MENYIKAPI KENDALA PJJ

Mimin Tita Marliani

(Guru SMPN 1 Lembang)

Seiring merebaknya virus corona (Covid-19) yang berdampak ke semua sektor kehidupan, termasuk pendidikan, seluruh aktivitas belajar mengajar tatap muka di sekolah dihentikan. Hal ini karena dikhawatirkan penularan virus semakin merajalela. Pemerintah. melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk memindahkan kegiatan pembelajaran ke dunia maya. Program tersebut bernama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pembelajaran yang biasa dilakukan dengan tatap muka, sekarang harus menggunakan aplikasi pembelajaran. Penulis sebagai guru tentunya diharuskan untuk menguasainya. Hal ini pun dihadapi para siswa. Dengan beraneka ragam status sosial, mereka harus mempunyai gawai atau laptop sebagai penunjang belajarnya.

Seperti diketahui, pelatihan-pelatihan teknologi pun terus digalakan. Hal ini dilakukan untuk  mengajak para guru berlari sekencang mungkin untuk menyikapi hal tersebut, termasuk materi-materi pelajaran yang esensial pun turut dirumuskan melalui komunitas guru, seperti MGMP. Rencana pelaksanaan pembelajaran pun berubah menjadi RPP daring. Selain itu, sosialisasi penggunaan aplikasi pembelajaran terhadap siswa dengan menggunakan zoom meeting atau google meet sangat gencar dilaksanakanan sebelum pembelajaran dimulai. Demikian juga dengan sekolah harus menyiapkan segalanya begitu cepat agar pembelajaran dalam kondisi apapun dapat terlaksana dan siswa dapat tetap belajar. Sementara itu, untuk penilaian karakter,  sekolah membuat program Bangji Soleh berupa link untuk melaporkan kegiatan siswa di rumah.

Namun, sejumlah kendala pun bermunculan, mulai dari jaringan internet yang kurang bagus, sinyal internet tidak tertangkap, keterbatasan membeli kuota, termasuk tidak semua keluarga mempunyai gawai atau laptop sebagai penunjang PJJ. Sering dilakukan oleh wali kelas melalui sambungan pribadi ketika ditemukan tugas siswa tidak ada. Padahal, sekolah sebenarnya sudah menyediakan modul bagi siswa yang tidak punya perangkat pendukung PJJ. Termasuk bantuan kuota dari sekolah dan dari Kemendikbud pun sudah diluncurkan. Sayangnya, ketika Raport PTS dibuat, nilai-nilai di bawah KKM dan nilai nol hadir menghiasinya. Padahal, kunjungan ke rumah oleh wali kelas dan BK sudah dilaksanakan. Sungguh memprihatinkan keadaan siswa yang malas mengikuti pembelajaran daring, termasuk  tidak ada usaha untuk belajar.

Menyikapi hal tersebut, sebagai guru tentunya dituntu menyiapkan materi dan mekanisme pembelajaran yang kreatif, inovatif, dengan menggunakan potensi teknologi dengan optimal, dan kesabaran yang ekstra untuk melayani siswa.

Sebagai orang tua tentunya harus turut membimbing putra-putrinya dengan sabar. Membantu mereka menghadapi kondisi di atas. Termasuk mendampingi ketika belajar menggunakan gawai dan selalu mencek perangkat tersebut untuk memastikan mereka belajar bukan untuk main game. Bagaimanapun anak adalah amanah yang harus dipersiapkan masa depannya. Orang tua juga diharapkan dapat membuat rumah menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dan fokus pada pembelajaran, agar mampu meraih prestasi sesuai harapan. Selain itu, menunjukkan bahwa dimanapun dan dengan apapun mereka bisa belajar dengan baik, demi meraih mimpi dan mengejar cita–cita demi masa depan, bangsa dan negara.

Akhirnya, PJJ tetaplah tidak seefektif pembelajaran tatap muka. Banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi, tetapi tetap kita harus menyikapinya dengan seksama karena kesehatan tetaplah yang utama. Semoga virus corona cepat berlalu dan kita kembali dapat belajar di sekolah seperti sediakala.

Profil Penulis:

Mimin Tita Marliani. Lahir di Kuningan 10 Pebruari 1968

Pembimbing TMBB