MENJAWAB TANTANGAN PJJ DENGAN ‘BLANDED LEARNING’

Oleh: Retno Pahlawanti, S.Pd.

(Guru Prakarya SMPN 1 Padalarang)

Pandemi Covid-19, berdampak besar pada dunia pendidikan. Namun proses pembelajaran tidak boleh terhenti. Kompleksnya kendala yang muncul dalam proses pembelajaran jarak jauh dapat diatasi dengan menggabungkan beberapa model pembelajaran.

Latar belakang

Pandemi Covid 19 memaksa dunia pendidikan untuk melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh sejak Maret 2020. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Kemendikbud No. 4, tahun 2020. Sebuah sistem pembelajaran tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Seperti diketahui, guru sebagai tokoh utama dalam pendidikan harus menyuguhkan model pembelajaran yang sederhana, bermakna , dan mudah dipahami. Beberapa aplikasi digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran, namun siswa merespon tidaklah seperti yang diharapkan. Permasalahan pun beragam, ada tidak memiliki gawai, keterbatasan kuota dan memori tidak minim, sehingga tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Kurangnya pemahaman tentang cara mengunakan aplikasi dan tidak ada yang membimbing belajar di rumah juga menjadi alasan mengapa siswa tidak maksimal hasil belajarnya. Hal ini harus segera dicarikan solusi agar semua siswa lebih bersemangat belajar dan dapat menuntaskan tugas belajar dengan maksimal dan tepat waktu.

Sesungguhnya proses pembelajaran jarak jauh membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam penguasaan teknologi. Sejumlah aplikasi, seperti google form, google classroom, google meet, dan you tube menjadi hal yang paling dibutuhkan pada proses pembelajaran jarak jauh. Semunya dapat digunakan untuk pengabsenan, penyampaian materi, pengumpulan tugas, dan penilaiannya. Sementara bagi yang terkendala dengan kuota ataupun sinyal, dapat mengikuti pembelajaran  melalui luring.

Langkah Penyelesaian

Mengingat beragamnya kendala di atas, penulis mencoba mencari solusi dengan mengabungkan beberapa metode pembelajaran, yakni Blended Learning.

Seperti diketahui, blanded Learning adalah model pembelajaran yang menggabungkan antara proses belajar tatap muka dengan proses belajar e-learning secara terpadu dan harmonis, atau disebut juga model pembelajaran campuran.

Metode ini memiliki karakteristik, yakni 1) pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, gaya pembelajaran, model pengajaran, dan beragam media berbasis teknologi. 2) sebagai kombinasi pengajaran langsung (face to face), dan belajar mandiri baik secara off line maupun on line. 3) pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, pengajaran, dan gaya pembelajaran, 4) pendidik dan orang tua memiliki peranan yang sama pentingnya, dimana pendidik atau guru sebagai fasilitator, dan orang tua sebagai pendukungnya, (Prayitno, 2015).

Sementara itu, perpaduan antara luring, dan daring akan menjadi metode pembelajaran efektif dan favorit bukan hanya pada masa  pandemi namun juga dapat diterapkan pada masa new normal.  Kombinasi ini untuk pembelajaran di kelas VII dirasa lebih tepat agar mereka dapat mengenal para guru yang selama ini tidak pernah atau jarang sekali bertemu.

Di sisi lain, pembelajaran dapat dilakukan berupa pertemuan terbatas dengan beberapa siswa yang paling banyak kendala dalam proses belajarnya atau melalui kunjungan ke rumah mereka.

Sedangkan pembelajaran dalam jaringan (daring) dapat dilakukan melalui google classroom, atau media whatsapp dan youtube. Dengan demikian siswa menjadi lebih memahami bahan ajar karena selain membaca materi dari media cetak dan elektronik, juga dapat menyimak dari video pembelajaran yang bisa diulang-ulang tanpa dibatasi ruang dan waktu. Ditambah dengan penjelasan dari fasilitator melalui pertemuan langsung itu ataupun melalui komunikasi telepon. Penggabungan beberapa model pembelajaran di masa darurat pandemic diharapkan efektif bisa mengatasi kendala-kendala belajar siswa yang beragam.

Langkah-langkah di blended learning adalah sebagai berikut.

  1. Menentukan materi pembelajaran. Guru harus tahu betul bahan ajar apa saja yang relevan diterapkan pada pembelajaran jarak jauh
  2. Menetapkan rancangan dari blended learning yang digunakan.
  3. Menetapkan format online learning, apakah bahan ajar tersedia dalam format PDF, video atau lainnya.
  4. Meng-upload bahan ajar yang sudah disiapkan dan menginformasikan kepada siswa untuk mempelajarinya
  5. Memberi informasi tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
  6. Membuka ruang tanya jawab di WA, memberi penjelasan dan bimbingan dengan telepon, kunjungan ke rumah, atau luring.
  7. Mengadakan penilaian terhadap proses dan hasil belajar.

Dengan memadukan beberapa model pembelajaran, diharapkan dapat menutupi dan saling melengkapi kekurangan dari metode-metode belajar yang satu dengan yang lainnya.

Ketika pembelajaran luring berlangsung, siswa dapat bertanya langsung dan berdiskusi dengan teman atau guru tentang bahan-bahan ajar yang belum dipahami. Dibuka juga ruang komunikasi dengan orang tua yang menjadi pendukung utama dalam proses belajar siswa.

Hasil

Variasi model pembelajaran yang diterapkan secara harmonis pada pembelajaran kerajinan prakarya kelas VII, diperoleh hasil debagai berikut.

  1. Meningkatkan interaksi di antara siswa dengan guru.

Mengenal satu sama lain menjadi hal positif agar. Hal ini dapat saling memahami dan menghargai. Terlebih dalam pembentukan karakter siswa. Dengan pendekatan dari hati ke hati siswa menjadi lebih berani bertanya terutama ketika pembelajaran luring,

  1. Menghilangkan kejenuhan belajar siswa.
  2. Meningkatkan semangat belajar siswa dan lebih cepat merespon  tugas pembelajaran yang diberikan
  3. Meningkatkan capaian hasil belajar siswa.

Simpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Proses pembalajaran menggunakan metode Blanded learning meningkatkan keaktifan belajar siswa.
  2. Blanded learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Blended learning dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran alternatif di masa pandemi ini. ***

Catatan: Tulisan di atas lebih lengkap dapat disimak di Kumpulan Buku Best Practice yang segera akan terbit.

Profil Penulis

Retno Pahlawanti, lahir di Tulungagung pada 10 November 1967, seorang pengajar mapel Prakarya di SMPN 1 Padalarang, Ketua MGMP Prakarya SR 02, dan salah satu Tim Pengembang Kurikulum Kab. Bandung Barat.

Editor: Adhyatnika Geusan Ulun