PENTINGNYA BERKOLABORASI DALAM MENUMBUHKAN DAN MEWUJUDKAN BUDAYA POSITIF DI LINGKUNGAN SEKOLAH

Oleh:  Azis Noval
(Guru di SMPIT Al-Qhohhariyyah)

 

Selain  mengajar, seorang pendidik sangat perlu berkontribusi dalam menciptakan budaya positif baik di dalam kelas ataupun di lingkungan sekolah.  Dalam aktivitas keseharian kali ini tepatnya di tahun ajaran 2023-2024, Penulis mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Salah satunya dengan mengikuti berbagai aktivitas di luar kegiatan sekolah, seperti aktif dibeberapa Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Kemudian  mencoba untuk mengikuti PGP dengan tujuan menambah wawasan dan meningkatkan profesionalisme sebagai seorang pendidik.

Setelah menjalani Pendidikan Guru Penggerak ternyata banyak sekali hal-hal yang memang saya butuhkan dan memiliki kaitan erat dengan metode kepemimpinan yang diperlukan dalam menjalankan sebuah organisasi.

Berkolaborasi tentunya menjadi hal yang lumrah bagi siapapun, karena seorang manusia sejatinya tidak bisa hidup seorang diri. Namun dalam menciptakan hubungan baik dalam berkolaborasi memerlukan sebuah budaya yang positif demi tercapainya hasil kolaborasi yang bermanfaat.

Dalam Pendidikan Guru Penggerak, tepatnya di modul 1.4 CGP dikenalkan dengan materi Budaya Positif. Dalam perjalanan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) tahun 2023, Modul 1.4 “Budaya Positif” menjadi gerbang menuju transformasi sekolah.

Modul ini mengajak para calon Guru Penggerak (CGP) untuk beralih dari perspektif “pengontrol” menjadi “fasilitator” dalam membangun iklim belajar yang positif dan berpihak pada murid. Bukan sekadar teori, modul ini membekali CGP dengan strategi aksi nyata yang efektif untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Menyelami Filosofi Segitiga Restitusi

Modul 1.4 dibuka dengan menggali filosofi Segitiga Restitusi, sebuah kerangka berpikir yang menjadi dasar budaya positif. Segitiga ini terdiri dari tiga elemen utama: Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia, dan Strategi Disiplin Positif. Keyakinan Kelas adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ingin ditumbuhkan dalam komunitas sekolah.

Kebutuhan Dasar Manusia merupakan hal-hal fundamental yang dibutuhkan setiap individu untuk bertumbuh dan berkembang. Strategi Disiplin Positif adalah metode untuk memenuhi kebutuhan dasar murid tanpa hukuman dan penghargaan yang bersifat eksternal. Dengan memahami Segitiga Restitusi, CGP dapat melihat perilaku murid bukan sebagai masalah yang perlu dikendalikan, melainkan sebagai bentuk komunikasi kebutuhan yang belum terpenuhi. Fokusnya bergeser dari “menghukum” menjadi “memulihkan” dan “mengembangkan”.

Menumbuhkan Keyakinan Kelas yang Berpihak pada Murid

Modul ini menggali pentingnya merumuskan Keyakinan Kelas bersama seluruh warga sekolah. Keyakinan ini bukanlah sekadar slogan, melainkan nilai-nilai yang diinternalisasi dan dipraktikkan dalam keseharian.

CGP diajak untuk memfasilitasi proses diskusi dan refleksi bersama untuk menemukan nilai-nilai yang merefleksikan identitas sekolah.

Beberapa contoh Keyakinan Kelas yang berpihak pada murid antara lain: “Setiap murid berhak belajar dan berkembang”, “Kesalahan adalah kesempatan belajar”, “Hubungan yang positif adalah dasar untuk belajar”, dan “Kita bertanggung jawab atas lingkungan belajar bersama”.

Menstrategi Disiplin Positif: Tanpa Hukuman dan Tanpa Penghargaan Eksternal

Modul 1.4 mendekonstruksi konsep “disiplin” tradisional yang sering kali berbasis hukuman dan kontrol ekstern. CGP belajar tentang Strategi Disiplin Positif, pendekatan yang fokus pada memenuhi kebutuhan dasar murid dan mengembangkan keterampilan sosial-emosional mereka. Beberapa strategi yang dipelajari antara lain: “Segitiga Restitusi”, “Hati yang Hangat dan Tegas”, “Restorative Practices”, dan “Penguatan Positif”. Strategi ini bertujuan untuk membantu murid mengenali kebutuhan mereka, mengembangkan keterampilan regulasi diri, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Aksi Nyata: Mewujudkan Budaya Positif di Sekolah

Modul ini tidak hanya menebar teori, tetapi juga membekali CGP dengan keterampilan untuk mempraktikkan budaya positif di sekolah. CGP diajak untuk merancang Aksi Nyata, sebuah proyek nyata yang akan diterapkan di sekolah masing-masing.

Contoh Aksi Nyata yang dapat dilakukan antara lain: Memfasilitasi proses pembuatan Keyakinan Kelas bersama seluruh warga sekolah, mengimplementasikan strategi “Hati yang Hangat dan Tegas” di kelas, menyelenggarakan kegiatan yang mempromosikan nilai-nilai Keyakinan Kelas, Membangun sistem “Restorative Practices” untuk menyelesaikan konflik antar-murid dan membagikan praktik terbaik budaya positif dengan rekan guru lainnya.

Melalui Aksi Nyata, CGP dapat mulai merasakan dampak nyata dari budaya positif. Murid menjadi lebih mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hubungan antar-warga sekolah menjadi lebih positif dan kolaboratif. Sekolah pun mulai bertransformasi menjadi tempat yang aman, menyenangkan, dan berpihak pada murid. Modul 1.4 “Budaya Positif” hanyalah satu langkah dalam perjalanan panjang transformasi sekolah.

Namun, langkah awal ini sangatlah fundamental. Dengan menggali filosofi Segitiga Restitusi, merumuskan Keyakinan Kelas, dan mempraktikkan strategi Disiplin Positif, para CGP 2023 memiliki bekal yang kuat untuk membangun sekolah impian di mana setiap murid dapat belajar, bertumbuh, dan berkembang dengan optimal.

Artikel ini hanyalah rangkuman singkat dari Modul 1.4. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, disarankan untuk mempelajari modul secara keseluruhan dan berdiskusi dengan sesama CGP dan mentor. *

 

Profil Penulis
Azis Noval (lahir di Bandung, 12 Juli 1992) adalah seorang guru sekolah Menengah di SMP IT AL-QOHHARIYYAH Gununghalu Kab. Bandung Barat. Saat ini telah menyelesaikan pendidikan Guru Penggerak angkatan 9 Kab. Bandung Barat tahun 2024.