MENUJU GURU INSPIRATIF (ESA AWARD 2018) JABAR

Reportase : Endang Wahyu Widiasari, M.Pd

(Guru di SMPN 4 Cikalongwetan)

Guru inspiratif…. terkadang saya bertanya sendiri dalam hati, masa sih? Apa benar gitu? Pertanyan-pertanyaan itu sering muncul dalam hati. Memang apa yah yang sudah saya lakukan? Perasaan apa yang muncul hanya biasa saja, tidak ada istimewanya.

Bahkan ketika ada pengumunan Pemilihan Guru Inspiratif dari Dinas Pendidikan Bandung Barat, yang di share oleh Bapak H. Dadang A. Sapardan sebagai Kabid Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, saya malah mengirimnya ke group yang lain dengan harapan teman-teman yang ada di group itu ikut dalam Pemilihan Guru Inspiratif Jabar. Tapi, mereka malah menyuruh saya yang ikut pemilihan guru inspiratif (ESA Awards ini).

Tak disangka-sangka, Bapak Kepala Sekolah malah memanggil saya dan menyuruh untuk mengikuti Pemilihan Guru Inspiratif. Ketika itu saya katakan pada beliau, “Sudahlah, saya tidak usah ikut, lagi pula tahun 2016 sudah masuk nominasi.” Kebetulan ketika itu di sekolah sedang disibukan dengan kegiatan akreditasi, yang benar-benar menguras waktu dan tenaga. Kami semua di sekolah disibukan dengan persiapan akreditasi. Tidak pernah terpikir sedikit pun untuk mengikuti Pemilihan Guru Inspiratif, yang terpikir hanya bagaimana menyukseskan kegiatan akreditasi supaya nilainya minimal harus dapat B.

Namun tiba-tiba datang pesan WA dari seorang pengawas, beliau malah menyuruh untuk mengikuti Pemilihan Guru Inspiratif, ketika itu saya menjawab, “Tidak Bapak, yang lain saja, jujur saya malu kalau ikut lomba guru inspiratif, kalau lomba Guru Berprestasi mungkin saya agak sedikit percaya diri, hehehe…” karena pemilihan Guru Inspiratif dengan Guru Berprestasi aspek penilainya jauh berbeda.

Semenjak beberapa teman dan juga beberapa pengawas, memberi dukungan untuk ikut lomba tersebut, membuat saya jadi berpikir, apa ikut saja gitu yah? Tetapi,  ketika itu saya berpikir, “Sudahlah, fokuskan buat kegiatan akreditasi dulu, sebab ini lebih penting karena akan membawa nama baik sekolah.” Sekolah kami belum lama berdiri dan ini adalah kegiatan akreditasi yang pertama.

Di sela-sela kesibukan mempersiapkan kegiatan akreditasi, Bapak Kepala Sekolah memanggil saya untuk yang ke 2 kalinya, dan menyuruh kembali untuk mempersiapkan diri mengikuti Pemilihan Guru Inspiratif. Bahkan di wilayah Sub Rayon 03, ketika rapat Kepala Sekolah semua sepakat menunjuk saya sebagai wakil dari SR 03 untuk mengikuti pemilihan guru inspiratif ini. Ketika itu saya menjawab, “Insyaalloh saya siap”. Tentunya jika sudah mengatakan siap, harus siap dengan segala resikonya. Salah-satunya pasti akan direpotkan dengan pengumpulan testimoni, ini akan menyita waktu. Sedangkan pengumpulan portofolio berbarengan dengan kegiatan akreditasi sekolah.

Akhirnya, saya bersedia mengikuti lomba, dan meminta bantuan teman-teman. Semua setuju kalau saya mengikuti kegiatan ini, alhamdulillah semua mendukung dan berkat masukan dari mereka akhirnya terbentuklah tim Pemilihan Guru Inspiratif di sekolah.

Mulailah kami disibukan dengan pengumpulan testimoni. Testimoni harus mencakup dari unsur Dinas Pendidikan, tokoh masyarakat, teman sejawat, masyarakat baik di lingkungan sekolah mapun di lingkungan rumah tempat tinggal, siswa dan alumni. Untuk testimoni dari masyarakat Pak Kades sendiri turun tangan menggerakkan warga, testimoni dari teman sejawat baik dari teman di SMPN 4 Cikalongwetan, maupun dari Sekolah Dasar sekitar dikoordinir oleh Pak Ita Sasmita. Testimoni dari siswa dan alumni dikoordinir oleh perwakilan wali kelas. Bapak Komitepun turun tangan untuk testimoni dari orang tua siswa, bahkan untuk testimoni dari sekolah lain khususnya dari SMPN 2 Cikalongwetan ada sahabat saya yang mengkoordinir, untuk tokoh-tokoh Pendidikan seperti ketua PGRI, Kepala sekolah khususnya di Sub Rayon 03, Ketua MGMP saya sendiri yang bergerak dibantu oleh Bapak Kepala sekolah.

Wah… lomba ini memang merepotkan semua pihak. Sebenarnya, tidak terlalu sulit mengumpulkan testimoni, tapi yang menjadi beban adalah semua testimoni selain dilampirkan yang aslinya juga harus di tik ulang, walah jujur saja saya kewalahan belum lagi kegiatan akreditasi yang semakin dekat waktunya. Tapi Alloh Maha Baik, alhamdulillah ada seorang teman yang memberikan bantuan tenaga untuk mengetik semua testimoni yang masuk.

Jujur,  saya malu karena dengan mengikuti pemilihan guru inspiratif telah merepotkan semua orang. Membuat orang lain cape dan lelah terutama teman teman yang sudah mencarikan testimoni ke sana kemari, mereka ikhlas membantu tanpa saya bayar sepeserpun.

Alhamdulillah berkat tim yang solid dan kompak, portofolio yang tebal itu akhirnya selesai juga. Dari lomba guru inspiratif ini saya belajar juga, bahwa tidak ada superman tapi yang ada adalah super tim. Ketika dibaca satu persatu dari testimoni yang masuk, terkadang saya ingin menangis dan malu juga, tapi mudah-mudahan saja itu menjadi doa.

Ketika bertemu dengan Bapak Kades di setiap momen kegiatan, pasti beliau bertanya dengan antusias, “bagaimana sudah ada pengumunan?” Beliau berharap sekali kalau saya bisa masuk nominasi. Tidak tahu apa dasarnya beliau sesalu menyebut saya dengan sebutan “Pejuang pendidikan”, tapi semoga saja kata-kata itu menjadi do’a dan motivasi untuk terus memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan.

Sudah berbulan-bulan dari pengumpulan portofolio, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, ada 7 Orang datang ke sekolah, hal ini membuat kami kaget. Bahkan Bapak Kepala Sekolah juga dibuat kaget dengan survey lapangan yang dilakukan oleh tim pemilihan guru inspiratif bersama Inilah Koran.

Ketika mereka datang saya hanya diwawancarai sebentar saja, justru mereka banyak bertanya kepada semua warga sekolah dan masyarakat, bahkan Bapak Kades pun turut dikunjungi,  cuma waktu itu beliau sedang berada di Jakarta karena tugas.

Ternyata yang mereka tanyakan hanya hal hal sepele, tidak seperti dalam lomba gupres yang pertanyaannya bikin pusing tujuh keliling dan membuat saya harus berpikir. Yang ditanyakan hanya kebiasaan, inspirasi yang didapatkan dari diri saya, apakah suka kesiangan atau tidak, hanya hal-hal itu saja aktivitas sehari-hari dalam bekerja, bahkan mereka juga memilih anak-anak secara acak untuk diwawancarai, dan merekapun melihat saya mengajar satu jam pelajaran, semua tanpa persiapan dan tanpa rekayasa.

Selain mendatangi lokasi sekolah,  tim penilai juga mendatangi lokasi rumah. Tetangga saya ditanya tentang keberadaan diri saya, kegiatan, dan juga hal-hal apa saja yang menginspirasi dari diri saya. Bahkan mereka pun mendatangi tempat sekolah saya dulu SMPN 2 Cikalongwetan, sebab hampir semua guru dari SMPN 2 Cikalongwetan memberikan testimoni, dengan dikoordinir oleh salah seorang teman.

Akhirnya tibalah pada malam penganugerahan Guru Inspiratif Jabar Esa Award tanggal 22 November 2018. setelah sebelumnya 3 hari kami para nominasi dikarantina, sungguh banyak ilmu dan hal baru yang saya dapatkan ketika itu, banyak hal yang menbuat saya ingin menangis. Ternyata kiprah saya di dunia pendidikan belumlah seberapa dibandingkan dengan semua nominator yang datang.

Pada malam anugerah yang dihadiri oleh Bapak Wakil Gubernur, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar, Perwakilan Dinas Pendidikan semua Kabupaten di Jabar, tamu undangan, akhirnya saya terpilih menjadi Guru Inspiratif (ESA AWARD 2018)  Jabar. Sungguh tidak percaya, tapi ini adalah rejeki yang Alloh berikan buat kami semuanya.

Saya tidak merasa ini adalah jerih payah sendiri, walapun kata Bapak Kepala Sekolah “lomba ini yang dinilai adalah proses kita melaksanakan tugas sehari hari dan tidak bisa direkayasa”. Tapi saya merasa ini adalah keberhasilan semuanya, tanpa dukungan do’a dan juga motivasi rasanya tidak mungkin saya bisa berada di panggung yang megah itu menerima hadiah yang begitu besar.

Semua hadiah yang didapatkan, dipergunakan untuk merenovasi Taman Bacaan yang ada didepan rumah, selain itu juga untuk penataan lingkungan sekolah, dan juga disumbangkan untuk masyarakat di sekitar sekolah. Karena saya merasa hadiah itu adalah amanah, untuk memajukan dunia pendidikan.

Terimakasih tak terhingga untuk semua pihak yang telah mendukung dan selalu memotivasi dalam bekerja, semoga Allah SWT akan membalasnya dengan beribu-ribu kebaikan.

 

Salah satu testimoni dari seorang sahabat

Dari Bapak Randi Herawan, S.Pd

“Sebuah kehormatan bisa menjadi rekan kerja beliau. Bu Endang adalah sosok pendidik yang teramat hebat dedikasinya di dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi. Banyak pengorbanan dari beliau yang mencerminkan bahwa beliau sangat berdedikasi tinggi terhadap pendidikan.  Saya sangat mendukung sekali kalau beliau menjadi penerima anugerah guru inspiratif, karena memang sudah selayaknya pengorbanan beliau diberi penghargaan oleh pemerintah. Waktunya hampir terkuras untuk memikirkan dunia pendidikan, tidak jarang meninggalkan keluarga, berkorban materi dan inmateri untuk kemajuan dunia pendidikan. Kedekatan dengan siswa dan masyarakat, disiplin dan tanggung-jawabnya yang tinggi, sabar dan peduli sekali dengan lingkungan sekitarnya, rasa sosialnya yang tinggi juga,  sudah sepantasnya pengorbananya mendapatkan apresiasi dari pemerintah God Luck  Bu Endang Wahyu Widiasari. MIN’S-Newsroom***