NEW NORMAL, BUKAN BERARTI NORMAL

Oleh : Elis Lisnawati
Satu hal yang harus diingat adalah bahwa New Normal adalah kondisi kebiasaan baru yang menuntut semua orang bisa beradaptasi dengan keadaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Namun, New Normal bukan berarti keadaan kembali normal.

Pandemi Covid-19
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan pemandangan berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa masa pandemi Covid-19 masih nelum berakhir. Sejumlah kebiasaan baru pun muncul, seperti masker menjadi fashion tersendiri saat ini. Mulai dari kalangan pejabat, artis, olahragawan, pengusaha dan semua lapisan masyarakat diwajibkan mengenakannya. Semua itu sebagai bentuk proteksi diri untuk mencegah penularan virus tersebut.

Berbagai upaya dilakukan untuk membentengi diri.dari virus tersebut yang sampai saat ini masih belum ditemukan vaksinnya. Bagaimana tidak, di saat pelonggaran wilayah diberlakukan,  dengan menghapus Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), saat itu pula kenaikan kasus Covid-19 terus meningkat dari hari ke hari. Peningkatan yang mengkhawatirkan dan menuntut kewaspadaan level tinggi.

Kebijakan New Normal
PSBB yang diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia hakikatnya bertujuan menekan penyebaran Covid-19. Segala kegiatan dibatasi dan diatur pemerintah daerah secara ketat. Hal ini berdampak luas dalam berbagai bidang kehidupan. Semua merasakan dampaknya. Sehingga potensi kerugian dirasa oleh seluruh sektor, terutama sosial.

Di tengah suasana yang belum normal, pemerintah kembali mengambil kebijakan. Hal ini dimaksudkan agar sektor-sektor vital kembali menggeliat. Terutama sektor ekonomi yang menguasai hajat hidup rakyat.

Di satu sisi, vaksin corona sampai saat ini belum ditemukan. Sementara di lain pihak, masyarakat harus terjamin produktivitasnya, setelah selama lebih dari empat bulan aktivitas dibatasi.

Selanjutnya, pemerintah ‘terpaksa’ mengeluarkan kebijakan untuk bisa berdampingan dengan virus yang telah menelan ribuan jiwa ini. Kebijakan ini berbasis pada adaptasi kebiasaan baru yang mengajak masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, Inilah yang kemudian disebut era New Normal.

Fenomena New  Normal
Setelah sekian lama menjalankan  stay at home, dan work from home, kebijakan New Normal yang di antaranya membuka berbagai fasilitas dan tempat umum, membangkitkan kembali  aktivitas masyarakat di berbagai bidang. Sektor-sektor usaha mulai berbenah dan menjalankan aktivitasnya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Kondisi di atas disambut baik oleh semua lapisan masyarakat. Meskipun tentu saja harus tetap waspada. Mulai dari wajib menggunakan masker, pengecekan suhu tubuh, penyediaan tempat cuci tangan, pembatasan jumlah orang yang berkunjung sampai pengaturan tempat duduk. Hal ini menjadi fenomena baru saat keseriusan semua pihak menyatakan perang terhadap corona, tetapi tetap menjalankan kegiatan dengan penuh optimis.

Hal di atas ditunjukkan dengan sejumlah aktivitas masyarakat yang, di tengah rutinitas kerja yang padat, mereka mulai berekreasi, olahraga dan hiburan sebagai pelepas stress dan pemicu semangat setelah sebelumnya tidak dapat dilakukan.

Simpulan
Akhirnya, satu yang harus dipahami New Normal bukanlah berarti kebebasan dalam berkativitas tanpa batas. Kewaspadaan tetaplah harus dijaga. Protokol kesehatan harus tetap diterapkan.  Menjaga pola hidup dengan pemenuhan nutrisi yang seimbang, serta menjauhkan pikiran agar tidak stress, adalah salah satu kiat menjga imunitas tubuh.

Satu hal yang harus diingat adalah bahwa New Normal adalah kondisi kebiasaan baru yang menuntut semua orang bisa beradaptasi dengan keadaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Namun, New Normal bukan berarti keadaan kembali normal.***

Penulis/Foto: Elis Lisnawati, M.Pd (SMPN 1 Cililin)
Editor: Adhyatnika Geusan Ulun

Profil Penulis:

Elis Lisnawati, M.Pd.
Guru IPS SMPN 1 Cililin

  • Staft kurikulum SMPN 1 Cililin, -Sekretaris MGMP IPS SR 04 KBB
  • Sekretaris FKG-IPS KBB  dan Jurnalis Newsroom Tim Peliput Berita Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Penulis empat  buah buku  tunggal (Impian Yang Bertepi, Indahnya Terpasung, Semburat Rasa dan Saat Duka Menyapa