Belajar Dari Pangeran Kornel

Prof. Dr. Dinn Wahyudin
(Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI)

Cinta Segitiga. Atau, The Triangle of Love. Itu salah satu kata kunci yang diucapkan Pj.Bupati Sumedang Herman Suryatman dalam suatu acara Pisah Sambut PTMGRMD (Perguruan Tinggi Mandiri Gotong Royong Membangun Desa) tahun 2024 pekan lalu.

Menurutnya kegiatan pengabdian pada Masyarakat di puluhan desa di kabupaten Sumedang bisa terlaksana karena adanya “cinta segitiga” antara Pemda dan masyarakat Sumedang, Perguruan Tinggi yag ada di Jabar Banten, dan LLDIKTI4 Wilayah Jabar dan Banten. Bila cinta telah bersemi, maka semua program akan terasa indah dan bermanfaat. Semua pihak berbahagia. Semua bekerja dengan tulus. Masyarakat pun menerima dengan tangan terbuka kehadiran mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN Terpadu ini.

Tulisan ringan ini, mencoba mendeskripsikan betapa kuatnya rasa cinta dengan derap pembangunan yang sedang dilaksanakan. Dalam konteks lokal Sumedang, the power of love atau kekuatan cinta telah ditorehkan dalam sejarah kelam yang panjang oleh seorang figur Bupati Sumedang pada masanya.

Al kisah. Suatu hari di tahun 1809. Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau dikenal juga sebagai Pangeran Kornel (The Prince of Kornel) mendapat kabar bahwa Gubernur Jenderal HW Daendels akan melakukan inspeksi mendadak ke wilayah Sumedang. Daendels merasa berang atas belum selesainya megaproyek ambisinya yaitu Pembanagunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang membentang sepanjang 1000 km dari Anyer sampai Panarukan. Daedels berniat berkunjung dan menegur langsung Bupati Sumedang atas keterlambatan pembangunan jalan tersebut.

Itulah peristiwa Cadas Pangeran yang heroik. Daendels merasa kesal karena ambisi pembangunan mega proyek jalan pos Anyer-Panarukan terganjal dengan belum tuntasnya jalan di area perbukitan berbatu sekitar Cadas Pangeran.

Di sisi lain, sang Bupati Pangeran Kornel juga merasa masgul dan terusik harga dirinya karena melihat rakyatnya yang diperlakukan semena-mena. Ribuan rakyatnya telah meninggal dunia karena kelelahan kerja paksa, kelaparan, dan menderita sakit selama pembangunan jalan di Cadas Pangeran berlangsung.

Ketika pertemuan Gubernur Jenderal Daendels dengan Pangeran Kornel berlangsung. Suasana sangat mencekam. Pertemuan tidak kondusif. Kedua belah pihak merasa tidak nyaman ketika kunjungan kerja Sang Gubernur ke wilayah Sumedang ini. Dan ketika Gubernur Dandels mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Respon Pangeran Kornel sangat mengagetkan Gubernur Dandels. Pangeran Kornel melakukan jabatan tangan dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan Sang Pangeran ini siap memegang erat Keris pusaka yang dibawanya. Tindakan ini membuat Daendels terkejut dan merasa diremehkan.

Peristiwa heroik ini telah diabadikan secara visual di wilayah Cadas Pangeran perlintasan jalan lama Bandung – Sumedang. Itulah kisah heroik. Ungkapan protes simbolik sang Pangeran yang siap berhadapan langsung secara head to head, dengan Gubernur Jenderal Daendels. Apapun resikonya. Termasuk kemungkinkan pertumpahan darah, telah dipikirkan secara matang oleh sang Bupati.

Dalam sebuah versi, disebutkan akhirnya Daendels tak jadi marah. Ia merubah siasat dan berjanji kepada Sang pangeran akan membawa tentara Zeni Belanda untuk menuntaskan jalan sekitar Cadas Pangeran yang berbukit terjal, berbatu dan curam.

Spirit Cinta

Peristiwa Cadas Pangeran yersebut sangat heroik. Dan boleh jadi akan menjadi inspirasi bagi Kepemimpinan Masyarakat Sumedang sampai sekarang. Peristiwa heroik lebih dari dua abad lalu (tahun 1809) dapat ditarik beberapa catatan penting betapa kuatnya aura sang pemimpin dilandasi kecintaan pada rakyatnya.

Pertama, peristiwa Cadas Pangeran adalah prilaku mulia. Prilaku pimpinan untuk siap membela rakyat. Cinta kepada rakyat dengan sebenar benarnya cinta. Nyaah jeung deudeuh ka rahayat telah divisualisaikan secara simbolik oleh Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau juga dikenal Pangeran Kornel. Sebutan Kornel itu sendiri berasal dari kata Colonel yang artinya pemimpin.

Kedua, ekspresi Pangeran Kornel yang siap berjabat tangan dengan tangan kiri adalah keberanian bersikap untuk melawan kedzoliman. Ini penting dimiliki oleh semua orang termasuk para pemimpin bangsa. Bagi pemimpin (umaro) ini harus menjadi karakter kepemimpinan atau leadership style yang berpihak pada rakyat. Kepemimpinan yang memberikan solusi dan alternatif, bukan kepemimpinan yang hanya piawai dalam memberikan perintah dengan mengorbankan rakyat. Be a leader with a ladder, not a Boss with an Order. (Mridha,2018). Jadilah pemimpin yang memiliki tangga untuk solusi, dan bukan sekadar Pemimpin yang hanya bisa memerintah. Jangan jadi pemimpin yang hanya bentik curuk balas nunjuk. Apa yang ditampilkan Pangeran Kornel ini juga sisi lain dari pemimpin yang berani mengambil resiko untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Ketiga, persitiwa heroik dua abad silam adalah ekspresi kecerdikan (smart thinking) seorang pemimpin. Apa yang dilakukan Pangeran Kornel juga ekspresi seorang pemimpin/Bupati yang cerdik dan berani dalam menyikapi fenomena yang terjadi pada saat itu. Seorang pemimpin kabupaten (regent) yang berani melawan pemimpin nasional/Penjajah Belanda.

Dalam sejarah pembangunan Jalan pos Anyer-Panarukan, bisa jadi ada puluhan wilayah kabupaten yang dilewati. Semua bupati yang kena mega proyek tersebut, nyaris bersepakat dan hanya “nurut” saja dengan Penjajah Belanda dan tak melakukan perlawanan. Namun di Sumedang, bupatinya melawan. Dia cerdik. Ia pemberani. Ia sendiri datang menyambut Gubernur Jenderal Dandels. Ia hadir untuk berargumen dengan penampilan yang unik yang bernada melawan.

Dengan segala argumen yang dikemukakan, Daendels yang kejam dan bengis tersebut bisa luluh. Sang Giubernur memahami argumen yang dikemukakan Sang Pangeran. Apa yang bisa petik dari peristiwa ini, berprilakulah dengan cerdik, gunakan strategi yang tepat untuk kemaslahatan rakyat banyak. Semua didasari karena rasa deudeuh. Rasa cinta yang tulus dari seorang bupati bagi rakyatnya.

Itulah peristiwa Cadas Pangeran yang melegenda. Lesson learnt yang bisa kita petik adalah jadilah pemimpin yang mencintai rakyat atau masyarakatnya. Pemimpin yang segala tindakan dan programnya untuk kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang memberi maslahat bagi masyarakatnya. Dalam kontek pendidikan, hal ini antara lain diekspresikan pada kebijakan sekolah/universitas yang dibangun atas rasa cinta, rasa deudeuh, melalui pedagogi kasih sayang kepada siswa/mahasiswanya dan masyarakat luas. ***