READATHON DI AKHIR PERJUANGAN

Oleh: Iis Ismayati, S.Pd.

Readathon terakhir pada masa TMBB 2019. Seluruh civitas akademika SMP Negeri 2 Cihampelas yang hadir pada hari ini, Kamis, 29 Agustus 2019 berbaur menjadi satu. Para guru, Staf Tata Usaha, para siswa, Praktikan dari IKIP Siliwangi Bandung, tak lupa caraka, berkumpul di lapangan dengan buku di genggaman.

Kami tak ingin melewatkan tantangan ini meski sudah berada di penghujung waktu. Ungkapan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali sepertinya kami gunakan pada kesempatan ini. Readathon ketiga merupakan Readathon terakhir (kriteria minimal untuk persyaratan sekolah  inspiratif) yang harus dilaksanakan.

Sebelum Readathon berlangsung, sebagian peserta TMBB memeragakan Yel-yel Literaasi SMPN 2 Cihampelas. Untuk pertama kalinya yel-yel ini diperagakan pada saat Wisata Literasi di Saung Eceng Cihampelas. Kini, yel-yel tersebut kembali ditampilkan untuk menyemangati para peserta Readathon. Sebagian peserta TMBB tersebut mensyimulasikan Yel-yel Literasi SMPN 2 Cihampelas untuk selanjutnya diikuti seluruh siswa yang berada di lapangan. Setelahnya,barulah Readathon dimulai. Sunyi senyap terasa tatkala seluruh peserta mulai membuka buku dan membacanya lembar demi lembar.

Seperti biasa, usai membaca  dengan durasi yang telah ditentukan, presentasi isi buku adalah kegiatan selanjutnya. Pengarah kegiatan mulai menawari para siswa untuk melakukan presentasi. Sangat membanggakan Readathon kali ini. Banyak siswa yang antusias untuk melakukan presentasi. Apalagi bagi peserta TMBB. Bagi mereka kegiatan presentasi buku seolah menjadi makanan empuk yang enak untuk dilahap karena setiap bulannya para peserta TMBB dituntut untuk berpresentasi. Tak heran jika mereka sudah merasa terlatih dan terbiasa. Antusiasme berpresentasi ternyata juga ditunjukkan oleh siswa kelas VII dan VIII yang ternyata bukan peserta TMBB. Alhasil karena peserta TMBB sudah tidak asing dengan kegiatan presentasi maka kesempatannya diberikan kepada siswa yang bukan peserta TMBB.

Keterbatasan waktu yang menjadi alasan peserta presentasi dibatasi hanya lima orang. Tiga orang siswa perwakilan kelas VII dan masing-masing satu orang siswa perwakilan dari kelas VIII dan IX. Mereka terlihat bersemangat bahkan ada aura bahagia karena ternyata di akhir presentasi ada reward yang diberikan. Penghargaan yang diberikan mungkin tidak seberapa tapi dengan menghargai setiap usaha yang dilakukan siswa (walaupun penghargaannya tidak harus berupa benda), kami meyakini akan muncul sikap positif dan motivasi dalam diri mereka.

Kini TMBB mulai berakhir, tapi Readathon dan kegiatan literasi lainnya tak berarti usai sudah. Keinginan kami untuk menumbuhkan minat dan daya baca siswa tetap terpatri.***DianaDi.