingnya disiplin positif dalam mewujudkan budaya positif ?

Dalam rangka menciptakan lingkungan positif, salah satu strategi yang perlu ditinjau kembali adalah menganalisis penerapan disiplin di sekolah kita. Apakah telah efektif, apakah masih perlu ditinjau Kembali?( Apakah telah efektif atau belum )

Apa sesungguhnya arti dari disiplin itu sendiri? Apa kaitannya dengan nilai-nilai kebajikan? Kita melakukan sesuatu karena adanya suatu dorongan atau motivasi, terkadang kita melakukan sesuatu ingin menghindari rasa ketidaknyamanan atau hukuman, terkadang pula melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman, pujian, atau penghargaan dari orang lain.

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai, atau mencapai suatu tujuan mulia.

Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal.?Hal ini (yang) berdampak jangka panjang dan membentuk murid memiliki disiplin positif yang merupakan unsur utama terwujudnya suatu budaya positif.

Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu, mereka melakukan suatu tindakan selain karena motivasi diri juga karena adanya beberapa kebutuhan yang harus terpenuhi yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power).

Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Bagaimana kita sebagai seorang guru dalam menyelesaikan permasalahan murid atau yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan apakah harus diselesaikan dengan hukuman? Ssetiap permasalahan tidaklah selalu diselesaikan dengan menghukum, cara tersebut adalah pilihan terakhir yang dilakukan.

Dalam menyelesaikan permasalahan murid, kita berupaya memposisikan diri sebagai manager, posisi ini menangani kasus dengan menggunakan pendekatan Segitiga Restitusi.

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004), dan Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi dari masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). **

Profil Penulis
Wanda adalah nama yang diberikan pasangan suami istri, Sumar dan Dede Aminah pada penulis. Penulis lahir di Lembang pada tanggal 28 Agustus 1982. Anak Ketiga dari lima bersaudara ini mengawali jenjang pendidikan di SDN 2 Padasuka dan lulus pada tahun 1995. Pada jenjang berikutnya, penulis berhasil menyelesaikan pendidikan di SMP 2 PGRI Kota Bandung pada tahun 1998. Setelah lulus SMP, penulis melanjutkan pendidikan di SMA Pasundan 8 Kota Bandung dan lulus pada tahun 2001. Selama duduk di bangku sekolah, penulis aktif di beberapa kegiatan ekstrakulikuler, khususnya ekstrakulikuler Paskibra. Bidang Paskibra  merupakan salah satu bidang yang diminati penulis, sehingga pada jenjang SMA penulis berhasil menjuarai Lomba Paskibra Tingkat Kota dan Kabupaten pada tahun 1999 dan 2000. penulis melanjutkan Pendidikan di D3 POLBAN dengan Jurusan Teknik industri lulus tahun 2004 dan lanjut Pendidikan S1 UNPAS dengan Jurusan Teknik Industri Lulus 2006 pada tahun 2013 penulis melanjutkan lagi Pendidikan S1 dengan jurusan Pendidikan lmu Pengetahuna Sosial di UNIBBA lulus pada tahun 2018