PROGRAM PERMAINAN NUMERASI ‘NASI’ SMAN 1 PARONGPONG

Oleh : Anggia Rahayu Biharja
(Guru di SMAN 1 Parongpong)

 

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar Numerasi? Peserta didik sering mengatakan numerasi itu adalah matematika, semuanya angka-angka dan hitung-hitungan. Guru mengatakan susah-susah gampang mengajar numerasi, terdapat tantangan tapi mengasyikkan. Numerasi menjadi bagian dalam pembelajaran peserta didik di sekolah.

Numerasi merupakan penerimaan, pengelolaan dan komunikasi informasi serta merupakan kemampuan mengaplikasikan konsep dan keterampilan matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kemampuan lainnya dalam numerasi adalah menganalisis dan menginterpretasikan informasi kuantitatif misalnya dalam bentuk grafik, tabel, bagan. Menggunakan interpretasi hasil analisis untuk memprediksi dan mengambil keputusan.

Kemampuan numerasi juga membangun peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia.

Guru dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar numerasi matematika melalui tiga hal yaitu, Mengidentifikasi aspek atau unsur numerasi, merancang pengalaman dan peluang belajar, dan menggunakan istilah dan terminologi nonmatematik.

Melalui proses penilaian asesmen kompetensi minimum untuk kemampuan numerasi melalui pengukuran asesmen terdapat beberapa kemampuan numerasi dalam rapor pendidikan, yaitu:

  1. Di Atas Kompetensi Minimum: Peserta didik sudah mampu menunjukkan tingkat numerasi yang cakap dan cukup banyak peserta didik berada pada level mahir
  2. Mencapai Kompetensi Minimum : Sebagian besar peserta didik telah mencapai batas kompetensi minimum untuk numerasi namun masih perlu didorong agar  lebih banyak lagi peserta didik yang bisa berada di tahap mahir
  3. Di bawah Kompetensi Minimum : Pada tahapan pada tahap ini berarti mempunyai kurang dari 50% peserta didiknya yang telah mencapai kompetensi minimum untuk numerasi
  4. Jauh di bawah Kompetensi Minimum : Pada tahapan ini yang berarti sebagian peserta didik belum mencapai  batas kompetensi minimum untuk numerasi

Upaya meningkatkan raport pendidikan di SMAN 1 Parongpong khususnya numerasi, kurikulum sekolah mengadaptasi kurikulum merdeka melalui penjadwalan numerasi dengan menyediakan 1 jam pelajaran atau 45 menit setiap minggu dengan pendampingan fasilitator tiap kelas. Melalui pembelajaran numerasi diharapkan peserta didik mampu berpikir logis, mandiri dan berkolaborasi untuk meningkatkan raport pendidikan sekolah.

Program ‘NASI diharapkan mampu menumbuhkan kepemimpinan murid melalui suara, pilihan dan kepemilikan, berikut beberapa contoh yang bisa guru lakukan dalam pembelajaran numerasi :

  1. Membuat alat permainan untuk menyuarakan aspirasi dan kreativtitas peserta didik
  2. Memberikan kesempatan bagi murid untuk memilih bagaimana mereka mendemonstrasikan pemahamannya tentang apa yang telah mereka pelajari
  3. Memberikan kesempatan pada murid untuk mempresentasikan hasil kerja/proyek sesuai dengan gaya , minat dan bakat mereka
  4. Memberikan murid kesempatan untuk menilai diri sendiri dan terlibat dalam proses penilaian

Kegiatan numerasi dalam pembelajaran memiliki tujuan agar peserta didik mampu berpikir logis, mandiri, dan berkolaborasi sesuai dengan dimensi profil pelajar Pancasila.

Strategi dalam pembelajaran numerasi yang menyenangkan bisa melalui permainan, oleh karena itu saya membuat program untuk di SMAN 1 Parongpong melalui Permainan Numerasi atau akronim dari ‘NASI’. Kegiatan ‘NASI’ terjadwalkan dalam kegiatan literasi numerasi sekolah dan merupakan kokulikuler yang dilaksanakan setiap hari rabu jam 7.00-7.45 pada Fase E Kelas 10.

Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk mewujudkan program ‘NASI’ di SMAN 1 Parongpong diantaranya: berkoordinasi dengan pihak manajemen sekolah mengenai program ‘NASI’, Penunjukkan para fasilitator setiap kelas, mengoordinasikan sarana dan prasarana dalam kegiatan pembelajaran ‘NASI’, memfasilitasi suara/pilihan/kepemilikan murid melalui diskusi dengan fasilitator, menyusun modul ajar ‘NASI’ sesuai dengan  asesmen kompetensi minimum, dan memetakan sumber daya yang dimiliki sekolah berdasarkan pendekatan berbasis aset yaitu manusia, fisik, sosial dan finansial.

Tantangan yang dihadapi dalam program ‘NASI’ di SMAN 1 Parongpong adalah memahamkan konsep numerasi kepada para fasilitator yang bukan dari guru matematika atau IPA. Upaya yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah mengadakan workshop tentang numerasi dan bersama- sama menyusun modul numerasi mengenai konsep bilangan, operasi hitung dan kemampuan untuk menginterpretasikan informasi kuantitatif.

Evaluasi dengan peserta didik dilakukan oleh fasilitator tiap kelas melalui teknik wawancara kepada murid dengan refleksi sesuai pertanyaan yang berbobot sehingga siswa merasakan keterbukaan dalam mengungkapkan. Setelah refleksi di kelas, para fasilitator bersama-sama mengungkapkan hasil refleksinya di dalam kelas sebagai bahan pelaporan kepada pihak manajemen sekolah.

Evaluasi program dilaksanakan koordinator fasilitator numerasi dengan memaparkan apa saja yang sudah dilakukan dalam program ‘NASI’, tantangan yang dihadapi, dan upaya apa yang sudah dilakukan dalam meningkatkan program tersebut melalui rapat evaluasi program untuk di evaluasi secara menyeluruh pelaksanaan program.

Kegiatan yang sudah dilakukan oleh SMAN 1 Parongpong untuk program ‘NASI’ adalah: Permainan kartu domino, teka-teki silang untuk model matematika, penggunaan infografis dalam pengambilan keputusan , dan ular tangga untuk operasi bilangan. **

 

Profil Penulis
Perkenalkan saya Anggia, seorang guru mata pelajaran matematika di SMAN 1 Parongpong. Pada saat ini saya sebagai sekretaris program Literasi Numerasi untuk Fase E kelas 10, berkontribusi dalam pembuatan jurnal numerasi di sekolah, lulusan S1 pendidikan matematika UPI dan lulusan S2 sistem informasi STIMIK LIKMI.