SMPN 2 NGAMPRAH MENUJU ZERO WASTE

 


Ngamprah-(Newsroom). SMPN 2 Ngamprah Kab. Bandung Barat, dalam upayanya mewujudkan sekolah Adiwiyata,  menyelenggarakan kegiatan pendampingan pengelolaan sampah.  Kegiatan virtual ini menghadirkan pemegang hak paten sistem pemanfaatan residu daur ulang sampah, Dr. Ir. Mohamad Satori, MT., IPU. Minggu (7/3/21).

Kepala SMPN 2 Ngamprah,  Agus Samsu Permana , mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan agar warga sekolah memahami tentang pentingnya pengendalian lingkungan. Menurutnya, salah satu yang utama adalah tata kelola sampah.  Hal ini harus segera diimplementasikan mengingat sampah sudah menjadi ancaman serius lingkungan semua.

“Kegiatan ini dilaksanakan agar kita memahami tentang pengendalian lingkungan. Salah satu yang utama adalah tata kelola sampah.  Hal ini sangat penting diimplementasikan mengingat sudah menjadi ancaman tersendiri buat generasi muda,” ungkapnya.

Berkaitan dengan program sekolah Adiwiyata, diitambahkannya bahwa di lingkungan sekolah tersebut penggunaan kemasan sekali pakai harus diganti dengan penggunaan tumbler. Termasuk harus dibiasakan membawa makanan sesuai kebutuhannya sehingga tidak akan ada makanan yang tersisa, dan sekolah pun menjadi kawadan Zero Waste.

Sementara itu, Mohamad Satori, dalam presentasinya menjelaskan tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenisnya. Menurutnya,  semua itu harus dikelola dengan cara pengurangan dan penanganan sampah.

Ditambahkannya bahwa hal di atas dapat dilaksanakan  melalui 3R, yaitu pembatasan timbulan sampah (Reduce), pendauran ulang sampah (Recycle) dan pemanfaatan kembali sampah ( Reuse).

Lebih jauh disampaikan bahwa guru harus bisa merubah mindset setiap siswa tentang sampah, yakni harus menanamkan slogan simpanlah sampah sesuai dengan jenisnya. . Selanjutnya,  mereka harus paham tentang tempat sampah yang dipilah sesuai dengan jenisnya, yakni sampah berbahaya /B3 berwarna merah, sampah organik berwarna hijau, sampah guna ulang berwarna kuning, sampah daur ulang berwarna biru dan sampah residu berwarna abu-abu.

Dipaparkannya juga bahwa diperlukan adanya Bank Sampah, komposter dan biopori di sekolah . Hal ini akan membuat, secara otomatis, pemilahan sampah menjadi lebih efektif. Diharapkannya juga bahwa satu saat TAKAKURA sebagai teknik baru pengelolaan sampah pun dapat diterapkan juga.

Ditandaskan Mohamad Satori, bahwa  lebih baik hidup dari sampah dari pada hidup jadi sampah. Diharapkannya SMPN 2 ngamprah dapat menjjdi sekolah Adiwiuata sesuai dengan cita-cita aemua

“Lebih baik hidup dari sampah dari pada hidup jadi sampah. Semoga sekolah Adiwiyata yang merupakan tempat siswanya belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam kehidupan social dapat segera terwujud di SMP Negderi 2 Ngamprah,” tandasnya.***

Sumber Berita dan Foto: Hajjun  Machlija, (SMPN 2 Ngamprah) 

Editor: Adhyatnika Geusan Ulun