Senandung Gunung Lumbung (5): Dengki Sang Adipati

Senandung Gunung Lumbung
Penulis:
Adhyatnika Geusan Ulun
ISBN: 978-623-99576-6-7
Editor:
Dhysa Humaida Zakia
Desain sampul:
Tim Editor
Tata letak:
Ruslan Abdulgani Lubis
Penerbit:
Mandatrama Grafika
Jl. Bojong Koneng Atas No 57, Bandung
email: ruslanbuku74@gmail.com
Website: https://mandatramagrafika.com/

Dengki Sang Adipati
______________

“Perjuangan bukan hanya sekedar menuruti perintah siapapun. Namun, perjuangan adalah perkara mempertahankan harga dan kemuliaan diri.”

 

Pagi benar, pasukan Tatar Ukur bergerak ke arah Karawang. Dan, sesuai dengan kesepakatan, Adipati Bahurekso akan menunggu kedatangan Dipati Ukur. Menurut perhitungan, seharusnya pasukan Bahurekso yang menggunakan jalur laut akan tiba lebih cepat dibanding Tatar Ukur yang harus melalui pegunungan dan hutan belantara.

***

Sudah tiga hari Dipati Ukur menunggu kehadiran pasukan Bahurekso. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan mereka. Telik sandi yang dikirim ke perbatasan belum juga memberikan informasi keberadaan pasukan Kendal tersebut. Sambil menunggu bantuan pasukan Kendal, Adipati memerintahkan pasukannya untuk membuka lading di tepi Candrabaga. Strateginya adalah membuat gudang logistik jika peperangan akan berlangsung lama.

***

Hari berganti hari, tidak terasa sudah seminggu Dipati Ukur berada di Karawang. Kesabarannya sudah hilang. Pagi benar, Adipati mengumpulkan para senapati dan umbul.

“Kesabaranku mulai hilang. Adipati Bahurekso belum kunjung tiba. Kita sudah seminggu menunggu. Bagaimana menurut kalian?” buka Dipati Ukur.

“Ampun Kanjeng. Menurut hamba sebaiknya kita tetap menunggu. Karena, begitulah titah Sultan Agung,” tanggap Senapati Sukapura.

“Benar Kanjeng. Apa yang disampaikan Kakang Senapati Sukapura sangat beralasan. Apapun titah Sultan Agung harus kita anut. Ampun beribu ampun Kanjeng,” sambut Senapati Limbangan.

“Aku tahu semua itu. Namun, kita sudah terlalu lama menunggu. Aku khawatir para prajurit akan kehilangan semangat bertempurnya…,” jelas Adipati. “….dan kalian tahu semua, jika terlalu lama menunggu, persediaan bekal kita akan habis!” lanjutnya. Semua terdiam. Para senapati maklum dengan sabda Adpatinya. Namun, mereka mengkhawatirkan tindakan Adipati jika harus melawan titah Sultan Agung yang terkenal tegas jika menghukum bawahannya yang berani membangkang perintahnya.

Setelah sejenak semua terdiam. Senapati Ukur memberanikan diri bicara.

“Kanjeng Adipati… hamba, secara pribadi tidak nyaman dengan suasana ini. Amat benar sabda paduka, kita sudah terlalu lama menunggu pasukan Kendal datang. Sementara, para prajurit kita juga terlalu lama istirahat. Oleh karena itu, hamba serahkan keputusan sepenuhnya kepada paduka,” ujar Senapati. Para senapati yang hadir riuh. Mereka sebagian tidak sependapat dengan perkataan Senapati Ukur.

Dipati Ukur berpikir keras. Adipati tahu keresahan para senapatinya. Benar-benar harus kutegaskan ini, pikirnya. Lalu, berdirilah Adipati. Dipandangnya semua senapati dan umbul yang hadir.

“Dengarkanlah perkataanku! Kita berada di sini, bukan hanya sekedar menuruti titah Kanjeng Sultan. Tapi, ingat! Kita berasal dari negeri besar. Negeri yang subur makmur. Dan, pasukan Batavia kalau tidak dihancurkan akan merusak kemakmuran rakyat kita. Menjajah kita! Sadarkah kalian, bahwa kita adalah negeri jajahan Mataram? Apa kita juga akan rela dijajah lagi oleh bangsa asing yang lain? Ingat, perjuangan bukan hanya sekedar menuruti perintah siapapun. Namun, perjuangan adalah perkara mempertahankan harga dan kemuliaan diri,” berapi-api Dipati Ukur kepada para senapati. Sudah hilang rasa takutnya jika perkataan itu akan dilaporkan kepada Mataram.

Para senapati dan umbul-umbul menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menatap Dipati Ukur. Di satu sisi, mereka membenarkan sabda Adipati, namun di sisi lain, perkataan Dipati Ukur akan berakibat buruk di kemudian hari.

Mereka yang setuju, yaitu Senapati Karawang, Senapati Ciasem, Senapati Sagalaherang, Senapati Taraju, Senapati Sumedanglarang, Senapati Pamanukan, Senapati Limbangan, dan Senapati Malangbong, dan Senapati Ukur. Sementara yang tidak sependapat,yaitu Ki Somahita Sindangkasih, Ki Astamanggala Cihaurbeuti, dan Ki Wirawangsa Surakerta. Di kemudian hari, senapati dan umbul yang tidak setuju ini akan merubah jalannya sejarah Dipati Ukur.

Dari sudut mata, tampak Dipati Ukur masih berdiri  tegak. Nafasnya tersenggal-senggal. Tangan Adipati mengepal kuat.

Masih di sudut mata para senapati, terlihat Dipati Ukur mengeluarkan pedang kebesaran warisan Adipati Luhur Agung, ayah mertuanya, dari sarungnya. Sementara pusaka Culanagara yang didapatnya dari Enden Saribanon, istrinya yang lain putri Prabu Geusan Ulun, masih disarung pinggang sebelah kanannya.

“Dengarkan keputusanku! Besok sore, jika pasukan Kendal belum tiba, maka Tatar Ukur akan bertarung sendiri tanpa Adipati Bahurekso!” sabda Dipati Ukur berapi-api. Prajurit yang mendengarkan langsung bersorak gemuruh menyambut sabda panglima tempurnya.

***

Malamnya, sekira akhir Oktober 1628, Dipati Ukur berunding mengatur siasat pertempuran bersama para senapati. Diperintahkannya perang secara berlapis. Pasukan infantri akan bergerak terlebih dahulu dipimpin Senapati Ukur. Sementara, pasukan kaveleri dipimpin Senapati Timbanganten, dan pasukan pemanah dipimpin oleh Senapati Sumedanglarang dan Taraju.

Pemilihan senapati bukan tanpa alasan. Senapati Ukur sangat mahir dalam menyelusuri medan darat. Sedangkan, Timbanganten terkenal dengan pasukan berkudanya. Dan, Sumedanglarang serta Taraju sangat terlatih dalam pertempuran panah.

Menjelang Subuh, pasukan Dipati Ukur, sesuai komandonya mulai bergerak menelusuri bantaran sungai Candrabaga. Sebagian bergerak melalui jalur rimba Cikarang. Sementara yang lainnya masih mengawal Dipati  Ukur hingga sore hari.

Sesuai firasatnya, pasukan Kendal hingga sore hari tidak kunjung tiba. Dipati Ukur memutuskan berangkat menyusul pasukannya. Dengan kuda hitamnya, Adipati melaju kencang ke arah hutan Jati. Di sana, pasukannya infantri, kaveleri, dan pemanah telah menanti.

Malam hari, Dipati Ukur menginstruksikan para senapati untuk istirahat yang cukup. Sementara Adipati sendiri menyendiri bersemedi, memanjatkan doa bagi keselamatan pasukannya.

***

Sementara itu, jauh di seberang bukit,  telik sandi Bahurekso mengawasi kepergian pasukan Dipati Ukur. Bergegas melaporkan kejadian itu kepada sang Adipati Kendal.

Ternyata, pasukan Adipati Bahurekso sebenarnya sudah tiba lebih dulu. Mereka sengaja mendirikan tenda di pantai utara Karawang yang jauh dari tempat Dipati Ukur. Adipati tidak ingin dirinya diketahui, maka dia terus mengutus telik sandi untuk mengawasi pergerakan pasukan Tatar Ukur.

Hahahaha… enak saja dia mau mengatur aku. Sekarang, rasakan akibatnya jika melawan Kendal…” ujar Bahurekso setelah menerima informasi dari telik sandi.

“Ampun paduka, lalu rencana apa yang akan kita laksanakan?” tanya salah seorang senapatinya.

“Kita tunggu saja hasil pertempuran Tatar Ukur! Apa dia sanggup melawan Kompeni sendirian? Hahahaha…” jawab Adipati Bahurekso. “…aku tahu kedigjayaan kanuragan Wangsanata. Tapi, melawan pasukan Kompeni apa dia mampu? Hahahaha… “ sambungnya meremehkan.

“Ampun kanjeng, apa sebaiknya kita bantu saja. Bagaimana kalau kanjeng Sultan Agung mengetahui rencana ini?” tanggap senapati.

Yaaaaa….jangan sampai tahu! Jika Sultan Agung tahu, ini berarti di antara kalian ada yang berani mengkhianati Kendal! Dan, itu berarti hukuman pancung akan kulakukan bagi siapa saja yang berkhianat!” hardik Adipati.

Para senapati terdiam. Mereka semua sebenarnya tidak menyetujui siasat busuk adipatinya. Namun, mereka hanya bawahan. Di hati mereka, kasihan pasukan Dipati Ukur. Merekalah yang sebenarnya telah dikhianati Adipati Bahurekso.

***