Praktik Baik: Lesson Study Alternatif Supervisi Kelas

Oleh: Hj. Eni Haerini, M.Pd
(Kepala SMP Negeri 4 Cipeundeuy)

Bidikan seorang kepala sekolah akan berpengaruh terhadap kondusivitas sebuah intansi. Dalam hal ini tergantung kepada visi yang ada dalam pikirannya. Tentu saja kepala sekolah yang visioner akan mampu menciptakan program-progam yang berpengaruh terhadap kemajuan sekolah itu. Sebagai upaya untuk meningkatkan publikasi program yang terdapat di SMPN 4 Cipeundeuy, maka kepala sekolah melakukan berbagi praktik baik kepada guru-guru Bahasa Indonesia di wilayah Sub-Rayon 03 pada hari Senin, 29 April 2024 di sekolahnya.

Sebagai kepala sanggar mata pelajaran Bahasa Indonesia, Eni Haerini sebagai kepala sekolah yang memiliki latar belakang Bahasa Indonesia memilih guru-guru Bahasa Indonesia sebagai sasaran berbagi praktik baik tersebut. Selain alas an tersebut, Eni sengaja melakukan hal tersebut karena beberapa tahun ke belakang, tepatnya ada tahun 2010 seluruh guru yang tergabung ke dalam Musyawarah guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia wilayah sub-rayon 03 mendapatkan pelatihan Lessson Study dengan bimbingan dosen UPI, yaitu Dr. Memen Durahman dan fasilitator Eni haerini yang dulu masih menjadi guru di SMPN 2 Cipeundeuy.

Salah satu hal yang menjadi poin penting dalam berbagi praktik baik itu adalah bahwa Lesson Study dapat digunakan untuk peningkatan kualitas pendidikan setiap guru karena pada dasarnya Lesson Study itu merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik. Namun pelatihan ini termasuk unik karena sang pelatih bukanlah seorag akhli, melainkan dirinya sendiri.
Ketekunan guru menjadi guru model dan observer akan membuat dirinya belajar banyak hal sehingga mereka akan mampu merasakan betapa pentingnya pelaksanaan Lesson Study di setiap intansi sekolah.

Untuk membuktikan keberhasilan dari program Lesson Study, Eni menampilkan hasil supervisi awal yang dilakukannya pada saat 5 bulan pertama menjadi kepala sekolah serta perubahan drastis yang terjadi setelah dilakukan Lesson Study sebagai bentuk supervise di sekolahnya. Dalam penjelasannya diungkapkan bahwa semua guru kini sudah mampu menggunakan IT walaupun masih ada yang sederhana; Pembelajaran tidak lagi monoton; pembelajaran berpusat kepada murid; kemampuan berbicara guru sudah dimiliki oleh semua guru; meningkatnya kemampuan menelaah guru dalam banyak hal; Minat belajar guru meningkat; serta sudah mulai terbentuk komunitas belajar.

Sebagai upaya menguatkan penjelasannya, ditampilkan juga umpan balik dari guru yang ditayangkan melalui Smartboard yang merupakan TV bantuan baru dari pemerintah untuk SMPN 4 Cipeundeuy. Sengaja beliau menggunakan display interaktif itu agar guru-guru tertarik untuk mempelajari cara menggunakan TV tersebut karena rata-rata sekolah mereka sudah mendapatkan bantuan tersebut. ***